Get Real

Life is not a problem to be solved, but a reality to be experienced.
Soren Kierkegaard

Saat menulis ini di sebuah coffee shop, tepat di hadapan gue sepasang kakek nenek ngopi mesra bergandengan tangan memancarkan romantisme ala-ala novel Nicholas Sparks – bikin iri gue yang single. Sudut mata gue juga menangkap segerombol kung-kung (kakek) yang saling berkisah sambil tertawa-tawa tak peduli kerut uban yang makin menjadi. Semacam reuni kecil yang penuh kehangatan.

Di samping kiri, mas-mas melayani pengunjung dengan senyum yang kayaknya sih tulus, setelah setengah jam sebelumnya gue lihat meneguk minuman pertama selepas azan. Menoleh ke kanan, gue melihat mbak-mbak penjaga Bread Talk sibuk mondar-mandir menata kue yang nggak pernah gue hafal namanya sambil bolak balik menggenggam nampan. Itulah pandangan sekelebat gue dalam semenit.

Dan gue langsung menyadari suatu hal.

Entah sudah berapa abad rasanya gue nggak lagi menikmati hidup nyata. Hidup gue on the right track tapi sungguh semu. Begitu sibuknya gue berdialog dengan diri sendiri. Begitu asyiknya gue banting tulang menuntut ilmu seraya heboh mengurus segepok kerjaan. Begitu serunya gue menjalani kehidupan “sosial” yang ternyata sama sekali nggak sosial. Betapa naifnya gue.

Cogito ergo sum – aku berpikir maka aku ada.
Gue begitu mengagumi pemikiran mas bro Descartes ini.

Tapi gue lupa bahwa keberadaan gue bukan cuma sebentuk otak – walau kesadaran ini muncul karena gue punya otak. Gue punya mata untuk melihat, hidung untuk bernapas, kaki buat berjalan, mulut untuk bicara, dan daun telinga buat mendengar. Dalam tempo semenit, sekonyong-konyong gue menyadari bahwa selama ini I’m real but I’m not really get real. What am I doing???

Gue hidup tapi nggak menikmati kehidupan. Gue melarut dalam kesibukan dan pikiran. Gue ngetik produktif di Coffee ini tapi gue udah lupa rasanya kehangatan berbincang bersama keluarga. Gue nggak sadar betapa nikmatnya tiap tetes kopi yang gue seruput. Gue menganggap anak-anak yang ribut lari kesana kemari di hadapan gue sebagai gangguan kelas berat. Gue bahkan nggak sadar ini sudah malam.

Walaupun ceritanya berkarya di institusi sosial, gue menemukan diri sama sekali nggak get real. Hidup gue nggak nyata, karya gue kayaknya masih tanda tanya, kebahagiaan gue semu. Buktinya, salah satu alasan gue ke Coffee Shop ini karena gue merasa hampa, bosan, dan sepi. Tapi media sosial gue ribut bukan main. Whattsapp dan Telegram gue nggak berhenti berkicau, membuat otak dan pikiran gue begitu kecanduan melirik benda tipis berukuran tak lebih dari 6,5 kali 4,4 cm ini, tiap lima menit!

Gue lebih asyik hidup dalam dunia khayal yang gue pikir dunia nyata. Gue jadi bertanya-tanya kehidupan macam apa yang selama ini gue jalani? Masihkah gue menikmati kehidupan yang nyata?

Kemarin sore, untuk pertama kalinya gue baru sadar betapa segarnya semilir angin yang menggaplok wajah dan menyepak tiap helai rambut gue ke segala arah. Dari atas motor sepulang keluyuran, gue mengembus dalam-dalam aroma danau sunter di hari senja. Alih-alih bermain-main dengan pikiran, gue paksakan segenap indra bener-bener menyerap apa saja yang sedang gue lihat.

Gue bisa merasakan embus angin kencang menjarah kulit menusuk tulang, melihat kerumunan massa asyik mancing menunggu waktu berbuka puasa, tukang mainan yang tersuruk kelelahan di tanah, dan mendengar bising beton-beton yang ditancapkan mengelilingi sisi danau. Gue juga berusaha mengamati ekspresi para penjaja makanan tertidur dalam posisi duduk dengan punggung bersandar pada pohon.

Mata gue menangkap kelebatan bangunan-bangunan pencakar langit yang baru berdiri dihiasai semarak lampu sorot yang warnanya saling bertabrakan sampai mata gue sakit. Gue menangkap pantulan simetris rumah-rumah kumuh di permukaan danau. Suara ondel-ondel begitu menyengat telinga. Gue cium polutan kendaraan yang menyengat. Hidung gue sesekali mencium aroma keringat abang ojek.

Kesemrawutan yang begitu indah.

Gue belajar melihat kehidupan nyata.
Gue belajar menyadari bahwa hidup itu rumit sekaligus sederhana.
Gue belajar memahami bahwa menikmati hidup adalah sebuah karunia.

Gue punya kesibukan, nggak pernah kelaparan, dan sejuta alasan lainnya untuk bersyukur. Tapi apapun itu pada akhirnya gue harus belajar menikmati kehidupan yang nyata. Isunya bukan hanya kepekaan terhadap dunia sekitar tapi bagaimana mental gue terevolusi maksimal agar tak hanya jalani list of activities yang hanya bermuara pada ambisi, sekalipun ambisinya adalah untuk menolong orang lain.

Gue pun harus belajar menikmati setiap hal sederhana dalam hidup gue. Tidur, makan, sikat gigi, nyikat WC, benerin tembok bocor (walaupun harus minta tolong orang sih). Gue coba sapa pak Satpam apartemen, mbak-mbak yang ngelap lift, mas-mas yang tanpa gue sadari begitu rajin nyapu dan ngepel di sepanjang lorong, juga jeung-jeung penjaga WC. Ekspresi mereka sungguh berubah 180 derajat. Padahal gue cuma nyapa dan lempar sedikit senyum.

Nggak kurang dan nggak lebih.

Gue sungguh-sungguh ingin hidup  nyata, mengasihi dan dikasihi dengan nyata, bahagia secara nyata, dan mengalami kehangatan nyata dengan keluarga dan teman-teman. Selama masih bernapas di dunia nyata, gue ingin hidup nyata dan sebisa mungkin tak lari dari kenyataan. I wanna get real.

 

* * *

Sumber foto: mararockliff.com

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s