Book Review: The New Digital Age

 

Judul Asli             :  The New Digital Age (2013)
Judul Indonesia  :  Era Baru Digital: Cakrawala Baru Negara, Bisnis, dan Hidup Kita
Penulis                  :  Eric Schmidt & Jared Cohen
Penerbit                :  KPG (Kepustakaan Populer Gramedia)
Terbitan                :  Cetakan Pertama, Agustus 2014
Tebal Halaman   :  xx + 343 halaman

 

“Internet merupakan satu dari segelintir hal yang dibangun manusia tapi tidak benar-benar kita pahami”
Eric Schmidt & Jared Cohen

 

Tak diragukan lagi, teknologi komunikasi berkembang dengan kecepatan pesat yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya. Eric Schmidt & Jared Cohen menegaskan kecenderungan ini dengan mengatakan bahwa teknologi informasi tak hanya memiliki potensi tapi juga sudah menjadi penguasa terbesar di jagad raya ini.

Dalam The New Digital Age, Schmidt dan Cohen dengan berani menuliskan aneka prediksi mengenai peran dunia digital dalam membentuk masa depan identitas, kewarganegaraan, dan berita; masa depan negara; masa depan revolusi; masa depan terorisme; masa depan konflik, perang, dan intervensi; serta masa depan rekonstruksi. The New York Times pun menilai buku ini sebagai “ramalan masa depan dan provokatif”

Dalam bab pertama berjudul Pribadi dan Masa Depan Kita, Schmidt dan Cohen mengungkapkan keyakinannya bahwa mampu berbuat lebih di dunia maya akan membuat dunia nyata bergulir lebih efisien, terutama di negara-negara berkembang yang pertumbuhan dan kemajuannya terhambat selama bertahun-tahun karena isolasi teknologi dan kebijakan yang buruk.

KONEKTIVITAS adalah kata kunci penting yang semestinya menolong setiap negara segera menemukan keunggulan dalam bersaing. Schmidt dan Cohen begitu yakin mengatakan bahwa konektivitas masa depan menjanjikan peningkatan “taraf hidup” yang membuat hidup makin enak, misalnya di bidang kesehatan meski perangkat itu sendiri tak dapat menyembuhkan penyakit.

Bab kedua Masa Depan Identitas, Kewarganegaraan, dan Berita dibuka dengan pernyataan amat yakin dari Schmidt dan Cohen bahwa “dalam sepuluh tahun mendatang (artinya sekitar tahun 2023), penduduk dunia maya akan melampaui jumlah penduduk bumi.” Implikasinya, identitas kita dalam hidup keseharian akan makin ditentukan oleh kegiatan dan pergaulan kita di dunia maya.

Di sini, Schmidt dan Cohen mengemukakan argumen menggelitik yaitu bahwa identitas online kita kelak bukan sekadar laman Facebook melainkan tiap aktivitas online kita lakukan. Identitas online akan menjadi mata uang kuat. You are what you tweet. Masalah yang diprediksi akan muncul adalah maraknya serangan siber yang akan memaksa pemerintah memikirkan taktik dalam dunia virtual.

Lewat bab 3 tentang Masa Depan Negara, Schmidt dan Cohen mengatakan bahwa salaam ini, kita kerap menggambarkan internet sebagai ruang tanpa hukum yang dirancang agar tak dikusai siapa pun. Pemerintah hanya menjadi penjaga gerbang. Masalahnya, negara manapun akan tergerak untuk memproyeksikan hukum dari dunia nyata ke dunia maya (sensor dan sejenisnya).

Masuk akal jika kedua penulis mengatakan bahwa netralitas akan sulit ditemukan dalam dunia maya karena pengguna-lah yang mengendalikan aktivitas sehingga kebebasan lama kelamaan dapat menyebabkan negara saling sikut atas nama kepentingan nasional. Yang akan terjadi adalah meningkatnya konflik siber meskipun konflik tersebut belum tentu terjadi di dunia nyata.

Bab 4 bertajuk Masa Depan Revolusi adalah salah satu bab paling menarik dalam buku ini. Bertolak dari Arab Spring, Schmidt dan Cohen “meramalkan” bahwa kegaduhan dunia maya akan menghambat kemampuan pengamanan negara untuk mengimbangi dan memberantas aktivitas revolusioner. Warga memegang kendali mengenai kapan dan bagaimana mereka memberontak.

Schmidt dan Cohen pun menulis sebuah poin cemerlang yakni bahwa “teknologi tak punya sumbangsih apa pun dalam melayakkan seseorang menjadi negarawan.” Keduanya menilai bahwa manusialah yang menyulut atau mematahkan revolusi, bukan alat-alat yang mereka gunakan. Teknologi dapat menolong orang cakap memimpin, tapi tak dapat menciptakannya.

Bab 5 berbicara mengenai Masa Depan Terorisme, bab yang dapat membuat kita meringis ngeri saat membayangkan kemungkinan aktivitas teroris masa depan akan meliputi aspek fisik dan virtual, mulai perekrutan hingga pelaksanaan. Meluasnya jangkauan jejaring media sosial global dapat membuat serangan mereka lebih berefek. Pada saat bersamaan, Schmidt dan Cohen berargumen bahwa teknologi komunikasi juga sekaligus membuat para teroris ini lebih rentan.

Dalam bab 6 mengenai Masa Depan Konflik, Pertempuran, dan Intervensi, Schmidt dan Cohen mengingatkan bahwa konflik, peperangan, bentrok sengit, dan kekejaman massal akan tetap menjadi bagian masyarakat dalam generasi-generasi yang akan datang meski berubah bentuk sesuai era teknologi. Perang pemasaran dan perang otomat turut mengambil bagian di dalamnya.

Schmidt dan Cohen meletakkan bab mengenai Masa Depan Rekonstruksi sebagai pamungkas yang optimis – bagaimanapun teknologi juga dapat menyatukan kembali masyarakat, tak hanya memecah belah. Menurut keduanya, perbaikan dan pembaruan jejaring komunikasi menjadi perekat baru dalam upaya-upaya rekonstruksi modern yang sama pentingnya dengan rekonstruksi fisik.

Schmidt dan Cohen yakin bahwa konektivitas mampu mendorong sikap altruis di mana orang jadi lebih memahami penderitaan sesama dan punya kesempatan melakukan sesuatu, misalnya saja melalui platform pendanaan publik semacam Kiva dan Kickstarter. Intinya, penerapan teknologi komunikasi akan mempercepat pembangunan kembali, asal ada kemauan berkreasi dan berinovasi.

Saripati dari seluruh pesimisme dan optimisme akan masa depan dunia pada era digital ini pada akhirnya disimpulkan Schmidt dan Cohen dalam empat poin.

Pertama, teknologi saja bukan obat mujarab bagi penyakit-penyakit dunia, tapi menggunakan teknologi dengan cerdas dapat mengubah dunia. Kedua, dunia maya tak akan mendahului atau menjungkirbalikkan tatanan dunia yang ada, tapi akan memperumit semua perilaku.

Ketiga, negara perlu menerapkan dua kebijakan dalam negeri, satu untuk dunia maya dan satu untuk dunia nyata. Terakhir, dengan tersebarnya konektivitas dan ponsel ke seluruh dunia, warga lebih punya kekuatan dibanding masa lainnya dalam sejarah.

Empat kesimpulan ini menegaskan pandangan Schmidt dan Cohen mengenai pentingnya tangan manusia sebagai pemandu era baru digital. Era digital tidak akan berkembang pesat begitu saja tanpa peran manusia di dalamnya. Semua kemungkinan yang dihadirkan teknologi komunikasi dan penggunaannya, baik maupun buruk, bergantung sepenuhnya pada kita.

Eric Schmidt adalah executive chairman Google yang sudah bergabung bersama Google sejak 2001. Jared Cohen adalah pendiri dan direktur Google Ideas sekaligus Dewan Penasihat Direktur Nasional Counterterrorism Center. Berlatar pengalaman ini, keduanya mampu menyampaikan argumen demi argumen menarik dalam mendukung ramalan-ramalannya.

Di sisi lain, kita perlu sadar bahwa The New Digital Age belum banyak berbicara mengenai pengaruh budaya sebagai sesuatu yang vital dalam teknologi seperti yang diungkapkan Arnold Pacey dalam bukunya yang berjudul The Culture of Technology (1983). Dengan demikian, “ramalan” Schmidt dan Cohen juga perlu kita kaji ulang sesuai dengan konteks masing-masing negara. (***)

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s