HKN 2015: Jalan Panjang Menuju Indonesia Sehat

Kurang dari 24 jam sebelum Hari Kesehatan Nasional 2015, Indonesia dikejutkan oleh meninggalnya seorang dokter internship asal Makassar yang tengah bertugas di Rumah Sakit Cenderawasih, Dobo, Kabupaten Kepulauan Aru, Provinsi Maluku yaitu dr. Dionisius Giri Samudra (dr. Andra).

Andra meninggal dunia pada 11 November 2015 pada pukul 18.16 WIT di RS Dobo karena penyakit radang otak (encephalitis post morbilli). Sebelum meninggal, sang dokter muda ini mengalami demam dengan trombosit yang mencapai sekitar 50.000, dan berakhir dengan penurunan kesadaran.

Ia tak dapat ditangani dengan cepat karena infrastruktur medis yang sangat minim sehingga harus dirujuk ke rumah sakit lain. Masalahnya, perjalanan menuju rumah sakit di Ambon butuh waktu hingga 3,5 jam dengan catatan jadwal penerbangan yang tidak rutin. Ironisnya, dr. Andra dikabarkan tak memiliki biaya evakuasi karena gajinya sebagai dokter internship hanya Rp 2,5 juta per bulan.

13 Mei 2015, dr. Dhanny Elya Tangke yang bertugas sebagai dokter PTT (Pegawai Tidak Tetap) di Distrik Oksibil dan Waime, Pegunungan Bintang, Provinsi Papua juga meninggal dunia di Rumah Sakit Abepura, Jayapura, Papua. Sebabnya adalah malaria yang terlambat ditangani karena masalah minimnya infrastruktur, jarak yang jauh, dan kondisi cuaca yang tak mendukung.

Meninggalnya dr. Dionisius Giri Samudra dan dr. Dhanny Elya Tangke sejatinya menjadi gambaran resiko besar para dokter yang bertugas di daerah terpencil. Lebih dari itu, kedua kasus ini secara gamblang memperlihatkan bagaimana masyarakat daerah terpencil selama ini begitu kesulitan untuk mendapatkan pelayanan kesehatan, apalagi untuk kasus-kasus darurat.

Jika dokter internship saja tak mampu membayar evakuasi, bagaimana selama ini masyarakat di sana (dari generasi ke generasi) berhadapan dengan kasus-kasus yang menentukan hidup dan mati mereka?

Saya pernah berbincang dengan seorang masyarakat lokal Kabupaten Intan Jaya di Papua, Maximus Tipagau. Pemuda yang akrab disapa ‘Max’ ini punya pengalaman sangat buruk mengenai kondisi kesehatan di tanah kelahirannya.

Ketika Max masih berusia tujuh tahun, ayahnya jatuh dari gunung es di dekat pegunungan Carstensz. Kakinya patah. Jangankan dokter, mantri pun tak ada. Satu setengah tahun berikutnya, sang ayah harus bertahan di rumah dengan kaki patah dan akhirnya meninggal tanpa pernah diobati.

Sang ibu jadi korban berikutnya. Ia meninggal lima hari setelah kandungan indungnya pecah, juga tanpa pernah mendapat pertolongan medis. Tiga bulan kemudian, adik Max paling bungsu yang masih bayi harus meninggal kelaparan karena tak ada lagi ibu yang menyusuinya. Max akhirnya tinggal dan dibesarkan sang nenek – yang akhirnya juga meninggal tanpa pernah ditolong secara medis.

“Keluarga yang saya sayangi harus meninggal sia-sia tanpa pertolongan medis sama sekali. Saya kira, hampir 90% masyarakat Papua pegunungan merasakan penderitaan yang sama seperti keluarga saya. Indonesia sudah merdeka 70 tahun namun hingga detik ini, masyarakat pegunungan Jayawijaya hampir belum pernah menikmati pelayanan medis,” papar Max dengan suara tercekat.

Kisah pilu hidup Max dan keluarganya yang meninggal sia-sia dialami oleh jutaan masyarakat lainnya di daerah terpencil. Daerah terpencil tanpa akses, minimnya infrastruktur (puskesmas, alat kesehatan,  obat-obatan, dan seterusnya), keterbatasan tenaga medis, hingga ketiadaan biaya sudah menjadi kisah klasik yang terus berulang dari generasi ke generasi, khususnya di Indonesia timur.

Ketika melakukan pelayanan medis “Dokter Terbang” ke Desa Gagemba di Kabupaten Intan Jaya, Papua, saya dan teman-teman doctorSHARE (Yayasan Dokter Peduli) kaget bukan kepalang ketika masyarakatnya berkata bahwa jauh sebelum Indonesia merdeka pun mereka sama sekali belum pernah melihat sosok dokter. Jangankan dokter, mantri pun tidak ada.

Pemerintah memang telah melakukan berbagai upaya untuk setidaknya meminimalisir penderitaan ini. Upaya yang dilakukan antara lain adalah merealisasikan ide menjamin kesehatan seluruh rakyat lewat BPJS, meski kini masih berjuang dengan segala carut marut sistemnya. Tapi sekalipun masyarakat daerah terpencil punya BPJS, mereka tetap tak bisa berobat karena kendala geografis dan ketiadaan puskesmas.

Terkait isu ini, upaya pemerintah terlihat pada aktivitas Gerakan Pencerah Nusantara yang bermula dari gagasan Kantor Utusan Khusus Presiden RI untuk Millennium Development Goals (KUKP-RI MDGs) pada 2011. Idenya adalah ajakan kolaborasi untuk memberikan pelayanan kesehatan di daerah.

Ajakan berkolaborasi seyogyanya menunjukkan pengakuan pemerintah bahwa mereka tak dapat bekerja sendiri untuk menangani masalah kesehatan nasional yang sedemikian kompleks.

Pemerintah memang bertanggung jawab utama untuk menyediakan layanan kesehatan bagi seluruh rakyat Indonesia sesuai dengan amanat Undang-Undang Dasar. Tapi kita tahu bahwa mengandalkan kerja pemerintah semata sama artinya membiarkan orang-orang seperti Max dan keluarganya harus menunggu lebih lama untuk menikmati layanan kesehatan – yang entah sampai kapan terwujud.

Sama pula artinya dengan membiarkan lebih banyak orang mati sia-sia – tanpa pernah kita sadari bahwa mungkin saja orang tersebut sesungguhnya adalah calon presiden yang begitu cemerlang, calon atlet berprestasi internasional, atau bahkan calon pemimpin yang dihormati dunia.

Masalahnya adalah kita yang hidup nyaman di kota sudah terbiasa mendengar kasus kematian warga daerah terpencil (bahkan mungkin tidak diberitakan media nasional) hingga tak peduli, sampai kematian itu menimpa para dokter muda yang tengah bertugas di sana. Barulah kita terhenyak pada fakta begitu mudahnya seseorang mati sia-sia tanpa pertolongan medis – seolah hal ini baru terjadi kemarin sore.

Oleh karenanya, Hari Kesehatan Nasional yang diperingati setiap 12 November harusnya tidak boleh jadi ajang selebrasi simbolis dari tahun ke tahun. Ia harusnya jadi momentum untuk mengevaluasi kembali kondisi kesehatan nasional kita yang sesungguhnya.

Kesehatan nasional bukan semata persoalan statistik tentang berapa jumlah anak sakit yang sudah kembali sehat setelah diobati dan seterusnya. Yang paling penting adalah komitmen nyata dari kita semua untuk memberi perhatian bagi mereka yang selama ini tak pernah berkesempatan menikmati pelayanan kesehatan. “Kita semua” artinya kita harus bergerak, bukan hanya pemerintah.

Saya mengapresiasi langkah yang dilakukan oleh rekan-rekan doctorSHARE yang aktif memberikan pelayanan medis bagi masyarakat daerah-daerah terpencil dengan inovasi Rumah Sakit Apung (RSA) dr. Lie Dharmawan. RSA ini dilengkapi dengan fasilitas kamar bedah alias sama seperti rumah sakit di darat pada umumnya. Rekan-rekan doctorSHARE lainnya pun berjuang menjangkau daerah pedalaman sangat terpencil di pegunungan Papua melalui program Dokter Terbang.

Dengan mengandalkan semangat kerelawanan dan “patungan ramai-ramai” untuk pendanaan, pelayanan medis yang kami lakukan setidaknya telah membawa dampak bagi kehidupan masyarakat, lebih dari sekedar persoalan berapa jumlah pasien yang telah berhasil kami operasi atau obati.

Seorang bapak dengan hernia sebesar buah kelapa akhirnya kembali berfungsi sebagai kepala keluarga yang menghidupi keluarganya setelah kami operasi. Tumor pembuluh darah yang mengancam nyawa seorang anak juga berhasil kami angkat melalui operasi. Kedua operasi ini dilakukan di dalam Rumah Sakit Apung yang begitu sederhana. Dasarnya adalah kepedulian untuk mengambil tindakan nyata.

Bayangkan jika lebih banyak di antara kita bergerak untuk menjangkau saudara-saudara yang membutuhkan pelayanan medis, utamanya di daerah terpencil. Bayangkan jika ada lebih banyak upaya menggandeng masyarakat lokal untuk mempelajari pengobatan dasar bagi warga di daerahnya.

Perjalanan menuju Indonesia Sehat seutuhnya memang masih panjang. Tapi lewat sinergi, ini bukan hal mustahil. Sudah saatnya masyarakat daerah terpencil tak lagi bergumul dengan hidup dan mati hanya karena tak mendapat pertolongan medis. Perjuangan dr. Dionisius Giri Samudra dan dr. Dhanny Elya Tangke mesti diteruskan. Selamat Hari Kesehatan Nasional dan selamat bekerja!

* * *

Foto: Pelayanan Medis “Dokter Terbang” (Flying Doctors) di Gagemba, Intan Jaya – Papua (Eric Satyadi)

http://www.doctorshare.org/index.php/news/2015/11/12/192/hkn-2015-jalan-panjang-menuju-indonesia-sehat.html

Advertisements

2 thoughts on “HKN 2015: Jalan Panjang Menuju Indonesia Sehat

  1. Saya sungguh sangat prihatin dan tersentuh dengan situasi yang dihadapi oleh alm. dr. Andra, namun demikian saya pun lebih prihatin dengan kematian2 ibu hamil dan bayi baru lahir yang terjadi di RS2 besar. Yang hidup bisa mati, yang sekarat, apalagi. Padahal dengan akses mudah, infrastruktur, transportasi, petugas kesehatan, termasuk spesialis yang lengkap, seharusnya bisa diselamatkan. Lalu apa yang salah……………..

    Perlu kejujuran dalam melaksanakan kajian mendalam…………dan anda akan terkejut akan temuan2nya

    • Sdri. Mia…

      Benar, masih banyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikan mulai dari masalah infrastruktur, aturan/kebijakan, hingga kualitas tenaga medis di tanah air. Kita berharap semoga setelah kejadian meninggalnya dr. Andra, pemerintah makin peka dan masyarakat luas pun makin peduli – syukur-syukur bisa bersinergi bergerak dalam upaya penyediaan layanan medis yang manusiawi bagi masyarakat yang membutuhkan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s