Memaknai Pendidikan

Usai pelayanan medis di Desa Gagemba, Kabupaten Intan Jaya yang berlokasi di pegunungan tengah Papua, ada sebuah pernyataan dari pendiri doctorSHARE, dr. Lie A. Dharmawan, yang tak pernah lepas dari ingatan saya.

“Sebetulnya daerah seperti Intan Jaya tidak terlalu butuh orang yang pendidikannya amat tinggi sampai S2 apalagi S3, apalagi jika ilmunya tidak dapat diterapkan. Lebih baik melatih warga berbagai keterampilan agar mereka dapat berbuat sesuatu bagi hidupnya dan bagi lingkungannya!”

Pernyataan tersebut beliau lontarkan setelah kami sama-sama melihat kondisi Desa Gagemba yang membuat miris, sebut saja apapun itu. Lupakan guru dan dokter. Sesaat sebelum doctorSHARE melangsungkan pelayanan medis di daerah ini, pemuka agamanya memberi kata sambutan yang mengejutkan. Beliau berkata bahwa selama Indonesia merdeka, belum pernah ada seorang pun dokter menyentuh mereka. Pasrah seolah menjadi the only way dalam menjalani hidup.

Yang cukup mengejutkan, sebenarnya ada dua orang sarjana di sana. Tanpa bermaksud merendahkan pentingnya mengenyam pendidikan formal, kedua sarjana yang merupakan penduduk asli ini rupanya belum dapat berbuat banyak untuk menggerakan perubahan di kalangan warga yang sebagian besar hidup di bawah garis kemiskinan dan tidak dapat berbahasa Indonesia.

Dua minggu setelahnya, saya pulang ke kampung halaman dan berbincang dengan rekan-rekan.
Seorang rekan bertanya, “Syl, apa sih alasan kamu lanjut S2?”

Otak saya berputar dengan cepat dan membuat dialog sendiri.

Pingin nambah pengetahuan? Itu sih bisa otodidak saja dari kursus atau googling sendiri.
Cari gelar? Gengsi? Hmmm… Punya gelar siapa tak pingin, tapi itu bukan alasan.
Biar tambah penghasilan? Apalagi itu… Saya nggak kerja di perusahaan yang punya mekanisme itu.
Ngiler lihat yang lain sudah S2? Mungkin.

Seorang teman saya pernah berkata bahwa ia ingin kuliah agar tidak dipandang rendah oleh orang lain ketika harus meneruskan bisnis orang tuanya. Sebenarnya ia malas kuliah tapi orang lain akan respek jika ia punya gelar. Bisnis akan lancar jika pemimpinnya dianggap punya “bobot” ilmu.

Pikiran saya flashback pada masa sebelum saya akhirnya memutuskan melanjutkan S2. Zona nyaman – duduk manis di belakang layar, menulis, dan membaca apapun yang dapat dibaca. Bukankah itu juga pendidikan? Keterampilan toh bisa diasah otodidak lewat komunitas dan aneka kursus. Untuk apa menyerahkan diri pada suatu sistem yang meng”harus”kan kita melakukan ini dan itu?

Kita pun dapat belajar dari sopir, pemabuk, pengemis, pemadat, bahkan jalan raya yang hiruk pikuk, kemacetan yang menggemaskan, hingga bentangan laut dan gunung nan menjulang.

Beberapa rekan terus menyarankan saya melanjutkan pendidikan dengan dua alasan utama: mendorong potensi dalam diri dan standar kompetensi di era global. Tapi yang akhirnya saat itu mendorong saya melanjutkan pendidikan adalah kerinduan mendengarkan dosen, menganalisa dan berdiskusi – sesuatu yang tidak setiap saat saya temukan dalam rutinitas yang sifatnya technical skill.

Bisa saja saya belajar sendiri, tapi dengan siapa saya dapat rutin berdiskusi, mengungkapkan sejuta ide dalam kepala, dan mendengarkan jutaan ide dalam kepala orang lain? Tapi kemudian, selama berkuliah saya dapatkan hal yang lebih penting: semangat belajar dengan kerendahan hati.

Teman-teman yang berkuliah (terutama di bidang sosial-politik) tentu paham masa-masa bosan menggumuli aneka buku teks tebal dengan kalimat-kalimat yang sulit dicerna, namun tugas tetap harus dikerjakan. Belum lagi tugas presentasi dengan waktu yang rasanya terlalu singkat. Lalu masih ada tumpukan paper ujian akhir dari berbagai mata kuliah yang banyak pada saat bersamaan.

Saya yakin sebagian sahabat sudah kecipratan “keluhan” saya soal beratnya mempelajari statistik sosial dan filsafat, sesuatu yang saya pertanyakan apa manfaatnya dalam dunia riil.

Jika goal saya semata gelar, saya akan selesaikan semua tugas dan ujian akhir – tanpa peduli bagaimana kualitasnya. Yang penting selesai dan lulus. Kalau saya katakan bahwa goal saya adalah memberi kontribusi bagi masyarakat…. rasanya begitu muluk dan sangat normatif. Keinginan ada, tapi saya tidak yakin apakah kuliah saya kelak akan berdampak langsung pada masyarakat.

Kesukaan meriset-lah yang selama ini mendorong saya tetap passionate menuntut ilmu. Kemudian saya diingatkan bahwa hal terpenting dari semuanya adalah menumbuhkan semangat untuk terus belajar. Ketika membuat tugas dan ujian, saya harus melakukan riset – sesuatu yang belum tentu saya lakukan setiap hari jika tidak berkuliah.

Pertanyaannya adalah apakah saya sudah memiliki budaya riset yang sama ketika harus menghadapi suatu kendala dalam hidup? Apa perbedaan yang saya rasakan sebelum dan selama berkuliah? Ujungnya: apa yang menjadi visi saya melanjutkan kuliah?

Dalam seminar yang digelar Yayasan Nabil hari Kamis, 20 Agustus 2015, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Bapak Anies Baswedan mengatakan dalam opening speech-nya dengan lantang mengatakan bahwa pendidikan adalah tentang penumbuhan karakter dan interaksi antar manusia.

“Kami selalu menggunakan istilah penumbuhan karakter, bukan penanaman karakter. Selama ini kita mencoba menanamkan karakter padahal karakter sesungguhnya sudah ada dalam diri anak. Beberapa negara bahkan sudah secara eksplisit menyatakan diri ‘we are a learning nation’. Tujuan pendidikan adalah menghasilkan pembelajar!

Tujuan pendidikan bukan menghasilkan sarjana, master, atau doktor yang keren – pula bukan mencetak ilmuwan berskala spektakuler dengan aneka penghargaan tingkat internasional.

“Usia 1 – 2 tahun, seorang anak sudah mencoba semuanya sebagai sebuah pembelajaran: menggigit, memegang, dan sebagainya. Begitu masuk sekolah, karakter pembelajar mulai turun. Justru sekolahlah yang sering mengurangi semangat anak-anak untuk belajar,” papar Anies.

Semangat belajar seumur hidup plus semangat berbagi ilmu sehingga orang lain turut enjoy belajar. Inilah yang luput ketika motivasi saya hanya sekadar menambah pengetahuan bagi diri sendiri, apalagi jika hanya menambah gelar.

Pendidikan formal jelas merupakan hal yang sangat penting bagi setiap orang. Kita tentu tidak ingin anak-anak kita tidak bersekolah – apalagi dengan jenis sekolah yang kini kian variatif. Kita tidak dapat berkata bahwa pendidikan formal adalah hal yang tidak penting  dengan mengatakan, “tuh buktinya Steve Jobs dan Bu Susi Pudjiastuti aja nggak kuliah tapi bisa jadi orang hebat!”

Pendidikan formal adalah hal penting dan menjadi hak setiap warga negara untuk mendapatkannya. Kita harus selalu mengusahakannya karena ia investasi yang sangat berharga dan tidak terukur uang. Negara pun harus menyediakan infrastruktur pendidikan formal yang layak di seluruh Indonesia secara merata, apalagi di daerah pedalaman seperti Papua.

Miris rasanya melihat semangat belajar anak-anak pedalaman namun setelah jalan kaki berjam-jam yang mereka dapati hanya kelas yang kosong tanpa guru.

Jika membaca novel “Laskar Pelangi”-nya Andrea Hirata atau “Lima Menara”-nya Ahmad Fuadi atau mendengar kisah-kisah anak pedalaman berprestasi dari Prof. Yohanes Surya, kita tahu bahwa mengenyam pendidikan adalah perjuangan berdarah-darah bagi banyak pemuda negeri ini.

Di sisi lain, pendidikan (apalagi pendidikan tinggi) jadi tak bermakna jika tak menghasilkan seorang pembelajar – satu tahap sebelum ia menjadi sesuatu yang membawa manfaat nyata. Saya pun setuju ketika Anies mengatakan bahwa tugas menghasilkan seorang pembelajar tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah tapi juga tanggung jawab kita semua lewat sense of ownership.

Saya pun paham maksud pernyataan dr. Lie ketika beliau berkata bahwa wilayah seperti Distrik Gagemba lebih butuh pemuda lokal yang terampil dan dapat mengajari masyarakat lokal lainnya daripada banyak sarjana, master, dan doktor yang kaya ilmu tanpa tahu bagaimana menerapkannya.

Bukankah kita harus menulis signifikansi akademis dan signifikansi praktis penelitian yang kita lakukan pada bab 1 skripsi/tesis/disertasi? Ketika selesai menulisnya, apakah ia menguap begitu saja di belantara perpustakaan tanpa berkesempatan direalisasikan?

Kembali pada visi melanjutkan kuliah, jawaban saya pada akhirnya adalah ingin melatih diri menjadi seorang pembelajar. Pengetahuan sudah pasti akan bertambah tapi semangat untuk terus belajar belum tentu langgeng, terlebih jika zona nyaman mulai menimbulkan rasa congak.

Selain alam dan kehidupan sehari-hari, bangku pendidikan formal menjadi salah satu sarana untuk melatih diri berinteraksi dengan sesama (misalnya dalam tugas kelompok atau presentasi kelompok), menghadapi pendapat yang berlainan, berpikir secara sistematis, jernih memandang masalah, meriset sebelum memutuskan, jeli menemukan solusi, dan seterusnya.

Dengan latar belakang ilmu komunikasi dalam arena sosial-politik, visi saya dalam berkuliah adalah meningkatkan kemampuan dalam mengkomunikasikan berbagai isu bangsa ini dengan lebih baik secara lisan maupun tulisan – selain tentunya komunikasi dalam kehidupan sehari-hari.

Komunikasi merupakan sebuah seni yang sangat general namun vital. Keterampilannya dapat kita pelajari dalam aneka kursus maupun seminar (public speaking, public relations, social media, dan masih banyak lagi) tapi tak banyak yang memahami makna komunikasi sesungguhnya.

Boleh saja kita menjadi pembicara handal tapi apakah kita juga menyediakan telinga bagi mereka yang tersisihkan? Hebat jika kita menjadi ahli strategi komunikasi seorang tokoh tenar tapi apakah komunikasi dengan keluarga di rumah (anak/isteri/suami) sebaik yang kita strategikan?

Bukankah pola komunikasi yang kita lakukan dalam skup terkecil yakni keluarga, menjadi cermin komunikasi pada tingkat nasional bahkan komunikasi antar negara? Banyak konflik terjadi bukan karena isunya tapi karena masalah dalam berkomunikasi. Seberapa sering kita terjebak pada masalah sepele yang membesar hanya karena kesalahpahaman kecil?

We can’t be a learning nation without willing to learn.

Kompetensi dan karakter harus berdiri berdampingan. Pendidikan harus memanusiakan manusia. Sebagai seorang pembelajar, inilah hal-hal yang perlu saya pelajari seumur hidup (pembelajar tidak mengenal batasan usia!).

Prinsip yang sama akan saya bagikan pada anak-anak saya kelak. Saya berharap mereka enjoy saat bersekolah, menjadi pembelajar seumur hidup, bahkan rindu melihat sesamanya memiliki semangat belajar yang sama. Goal-nya adalah mereka berdampak bagi lingkungannya sesuai bidang yang menjadi passion-nya, bukan sekadar puas menjadi cerdas dan punya koleksi gelar bejibun.

* * *

Foto: Anak-anak SD di Kabupaten Tambrauw, Papua Barat (Sylvie Tanaga)

 

 

 

 

 

 

 

 

Advertisements

One thought on “Memaknai Pendidikan

  1. Memaknai pendidikan tak cukup dengan apa yang kita rasakan saja, tetapi kita juga harus membuka mata dan melihat berbagai perkembangan pendidikan di sekitar kita. Dengan begitu akan terbentuk rasa tanggung jawab akan pembangunan pendidikan di Indonesia.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s