#MenyapaNegeriku: Wajah Pendidikan di Aceh Timur

Oleh: Sylvie Tanaga

“Juniiiiii…..!”

Seorang anak penyandang tuna grahita melengking. Ai namanya. Ia memanggil nama pendamping saya di Aceh Timur, Juni Safitri. Juni merespon lengkingan tersebut dengan girang sembari memeluk Ai. Pelukan keduanya bertahan selama beberapa menit. Saya melihat wajah keduanya begitu sumringah bak sohib lama yang sudah berabad tak jumpa. Raut letih di wajah Juni seolah lenyap tak berbekas.

Tahulah saya bahwa rasa sayang dan kangen di antara keduanya begitu dalam dan jelas bukan formalitas yang dibuat-buat. Selesai mengabdi setahun di SLB Cahaya sebagai seorang guru SM3T (Sarjana Mengajar di Daerah Terpencil, Terluar, Tertinggal) tak membuat hubungan Juni dengan anak-anak SLB kandas begitu saja. Satu per satu wajah muridnya selalu terbayang dalam benaknya.

Saya dan rekan-rekan peserta #MenyapaNegeriku lainnya untuk kawasan Aceh Timur yaitu Rara Rengganis (dokter), Vika Restu (guru bagi anak berkebutuhan khusus), Bustomi (peneliti, motivator), Ramadhan Wibisono (jurnalis) dan Dwi Prasetyo (mahasiswa) pun asyik menyaksikan pemandangan penuh haru ini. Selang beberapa waktu, kami jadi paham bagaimana kehangatan hubungan macam ini terbentuk.

Lebih dari itu, mata saya kemudian terbuka akan pentingnya pendidikan usia dini dan vitalnya peran para guru SM3T, Guru Garis Depan (GGD), dan aneka jenis pendidik lainnya yang tak hanya berhadapan dengan masalah akses namun juga pola pikir masyarakat dan perbedaan budaya. Tambahan lagi, yang dihadapi bukan melulu “murid normal” tapi juga murid berkebutuhan khusus.

‘Cahaya’ di SLB Cahaya
Empat ranjang susun dari kayu berjajar rapi di satu ruang. Hanya dibatasi sekat tipis, nampak jajaran lima ranjang susun lainnya. Di kamar inilah beberapa siswi dan para guru SM3T tinggal (belum termasuk kamar cowok). Langit-langitnya berlubang. Persis di belakang kamar, terdapat sebuah ruang makan yang berseberangan langsung dengan enam toilet sederhana.

Sumber air berasal dari sumur yang disedot dengan mesin. Warna airnya kekuningan – tapi menurut Juni ini sudah lebih baik dibandingkan sewaktu ia menjadi guru di sini yang berwarna kecokelatan. Tambahan jumlah orang (yaitu kami) membuat pompa kadang berhenti bekerja sehingga air urung mengalir. Malam hari, listrik juga tak kuat mengangkat dayanya sehingga sering on off.

Di tengah segala keterbatasan ini, semangat anak-anak SLB Cahaya dan para guru tak pernah surut. Saya melihat antusiasme pada sorot mata anak-anak ini ketika berkenalan dengan kami. Ai yang sebelumnya tak pernah menginap, malam itu menginap. Anita, Afni, dan Eka yang menyandang tuna rungu segera memperkenalkan diri dengan bahasa isyarat yang akhirnya tertarik kami pelajari.

Demikian pula dengan para guru SM3T yang bahkan sudah menyambut kedatangan kami sejak di bandara Kualanamu. Jarak Kualanamu ke SLB Cahaya yang berlokasi di Jalan Punti Gampong Lhok Dalam Kecamatan Peureulak, Aceh Timur ini adalah 4 – 5 jam berkendara dengan mobil yang antara lain melewati Aceh Tamiang (kami singgah di sini untuk makan siang Mie Aceh) dan kota Langsa.

Di SLB inilah kami tinggal dua malam. Malam pertama setelah berkenalan, semua tidur pulas usai menempuh perjalanan panjang dan kunjungan ke rumah pak kepala dusun. Saya, Juni dan tiga guru SM3T lainnya yaitu Rizky, Deni, dan Syarah berdiskusi sebelum tidur mengenai pengalaman selama mengajar tiga bulan di SLB dan aneka perbincangan lainnya seputar pendidikan di Aceh Timur.

Saya melihat ketulusan mereka dalam melayani tanpa pamrih dan kecintaan mereka yang begitu besar melihat kemajuan setiap anak didik. Saya pun melihat keinginan mereka untuk berbuat sesuatu yang “lebih” bagi masyarakat Aceh Timur.

Perbincangan ini membuka pandangan saya bahwa terminologi “Terluar, Terdepan dan Tertinggal” bukan semata-mata berbicara mengenai persoalan fisik melainkan cara pandang akan kehidupan dan masa depan. Gairah belajar dan semangat menata masa depan tentu harus muncul dari masyarakat itu sendiri. Kesulitan akan muncul ketika gairah ini tipis atau bahkan tidak ada.

Pandangan ini diperkuat belakangan ketika saya berjumpa dengan penggagas program SM3T di Jakarta tiga hari sepulang dari Aceh, Pak Agus Susilohadi, yang memaparkan bahwa ia tak ingin SM3T membuat Pemda jadi bergantung pada guru luar. Di sisi lain, perbincangan saya dengan seorang pegawai Diknas Aceh Timur di SMAN 1 Peureulak mengungkap lemahnya gairah para guru lokal.

Kembali pada perbincangan malam pertama di SLB Cahaya, saya pun mulai memahami aneka isu yang menjadi kendala para guru SM3T selama mengajar. Sesudah beberapa kali menjejak Indonesia Timur, pikir saya masalah utamanya pasti akses dan infrastruktur. Salah besar rupanya.

Meski belum sempurna, akses dan infrastruktur di Aceh Timur terbilang memadai. Memang ada kisah pilu meninggalnya guru SM3T Geugeut dan Winda akibat derasnya arus sungai di kawasan Simpang Jernih, Aceh Timur – namun secara umum infrastruktur pendidikan di Aceh Timur cukup oke, terutama di kawasan Peureulak yang masih terjangkau sinyal.

Tapi ada aspek lain di luar dugaan saya seperti trauma masa lalu (konflik, dan sejenisnya), sinergi dengan penduduk lokal, kecanggungan budaya dan penerapan hukum syariah. Malam itu, saya tidur pukul dua subuh dengan sejuta pikiran di kepala. Saya kagum dengan Juni, Rizky, Deni dan Syahra. Dalam usia amat muda, mereka mampu berpikir kritis lebih dari masalah pribadi ataupun masalah akademis para siswa semata.

Saya pun beringsut menuju matras dan menyelip tepat di tengah Rara dan Vika yang sudah berada di alam mimpi. Bunyi tonggeret lambat-lambat terdengar sebelum akhirnya saya tidur tanpa bermimpi.

Sambutan (Sangat) Meriah…
Sepertinya saya terbangun pukul lima sesudah mendengar kasak-kusuk beberapa rekan yang rupanya sudah mulai beraktivitas sesudah sholat subuh.

Setengah mengantuk, segera saya basuh tubuh secepat kilat dan mengambil selendang untuk kerudung karena sebentar lagi kami harus berangkat ke SMAN 1 Peureulak. Agendanya adalah menghadiri upacara sambutan. Pengalaman ini menarik karena saya belum pernah mengenakan kerudung apalagi rok panjang, juga jarang mengenakan pakaian berlengan panjang.

Tiba di SMAN 1, enam siswi SD yang sudah berdandan dan berpakaian tradisional lengkap menyambut kami dengan tari Ranup Lumpuan. Tubuh mungil mereka bergerak lincah, termasuk gerakan tangan dan wajah. Tarian ini mengilustrasikan proses memetik, mengemas dan menghidangkan sirih pada tamu yang dihormati, simbol keramahtamahan menyambut tamu.

Sejarah tarian ini sudah ditulis seorang rekan saya sesama peserta #MenyapaNegeriku, Ramadhan Wibisono. Rangkaian acara masih berlanjut dengan tarian enerjik siswa SMAN 1 Peureulak diiringi tetabuhan musik yang menggambarkan ragam permainan tradisional Aceh. Dua rekan lainnya, Rara dan Bustomi jadi perwakilan mengikuti upacara Peusijeuk yang menghaturkan doa agar kegiatan kami selama di Aceh Timur berlangsung lancar.

Tak lama setelahnya, berlangsung tanya jawab dengan para ketua adat mengenai sejarah Aceh Timur dan makna aneka budaya Aceh Timur. Aceh Timur memiliki sejarah yang sangat panjang, khususnya dalam perkembangan Islam. Pada 840 Masehi, Kerajaan Islam Peureulak diproklamirkan di wilayah ini dengan Sayed Maulana Abdul Aziz Syah (840-864 M) sebagai raja pertamanya. Peureulak kemudian berkembang menjadi kerajaan Islam terbesar di Asia Tenggara.

Sambutan yang tak kalah meriah datang dari sajian “kuliner” khas Aceh Timur mulai dari kue-kuenya seperti timpan, boh rom rom (sejenis klepon), dan pulut kuning sampai ke makanan pokok khas Aceh seperti ayam tangkap dan berbagai jenis lauk dengan bumbu yang khas. Di lidah, rasa bumbu ini sekilas mirip bumbu masakan Padang tapi saya menangkap nuansa bumbu yang jauh lebih kental. Bumbu ini serupa seperti yang digunakan anak-anak SLB ketika memasak lauk buat kami.

Sungguh kami tak sangka bahwa upacara penyambutan akan berlangsung semeriah ini. Tapi ini baru permulaan. Esok harinya, Kepsek SLB Cahaya memberi kejutan lewat tarian  para siswi SLB yang sudah full make up. Nampaknya masyarakat Aceh Timur gemar menyambut tamu dengan cara se-spesial mungkin.

Menginspirasi dan Terinspirasi
Dalam persiapan keberangkatan yang dilakukan sehari sebelum 1 Desember 2015 di Hotel Atlet Century Park, Senayan, saya ingat betul bahwa tujuan penyelenggaraan #MenyapaNegeriku selain melihat langsung wajah pendidikan adalah menginspirasi para siswa. Menginspirasi artinya berbagi sesuatu yang diharapkan dapat membekas pada kehidupan siswa.

Setiap pendamping dari 11 kabupaten pun sibuk menyusun rundown dan memetakan keahlian masing-masing peserta. Beberapa peserta punya keahlian menonjol alias unik tiada tara seperti Kak Teddy yang ahli dongeng dan Bima yang ahli silat. Juni yang cekatan sudah selesai memetakan keahlian kami beberapa hari sebelum kumpul di hotel.

Tapi saya sudah melihat bahwa keunikan itu lebih dulu datang dari para siswa yang akan kami jumpai yaitu anak-anak berkebutuhan khusus yang bersekolah di SLB. Setahu saya, dari 11 kabupaten yang jadi sasaran program #MenyapaNegeriku, Kabupaten Aceh Timur adalah satu-satunya yang berinteraksi langsung dengan anak-anak berkebutuhan khusus.

Sehari setelah penyambutan esktra meriah di SMAN 1 Peureulak, kami pun sepakat berbagi tugas menginspirasi. Vika Restu Febriani yang memang berlatar guru bagi anak-anak berkebutuhan khusus memilih berbagi ide pada para guru PAUD agar mereka makin kreatif ketika mengajar.

Meski sedang sakit dan nyaris tak bersuara, ia tetap mengajar selama dua hari berturut-turut. Para guru ia bagi jadi beberapa kelompok dan setiap kelompok ditantang menyusun “lesson plan” atau materi pelajaran, mulai dari bagian pembuka hingga inti kegiatan. Vika merangsang kreativitas para guru untuk memanfaatkan aneka media sederhana yang ada di sekitar mereka sebagai bahan pembelajaran.

Hasilnya baik. Hanya dengan koran, misalnya, mereka bisa berkreasi membentuk bola untuk mengajar anak-anak soal ukuran besar – kecil sekaligus melatih motorik mereka saat meremas koran jadi bola. Juga ada guru yang memanfaatkan HVS untuk membuat origami sederhana berbentuk payung yang dapat diwarnai.

Rara Rengganis ialah seorang dokter. Ia memberi penyuluhan mengenai pentingnya hidup bersih dan sehat bagi para wali murid di TK Negeri Pembina, Kecamatan Idi Rayeuk. Paling tidak, ada sekitar 20 wali murid yang hadir. Kebanyakan tertarik pada masalah gizi dan ASI.

“Pengetahuan mereka sudah cukup baik, hanya saja masih pakai ilmu-ilmu lama misalnya konsep 4 Sehat 5 Sempurna, bukan gizi seimbang,” ucap Rara. Kesadaran akan pentingnya kesehatan pun ia nilai sudah baik. Mereka minum obat dan pergi ke dokter jika sakit. Meski tak familiar dengan sistem ibu-ibu kader, kegiatan di Posyandu sudah berjalan baik.

Tapi Rara memberi catatan bahwa kesimpulan tersebut belum tentu berlaku umum karena ia hanya melihatnya di TK Negeri Pembina yang notabene merupakan TK percontohan dengan dominasi kalangan menengah ke atas.

Dwi Prasetyo yang merupakan mahasiswa jurusan pendidikan, mengajar anak-anak membatik sederhana di SMPN 2 Peureulak Timur. Bustomi (peneliti, motivator) memberikan motivasi bagi para guru. Ramadhan Wibisono yang merupakan salah seorang jurnalis TV berkisah soal profesinya untuk memperluas sudut pandang siswa mengenai cita-citanya.

Saya sendiri mengajak anak-anak SLB menggambar mural. Gambar mural adalah hal menyenangkan tapi berinteraksi dengan anak-anak berkebutuhan khusus bukanlah hal mudah. Saya harus berkoordinasi dengan Syarah, guru SM3T yang sehari-hari bertugas mengajar di SLB. Saya perlu bantuannya untuk berkomunikasi, terutama dengan anak-anak tuna rungu.

Satu per satu anak menyodorkan telapak lengannya untuk saya lumuri dengan cat tembok aneka warna: hijau, kuning, biru, merah. Tangan yang telah basah terlumur cat kemudian ditekan kuat-kuat ke tembok di sela-sela sketsa batang pohon yang telah saya buat sebelumnya. Mereka kemudian belajar mewarnai tembok dengan kuas.

Satu warna selesai, lainnya antri sampai-sampai kami kehabisan kuas. Saya pun memeragakan cara mewarnai dengan tangan.

Seorang anak penyandang tuna rungu, Roswita, begitu luwes menarikan kuasnya. Saya memberitahu Roswita (lewat Syarah) bahwa ia dapat menyampurkan warna-warna cat tersebut satu sama lain. Rupanya, Roswita pernah menjuarai lomba gambar tingkat Provinsi. Saya pandangi Roswita selama beberapa menit dan segera menyadari betapa besarnya potensi yang ia miliki.

Semangat anak-anak berkebutuhan khusus ini justru lebih menginspirasi saya yang bertubuh normal ini.

Berat Sama Dipikul, Ringan Sama Dijinjing
Guru-guru SM3T bertugas setahun sementara Guru Garis Depan (GGD) dikontrak 10 tahun. Ini jelas bukan waktu singkat, terlebih jika berbagai tantangan menghantam. Di daerah berkategori “Terpencil, Terluar, Tertinggal”, seorang guru kerap tak hanya bertanggung jawab pada akademis tapi juga berhadapan dengan gegar budaya, stigma penduduk lokal, hingga isu keamanan.

Para guru SM3T dan GGD pun selalu menjalin komunikasi – paling tidak, ada teman berbagi suka duka. Tak terbayang jika mereka menanggung beban ini sendiri bertahun-tahun di daerah yang jauh dari kampung halaman.

Salah satu hal yang sering jadi bahan diskusi adalah pola pikir masyarakat setempat. Rasanya, kebanyakan masyarakat berpikir bahwa hidup hanyalah untuk hari ini. Pola pikir ini jelas jadi beban yang menghimpit, belum lagi jika orang tua tak mendukung peran guru. Beban-beban macam ini tentu menjadi tekanan psikis jika mereka tak pernah saling berjumpa.

Kehadiran tim #MenyapaNegeriku adalah momen baik untuk berbagi kisah, terlebih tim ini hanya punya sedikit waktu untuk menggali lebih dalam kehidupan masyarakat. Kisah-kisah mereka sungguh seru dan saya jamin Anda tak pernah mendengar sebelumnya. Unik sekaligus pelik.

Saya senang karena Juni sukses mengumpulkan rekan-rekan guru SM3T dan GGD kala kami datang. Selain aktif membantu pelaksanaan kegiatan di lapangan, mereka benar-benar sangat membantu kami melihat masalah pendidikan Aceh Timur dari ruang lingkup yang lebih besar dari sekedar ajang hit and run lima hari (1 – 5 Desember 2015).

Kami pun menyempatkan diri berkumpul bersama ke Paya Meuligo, situs makam pendiri Kerajaan Islam pertama di Asia Tenggara yakni Kerajaan Peureulak. Selama perjalanan, sekali lagi saya mendapat banyak cerita menarik seputar dunia internal sekolah. Lainnya mengisahkan kesulitannya menghadapi para murid dengan trauma konflik masa lalu.

Suatu malam, saat “ngopi” bareng di sebuah warung kopi dekat SLB, saya bertanya seberapa sering mereka berkumpul. Seorang guru menjawab bahwa mereka melakukannya manakala pekerjaan mengajar selesai dan waktu senggang. Mereka akan berkumpul untuk sekedar berbagi cerita ataupun saling memberikan informasi terbaru.

Kumpul bareng berlanjut esoknya, 3 Desember. Lebih dari 20 guru (SM3T dan GGD) memutuskan berkumpul di SMPN Lokop yang berjarak 4 – 5 jam bermobil dari Peureulak. Selain refreshing, ini saat yang tepat bagi mereka untuk saling jumpa dan berbagi asam garam dengan para peserta #MenyapaNegeriku.

Menggunakan kendaraan mobil bak terbuka, kami bermobil sejak pada pukul empat sore melewati berbagai guncangan menembus gulita hingga akhirnya tiba di SMPN Lokop sekira pukul sembilan malam. Lokop adalah wilayah yang masih belum terjangkau sinyal meski tower-tower komunikasi tampak menjulang.

Serupa SMAN 1 Peureulak, SMPN Lokop juga sudah berfasilitas baik mulai dari ruang kelas, meja – kursi, dan peralatan pendukung lainnya. Tapi sekali lagi, fasilitas lengkap tak bermakna apapun tanpa semangat belajar dari para murid (dengan dukungan orang tua). Dan ini masih nampak sebagai masalah klasik bagi para guru SM3T dan GGD di Aceh Timur.

Larut dan letih membuat diskusi baru lanjut esok harinya, sambil hiking ramai-ramai menuju Air Terjun Terujak yang ditempuh 2 – 2,5 jam berjalan kaki. Air Terjun Terujak dan ekosistem di sekitarnya jelas merupakan potensi wisata alam yang sungguh amat menjanjikan. Jalur pendakiannya pun terbilang baik dan layak. Airnya begitu segar dan bersih dengan gradasi warna coklat bening kehijauan.

Meski lelah menanjak dan beberapa kali nyaris tercebur akibat menginjak bebatuan kali yang licin, saya amati betapa sumringahnya wajah rekan-rekan guru yang adu lempar canda tawa. Ah, saya pun seperti sedang di kampung halaman mengingat kebanyakan mereka berbahasa Sunda. Diskusi soal isu pendidikan berlanjut di Air Terjun Peureulak sesudah berfoto sembari berbasah-basah ria.

Melalui kekompakan ini, saya yakin bahwa masalah apapun yang mereka hadapi akan teratasi, minimal dapat dibagi bebannya. Bahkan bukan tak mungkin pertemuan-pertemuan macam ini melahirkan ide-ide baru untuk menjawab berbagai permasalahan yang muncul. Harapan akan selalu selama ada komunitas yang saling menjaga dan menyemangati.

Usai menyambangi air terjun, sore itu juga kami bermobil pulang menuju SLB Cahaya. Kemudian dengan sedih kami harus berpisah dengan para siswa SLB menuju kota Langsa dalam satu jam perjalanan berikutnya.

Tiga hari saja sudah menimbulkan rasa kangen pada para siswa. Saya tak dapat membayangkan bagaimana perasaan para guru yang sudah mengabdi dalam hitungan tahun ketika harus berpisah dengan para siswa tercintanya. Saya tak heran jika mereka pun memandang murid-murid sebagai belahan jiwanya sendiri, yang akan mereka rawat sepenuh hati.

#MenyapaNegeriku Goes To #MembangunNegeriku
Lima hari adalah waktu yang terlampau singkat dan oleh karenanya tepat jika program ini dinamakan “Menyapa”. Menyapa artinya say hello, belum masuk pada tahap komunikasi yang lebih intim. Walau begitu, menyapa adalah pintu masuk untuk memahami masalah nyata di lapangan. Dengan logika yang sama, saya percaya jika #MenyapaNegeriku adalah awal untuk #MembangunNegeriku.

Kombinasi interaksi langsung dengan masyarakat dan diskusi bersama para guru SM3T dan GGD yang sudah lama berkecimpung di lapangan adalah formula yang cukup efektif untuk memahami wajah pendidikan Aceh Timur, paliing tidak secara garis besar.

Meski singkat, harus saya akui bahwa ada sesuatu yang membekas dalam diri saya, tertama terkait masalah pendidikan di Aceh Timur dengan kekhasan budaya dan penerapan syariahnya. Juga perjuangan para guru SM3T yang dijuluki “The Silent Heroes” oleh mantan Mendikbud, Muhammad Nuh. Di sisi lain, saya pun sadar bahwa pemerintah pusat (Dikti) tak ingin program SM3T jadi alasan Pemda untuk menggantungkan nasib pendidikan di daerah mereka pada ‘stok’ guru luar.

#MenyapaNegeriku adalah sebuah inisiatif amat baik sebagai bagian dari transparansi publik. Program ini sekaligus membuktikan bahwa Indonesia tak pernah kekurangan orang yang bersemangat dan memiliki hati untuk berjuang di daerah-daerah paling terpencil sekalipun. Publikasi peran SM3T pun lebih langsung, interaktif, dan low cost dengan jangkauan luas.

Tapi hasil perbincangan dengan kawan-kawan guru soal kompleksnya masalah pendidikan justru memperkuat keyakinan saya bahwa butuh lebih dari sekedar publikasi bertabur euforia publik sesaat meski ia adalah jalan masuk yang sangat positif untuk memperkenalkan wajah pendidikan di daerah “3T” yang pasti berbeda interpretasinya untuk tiap daerah.

Para guru SM3T (baik yang masih bertugas maupun sudah selesai) juga perlu didengar pendapatnya, syukur jika goal menjadi rekomendasi bagi pembuatan kebijakan di tingkat pusat. Tak ada satu resep yang sama bagi masalah pendidikan di seluruh Indonesia. Masalah pendidikan di Indonesia Barat tentu lain cerita dengan Indonesia Timur.

Tapi bagaimana jika mereka tak pernah mendapat kesempatan didengar? Mereka punya hak asasi untuk menulis. Menulis berarti menggores jejak seumur hidup bagi siapapun.

Lewat #MenyapaNegeriku, saya pun mendorong para guru SM3T dan GGD untuk menghasilkan dokumentasi dalam bentuk tulisan maupun foto, syukur-syukur jadi buku. Dokumentasi adalah database tak terbantahkan dan database yang jujur adalah modal paling berharga bagi pembuatan kebijakan yang lebih baik.

Jika birokrasi membuat suara para guru SM3T dan GGD tak didengar, yakinlah bahwa dokumentasi jujur (termasuk lewat tulisan) dapat menginspirasi publik melakukan gerakan-gerakan mencerdaskan bangsa, tak peduli apapun label gerakannya. Ambisius memang, tapi tak mustahil.

* * *

Advertisements

One thought on “#MenyapaNegeriku: Wajah Pendidikan di Aceh Timur

  1. Pingback: Refleksi 2015: Terima Kasih Sahabat… | Soft Power is Unique

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s