Lessons From Guitar Lesson

Melodi berseling bunyi kawat mengalun indah dari petik sebuah gitar akustik. Lapisan cat coklat memantul diterpa cahaya panggung. Sepuluh jemari berlompatan sesuka hati di antara enam dawainya. Melodi demi melodi. Akor demi akor. Atmosfer jadi syahdu teriring vokal merdu.

Mata sang musisi terpejam menikmati keajaiban suara yang dibuatnya sendiri. Ia tak peduli betul reaksi penonton. Justru oleh karenanya ia sukses membuat mereka tercekat pada kemampuannya menyetop rotasi bumi – untuk beberapa saat sebelum petikan terakhir berdenting, meninggalkan jejak pada sayup terakhir yang segera saja lenyap ditelan udara.

 

Saya selalu bahagia mendengar para gitaris yang memainkan gitarnya dengan asyik, para gitaris yang ketika bermain seolah meleburkan sukma dan raganya pada selongsong kayu berlubang yang dibetot enam kawat dengan ketebalan berbeda. Semangat dan amarah, sedih dan tangis. Sang selongsong kayu siap menampung amuk di sekujur tubuhnya. Lubang resonansi jadi gaung jeritan hati.

Demikian sering saya nikmati permainan cantik seorang musisi dengan isteri keduanya – Mrs/Mr. Guitar. Para musisi ini nampak bermain tanpa sedikit pun beban. Apa sih susahnya main gitar yang “hanya” bentangan enam kawat? Saya segera jatuh cinta pada benda ini dan membulatkan tekad untuk semangat belajar dengan aneka bayangan asyik.

Ah! Saya menyesal telah berpikir demikian.

IMG_4900

Sungguh tak mudah seperti kedengarannya. Pertama kali mencoba menggenjreng, suaranya sama sekali tak indah. Ia hanya terdengar seperti kakek-kakek tercekik debu – kawat ngeden alih-alih berdenting memikat telinga. Menekan jemari kiri pada akor-akor tertentu memicu penderitaan pada bagian tubuh lain berupa lapisan bantal jari yang rusak, kapalan, berdarah hingga bernanah.

Berbulan-bulan kemudian, barulah saya bisa bermain akor-akor sederhana – itu pun dengan gerak jemari yang begitu kaku. Jauh sekali dengan gerik Mr. Jason Mraz dengan balada I’m Yours-nya yang begitu melegenda. Belum selesai dengan akor, saya juga amat bermasalah dengan ritmik alias ryhtm alias beat, “jantung” yang menjaga permainan tetap bertempo stabil.

Setelah meninggalkan Mr. Guitar hingga lebih dari satu dekade, saya mulai menjamahnya lagi – dengan bantuan seorang guru. Saya tak bisa lagi meremehkannya. Setelah memulihkan jemari dan muscle memory, sang guru mulai menambahkan beberapa akor tambahan yang kedengarannya rumit (Asus2, C#7, dan sejenisnya), juga menambahkan beberapa teknik tempo dan betotan kawat yang kembali melukai jemari kiri.

Kulit jemari yang robek lama-lama menutup dan kapalan sehingga saya tak lagi mudah sakit ketika bermain dalam waktu lama. Akor yang memaksa sejumlah posisi “aneh” pada board gitar membuat tangan saya melentur. Kemampuan membaca not balok dan insting musik harus diasah namun kekebalan dan kelincahan gerak jemari jadi modal yang baik – kecuali rasa jemu dan frustrasi.

Dua minggu lalu, saya belajar memainkan sebuah lagu rock klasik dari band lawas. Tak ada masalah dengan akor-akornya – sampai pada melodi pengiring di bagian tengah lagu. Melodinya hanya berdurasi kurang dari satu menit, tapi saya butuh waktu tiga jam (dua kali pertemuan) menghafal posisi jari dan latihan setengah jam setiap malam selama dua minggu penuh untuk melancarkannya. Saya memang tak berbakat musik tapi musisi paling mahir sekalipun butuh latihan demi menghasilkan alunan melodi indah.

Seminggu saja tak berlatih, jemari saya mulai kehilangan kelenturannya. Keindahan permainan gitar yang saya bayangkan ternyata diiringi oleh hitungan tempo, irama, dan jenis matematika lainnya. Ini belum termasuk tantangan internal seperti suasana hati. Maka saya jadi paham mengapa seorang musisi begitu emosional ketika publik berceloteh: “ah, dia kerjanya cuma genjrang genjreng doang macam pengamen…”

Ada derita dan pengorbanan yang luar biasa di balik keindahan sebuah performa, yang paling sederhana sekalipun.

Ada cucuran darah dan air mata di balik sukses seseorang yang akhirnya terekspos di panggung publik. Saya terlalu asyik melihat Jason Mraz bermain tapi luput membayangkan berapa kali jemarinya mengalami perdarahan, berapa kali bantalan jarinya bernanah dan sobek, berapa kali pita suaranya ter-abuse (kata seorang kawan, abuse = abnormal use).

Saya hanya (berusaha) berlatih setengah jam setiap malam. Bagaimana dengan Jason Mraz yang harus bermain lebih dari 12 jam setiap hari, terutama jika ada tur keliling dunia? Tontonlah film “Whiplash” (nominator Oscar) maka kita juga akan menyaksikan penderitaan seorang drummer yang berlatih keras sampai tangannya berdarah hebat dan harus direndam dalam balok-balok es .

Ketika mencoba menghafal posisi jari untuk memainkan melodi berdurasi kurang dari satu menit, mungkin sudah lebih dari sepuluh kali saya frustrasi. Saya kerap mengepal-ngepalkan lengan ke kepala. Kok gitu aja nggak bisa-bisa sih?! Gemessss…. Jangan tanya bosannya.  Belajar gitar tak seasyik bayangan sebelumnya. Tapi saya tahu permainan saya mulai berkembang.

Saya bertanya pada guru gitar yang sudah sangat “dewa” soal resep kelincahan tangannya. Ternyata, ia berlatih fingering (pergerakan jari di board gitar) selama berjam-jam, seringkali pada posisi yang sama secara berulang-ulang. Tapi latihan amat membosankan inilah yang membuatnya mahir bermain pada berbagai posisi dan dengan gitar jenis apapun. Kekuatan jemarinya teruji.

Ketika saya tanya apa yang membuatnya begitu tahan menghadapi “penderitaan” ini, jawabannya adalah bahwa ia sangat mencintai gitar. Gitar adalah belahan jiwanya. Ia mesti memahami setiap lekuknya dengan sepenuh hati. Maka ia pun berusaha me-maintain relationship dengan terus berlatih sehingga orang bisa merasakan “kemesraan” antar mereka.

Pada saat yang sama, ia sadar bahwa ini bukan latihan kurang kerjaan. Ketika menghadapi masalah pada jarinya, ia jadi terlatih tak cepat bosan. Maka ketika menghadapi masalah dalam hidupnya, ia jadi terlatih tidak cepat putus asa.

Jika saya tidak tekun mempelajari melodi pendek yang sederhana, jangan harap saya bisa memainkan seluruh bagian lagu. Tadinya saya pikir tak masalah jika hanya bagian melodinya saja yang bermasalah karena toh bagian awal lagu bisa saya mainkan dengan lancar. Ternyata melodi kurang dari satu menit yang tak lancar saya mainkan berhasil mengacaukan harmoni seisi lagu.

Saya tak bisa begitu saja skip bagian melodinya sekalipun sangat ingin melakukannya. Kalau saya skip maka 3,5 menit lagu yang saya mainkan jadi kehilangan “jiwa”nya. Sama halnya seperti sedang membangun, saya tidak bisa skip menggali fondasi hanya demi membangun sebuah rumah yang kelihatan indah di mata. Rumah tersebut akan mudah roboh hanya oleh gempa ringan.

Menggali fondasi adalah bagian yang paling tidak kelihatan, paling tidak enak, paling membosankan, tapi sekaligus paling penting. Fondasi menentukkan apakah bangunan ini kelak tahan goncangan atau tidak. Percuma jika tampilan luarnya saja yang “wah”.

Di lain waktu, saya pernah melihat bagaimana seorang pemain bola profesional berlatih. Selama berjam-jam latihan, ia “hanya” berlari dan menggiring-mengoper bola dengan gerakan itu-itu saja.  Demikian pula dengan teman pelukis yang berlatih membuat pola garis yang sama selama berjam-jam. Sungguh membosankan. Tapi saat berhadapan dengan karyanya, mata saya tak bisa berkedip.

Sebagai penulis, saya pun sering ditanya bagaimana bisa mengetik dengan kecepatan tinggi. Setelah saya renungkan, jawabannya adalah karena saya terlatih mengetik berjam-jam sejak puluhan tahun, mulai dari mesin tik pemberian papa (sejak SD), komputer gede sampai laptop. Meski sedang tak mood, selama bertahun-tahun saya melatih diri disiplin menulis walau hanya menyalin tabloid-tabloid atau buku-buku usang. Pokoknya menulis.

Ini adalah pelajaran sederhana namun begitu sering saya lupakan: setia dengan perkara-perkara kecil (yang super membosankan saking kecilnya) namun inilah yang membuat kita dipercaya dengan perkara-perkara yang lebih besar. Untuk perkara ini pun saya masih harus berjuang.

Berjuang untuk terus berjuang.
Itulah hidup.

* * *

Jakarta, 21 Januari 2015
01.49 AM
Kemayoran – Jakarta

Sumber Foto:  blog.symphonicdistribution.com
Baca Juga:  Inside of My Guitar

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s