Refleksi 2015: Terima Kasih Sahabat…

Menulis refleksi adalah salah satu hal terberat buat gue. Gue sangat terbiasa buat menganalisa dan menuliskan opini-opini tentang sesuatu, tapi jadi hal berat ketika harus menganalisa diri dan mengungkapkannya. Gue seperti masuk mesin waktu yang membangkitkan segala memori.

Tapi gue merasa tetap perlu melakukannya. Selain untuk dokumentasi (ini adalah refleksi tahunan ketiga gue setelah refleksi tahun 2013 dan 2014), tulisan ini juga jadi bahan perenungan. Gue nggak bisa menjabarkan detail apa saja yang gue alami sepanjang 2015 tapi satu hal yang pasti – gue ada sampai saat ini adalah karena kasih karunia Tuhan dan dukungan tiada tara dari para sahabat, langsung maupun tidak langsung.

Terima kasih banyak….

2015 adalah tahun ke-28 gue hidup di dunia ini. Puji Tuhan, gue masih dikasih kesempatan bernapas dan menikmati kehidupan. Dalam bidang “karir”, sejak lulus kuliah S1 sampai detik ini (6 tahun), gue murni hidup dari pekerjaan merangkai huruf. Buat gue ini adalah sebuah mukjijat besar mengingat iklim Indonesia yang minat bacanya rendah, daya beli buku/eBook kurang, dan industri yang belum berpihak pada penulis. Aneka media cetak bahkan bertumbangan hari-hari ini.

Ini belum termasuk cemoohan dari orang yang tak paham dunia ini, seperti: “Lu kok nggak kerja kantoran? Kerja apa sih?” atau “Gile lu kerjanya cuma baca tulis… Sana cari kerja yang bener dikit kek!” atau ”ngapain sih nulis-nulis? Nggak ada duitnya tau…” Gue sudah sangat terbiasa mendengarnya. Gue pun sudah sangat sadar akan berbagai kemungkinan konsekuensinya.

Meski ada kalanya depresi merasuk dan sepi menyergap, gue selalu dikuatkan. Entah kenapa, gue sangat tahu bahwa sampai akhir hayat pun gue akan cinta menulis, dengan segala bentuknya (cetak, online, atau apapun itu). Oleh karenanya, gue bersyukur memiliki kalian, para sahabat yang sampai saat ini masih setia mendukung dan percaya pada apa yang gue lakukan.

Appreciate it so much… Thank you guys…. Tanpa dukungan kalian, gue tidak akan maksimal dan mungkin sudah lama menyerah sejak bertahun lalu.

Untuk urusan publikasi, sepanjang 2015 ini puji Tuhan setidaknya ada tiga tulisan yang dimuat di media cetak. Tulisan pertama dimuat Harian Pikiran Rakyat dengan judul “Imlek Dalam Semangat Pluralisme”. Dua tulisan lainnya dimuat The Jakarta Post, yaitu “Say No for Minority Thinking” dan “Away from Christmas and the church’s walls.” Selebihnya dapat dibaca pada web ini.

Lebih dari sekadar masalah publikasi, sepanjang 2015 sepertinya gue dibawa pada satu pemikiran lain yang belum pernah muncul pada tahun-tahun sebelumnya. Gue jadi tertarik untuk lebih mendukung orang-orang sekitar yang mau belajar menulis. Gue senang memandu sampai orang tersebut menyadari potensi dalam dirinya dan kemudian belajar merealisasikannya.

Betapa luar biasa senangnya gue ketika beberapa teman mulai menulis rutin dan bertukar pikiran, bahkan berani mempublikasikannya. Menulis artinya berbagi pengetahuan dan pikiran – dan ini adalah bentuk kasih yang tak kalah dengan aksi-aksi heroik menolong orang di lapangan.

Sebelum sadar ini, gue sungguh minder. Gue pikir, jadi guru dan dokter jauh lebih keren karena lebih kelihatan aktivitas nolong orangnya. Tapi gue akhirnya belajar bahwa menulis adalah menolong orang lain di ranah intelektualitas alias pola pikir. Jika dokter memperbaiki gizi fisik seseorang, penulis (yang baik) memperbaiki gizi “otak” seseorang. Tanpa asupan bacaan bergizi, belum tentu seseorang bisa punya pengetahuan atau terinspirasi menolong orang lain.

Tapi pemahaman sampai ke tahap ini adalah perjuangan panjang dan berdarah-darah buat gue. Itu sebabnya gue bersyukur bahwa sampai 2015 pun gue masih bertahan di area ini.

Di luar urusan menulis yang nggak akan pernah ada habisnya dibahas, gue sangat bersyukur karena kuliah berjalan lancar dan proposal tesis terbilang mulus meski ternyata tidak bisa selesai pada semester kemarin. Setelah sidang proposal selesai, gue bersyukur karena dipercaya membawakan sidang proposal tersebut ke forum yang lebih besar yaitu Indonesia International Conference on Communication di Universitas Indonesia Depok dengan masukan-masukan yang lebih memperkaya.

Gue cukup amazed karena bisa mengerjakan ini semua berbarengan dengan makin padatnya kegiatan di doctorSHARE. Karena berbarengan dengan perkuliahan, hanya satu pelayanan medis yang gue ikuti sepanjang 2015 yaitu pelayanan medis Flying Doctors di Kabupaten Intan Jaya, Papua. Pelayanan medisnya membawa nuansa lain dan pengalaman yang betul-betul berbeda dibanding sebelumnya karena daerah ini benar-benar terisolir dan warganya tak pernah melihat dokter.

DSC_0063

Dengan kepadatan ini, gue juga mulai mengajak beberapa relawan media yang baru dan ternyata ini jadi sesuatu yang menarik sekaligus menantang. Gue punya pandangan bahwa relawan adalah partner untuk menggenapi visi doctorSHARE, bukan “anak buah” yang bisa diperas tenaganya dengan semangat aji mumpung demi menyelesaikan pekerjaan dan memenuhi ambisi.

Gue sekali lagi bersyukur karena diberkahi para relawan yang ternyata skillful, punya hati, cekatan dan berinisiatif tinggi. Pada 2015, setidaknya ada 10 relawan media yang baru dalam berbagai bidang. Mimpi gue adalah setelah bergabung, mereka jadi bisa belajar sesuatu, dapat ilmu baru dan makin sadar akan potensinya yang besar. Gue sendiri pun bukan manusia yang perfek. Tepatnya, gue relatif cuek.

Di tahun ini pula gue senang karena bisa bertemu kembali dengan rekan-rekan alumni HI Unpar 2005, bertepatan dengan momen satu dekade angkatan kami (yes, udah tuir eh udah dewasa…). Momen ini memaksa gue tampil membawakan “kuliah tamu” di hadapan adik-adik kelas. Padahal, gue sungguh sangat tidak terbiasa dengan public speaking.

Gue pun senang karena kami juga jadi bisa berdiskusi kembali soal isu-isu sosial politik – sesuatu yang sangat gue nikmati tapi belakangan sulit dilakukan. Berdikusi dengan mereka yang membuat daya analisis gue pulih sekaligus sangat memperkaya pola pikir dan pengetahuan gue yang begitu terbatas ini. Support system dan kerjasama pun terjalin.

Tapi yang lebih bombastis adalah kado akhir tahun dari Tuhan yang sama sekali nggak pernah gue bayangkan yaitu terpilih sebagai peserta program #MenyapaNegeriku dari Kemenristek Dikti dan berkenalan dengan kawan-kawan baru yang begitu inspiratif dari berbagai pelosok Indonesia. Program ini intinya adalah mengajak publik melihat langsung wajah pendidikan di daerah 3T (Terdepan, Terluar, dan Tertinggal).

DSC_6627

Ketika diberitahu terpilih berangkat ke Aceh Timur, gue sama sekali tidak tahu bahwa jumlah pendaftar program ini sampai 14.523 orang dan yang terpilih untuk berangkat selama seminggu ke 11 kabupaten hanya 44 orang. Gue baru tahu ini H-2 jelang terbang. Sedemikian ketatnya penyaringan peserta sampai-sampai panitia sakit kepala dan menutup pendaftaran lebih cepat.

Ini adalah mukjijat karena gue nggak pernah berpikir akan ke Aceh apalagi Aceh Timur, daerah yang merupakan lahirnya Kerajaan Islam pertama di Asia Tenggara – bukan Banda Aceh yang sudah lebih terbuka. Banyak pengalaman menarik baik dari segi budaya maupun aktivitasnya. Tim Aceh Timur adalah satu-satunya tim yang menyambangi SLB (Sekolah Luar Biasa), membuat gue teringat adik bungsu yang juga menyandang tuna grahita.

Di Aceh Timur, gue berusaha mendengar dan menyerap berbagai pengalaman, terutama dari guru-guru SM3T (Sarjana Mendidik Di Daerah Terdepan, Terluar dan Tertinggal) serta PPG (Pendidikan Profesi Guru). Banyak sekali cerita seru yang membuat gue ingat akan perjuangan teman-teman doctorSHARE dari aspek lainnya yaitu pendidikan. Para guru ini bekerja gila-gilaan selama satu tahun (10 tahun untuk PPG!), bahkan beberapa di antaranya harus berkorban nyawa.

Dua minggu sesudah kegiatan, kami dikumpulkan kembali selama dua hari untuk sharing pengalaman. Dari 11 kelompok, ceritanya akan dipilih 3 kelompok terbaik untuk presentasi ulang di hadapan Dirjen Dikti dan Menristek (ternyata Menristek pulang duluan). Entah mengapa, Aceh Timur terpilih sebagai satu dari tiga kelompok tersebut, padahal saya amat sangat grogi saat presentasi berlangsung.

Setelah berdiskusi panjang untuk merumuskan saran dan rekomendasi hingga pukul dua subuh, esok paginya, gue kebagian presentasi pertama mewakili Aceh Timur. Memang tak sampai gemetar – tapi gue sempat speechless di atas panggung karena ‘dipelototi’ langsung oleh Dirjen Kemenristek Dikti dan para jurnalis (biasanya gue yang berada di posisi itu!).

Maka gue menjadi sungguh terkejut ketika di penghujung acara, ketua tim juri menyebut nama gue sebagai peraih juara harapan 2 Inspirator terbaik. Gue merasa sangat tidak layak dengan predikat itu karena belum melakukan perbuatan nyata dan berarti buat masyarakat Aceh Timur, apalagi buat publik. Terpilih sebagai peserta saja sudah merupakan anugerah yang amat luar biasa.

Buat gue, justru murid-murid SLB dan para guru inilah yang lebih menginspirasi gue – membuat gue lebih menghargai hidup karena setidaknya gue lahir normal, bahkan bisa sekolah sampai jenjang S2. God is so good to me… Ke depan, gue masih berjuang menyelesaikan tesis dan proyek buku.

Pada akhirnya, gue bisa bertahan sampai detik ini karena kalian – keluarga dan para sahabat yang masih percaya dengan mimpi dan cita-cita gue dan setia mendukung dalam suka duka. Gue bersyukur punya keluarga, mentor, sahabat dan mereka yang udah gue anggep sebagai kakak dan adik gue sendiri. Selain Tuhan – kalianlah sumber energi terbesar buat gue untuk terus berkarya.

Gue juga minta maaf jika sepanjang 2015 bahkan awal 2016 ini telah melakukan aneka perbuatan dan perkataan yang mungkin menyakitkan, sadar maupun tidak. Gue manusia yang tidak sempurna dan sering bikin keliru. I’m on process dan prosesnya berlangsung seumur hidup. Terima kasih untuk kesabaran kalian berhadapan dengan prosesnya. Tetap semangat untuk 2016.

IMG_8423

Love you so much!
Sylvie Tanaga

12 Januari 2016
01.27 WIB
Kemayoran, Jakarta Pusat

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s