Maaf, Saya Hanya Menjalankan Perintah… (?)

cbs

When someone demands blind obedience, you’d be a fool not to peek.
(Jim Fiebig)

Film dokumenter besutan Joshua Oppenheimer soal pembunuhan massal 1965 yang sangat fenomenal, The Act of Killing (2012) dan The Look of Silence (2014) sukses membuat saya tak bisa tidur. Resah muncul bukan karena saya membayangkan adegan pembunuhan sadis yang diperagakan dan diceritakan oleh para eksekutornya, sekalipun itu memang sangat mengerikan.

Yang jauh lebih mengerikan adalah bagaimana para eksekutor (pembunuh/jagal) yang rata-rata sudah uzur tersebut mudah saja mengungkapkannya tanpa rasa sesal, sedikit pun. Saya lebih suka menyebut mereka telah “mati rasa”, perasaannya sudah mati. Total.

Dalam The Act of Killing, Anwar Kongo seperti tanpa ekspresi ketika ia memeragakan adegan sadis pembunuhan yang dilakukannya. Dalam salah satu adegan The Look of Silence, seorang eksekutor enteng saja bercerita bagaimana dulu ia menyembelih kepala banyak korban dan meminum darahnya, merobek perut, hingga memotong payudara wanita sebelum memenggal kepalanya.

Tanpa perlu visualisasi, pernyataan ini saja sudah membuat kita segera merinding. Yang kemudian membuat saya terhenyak dalam adalah ketika sang eksekutor secara terang-terangan berkata bahwa mereka tidak merasa bersalah. Beberapa bahkan dengan bangga menganggap dirinya sebagai hero yang telah berjasa memberantas PKI yang sangat jahat dan membelot dari NKRI.

Ketika Adi Rukun (yang kakaknya dibunuh secara sadis dalam peristiwa tersebut) berhadapan dengan para pembunuhnya dan bertanya apakah mereka tidak pernah merasa bersalah dan merasa bertanggung jawab, semua kompak menjawab: “kami cuma menaati perintah negara!”

Adi Rukun tak menyerah dengan pertanyaannya. Dalam salah satu adegan The Look of Silence, Adi Rukun bertanya kepada salah seorang penjaga penjara yang ngotot merasa tidak bersalah dan tidak perlu bertanggung jawab karena toh ia hanya seseorang yang diperintahkan menjaga penjara, bukan membunuh. Demikian cuplikan dialognya.

Adi: “Jadi Paman tidak ada rasa menyesal?”
Penjaga tahanan: “Yang sudah ya sudahlah.”
Adi: “Walaupun yang sudah ya sudahlah, adakah rasa nyesal?”
Penjaga tahanan: “Daripada njelimet yang nurut perintah aja. Pokoknya kita jangan ikut membunuh.”
Adi: “Tapi Paman tahu bahwa orang di kampung sini tidak ada apa-apa. Artinya kan Paman ikut membantu membunuh orang yang tidak bersalah.”
Penjaga tahanan: “Awak hanya menjaga keamanan….”

Baik The Act of Killing maupun The Look of Silence memperlihatkan betapa para eksekutor 1965 menganggap perilaku sadisnya hanya bentuk ketaatan terhadap perintah. Saya jadi bertanya-tanya apakah sebelum “diperintahkan negara” mereka sudah pernah membunuh seseorang dengan cara sedemikian sadis? Bagaimana mereka begitu mudah menggorok orang dan mampu mengabaikan jeritan sakratul maut para korban? Benarkah mereka melakukannya hanya karena perintah?

Pertanyaan lebih mendasar, mengapa mereka mau begitu saja diperintahkan membunuh orang dengan tangannya sendiri? Cuci otak? Bagaimana cara mencuci otak puluhan juta rakyat di seluruh nusantara sampai mereka tega membunuh dengan sadis? Karena “bawaan” untuk bertindak sadis? Jika demikian berarti puluhan juta orang Indonesia saat itu serentak meluapkan bawaan sadisnya.

Rasa penasaran saya agak terkuak usai membaca hasil eksperimen psikologi yang sangat kontroversial dari Stanley Milgram. Milgram tergelitik untuk melakukan eksperimen ini setelah menyaksikan pengadilan terhadap penjahat perang NAZI, Adolf Eichmann. Pria ini memerintahkan pembunuhan terhadap 430.000 Yahudi Hungaria di kamar gas.

Yang menyesakkan dada adalah fakta bahwa Milgram bukan seorang psikopat, maniak, ataupun memiliki kelainan jiwa. Eichmann adalah pria sederhana yang normal dengan pembawaan tenang dan ramah, serta penyayang keluarga. Dalam pengadilan tahun 1961, Eichmann menyatakan diri tidak bersalah karena ia hanya ikut perintah di bawah komando Hitler. Sounds familiar?

Milgram pun bertanya-tanya dalam hati. Apakah seseorang bisa membunuh hanya karena memiliki kelainan jiwa dan karena tidak memiliki rasa kemanusiaan? Ataukah orang tersebut memang benar-benar normal dan hanya sekedar taat pada perintah atasannya?

Hanya selang beberapa minggu dari pengadilan Eichmann, Milgram segera memulai eksperimennya yang terkenal dengan nama “Eksperimen Kepatuhan Pada Sosok Otoritas” (Experiment on Obedience to Authority Figures). Dalam penelitian ini, Milgram mengumpulkan 50 partisipan dan mengundang mereka datang ke Yale University. Seluruh partisipan adalah orang normal dari berbagai kalangan.

Sesampainya di Yale, eksperimenter menjelaskan bahwa penelitian ini adalah mengenai pengaruh hukuman setrum listrik dalam proses belajar. Seorang partisipan akan berperan sebagai guru yang harus menyetrum murid jika salah mengeja dan yang lainnya menjadi murid. Partisipan diundi untuk menentukan siapa guru dan murid namun seluruh partisipan telah diatur untuk menjadi guru.

Murid diikat di kursi listrik dan guru harus memilih menyetrum jika si murid salah menjawab. Tombol voltase listrik bermula dari angka 15 volt dan dapat naik 30 kali hingga batas 450 volt. Guru harus meningkatkan voltase listrik secara bertahap untuk setiap pertanyaan yang salah jawab. Para partisipan tidak tahu bahwa sesungguhnya tidak ada listrik yang mengalir dalam eksperimen ini.

Para guru mulai menyetrum murid yang salah menjawab pertanyaan yang diajukan eksperimenter berpenampilan necis dan berwibawa dengan jas lab putihnya (otoritas). Murid mulai “berakting” sangat kesakitan dan mengaku bahwa jantungnya lemah hingga berteriak-teriak. Ketika sampai pada 150 volt, beberapa partisipan tak tahan dan ingin segera menghentikan tindakannya.

Namun sebagai pemegang otoritas, sang eksperimenter mengatakan bahwa ia-lah yang bertanggung jawab dan meyakinkan bahwa meskipun sakit, aliran listrik tersebut tidak menimbulkan resiko permanen. Oleh karenanya, para partisipan harus lanjut menyetrum. Tidak ada pilihan.

Hasil eksperimen ini mengejutkan karena 26 dari 40 partisipan (65%) terus menyetrum hingga tahap 450 volt meski si murid sudah berteriak sangat kencang dan minta berhenti karena sakit jantung, bahkan hingga berhenti merespon. 14 partisipan menolak melanjutkan hingga tahap akhir dan hanya 6 partisipan yang berhenti menyetrum pada level 150 volt.

Meski kontroversial, penelitian ini dianggap membuka sisi biadab manusia yang tega melukai sesamanya hanya atas dasar perintah. Milgram membuka fakta bahwa mudah sekali bagi seseorang yang normal untuk bertindak biadab dan mematikan.

Penelitian ini kemudian dilanjutkan oleh Philip Zimbardo lewat Stanford Experiment Prison (1971). Partisipan Zimbardo terdiri dari 24 anak muda yang normal. 12 orang ditugaskan sebagai penjaga tahanan dan 12 orang lainnya sebagai napi. Suatu hari, seorang “napi” ditangkap polisi sungguhan sementara para penjaga mendapat seragam, bedil, dan asesoris militer lainnya.

Tak disangka, para partisipan yang bertugas sebagai penjaga tahanan ini tega melakukan tindakan-tindakan di luar batas kemanusiaan. 36 jam pertama, mereka menakuti para napi. Lima hari berikutnya, mereka melakukan penyiksaan seksual hingga penelitian harus diakhiri pada hari ke-6. Hanya dalam tempo beberapa jam, seorang pelajar baik-baik berubah menjadi sangat sadis.

Dari eksperimennya, Zimbardo mengidentifikasi tujuh tahap yang mengubah seorang normal menjadi amat biadab (tentu tanpa cuci otak apalagi guna-guna). Pertama, tidak pikir panjang lagi untuk mengambil langkah awal. Ingat bahwa menjadi jahat selalu dimulai dari 15 volt! Kita mulai menjadi biadab saat berani mengambil langkah awal melukai orang secara sadar, meskipun kecil.

Tahap berikutnya adalah dehumanisasi, de-individualisasi diri (anonimitas), de-individuasi, ketaatan buta terhadap otoritas, melepaskan tanggung jawab pribadi, tidak kritis dan mengabaikan norma-norma kelompok, dan terakhir adalah bersikap pasif menoleransi kejahatan lewat ketidakpedulian. Ketujuh tahapan inilah yang disebut Philip ZImbardo sebagai “the road to evil”.

Penelitian ini segera membuka mata saya bahwa ketaatan buta terhadap pemimpin, terlebih jika mereka memberi perintah yang tidak sesuai hati nurani atau norma moral, merupakan langkah awal yang sangat berpotensi mengubah kita sebagai manusia biadab. Semua dimulai dari langkah pertama. Sesudahnya, belum tentu kita merasa bersalah. Gue hanya jalanin perintah bos, kok!

Bukan berarti saya sedang menganjurkan Anda untuk memberontak terhadap perintah otoritas. Yang sebaiknya tak dilakukan adalah taat secara buta tanpa memahami tujuan perintah tersebut. Apalagi jika sejak awal jelas-jelas bertentangan dengan hukum dan hati nurani. Tiap tindakan merupakan pilihan sadar, termasuk pilihan untuk taat perintah. Tanggung jawab ditanggung sendiri.

Maka kita pun jelas tidak dapat menerima ucapan para koruptor yang enteng mengatakan, “maaf, saya hanya menjalankan perintah saja” seolah tanggung jawab atas tindakannya hanya dapat dibebankan pada mereka yang memberi perintah, bukan padanya. Kata-kata “hanya menjalankan perintah” sungguh tak dapat ditolerir karena manusia bukanlah robot.

Philip Zimbardo juga menganalisa 10 hal untuk membuat seseorang menjadi sadis.

  1. Menawarkan ideologi bohong sebagai pembenaran diri untuk mencapai tujuannya
  2. Mengatur kewajiban berperilaku dalam bentuk kontrak tertulis maupun tidak tertulis
  3. Memberikan peran untuk berbuat sesuatu dengan pesan-pesan positif
  4. Menyajikan aturan dasar yang tampak masuk akal sebelum benar-benar dipraktikkan
  5. Mengubah arti tindakan dari “menyakiti korban” menjadi “membantu orang dengan menghukum mereka”
  6. Meyakinkan bahwa ia tidak bertanggung jawab atas tindakannya
  7. Mulai melakukan “kejahatan kecil” pertama (dimulai dari 15 volt!)
  8. Meningkatkan aksi kejahatan secara bertahap
  9. Melihat bahwa otoritas tidak adil namun memilih untuk tetap mematuhi perintahnya
  10. Otomatis mengikuti apapun perintah otoritas tanpa merasa bersalah (mati rasa)

Tidak heran jika organisasi ekstremis seperti ISIS melatih anak-anak kecil agar mereka terbiasa membunuh kafir dengan bedil (bertindak sadis) demi “membela Tuhan”. Anak-anak Palestina pun diajar untuk membenci Israel sementara anak-anak Israel diajar membenci Palestina. Maka kita melihat bagaimana aksi sadistik di Timur Tengah tak pernah surut dari generasi ke generasi.

Penelitian Milgram dan Zimbardo seringkali dimanfaatkan dunia manajemen untuk merekayasa ketaatan karyawan terhadap atasan mereka. Namun saya sendiri lebih melihatnya sebagai peringatan untuk “tidak bodoh” menelan mentah-mentah segala perintah tanpa berusaha memahami tujuan dan kebaikan-kebaikan yang dikandungnya. Juga agar tak sembarang memerintah dengan tangan besi tanpa bersedia menerima kritik dan masukkan dari orang yang diberi perintah.

Kita harus sadar bahwa setiap tindakan adalah pilihan yang harus kita pertanggung jawabkan secara moral, termasuk pilihan untuk tidak bertindak saat melihat ketidakadilan. Untuk menangkal ideologi bohong yang dilancarkan demi membenarkan perintah (“PKI itu musuh negara, harus dibasmi!”), kita perlu memperluas pengetahuan, misalnya membiasakan diri membaca dan berdikusi.

Penelitian gamblang Milgrams dan Zimbardo jelas menunjukkan betapa mudah bagi seorang manusia normal untuk menjadi sadis dalam waktu singkat. Dengan demikian, sudah seharusnya kita makin jeli dan waspada dalam menjalankan perintah apalagi memerintah orang lain.

“Maaf, saya hanya menjalankan perintah bos” adalah kesesatan berpikir yang sangat fatal. Persoalannya bukan malas berpikir. Mereka yang mengatakannya sengaja cuci tangan memposisikan diri sebagai korban daripada sebagai pelaku yang seharusnya bertanggung jawab.

Dalam konteks politik, kalimat ini membuahkan hasil teramat gawat jika hukum (berlapis kekuasaan) menolerirnya. Sayangnya, itulah yang terjadi di negeri ini. Tak heran jika para koruptor dan penjahat kemanusiaan sejak era “purba” bebas melenggang di panggung politik kontemporer – tanpa sesal sedikit pun, persis seperti yang ditunjukkan dalam The Act of Killing dan The Look of Silence.

Saat kita memilih diam (pasif), saat itu pula kita telah membenarkan perilaku sadis tersebut bahkan menjadi bagian dari aksi biadab yang dilakukan (lihat tahap “road to evil” poin keenam dan ketujuh penelitian Philip Zimbardo). Jauh sebelumnya, Edmund Burke (1729 – 1797) pernah berkata, “the only thing necessary for evil to triumph is for good men to do nothing.”

* *

Adi: “Jadi gimana Bapak memandang peristiwa ini (1965)?”
Jagal: “Semua sudah tuntas. Sudah tidak ada apa-apa lagi. Sudah aman. Bagaimanapun yang sudah ya sudah… (tanpa ekspresi menyesal). Makanya untung saja saya sempat minum darah orang. Kalau tidak sempat minum darah orang, saya bisa gila….”

* * *

Photo Sources: cbsnews.com

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s