BOOK REVIEW: Zaman Edan – Indonesia Di Ambang Kekacauan

 

Judul Buku        :  Zaman Edan – Indonesia Di Ambang Kekacauan
Judul Asli           :  In the Time of Madness – Indonesia on the Edge of Chaos
Penulis                :  Richard Llyod Parry (Grove Press, New York, 2005)
Penerjemah      :  Yuliani Liputo
Penyunting        :  Anton Kurnia
Penerbit              :  PT Serambi Ilmu Semesta
Cetakan I            :  Mei 2008
Tebal Buku        :  451 halaman

 

Sampul depan wayang plus judul nyentrik “Zaman Edan” membuat saya awalnya menyangka buku ini sebagai buku sastra. Ketika membaca intisari di sampul belakang, barulah saya ngeh jika ini adalah buku reportase dari seorang jurnalis The Times (Inggris), Richard Llyod Parry. Membaca buku ini sejak lembar perdana, saya justru menemukan perpaduan keduanya: reportase bernas ala sastra.

Bagi saya pribadi, buku ini benar-benar memunculkan sensasi ketagihan untuk terus dan terus membacanya hingga tamat. Walhasil, hanya butuh satu setengah hari untuk menyelesaikan 451 halaman. Richard berhasil membangun daya tarik lewat gaya bertuturnya yang serasa novel thriller – sekalipun saya sadar bahwa isinya adalah sebuah fakta sejarah negeri ini… yang mem(i/a)lukan.

Secara umum, buku ini berisi pengalaman Richard yang meliput secara langsung pembantaian etnis dan kanibalisme di Kalimantan pada 1997 dan 1999, demonstrasi dan kerusuhan di ibukota pada 1998, serta pelanggaran hak asasi manusia yang dilakukan oleh militer Indonesia di Timor Timur jelang jajak pendapat yang berakhir dengan kemerdekaan negara tersebut pada 1999.

Richard memulai pengantarnya dengan menceritakan mimpi buruknya di sebuah bungalo di Bali. Menggunakan alur mundur, Richard menuturkan latar penugasannya ke Indonesia dan bagaimana ia berusaha mencerna peta Indonesia yang menurutnya memiliki keanekaragaman yang kelewatan.


Bagian pertama buku ini berjudul Musibah Yang Mendekati Aib: Kalimantan 1997 – 1999.
Richard tidak berlebihan ketika ia memilih kata “aib” untuk menggambarkan apa yang terjadi di Kalimantan, terutama dalam kurun waktu tiga tahun yang disebutkan.

Peristiwa pembantaian etnis di Kalimantan barangkali bukan hal baru yang kita dengar. Tapi narasi Richard di sepanjang ini jelas menghentak, membuat saya benar-benar merasa tidak pernah tahu bahwa peristiwa “barbarian” nan mistis yang mengerikan semacam ini pernah terjadi di Indonesia.

Membaca wawancaranya bersama para narasumber saja (lengkap dengan ekspresinya) sudah membuat saya bergidik. Dialognya begitu kuat membangun imajinasi mengenai apa yang sesungguhnya terjadi. Richard menggenapinya dengan perjalanan menembus belukar Kalimantan dan menyaksikan secara langsung kepala-kepala yang terpenggal, daging manusia yang disate, dan bahkan penawaran paksa untuk memakan potongan daging tersebut.

Meski disajikan secara detail yang faktanya memang mengerikan, jelas bahwa Richard tidak berfokus pada tujuan membangun sensasi thriller. Ia menulis pengalaman apa adanya tanpa melupakan konteks yang terjadi saat itu di Kalimantan, seperti kecemburuan antar suku. Ia juga tak sungkan menuliskan perasaannya ketika harus berhadapan langsung dengan situasi-situasi tersebut.


Bagian kedua bertajuk Cahaya Terang: Jawa 1998
. Richard kembali hadir pada salah satu periode terpenting sejarah negeri ini. Bab ini seolah membuat saya baru menyadari betapa berdarah-darahnya perjuangan menggulingkan rezim Orde Baru. Desing peluru, granat, tank, nasi kotak, bahkan debu jalan yang menjadi setting demonstrasi para pejuang reformasi terimajinasikan langsung dalam benak.

Richard menyaksikan langsung bagaimana para penjarah yang digambarkannya seperti semacam tidak sadar, barisan tank dan tentara, tubuh-tubuh terbakar, para mahasiswa yang bergelimpangan, infrastruktur yang lebur, bahkan jenazah mahasiswa Trisakti yang tewas tertembak.

Dalam bab ini, Richard menunjukkan kepiawaiannya sebagai seorang jurnalis yang tak meluputkan riset. Richard tak kagok ketika menjelaskan kaitan antara ramalan Jayabaya,  kepercayaan yang dianut Soeharto, dengan detik-detik kejatuhan Orde Baru. Dengan lugas Richard bahkan menulis bahwa tokoh seperti Megawati Soekarnoputri sesungguhnya hanya mengamati peristiwa 1998 dari pinggir.


Bagian pamungkas
merupakan yang paling mengerikan (setidaknya bagi saya) dari bab-bab sebelumnya. Dari judulnya saja sudah terlihat, Kandang Hiu: Timor Timur 1998 – 1999.

Kalau tidak membacanya secara mindfulness, Richard sang jurnalis Inggris terkesan begitu subjektif dan antipati terhadap keberadaan pasukan Indonesia di tanah Timor, seperti kebanyakan jurnalis asing lainnya. Tapi ini bukan soal nasionalisme melainkan manusia yang mati sia-sia oleh ujung bedil.

Mengikuti perjalanan Richard, kita akan mengerti bahwa militer Indonesia memang melakukan pelanggaran amat serius. Dialog dengan pemimpin pasukan pro kemerdekaan (Falintil) di dalam hutan dan hidup di antara desing mortir tanpa listrik – air, menggambarkan teror yang terutama ditebar oleh milisi Indonesia. Richard pun melabeli kengerian Timor Timur kala itu sebagai “kandang hiu”.

Perjuangan, potongan tubuh, darah, dan kemanusiaan memang merupakan benang merah tulisan Richard. Tapi sekali lagi, saya merasa bahwa tujuan utama Richard bukan menekankan kebrutalan sebagai suatu cerita horor yang sekadar membuat kita bergidik, lalu lupa sesudahnya.

Ini adalah sebuah buku yang tidak akan pernah hilang begitu saja dari benak. Buku ini ditulis dengan narasi yang mengalir begitu indah… sampai-sampai kita mungkin lupa bahwa ia bukan novel fiksi tapi sebuah fakta sejarah. Buku ini berkualitas sekaligus indah!

Buku ini membawa saya pada kekayaan Indonesia sekaligus betapa piciknya pola pikir pemerintah yang berupaya menyederhanakannya. Walau sudah ditulis 10 tahun silam (2005), buku ini masih relevan mengingat Indonesia belum banyak belajar dari sejarah, terutama penegakkan keadilan bagi mereka yang menjadi korban. Belum lagi jika kita berbicara soal pelanggaran hak asasi manusia di wilayah lainnya.

Mengutip pernyataan Joshua Oppenheimer dari artikelnya di The New York Times (2 Oktober 2015), ”….negeri ini tidak akan menjadi negara demokrasi sejati sampai mengambil langkah serius untuk mengakhiri impunitas. Sebuah awal yang sangat diperlukan adalah proses pengungkapan kebenaran, rekonsiliasi, dan penegakan keadilan.”

***

Baca juga: Diskusi Buku Richard Lloyd Parry

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s