Episodic Framing Media dalam Kasus Kematian dr. Andra

11 November 2015 malam, Indonesia heboh oleh berita meninggalnya dr. Dionisius Giri Samudra (dr. Andra) ketika tengah menjalankan tugas sebagai dokter internship di Kabupaten Kepulauan Aru, Provinsi Maluku. Berita ini kemudian menjadi headlines media-media nasional keesokan harinya, bertepatan dengan peringatan Hari Kesehatan Nasional 2015.

Selang sehari setelah peristiwa, kebanyakan media memberitakannya dalam bentuk straight news mulai dari kronologis kematian dr. Andra, sulitnya evakuasi jenazah akibat ketiadaan penerbangan di daerah terpencil tersebut, hingga bagaimana jenazah dr. Andra berhasil diterbangkan ke Jakarta.

Narasi media kemudian berkembang ke arah resiko yang harus dihadapi seorang dokter yang mengabdi di daerah terpencil, minimnya gaji dokter internship, pernyataan kontroversial Menkes, perdebatan perlu tidaknya program internship dan PTT, komentar rekan sejawat soal kematian dr. Andra dan figur personalnya, hingga features soal serba-serbi penyakit dr. Andra.

Saat jenazah dr. Andra diterbangkan, yang menjadi sorotan media adalah proses evakuasi yang tengah berlangsung, lamanya perjalanan, reaksi emosi orang tua dan kerabat saat jenazah dr. Andra tiba di Jakarta, hingga rencana Menkes melayat ke rumah dr. Andra.

Tidak ada yang salah dengan seluruh pemberitaan tersebut. Pemberitaan kasus kematian dr. Andra membuka mata publik akan resiko dan pengorbanan seorang dokter dalam melayani masyarakat di daerah terpencil. Ini adalah suatu hal yang positif.

Masalahnya, hingga empat hari sesudah kematian dr. Andra, saya hampir tidak pernah melihat konten berita media nasional dalam berbagai formatnya yang mengaitkan kasus kematian dr. Andra dengan banyaknya kematian yang sudah puluhan tahun menjadi makanan sehari-hari warga daerah terpencil dengan alasan serupa: ketiadaan akses kesehatan yang memadai.

Media terjebak pada glorifikasi semu: baru heboh membuat berita jika yang meninggal adalah sosok seorang dokter.

Meninggalnya dr. Andra lebih banyak dikaitkan dengan kematian para dokter PTT sebelumnya seperti meninggalnya dr. Dhanny Elya Tangke yang bertugas sebagai dokter PTT di Distrik Oksibil dan Waime, Pegunungan Bintang, Provinsi Papua. Jarang media mengaitkannya dengan kematian sia-sia banyak warga yang memang sudah umum terjadi di daerah terpencil.

Mengulang pertanyaan seorang rekan dokter yang juga pernah bertugas sebagai dokter PTT: mengapa kasus ini baru heboh jika yang meninggal adalah dokter atau orang yang dianggap ‘besar’ lainnya? Apakah masyarakat terpencil tidak punya hak yang sama untuk diperhatikan? Apakah nyawa mereka harganya ‘lebih murah’ dibanding dokter atau orang besar lainnya?

Saya yakin media tentu tidak bermaksud seperti itu namun – meminjam istilah yang digunakan Remotivi – kebanyakan media kita lebih memilih episodic framing yang memberitakan sebuah kasus secara mikro, tunggal dan terpisah dari tema besarnya yaitu bagaimana seluruh warga di daerah terpencil selama ini kesulitan mendapatkan akses kesehatan, khususnya untuk kasus darurat.

Kebanyakan media hanya berhenti pada ‘drama’ kematian dr. Andra yang dikaitkan dengan pengorbanan dokter yang ditugaskan ke daerah terpencil, serta profil dr. Andra semasa hidup di mata keluarga dan rekan-rekannya. Tidak ada media yang membahas profil warga daerah terpencil yang sudah puluhan tahun menderita menunggu ajal karena masalah yang sebetulnya sama persis.

Kembali menyadur kalimat yang digunakan Remotiviepisodic framing ditandai dengan hilangnya konteks karena semata berfokus pada individu, perilaku, keluarga, dan pengalaman pribadi mereka yang terlibat dalam cerita. Yang lebih ditekankan adalah bagaimana mengelola emosi audience.

Tanpa mengurangi rasa respek terhadap keluarga dr. Andra, saya ajak Anda membayangkan sebentar. Bukankah judul yang memberitakan kasus kematian seorang dokter yang rela jauh datang ke pedalaman akan jauh lebih menarik dan emosional daripada ‘sekedar’ memberitakan kematian warga yang mungkin sudah dianggap terlalu lumrah?

Mementingkan aspek dramatis semata, itulah ciri episodic framing. Setelah dr. Andra meninggal, yang nampaknya sengaja diluncurkan adalah perdebatan panas antar figur.

Pendapat satu tokoh yang berbeda sengaja diadu dengan pendapat tokoh lainnya tanpa menawarkan sudut pandang apapun yang bermanfaat untuk menyelesaikan masalah yang sifatnya lebih struktural yaitu bagaimana menyediakan akses pelayanan kesehatan bagi seluruh warga di daerah terpencil khususnya Indonesia Timur. Media meluputkan konteks maha penting ini.

Di ranah media televisi pun, saya melihat sendiri bagaimana episodic framing ini dilakukan. Salah seorang rekan saya yang menjadi dokter teladan tingkat kabupaten bertepatan dengan Hari Kesehatan Nasional diundang menjadi narasumber untuk membahas kasus kematian dr. Andra.

Setelah ‘basa basi’ bertanya soal latar belakang narasumber, pertanyaan-pertanyaan kemudian mengerucut pada masalah teknis penyebab kematian dr. Andra dan aneka pertanyaan lainnya yang mengarah pada opini narasumber soal penempatan dokter di daerah terpencil, kesejahteraan mereka, dan perhatian pemerintah terhadap program-program internship dan PTT.

Ini hal baik namun sekali lagi – nyata bagi saya bahwa media cenderung hanya menempatkan masalah minimnya akses sebagai asesoris atau latar penyebab kematian para dokter yang ditempatkan di daerah terpencil. Media luput menggali lebih lanjut dan memaparkan pada publik bahwa inilah yang dialami banyak masyarakat sejak dahulu kala.

Episodic framing bermain pada area individu dan pengalaman seseorang yang sedang berkasus semata sementara thematic framing mampu melihat suatu masalah secara makro, tak berdiri sendiri, sesuai konteks, serta mampu membaca situasi yang memicu lahirnya sebuah masalah (Remotivi, 2015). Sayangnya, media kita cenderung berpikir dalam kerangka pertama.

Mencoba tak berpikir buruk, mungkin media butuh waktu untuk mengupasnya dari sisi thematic framing. Masalahnya, pendekatan ini amat jarang muncul. Kerangka berpikir sempit pun tak baru-baru ini terjadi. Ia seperti sudah terpola digunakan dalam membahas isu apapun. Akibatnya, publik hanya memahami masalah secara terpenggal dan lebih berfokus pada dramatisasi isu.

Memanfaatkan trending topic sebagai kesempatan emas untuk meraup rating (baca: uang) bukan hal keliru.  Tapi media tersebut jadi kehilangan gigi dalam membuat publik paham isu sesungguhnya apalagi mempengaruhi kebijakan dalam bidang pelayanan kesehatan di daerah terpencil. Paling banter ia hanya mempengaruhi kebijakan terkait penugasan para dokter ke daerah terpencil dan pendidikan kedokteran.

Saya tentu berharap dugaan ini salah. Saya juga berharap sesudah kasus dr. Andra, para bos media nasional rela merogoh kocek buat meliput kondisi nyata kesehatan warga di daerah terpencil (khususnya di Indonesia timur), bukan hanya mengeluarkan duit saat kematian tragis sudah terlanjur terjadi. Kasus ini bukan kasus yang bisa disepelekan.

Jika media terus mempertahankan episodic framing, kita patut khawatir bahwa isu yang harusnya jadi momentum “menampar” pemerintah untuk lebih serius terhadap layanan kesehatan bagi warga terpencil ini menguap begitu saja, tanpa membawa perubahan apapun setelahnya. Korban warga di daerah terpencil akan kembali berjatuhan dalam senyap, jauh dari ingar bingar lampu sorot kamera.

* * *

Sumber ilustrasi: cloud.lib.wfu.edu

Advertisements

One thought on “Episodic Framing Media dalam Kasus Kematian dr. Andra

  1. Pingback: Kisah Klasik Media (Semoga Tidak) Untuk Masa Depan | Soft Power is Unique

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s