Joko dan Donald Bebek

Mulanya adalah bungkus gorengan. Dan Joko langsung jatuh cinta padanya.

Cepat-cepat ia telan sepotong pisang yang masih mengepul di dalamnya, membuatnya tersedak sesaat sebelum bergegas merobek pembungkus di tangannya. Pisang itu sesungguhnya ia beli dari sisa uang jajan terakhirnya minggu ini dengan niat dinikmati pelan-pelan – tapi tak apalah. Kertas penuh minyak itu kini terasa jauh lebih berharga: secarik komik Donald Bebek!

Joko merobek kedua sisi kertas yang masih menempel, lalu membentangnya dengan sangat berhati-hati di permukaan trotoar. Ia bersimpuh tanpa mempedulikan kucing yang nyaris terinjak oleh ujung sandal rombengnya.

Matanya menatap sosok Donald yang sedang berkelahi dengan Paman Gober. Donald mengeluh kenapa ia harus manut pada Paman Gober yang memerintahnya membersihkan rumah pada hari libur. Paman Gober tak peduli. Ia memarahi Donald karena ia begitu malas mengangkat bokongnya dari kursi malas di pojok halaman rumah.

Joko mengelap lumuran minyak pada jemarinya ke kaus belel-nya – yang tak membuat perbedaan apapun juga pada warna sang kaus sebelum dan sesudah ia melakukannya.

Matanya berkonsentrasi pada sosok Paman Gober yang mengamuk karena Donald kongkalikong dengan para keponakannya, Kwik, Kwek, dan Kwak. Mereka memperdayainya. Gober umbar amarah. Ia paksa Donald bersihkan setiap koin dalam gudang uangnya sampai kinclong.

Pada detik itu Joko juga ingin mengamuk. Itulah akhir potongan kertasnya. Argh! Sial! Joko bangkit dengan enggan, melipat Donald jadi dua bagian. Bagaimanapun, ia mesti berburu Donald Bebek!

Tapi bagaimana caranya? Tak punya kepeng-lah ia buat membelinya. Jangankan komik, buat makan nasi dan sepotong ikan saja mamaknya yang renta itu mesti jualan bika ambon di alun-alun…….

Tunggu dulu!

Jantung Joko berdegup kencang, mendesirkan darah ke seluruh tubuhnya, yang dengan segera menaikkan bulu-bulu kuduk di sekujur lengannya dengan sangat kompak.

Joko ingat. Minggu lalu ia lihat sebuah lapak lusuh yang jarang ditengok orang. Hanya Nunik dan Didik – si kembar dari gubuk sebelah yang selalu ingusan itu – yang tampaknya tertarik mampir. Itu pun cuma buat numpang bersembunyi dari kejaran ibunya yang maha judes.

Lapak itu, Joko mencoba mengingat lebih keras, berisi tumpukan majalah dan buku yang kebanyakan sudah menguning. Demi mengingatnya, dalam hitungan sepersekian detik berikut Joko telah melesat bak Usain Bolt – ke arah alun-alun yang malam itu padat pengunjung.

Ini malam wiken yang sempurna.

Pas betul buat siapapun yang hendak memadu kasih. Di bangku taman, atau di balik semak jika pingin lebih privat. Joko pernah iseng mengageti sepasang muda-mudi yang saling melirik mesra sambil bersuap-suapan tempe goreng di balik semak. Tangan kanan Joko gesit menyambar tempe goreng dan tangan kirinya segera mengaitkan balon gas pink.

“Nyatakan cintamu dengan balon gas saja, Kakak! Joko terbahak sambil lari tak terbendung.
“Kunyuk gembel keparattttttttt!!!” maki sang pemuda mencoba mengejar, sebuah upaya sia-sia karena Joko segera lenyap tak berjejak.

Tapi malam ini, Joko tak hendak mengisengi siapapun jua. Pikirannya cuma bertumpu pada satu hal: mencari lapak buku itu – siapa tahu ia temukan kelanjutan episode Gober mengamuk di sana.

Joko cuma menggerakan dagunya dua kali ketika matanya bersirobok dengan sang bunda yang belum habis menjaja bika ambon di bawah pohon beringin – kode minta ijin main hingga larut. Sang bunda mengangguk dan melanjutkan jualannya yang tinggal sisa senampan.

Satu belokan lagi. Itu dia!

Joko mengerem langkahnya. Lapak itu nyaris tak terlihat dari pintu utama alun-alun. Letaknya sungguh tersembunyi di pojok dengan lampu penerangan yang minim. Sejumlah majalah dan koran bergelantungan di langit-langit, cuma bergantung pada seutas benang layangan yang dikaitkan pada plang kayu besar bertuliskan “Perpustakaan Jalanan”. Tintanya sudah samar. Di ujung plafon, koloni laba-laba punya tempat asyik buat memilin istananya tanpa gangguan.

Lantainya hanya beralas tanah. Satu-satunya papan kayu digunakan sebagai alas buat menghampar buku-buku masakan, sejarah, seri tokoh dunia, tips berkebun, tips budidaya ikan, cerita rakyat….  Mata Joko berkelana liar menatap judul demi judul. Mana dia? Ia mulai frustrasi ketika beringsut maju ke rak terakhir yang posisinya sudah agak doyong.

“Mau pinjam buku apa, Dik?”
“Donald Bebek, Kak….”

Hening.

“Donald rasanya nggak ada. Tapi….,” kakak penjaga lapak menjulurkan lengan ke tumpukan majalah lawas di rak terakhir, “kayaknya pernah lihat satu biji… Ini dia! Selamat membaca. Jangan khawatir, Dik. Perpustakaan ini buka sampai malam!”

Ingin rasanya Joko bersorak! Hanya saja ia malu melakukannya sebab ada dua tentara masuk ke halaman alun-alun. Mereka tenteng senjata laras panjang yang terlihat mengkilat dan senjata tumpul serupa pistol dan pentungan. Keren sekali. Dari dulu ia punya cita-cita jadi tentara gagah.

Joko menguap sambil melayangkan pandang pada salah satu dinding kayu yang mulai berlumut. Pukul sebelas malam.

Joko beringsut, bersila bersama tiga bocah jalanan lainnya yang begitu asyik baca buku cerita rakyat. Kedua bocah menggeser sedikit pantatnya, memberi Joko sedikit ruang. Maklum, cuma ada satu lampu neon yang jadi sumber terang. Joko menyandarkan punggungnya pada batang bambu, mencoba mencari posisi nyaman di tengah nyamuk yang sengit berdenging.

Sepuluh menit berselang, gerombolan tentara yang tadi dilihatnya tiba-tiba menyeruak dan membogem kakak penjaga lapak dengan beringas. Tiga bocah menjerit. Tak puas membikin hidung berdarah, seorang tentara bertubuh ceking menonjok perut kakak penjaga dengan ujung senjata laras panjangnya. Kakak penjaga terhuyung-huyung memegangi perutnya.

Seorang tentara berperut buncit mengacungkan popornya ke udara, pamer suara.
“Kalian kumpul malam-malam! Ini indikasi kalian lakukan hal negatif! Yang logis saja, masak baca buku di tempat gelap??!!!”**

Joko terlalu terkejut untuk menyadari apa yang terjadi.
Sebatang besi dingin keburu menggebuk tengkuknya dengan keras.

Satu-satunya yang diingat sebelum kesadarannya lenyap adalah ia tengah bertualang pada halaman ketika gerombolan siberat menyerbu gudang uang Paman Gober.

Itu saja.

***

Sylvie Tanaga
Kemayoran, Jakarta Pusat
Selasa, 23 Agustus 2016
Pk 04.16 WIB

*Cerpen ini terinspirasi dari kasus pembubaran paksa perpustakaan jalanan di Bandung oleh sekelompok tentara bersenjata pada Sabtu malam, 20 Agustus 2016. (Tentara Bersenjata Bubarkan Perpustakaan Jalanan Bandung)

**Mengutip pernyataan Kepala Penerangan Kodam III Siliwangi, Kolonel M. Desy Arianto, yang membenarkan ada anggota TNI Kodam III Siliwangi yang melakukan pembubaran.

Sumber ilustrasi Donald Bebek: thefactsite.com

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s