Wawancara dr. Karnel Singh, Dokter Teladan Kabupaten Maluku Tenggara 2015

dr. Karnel Singh tak pernah menyangka dirinya akan menuai penghargaan sebagai Dokter Teladan Kabupaten Maluku Tenggara 2015. Dokter berdarah India – Tionghoa berusia 27 tahun ini merasa bahwa apa yang ia lakukan sebetulnya biasa-biasa saja. Tapi ia mengaku bahwa pengalaman dua tahun membuka matanya soal wajah kesehatan di Indonesia Timur, sekaligus hidupnya sendiri.

Diwawancara di kantor sekretariat doctorSHARE (14 Desember 2015), dokter muda yang juga anggota doctorSHARE/Yayasan Dokter Peduli ini membulatkan tekad untuk mengabdi bagi sesama sebagai prinsip hidupnya. dr. Karnel berbagi kisah-kisah pengalaman dan perenungan yang mengantarnya pada prinsip tersebut.

Nama Lengkap                  :  dr. Karnel Singh
Tempat, tanggal lahir    :  Jakarta, 12 Desember 1988
Ayah                                       :  Puren Singh
Ibu                                          :  Lim Nai-Nai
Anak ke-                               :  1 dari 4 bersaudara
Adik                                       :  Amrid Kaur, Juslinder Kaur, Shelonny Kaur

Riwayat Pendidikan
SD Santa Cicilia, Jakarta (1994 – 2001)
SMP Don Bosco I, Kelapa Gading – Jakarta (2001 – 2003)
SMA Don Bosco I, Kelapa Gading – Jakarta (2003 – 2006)
Fakultas Kedokteran Ukrida (2006 – 2011)

Riwayat Aktivitas Medis
Anggota doctorSHARE/Yayasan Dokter Peduli (2009 – sekarang)
Dokter Internship* di Kabupaten Kuantan Singigi, Riau (Mei 2012 – April 2013)
Dokter PTT** di Kei Besar, Kabupaten Maluku Tenggara (September 2013 – Agustus 2015)

————————————————————————————————————————————————————————————————

Bisa ceritakan perbedaan-perbedaan yang Anda rasakan ketika menjadi dokter internship di Riau dan dokter PTT di Maluku Tenggara?
Dari segi fasilitas, listrik di Riau menyala 24 jam tapi di lokasi saya betugas yaitu di Mun, Kei Besar – Maluku Tenggara, tidak ada PLN. Saya hanya mengandalkan genset yang menyala dua jam saja. Sinyal handphone di Riau bagus, di Mun tidak ada. Sinyal di sini baru bagus delapan bulan terakhir.

Masalah akses, jarak dari Riau ke Pekanbaru yang jadi tempat saya bertugas butuh empat jam. Memang lebih lama, tapi masih bisa diakses melalui jalur darat. Untuk menuju Mun, saya harus mengarungi laut. Ketika musim ombak, melakukan perjalanan ke sana sangatlah beresiko, lebih baik stay sampai keadaan alam membaik.

Persoalan lain adalah air bersih. Riau jauh lebih baik karena pakai sumur pompa. Airnya bersih walaupun agak keruh ketika hujan. Di Mun, terkadang saluran air bersihnya putus. Saya harus ambil air dari mata air di gunung yang jaraknya delapan kilometer dari tempat tugas. Pipa airnya yang panjang sering putus dan tersumbat. Saat pipa bermasalah, saya pun pakai air hujan.

Di Riau, saya masih bisa makan apa pun karena ada supermarket. Tapi di Mun tidak ada pasar. Saya hanya makan dari hasil kebun dan hasil laut. Sekali-kali saja ke pusat pulau untuk belanja beras, telur dan bumbu masak. Karakter masyarakat Kei Besar juga jauh lebih keras, tapi kekeluargaannya lebih tinggi. Mereka menganggap saya seperti saudaranya sendiri: anak sendiri, cucu sendiri, kakak sendiri. Buat saya pribadi, lebih menyenangkan.

Mengapa memutuskan jadi dokter PTT dengan pemilihan lokasi di Maluku Tenggara?
Saya ingin melayani. Kebetulan doctorSHARE sudah punya program di Maluku Tenggara. Saya mulai cari-cari informasi. Begitu pendaftaran dibuka, saya mendengar bahwa Kabupaten Maluku Tenggara sedang butuh dokter umum. Saya mencoba daftar dan diterima.

Begitu diterima, saya segera menuju lokasi dan sebisa mungkin membantu kegiatan doctorSHARE di Maluku Tenggara mulai dari Panti Rawat Gizi hingga kegiatan pelayanan medis dengan Rumah Sakit Apung. Selain melakukan tugas utama sebagai dokter PTT, saya juga melakukan tugas sebagai anggota doctorSHARE di Maluku Tenggara.

Maluku Tenggara berkategori “sangat terpencil”. Kondisi seperti apa yang Anda hadapi?
Tempat tugas saya adalah Puskesmas Mun, Kei Besar. Dari pusat kota, harus menyeberang pulau dengan kapal berkapasitas 200 orang selama kurang lebih satu jam. Perjalanan berlanjut dengan open speed (speed terbuka) berkapasitas kurang lebih 20 orang untuk satu jam berikutnya. Panas kepanasan, hujan kehujanan. Sekarang sudah ada jalur darat tapi masih jarang digunakan karena baru sedikit masyarakat yang punya kendaraan. Tapi paling tidak bisa dilewati saat musim ombak.

Pengalaman paling menarik yang Anda temukan di Kei Besar?
Untuk kasus medis, jujur saja banyak hal yang seharusnya dilakukan di Rumah Sakit tapi saya lakukan di Puskesmas karena akses menuju Rumah Sakit terbatas. Misalnya luka besar yang butuh peralatan dan fasilitas yang lebih memadai dengan tenaga dokter yang harusnya lebih dari seorang. Juga ketika ada ibu bersalin yang beresiko perdarahan karena letak janin yang kurang baik.

Pernah terjadi situasi medis yang genting? Apa contohnya?
Pernah. Pada malam tahun baru, ada yang mabok karena minum-minum. Saat pulang ke rumah, ia terpeleset dan kepalanya terbentur batu besar. Ia dibawa ke Puskesmas dengan luka robek yang besar di kepala dalam keadaan tidak sadar. Mulutnya juga bau minuman. Tensinya tidak lagi teraba melalui stetoskop, hanya teraba di nadi melalui jari tangan. Kondisinya sudah sangat lemah.

IMG-20141215-02826

dr. Karnel saat memberikan pelayanan medis di atas sebuah speed

Butuh tindakan cepat dan tepat. Saat itu, saya sendiri tanpa perawat. Dalam kondisi normal, biasanya ada perawat yang pasang infus dulu sebelum saya jahit untuk mengatasi perdarahannya. Tapi saat itu, ia tidak mungkin lagi dirujuk. Ia harus cepat diberi tindakan. Saya informasikan lebih dulu pada pihak keluarga mengenai keadaannya. Beruntung nyawanya tertolong.

Ia mendapat lebih dari 20 jahitan di bagian dahi dan menghabiskan tiga botol infus. Beberapa waktu setelah selesai pengobatan, saya dengar dia akhirnya berhenti minum. Katanya, ia sudah berpikir bahwa saat itu ia bakal mati. Nyatanya, ia hidup dan diberi kesempatan untuk hidup sehingga memutuskan berhenti minum.

Kasus lainnya adalah seorang ibu yang mau melahirkan tapi mengalami kesulitan karena posisi janin tidak normal. Seharusnya kepala berada di bawah rahim, tapi yang pertama keluar adalah kaki dan buah zakar. Butuh kesabaran dan teknik yang tak biasa. Proses persalinannya lebih lama dan beresiko tinggi terjadi perdarahan. Waktu itu sudah malam dan ombak besar. Resikonya terlalu tinggi untuk dirujuk. Bisa saja speed-nya terbalik. Ibu dan bayi akhirnya selamat.

Kesulitan lain yang Anda hadapi ketika menangani pasien selain masalah akses?
Obat-obatan dan alat kesehatan yang jumlahnya kurang. Tenaga medis juga kurang. Obat-obatan terbantu dari doctorSHARE yang “favorit” bagi orang-orang di sana. Obat doctorSHARE dan obat Puskesmas bisa dikatakan 1:1. Saat obat Puskesmas tidak ada, ada obat dari doctorSHARE yang bukan obat generik sehingga kualitasnya lebih baik.

Tenaga medis juga kurang. Dokter umum hanya saya seorang. Jumlah tenaga medis di Puskesmas Mun adalah yang paling sedikit dari seluruh kabupaten. Waktu itu, jumlah tenaga medis adalah tujuh orang, itu pun dua fungsional alias tidak menangani pasien. Otomatis hanya ada lima tenaga medis, termasuk saya. Yang harus ditangani adalah 17 desa yang berjumlah 5.000 penduduk.

Bagaimana Anda menangani sekian banyak penduduk di lokasi yang terpisahkan lautan?
Saya bekerja di Puskesmas dari pagi sampai siang. Walau puskesmas sudah tutup, ada saja pasien yang butuh pertolongan, termasuk dari kampung seberang. Biasanya mereka datang ke rumah lalu memberitahu keadaan pasien sehingga saya bisa mempersiapkan dulu alat yang diperlukan. Kemudian saya dijemput naik speed ke sana. Saya juga sering berkunjung langsung ke rumah pasien di luar jam kerja. Selagi bisa, saya pasti berangkat menjangkau mereka.

Jenis penyakit apa yang paling sering Anda temukan?
Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) dan penyakit otot. Gizi buruk ada, tapi tidak banyak. Sekitar tiga sampai empat anak usia 1 – 2 tahun. Mereka juga sempat dirawat di Panti Rawat Gizi doctorSHARE dan hasilnya baik. Sulit membujuk mereka ke Panti Rawat Gizi.

Pikir mereka, anak kurus ya sudah. Untuk apa dibawa ke Panti Rawat Gizi selama 1 – 2 bulan. Nanti tidak bertemu isteri/suami dan anak-anak. Padahal, seluruh anggota keluarga diberi makan di Panti. Tapi mereka senang saat anak keluar dari Panti dalam keadaan gemuk dan sehat. Melihat hasilnya, lama-lama lebih mudah bagi kami untuk meyakinkan mereka.

Bagaimana dengan kesadaran masyarakat akan kesehatan?
Bisa dikatakan sudah baik. Ketika mereka sakit dan puskesmas buka, mereka pasti datang. Kalau sakitnya malam, paginya sudah langsung datang sekalipun harus pakai sampan. Yang masih kurang adalah perilaku hidup bersih dan sehat. Tapi sebenarnya mereka juga tidak bisa disalahkan. Perilaku hidup bersih membutuhkan air bersih.

IMG_2594Menyediakan air bersih bukan tugas utama petugas kesehatan. Ketika Dinas Pekerjaan Umum belum membangun pipa-pipa untuk menyalurkan air, otomatis tidak ada air bersih. Air hujan pun dimanfaatkan. Tapi air hujan juga terbatas, paling untuk masak. Tidak ada air untuk cuci tangan, apalagi mandi. Sakit kulit dan infeksi banyak terjadi.

Budaya merokok di dalam rumah juga masih banyak terjadi. Meski ada bayi di sampingnya, si bapak tetap merokok. Sudah diberitahu jangan merokok, tetap saja dilakukan. Tapi yang paling penting memang air. Punya jamban sendiri pun kadang airnya tidak ada. Mereka pun buang air di pantai.

Selain menjadi dokter, Anda juga jadi guru SD. Bagaimana ceritanya?
Di sana ada SD milik yayasan gereja. Setahu saya, penyaluran guru selama ini lebih berfokus ke sekolah-sekolah negeri dibanding sekolah-sekolah yayasan. Di SD tersebut, hanya ada satu tenaga pengajar untuk enam kelas. Masih banyak anak-anak – bahkan orang tua – tidak bisa membaca. Menyedihkan, untuk baca-tulis dan berhitung saja mereka tidak bisa. Saya sempat beberapa kali mengajar di sana. Saya juga mengajar di rumah, terutama jika ada yang minta diajari.

Ada yang sengaja datang ke rumah minta diajari?
Ada. Anak-anaknya punya kesadaran tinggi untuk belajar. Bantuan pemerintah untuk pendidikan sebenarnya cukup besar, sayangnya tidak direalisasikan. Karakter anak-anak di sana memang berbeda. Mereka lari kesana kemari, basah-basahan di pantai dan main pasir, baru belajar. Capek tapi menyenangkan. Beda sekali dengan anak-anak kota yang duduk diam saat guru menerangkan.

Bagaimana dengan kondisi ekonomi masyarakatnya?
Di kampung, orang tidak bakal mendapat uang kecuali dari bantuan pemerintah, misalnya program kartu menuju sejahtera, keluarga sejahtera dan sebagainya. Menjual barang dan sayur-sayuran juga sulit. Paling jual ikan, itu pun hanya Rp 5.000, Rp 10.000 dan Rp 20.000, tidak cukup untuk keperluan sebulan. Untuk mendapat uang, mereka harus pergi ke luar kampung, misalnya ke kota.

Di kota, mereka kerja di warung atau jadi tukang ojek. Selebihnya, mereka tidak punya penghasilan. Hasil kebun dipakai makan sehari-hari lalu habis. Hasil melaut juga untuk makan sehari-hari. Ketika dapat banyak, barulah dijual. Hasil berburu juga habis untuk makan sendiri.

Sejauh pengamatan Anda, apa sebab utama dari kebiasaan hidup semacam ini?
Pola pikir. Kekayaan alam laut mereka banyak. Mereka bisa punya uang lebih dan jujur saja, hasilnya cukup menjanjikan. Masalahnya, mereka lebih pilih membeli ikan daripada mencari ikan. Ketika ada orang jual ikan, mereka rebutan beli. Bagi saya ini lucu karena sebenarnya mereka semua punya sampan. Laut juga sangat besar. Mereka hanya perlu berusaha memancing.

Menurut Anda, apa yang memicu pola pikir seperti ini?
Saya pikir karena belum ada contoh, misalnya ada satu keluarga yang rutin memancing, punya uang, lalu kehidupannya menjadi lebih layak. Rasanya ini lebih memotivasi mereka. Hanya saja belum ada contoh keluarga yang seperti ini. Mereka lebih memilih cari uang di Papua atau di kota-kota pusat kabupaten, lalu uangnya dikirim ke kampung.

Dua tahun bukanlah waktu yang singkat. Pernah frustrasi?
Pernah. Selama ini, saya hidup di kota besar yang semuanya serba ada. Putar keran saja air keluar. Di sana, saya harus bawa jerigen lima liter dan berjalan jauh untuk mendapatkan air bersih. Satu hari bisa lima kali bolak-balik, kadang minta ke rumah warga. Saat hujan, saya menaruh ember buat menampung air. Listrik tidak ada, mau telepon susah. Otomatis saya frustrasi. Tapi saya sudah siap dengan segala resiko PTT. Yang menguatkan adalah doa.

Bagaimana ceritanya Anda menjadi Dokter Teladan Kabupaten Maluku Tenggara 2015?
Saya dengar, selama ini belum pernah ada dokter di sana yang bertahan sampai habis masa kontrak tanpa pindah tempat tugas. Paling lama 8 – 9 bulan, itu juga tidak menetap lama di tempat tugas. Mereka lebih lama di kota dibanding di tempat tugas. Dulu malah ada yang datang pagi dan besoknya kembali ke kota minta pindah karena tidak kuat.

Selama di sana, saya tidak pernah minta pindah. Lima bulan pertama, saya tidak keluar tempat tugas. Saya tidak melihat mobil dan motor dan makan apa adanya. Saya lebih banyak menetap di kampung dan tidak bikin pusing orang Dinas. Saya juga tidak bermasalah dengan orang-orang di sana. Saya sayang mereka, mereka sayang saya. Lingkungannya enak.

Dinas mungkin senang karena masyarakat mereka bisa mendapat pelayanan kesehatan dan tidak ada complaint dari dokter maupun masyarakatnya. Mungkin ini yang membuat mereka mempertimbangkan saya menerima penghargaan tersebut. Penghargaan diberikan bertepatan pada Hari Kesehatan Nasional, 12 November 2015. Tapi saya merasa bahwa apa yang saya lakukan sebenarnya biasa-biasa saja.

Penghargaan Dokter Teladan Kabupaten Maluku Tenggara 2015 untuk dr. Karnel Singh

Penghargaan Dokter Teladan Kabupaten Maluku Tenggara 2015 untuk dr. Karnel Singh

Perasaan yang muncul saat Anda harus meninggalkan mereka saat masa tugas berakhir?
Saya sangat sedih, mereka pun sedih. Saya tidak menyangka mereka membuat acara perpisahan sampai mengundang camat dan oang-orang Dinas Kesehatan. Mereka mengundang warga masing-masing kampung dari setiap agama, bahkan membuat perform yang sederhana tapi sangat menyentuh.

Mereka malah memberi saya sumbangan. Uang seribuan dikumpulkan, dimasukkan dalam amplop dan diberikan pada saya. Jumlahnya tidak seberapa tapi saya tahu bahwa mereka pun butuh uang itu. Saya berusaha tidak mau terima karena tahu hidup mereka juga susah. Tapi mereka bilang, “tolong terima ini untuk beli gula-gula. Kita tidak bisa kasih apa-apa lagi, hanya ini saja yang dapat kami berikan. Tolong terima…”

Mereka membuat acara dari malam sampai esok pagi menjelang keberangkatan saya. Acara pesta perpisahan ala Maluku ini digelar non stop. Sembahyang, syukuran, lalu makan. Saya ikut acara tersebut dari malam sampai pagi sebagai penghormatan bagi mereka. Mereka semua berinisiatif cari ikan dan mengumpulkan sayur. Saya kaget dan benar-benar sangat tersentuh.

Dua tahun mengabdi di daerah sangat terpencil, perenungan hidup seperti apa yang Anda peroleh?
Saya jadi pribadi yang jauh lebih bersyukur. Saya bersyukur menjadi seorang Karnel yang lahir di kota dan menikmati fasilitas-fasilitas yang ada. Di Kei Besar, saya benar-benar sendiri sehingga lebih memahami siapa diri saya dan seperti apa saya. Saya banyak berkomunikasi dengan diri sendiri.

Apa arti menjadi dokter bagi seorang Karnel?
Saya berharap hidup saya bisa bermanfaat. Selama PTT, saya sudah berusaha melakukannya walau baru sedikit. Saya ingin mengamalkan ilmu yang sudah saya pelajari. Saya bersyukur pernah bertugas di Kei Besar. Saya mendapat sesuatu yang lebih dari sekedar gaji yang saya terima dari pemerintah. Ada kepuasan tersendiri sebagai dokter yang melayani masyarakat di tempat seperti Kei Besar.

Yang sedang dilakukan saat ini?
Persiapan melanjutkan studi. Saya ingin ambil spesialis urologi.

* * *

*Internship merupakan program magang bagi dokter yang baru menyelesaikan pendidikan profesi. Tujuannya menerapkan kompetensi yang diperoleh selama pendidikan dan menyeleraskan hasil pendidikan dengan praktik di lapangan. Program ini menjadi syarat berpraktik sebagai dokter.

**Dokter PTT (Pegawai Tidak Tetap) adalah dokter yang ditugaskan di daerah terpencil atau sangat terpencil. Berbeda dengan internship yang menjadi syarat berpraktik profesi dokter, PTT adalah program pilihan bagi para dokter. Meski statusnya berbeda, lokasi penempatan dokter internship dan dokter PTT seringkali sama.

BACA JUGA: Kisah Dokter Teladan Kabupaten Maluku Tenggara 2015

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s