Seni Bercuap di Muka Publik”

Public speaking is a NECESSARY skill.
(Warren Buffet)

Bagi sebagian kita, bercuap di muka publik bukan perkara enteng (kecuali via Twitter, tentu!). Maju ke depan panggung bagai menghadapi persoalan hidup mati. Belum lagi jika mendadak “ditembak” presentasi tanpa persiapan. Mendadak pula pikiran blank, keringat mengucur, dan tatapan kosong. Panic attack.

Namun bercuap di muka publik sesungguhnya adalah sebuah seni yang dapat dipelajari – sebuah pesan yang disampaikan oleh banyak ahli public speaking, bahkan para tokoh dunia.

Dalam sebuah acara bincang-bincang sebuah kampus di Amerika Serikat, seorang mahasiswa maju ke depan dan bertanya pada Warren Buffet: “apa nasihat terbaik yang pernah Anda terima dan bagaimana nasihat tersebut berdampak dalam kehidupan Anda secara pribadi maupun profesional?”

Buffet menjawab, “suka atau tidak suka, butuh waktu untuk menjadi nyaman berbicara di depan umum. Ini akan menjadi aset dan keunggulan selama 50 – 60 tahun mendatang. Tapi jika Anda tidak menguasainya, juga akan menjadi beban yang ditanggung selama 50 – 60 tahun mendatang.” (Lihat video ini)

Kita tentu ingin sukses. Masalahnya, semakin sukses seseorang, semakin ia akan sering mendadak diminta maju ke depan untuk memberikan kata sambutan. Jika berposisi sebagai CEO, tentu tak mungkin Anda menolaknya! Jadi jika ingin sukses, Anda harus bisa berbicara di muka umum.

Public speaking adalah sebuah keterampilan yang mau tidak mau harus dimiliki. Dan skill bukanlah talent (bakat). Skill dapat dipelajari dan dilatih.

Hal menarik lainnya adalah Buffet memilih kata “comfortable”. Sederhananya, tingkat kemahiran seseorang dalam public speaking terbagi menjadi beberapa tingkat. Ada orang yang ketika diperintahkan berbicara di depan umum langsung reject. Mencoba saja pun tidak mau.

Tingkat kedua adalah accept. Ia tidak menolak, tapi mengandung nuansa pasrah. “Ya sudah, daripada dipecat mending gue ngomong deh…” Ia tak enjoy. Masalahnya, tidak ada energi dari seseorang yang mengerjakan tugasnya dengan pasrah. Audiens akan ikut menderita.

Kapan ya gue selesai ngomong? (ucap pembicara dalam hatinya)
Kapan ya dia kelar ngomong? (ucap audiens dalam hatinya)

Tingkat berikutnya adalah comfortable atau nyaman. Ia tersenyum pada audiens sehingga audiens ikut tersenyum. Tingkat selanjutnya adalah thrive, ibarat bebek bertemu air. Tanpa perlu diperintahkan pun ia sangat happy berbicara di depan umum, bahkan sering kebablasan waktu.

Di manakah posisi kita saat ini? Reject, accept, comfortable, atau thrive?

Pertanyaan inilah yang menjadi pembuka dalam seminar Super Public Speaking yang diselenggarakan 31 Juli 2015 oleh Inspire Community Center (ICC), Bandung. Sang pembicara adalah James Gwee, pria kelahiran Singapura yang sudah fasih berbahasa Indonesia karena seringnya malang melintang di jagat public speaking negeri ini sejak tahun 1990.

Apa yang disampaikan James Gwee selama dua jam bukan sesuatu yang baru namun tetap menarik bagi siapapun yang ingin mempelajari sejumlah teknik dasar public speaking.

SELL, NOT (JUST) TELL
“In life, you can have many great ideas. But if you can’t get the ideas across, it’s never going to work. I know so many people with so many great ideas. But they can’t SELL the idea. Guess what? They are not successful!”

Kalimat ini jadi bermakna ketika diucapkan oleh seorang Donald Trump. Konglomerat kondang dunia ini hendak menyampaikan bahwa salah satu kunci sukses adalah memiliki ide yang dapat dijual (SELL the idea). Donald Trump tidak menggunakan istilah “TELL” (memberitahu) tapi “SELL” (menjual).

TELL adalah menyampaikan sesuatu sehingga orang tahu, walaupun belum tentu mau. Hasil akhir dari SELL adalah seseorang mau mengikuti, tahu ataupun tidak. Pertanyaannya, adakah orang yang mau tanpa tahu lebih dulu?

“Sudah nonton Ant-Man?”
“Belum…”
“Lu belum nonton? Buset! Bagus lho! Lebih bagus daripada The Avengers. Rugi banget dah kalau lu ga nonton. Musim depan, Ant-Man gabung dengan The Avengers. Kalau nonton The Avengers tanpa nonton Ant-Man, ketinggalan banget dah! Gue aja nonton Ant-Man tiga kali. Nenek gue yang nggak pernah nonton ke bioskop sampe pergi nonton Ant-Man tiga kali! Bahkan belum pernah ada duta superhero di Indonesia kecuali Ant-Man. Lu belum nonton? Busettt… ke mana aja lu???”

“Ceritanya apa sih?” (mulai ragu dan tertarik menonton)
“Kalau gue kasitau dulu, ntar nggak seru. Lu nonton dulu deh baru ntar kita bahas!”
“Ya udah deh, minggu ntar gue nonton.”

Jadi bisa saja orang mau melakukan tanpa tahu dulu sebelumnya. Di lain pihak, adapula orang yang walaupun sudah tahu tetap tidak mau. Inilah bedanya HASIL dan TIDAK ADA HASIL.

Banyak orang berkata dirinya bukan sales yang tidak bisa berjualan. If you can’t SELL, you get nothing in life. Siapa yang ingin pekerjaan terbaik atau pacar terbaik? Harus bisa SELL. Jika tidak, saat semua orang mendapatkan pekerjaan, Anda tidak. Saat semua orang punya pacar, Anda dapat sisa stok. SELL bukan pekerjaan orang sales saja.

Contohnya, Anda sebagai orang tua ingin mengajak anak pergi makan bersama keluarga. Kebanyakan anak tidak mau dan orang tua memiliki dua pilihan: memaksa atau meyakinkan mereka. Jika tidak bisa SELL, yang dilakukan orang tua adalah memaksa. Orang tua yang memaksa anak lama-lama hanya akan memperbesar gap komunikasi di antara mereka.

TELL menekankan penjelasan saja sementara SELL menekankan untung – rugi jika melakukannya. Jika tidak melakukannya, audiens akan rugi. JIka melakukannya, audiens untung. Di dunia ini, tentu semua orang ingin untung baik dalam hal rasa nyaman, materi, disukai/diakui orang, dan sebagainya.  Contoh kerugian adalah ditertawakan orang, hidup tidak nyaman, penuh tekanan, dan sebagainya.

Dalam ilmu komunikasi, yang terlibat dalam penyampaikan suatu pesan adalah si penyampai pesan (yang memiliki ide) dan orang lain. Kita harus menjual ide kita pada orang lain.

Sebagai pendengar, kita cenderung mau mendengarkan pesan-pesan yang berasal dari orang-orang yang kita suka atau orang-orang yang kita respek. Ada pembicara yang memang bawaannya lucu sehingga disukai orang tapi adapula yang sama sekali tidak lucu, namun wibawanya membuat kita respek.

Namun bisa jadi ada seseorang yang merupakan kombinasi keduanya. Kita respek terhadap pembicara dan setelah mendengarkannya bicara, rasa suka muncul. Mungkin pula kita menyukai si pembicara karena lucu, namun isinya berbobot sehingga kita pun respek.

Inilah yang menjadi alasan mengapa perusahaan manapun akan memilih artis untuk tampil dalam iklannya. Masyarakat menyukai artis. Tidak mungkin sang CEO yang tampil dalam iklan dan kemudian berkata, “saya mandi dengan sabun Lux!” Masyarakat tak peduli meski sabun tetaplah sabun. Lain halnya jika seorang artis yang beriklan.

Artinya, SI PENYAMPAI PESAN diterima lebih dulu sebelum PESAN-nya. Sebelum menjual pesan, kita harus “menjual diri” secara positif sehingga orang suka atau respek terhadap kita. Terlalu banyak orang hanya berfokus pada pesan tanpa menyadari bahwa melihat caranya menyampaikan saja audiens sudah ragu atau bahkan sebal.

“Halah, lu tau apa sih? Baru juga masuk 3 bulan! Lu mau ajarin gua apa???” Bukan ide yang ditolak tapi kita yang ditolak. Bisa jadi ide yang sama kita sampaikan pada senior manager sales kemudian senior manager sales menyampaikannya pada bos dan ternyata diterima. Berarti idenya tidak salah.

Seringkali sebuah usulan ditolak bukan karena kualitasnya kurang baik, tapi kita sebagai pembawa pesan yang belum diterima. Untuk itu, James Gwee memberikan kiat “menjual diri” dalam sebuah CV singkat yang terbagi menjadi tiga kolom. Kolom pertama adalah nama dan tempat tanggal lahir. Kolom kedua adalah prestasi-prestasi. Kolom ketiga adalah kegiatan sosial yang pernah dijalani.

Ketika membaca tiga poin ini, nada bicara (tune) perlu mendapat perhatian serius. Bagian prestasi harus menggunakan nada suara yang “mengangkat”. Ketika memasuki bagian kegiatan sosial, sebaiknya nada bicara dilembutkan untuk mencerminkan kebaikan seseorang.

Bagian prestasi akan membuat audiens respek sementara bagian kegiatan sosial akan membuat audiens menyukai kita. Dengan satu CV, audiens hormat sekaligus menyukai kita.

Kalau tidak tahu harus mengisi apa di kolom prestasi, berarti Anda masih belum tahu nilai jual diri Anda. Ironisnya, banyak orang hafal benefit produk dari perusahaannya tapi tidak mengetahui benefit dirinya. Akibatnya, tidak ada kebanggaan. JIka tak ada kebanggaan, citra diri menjadi rendah sehingga auranya adalah lemas. Tak heran jika akhirnya produk Anda tidak diterima.

So, you have to sell yourself, then you can sell whatever you want to sell.
Most people learn to sell company’s product but they don’t know how to sell themselves, that’s why they failed as a sales people. We must learn to sell ourselves.

Hal lain yang perlu dicatat, saat Anda sedang mendapat applause, jangan justru membelakangi audiens. Sambut applause yang diberikan dengan penuh perhatian untuk menunjukkan kepercayaan diri. Appreciate it because you deserve to get that respect.

POWER OPENING
Presentasi adalah bagai menerbangkan sebuah pesawat terbang. Kalimat pembuka (take off) adalah hal yang sangat penting, demikian pula dengan body, dan closing (landing).

Jangan pernah membuka presentasi dengan kalimat semacam ini:

“Selamat malam, nama saya Sylvie. Terima kasih atas kesempatan dan waktu yang telah diberikan….” (berbicara dengan nada datar). –> The most BORING introduction in the world!

NORMAL is BORING. Do you want to be boring? If no, then don’t be normal.

Ada banyak teknik yang dapat digunakan agar kalimat pembuka sebuah presentasi tidak membosankan. Teknik yang dikemukakan oleh James Gwee adalah  “Four Statements Technique” dimana presentasi dibuka dengan empat kalimat yang dua kata awalnya sama dalam tiap kalimat. Selanjutnya, barulah pembicara memperkenalkan diri.

BODY
Agar audiens mudah memahami apa yang kita sampaikan, body presentasi harus memiliki struktur. Bagaimana jika Anda harus menyampaikan presentasi dadakan alias IMPROMTU? Jangan panik. Salah satu teknik paling sederhana adalah “THE TRIANGLE”. Kemukakan tiga poin utama yang menjadi penjabaran topik yang diminta. Saat berbicara mengenai poin pertama, mulai pikirkan poin kedua. Saat berbicara mengenai poin kedua, mulai pikirkan poin ketiga.

POWER CLOSING
Tinggalkan audiens dalam kegembiraan, menangis, terharu, tersentuh, penuh harapan atau apapun asal jangan meninggalkan mereka secara antiklimaks dengan begitu saja mengucapkan kalimat: “sekian presentasi saya. Terima kasih.” Salah satu tekniknya adalah dengan kembali mengucapkan empat kalimat yang mungkin sama dengan kalimat awal, mungkin pula berbeda.

Contoh Impromtu dengan Teknik “The Triangle”:

Indonesia memiliki keindahan alam
Indonesia memiliki kekayaan kuliner
Indonesia memiliki suku dan budaya yang sangat beraneka ragam
Indonesia memiliki apapun yang tak dimiliki negara lain

Selamat siang, bapak-bapak dan ibu-ibu. Nama saya…………………………
Topik saya malam ini adalah bagaimana cara meningkatkan pariwisata di Indonesia.

Ada tiga kunci. Kunci pertama adalah infrastruktur. Airport dan jalan yang mulus menuju destinasi wisata sangatlah penting. Banyak orang mau datang tapi harus melalui perjalanan yang tidak menyenangkan sehingga tidak mau kembali lagi. The view is beautiful but the roads can kill you.

Kunci kedua, Indonesia harus mampu memasarkan pariwisatanya sendiri. Pemerintah Indonesia lemah dalam pemasaran. Malaysia sudah berkampanye “Trully Asia” sementara Singapura yang tidak ada apa-apanya, jumlah turisnya jauh melebihi Indonesia.

Kunci ketiga, penduduknya harus bisa berbahasa Inggris atau akan ada gap.

Jadi kalau bertanya bagaimana meningkatkan pariwisata di Indonesia, bagi saya kuncinya ada tiga. Pertama adalah infrastruktur. Kedua adalah marketing. Ketiga, media dan komunikasi. Mengapa?

Indonesia memiliki keindahan alam
Indonesia memiliki kekayaan kuliner
Indonesia memiliki suku dan budaya yang beraneka ragam
Indonesia memiliki apapun yang tak dimiliki negara lain

Nama saya………….., sekian dan terima kasih!

 

Sama seperti renang, public speaking adalah sebuah skill. Tidak ada seorang pun yang dapat menguasai renang hanya dengan membaca 30 buku tentang renang. Cepat atau lambat, ia harus nyemplung ke dalam air. Yang terpenting adalah terus menerus berlatih.

Dalam hal ini, James Gwee hanya menyampaikan teknik public speaking yang paling sederhana. Tentu kita dapat mengembangkan teknik sendiri dan variasinya tanpa terpaku pada suatu pola.

Yang juga perlu dicatat adalah James Gwee dan kebanyakan ahli public speaking hanya menekankan pada teknik, alih-alih memperhatikan bobot konten. Padahal, isi pembicaraan pun tak kalah penting jika tak ingin dicap hanya “pintar omong” ala musim kampanye Pemilu. Di samping pengalaman, kita pun harus memiliki pengetahuan yang memadai, melalui cara apapun misalnya membaca, mengamati, dan sebagainya.

Saya pikir, teknik yang baik dan bobot berkualitas harus menjadi satu paket. Hanya menekankan konten membuat orang cepat merasa bosan sementara hanya menekankan teknik membuat orang terperangah tapi belum tentu memahami isinya (baca: pencitraan). Bercuap di muka publik pun jadi sebuah seni: ia harus dapat dinikmati dengan indah, namun juga nilai bobotnya tinggi.

***

Photo Source: www.adu.ac.ae

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s