Membangun Masyarakat Sehat Dari Periferi

Juni 2015. Tak percaya rasanya bahwa saya sedang berada di sebuah negara bernama Indonesia. Usai penerbangan panjang rute Jakarta – Timika, perjalanan bersambung ke ibukota Kabupaten Intan Jaya, Sugapa, dengan sebuah pesawat perintis yang begitu sempit. Sedemikian sempitnya sampai kami berdelapan harus duduk berimpitan sambil menahan rasa pusing.

Landasan sepanjang 600 meter jadi satu-satunya jalan aspal di Distrik Sugapa. Sesuai rencana, kami menuju Desa Gagemba untuk melaksanakan pelayanan medis selama beberapa hari di sana – dengan kendaraan ojeg. Butuh waktu hampir dua jam untuk mencapai desa tersebut. Dua tangan saya berdarah setelah berpegangan erat pada motor yang meliuk menghindari jurang, menembus hutan, menanjak tebing curam berkontur tanah lempung, juga beberapa kali melintasi sungai.

Jelang hari pertama pelayanan medis dalam bentuk pengobatan umum dan bedah minor di Desa Gagemba, seorang pemuka agama dengan suara tercekat menyampaikan pidato singkat bahwa selama 70 tahun Indonesia merdeka, belum pernah sekalipun dokter hadir di sana. Kami, tim Dokter Terbang dari doctorSHARE (Yayasan Dokter Peduli) yang  terdiri dari seorang dokter spesialis, dua dokter umum, seorang perawat, dan dua relawan non medis, adalah tim medis pertama yang datang.

Fakta ini membuat masyarakat begitu antusias. Mereka bahkan bergotong-royong membantu mendirikan tenda yang kami gunakan sebagai tempat melakukan pelayanan medis. Digabung dengan pelayanan medis di Sugapa seminggu berikutnya, tim melayani 27 pasien bedah minor dan 551 pasien pengobatan umum, juga membagikan obat cacing dan vitamin kepada 200 anak.

Ketika membantu pendaftaran pasien bedah minor, saya terkejut mendapati banyaknya warga yang tidak ingat tanggal dan tahun lahir, bahkan tidak bisa baca tulis karena tidak pernah sekolah. Penasaran, saya pun bertanya lewat penerjemah lokal mengenai apa yang biasanya mereka lakukan jika sakit. Jawabannya hanya satu: pasrah.

Memang ada puskesmas di Sugapa tapi warga distrik lain harus berjalan kaki selama berjam-jam bahkan berhari-hari untuk mencapai lokasi, itu pun jika si sakit masih kuat berjalan melalui medan berat. Tak jarang warga meninggal di tengah perjalanan. Kartu sehat menggratiskan biaya berobat warga tapi ketiadaan akses adalah persoalan lainnya yang jauh lebih serius.

Pelayanan medis tidak berlangsung hingga larut malam karena ketiadaan listrik. Di tengah menterengnya lampu bangunan sepanjang Jalan Sudirman-Thamrin, Jakarta, warga Intan Jaya tak pernah menikmati lampu penerangan. Penerangan malam berasal dari kayu-kayu perapian di dalam honai (rumah adat). Yang sedikit lebih canggih adalah senter kecil yang dibeli dari ibukota.

Kembali pada isu kesehatan, banyak warga meninggal sia-sia karena penyakit yang mungkin “sepele“ bagi warga kota yaitu infeksi karena luka kemasukan batu, borok atau tergigit babi. Para mama atau ibu-ibu bahkan sudah biasa menghadapi kematian anak balitanya. Anak tujuh mati dua, anak delapan mati tiga, dan seterusnya, suatu fakta yang benar-benar miris.

Pemandangan miris lainnya adalah anak-anak berperut buncit karena cacingan dan ingus abadi yang terus turun dari kedua lubang hidungnya. Ketika diberikan obat cacing, mereka langsung memindahkannya ke tangan yang kotor berbalut tanah sebelum diminum dengan cara dicedok pelan menggunakan sisi tangan lainnya yang juga berlumur tanah.

Koordinator Dokter Terbang doctorSHARE, dr. Riny Sari Bachtiar, MARS mengatakan bahwa kasus penyakit bedah paling menonjol adalah hernia ventralis atau benjolan di perut bagian tengah. Butuh penelitian lebih lanjut untuk memastikan penyebabnya namun ia menduga penyebabnya adalah faktor kebutuhan, alam dan budaya yang menuntut warga melakukan aktivitas berat untuk kelangsungan hidupnya, selain faktor genetik.

Kasus menarik lainnya adalah kapalan. Kapalan pada kaki dan tangan bukan hal mengejutkan, tapi kapalan hingga kerikil-kerikil masuk dan menahun berada di telapak tangan dan kaki benar-benar langka ditemukan di tempat lain. Kemungkinan besar penyebabnya adalah kebiasaan tak mengenakan alas kaki ketika berjalan kaki.

Demikian pula dengan luka-luka terinfeksi yang hanya dibungkus seadanya dengan kain atau kantung plastik. Penyakit tahunan yang pasti ditemukan di tempat lain adalah Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) akibat cuaca dingin. Ventilasi honai (rumah khas Papua) juga tidak bersahabat dengan saluran pernapasan. Para tokoh masyarakat bercerita soal banyaknya nyawa yang menjadi korban akibat keterbatasan akses dan pengetahuan mengenai kesehatan.

 Pada pelayanan medis kloter pertama empat bulan sebelumnya (Maret 2015), tim Dokter Terbang bahkan dibuat menganga ketika penyuluhan kesehatan berlangsung. Dari 245 siswa SD, hanya seorang siswa yang mengangkat tangan ketika tim bertanya siapa yang memiliki sikat gigi di rumah. Mereka terbiasa ke sekolah tanpa alas kaki. Mandi dan cuci pun tak sering dilakukan karena faktor iklim dan keterbatasan air. Seringkali pakaian yang mereka kenakan merupakan satu-satunya.

Suatu hari, tim mendapati pasien seorang ibu yang perutnya sakit karena benjolan sebesar telur ayam. Demi mendapat pelayanan medis, ia berjalan selama lima jam melintasi gunung dari Bulapa ke Sugapa. Dengan alat sederhana dan pembiusan lokal, sang ibu sukses dioperasi. Ia istirahat sebentar, mengucap syukur sambil berurai air mata, lalu pulang berjalan kaki dengan langkah tegap melewati jalan setapak pulang ke rumah untuk lima jam berikutnya.

Seorang kepala suku mengatakan bahwa di balik sungai dan gunung, masyarakat harus berjalan berhari-hari bahkan hingga seminggu untuk mencapai ibukota Sugapa. Tak ada perawat ataupun bidan, apalagi dokter beserta obat-obatannya. Mereka percaya bahwa seseorang jatuh sakit akibat tulah atau kutukan setan gunung sehingga si sakit hanya pasrah menunggu ajalnya. Keberadaan dokter adalah hal baru yang tak pernah mereka lihat dari generasi ke generasi.

Memperoleh layanan medis di kota besar terdekat yakni Timika dan Nabire adalah sesuatu yang hampir mustahil. Seorang warga harus membayar sekitar tiga juta rupiah sekali jalan, belum termasuk biaya penginapan, makan, dan kebutuhan sehari-hari selama berada di kota.

Dengan peralatan sangat sederhana, teman-teman dokter mengeluarkan kreasinya untuk mengobati pasien. Ketika kami dipanggil ke sebuah honai untuk mengobati seorang mama usia 20 tahunan yang tergeletak tak berdaya karena diare dan mengalami dehidrasi parah, tim yang tidak membawa set infus karena kondisi pesawat yang sempit terpaksa harus memanfaatkan apa yang ada.

Tim berusaha merehidrasi pasien tersebut dengan asupan cairan terus menerus dengan cairan NaCl 0,9% dan empat buah jarum suntik 5 cc. Tangan teman-teman medis merah dan sakit karena puluhan kali harus mengisap cairan NaCl dengan jarum suntik. Esoknya, sang mama sudah tampak sehat dan mampu keluar honai dipapah suaminya. Hari berikutnya, ia berpartisipasi membantu pelayanan medis dengan memasak dan menjadi penerjemah.

Pengalaman ini menyadarkan saya bahwa kemerdekaan Indonesia selama 70 tahun tak benar-benar dinikmati sepenuhnya, terutama oleh warga daerah sangat terpencil seperti warga pegunungan tengah Papua. Mereka benar-benar tak memiliki akses terhadap layanan kesehatan, hak paling dasar yang seharusnya dimiliki seluruh warga negara Indonesia tanpa kecuali sesuai amanat UUD 1945.

Mereka tidak merdeka dari kemiskinan dan sakit penyakit meski tanahnya sangat kaya dan subur. Hadirnya perusahaan asing di tanah Papua pun tak membuat kualitas hidup warga membaik sementara kapasitas pemerintah masih sangat terbatas. Oleh karenanya, upaya menuju masyarakat sehat seutuhnya hanya dapat dicapai melalui sinergi yang baik dengan berbagai elemen masyarakat seperti doctorSHARE dan organisasi lainnya, tentunya dengan melibatkan warga Papua itu sendiri.

Selain Dokter Terbang, doctorSHARE juga menggagas Rumah Sakit Apung atau sebuah rumah sakit yang bergerak mengelilingi pulau-pulau terpencil di Indonesia. Rumah Sakit Apung swasta pertama di Indonesia ini dilengkapi dengan fasilitas ruang dokter, ruang rawat inap pasien, ruang resusitasi, ruang bedah, pemeriksaan laboratorium, Elektrokardiografi, Ultrasonografi, dan sebagainya.

Standarnya sama seperti rumah sakit di darat, meski dalam format yang lebih sederhana. Hingga saat ini, Rumah Sakit Apung berjenis pinisi dengan nama RSA dr. Lie Dharmawan ini sudah melayani ribuan pengobatan umum dan ratusan operasi dari ujung barat hingga ujung timur secara cuma-cuma. Bentuk yang ramping mempermudah RSA bergerak lincah dan sandar di pulau-pulau terpencil. Sudah tak terhitung jumlah kasus menarik yang ditangani di RSA ini, termasuk operasi hernia sebesar buah kelapa dan operasi tumor pembuluh darah di wajah seorang anak kecil.

Semangat membangun masyarakat sehat dari periferi dan memerdekakan masyarakat dari keterkungkungan terhadap akses pelayanan kesehatan inilah yang pelan tapi pasti akan mengubah wajah kesehatan di Indonesia. Jika sinergi dengan pemerintah berjalan lancar, saya optimis kemerdekaan Indonesia akan dinikmati sepenuhnya oleh seluruh warga Indonesia termasuk saudara-saudara kita di pegunungan tengah Papua.

* * *

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s