RESENSI BUKU – Kembali Ke Timur

Judul Buku   :   Kembali Ke Timur – Catatan Seorang Dokter PTT di                                                 Pegunungan Tengah Papua
Penulis           :   dr. Indah Permata
Penyunting  :   Benjamin Tukan
Penerbit        :   TOLLELEGI
Cetakan         :   I, Maret 2016
Tebal Buku  :   xxiv + 308 halaman

Mulailah membangun bangsa ini dari diri sendiri dan dari hal sederhana yang kita punya. Apa yang kita berikan dari hati, yakinlah akan sampai di hati juga.
(dr. Indah Permata – Kembali Ke Timur: Catatan Seorang Dokter PTT di Pegunungan Tengah Papua)

Satu catatan penting mengawali resensi buku ini adalah kekaguman saya pada ketekunan seorang dr. Indah Permata mencatat rincian pengalamannya selama menjadi dokter PTT (Pegawai Tidak Tetap) di Kabupaten Lanny Jaya, Papua. Meski tiga tahun bukanlah waktu yang singkat, menulis kisah ratusan halaman di sela tugas melayani medis jelas bukan perkara mudah. dr. Indah tentu rajin mencatat agar aneka memori berharga tak lekas pergi.

Ketekunan dr. Indah menyimpan memori telah terlihat sejak bab awal buku ini. Ia antara lain memaparkan pergumulannya diterima PTT di Lanny Jaya.

Bagi seseorang yang terbiasa hidup di kota besar, tawaran menjadi dokter PTT di daerah terpencil tentu bukan perkara mudah, terlebih di Tanah Papua. Dorongan melayani di daerah terpencil muncul setelah dr. Indah mengetahui fakta banyaknya masyarakat yang belum mendapat pelayanan yang layak. Tapi kerinduan itu tak mudah terwujud. Sempat ditolak ketika mendaftar tahun 2009, dr. Indah akhirnya diterima sebagai dokter PTT di Kabupaten Lanny Jaya, Papua pada tahun 2010.

Masalah belum selesai. Orang tua dan rekan-rekannya berpikir bahwa Papua terlampau jauh. Toh masih banyak pekerjaan yang dapat dilakukan di ibukota – masalah klasik rekan-rekan dokter yang orang tuanya was-was melepas begitu saja putra/putri mereka ke tanah “asing”. Pilihannya hanya dua: menurut saja atau ‘nekat’ mewujudkan hasrat. dr. Indah memilih yang kedua. Tekad bulatnya untuk PTT membuat orang tuanya akhirnya menyerah (Bab 1)

Bab 2 hingga Bab 6 menuturkan perjalanan dan hari-hari awal dr. Indah di ujung timur Indonesia.

Pada Bab 2 (Onomi Fokha), dr. Indah membawa kita turut merasakan langsung deg-deg serrr naik pesawat penuh turbulensi ke Jayapura dan ketegangan rekannya, dr Edho. Bab 3 (Lembah Baliem) memperkenalkan kita pada Wamena, sebuah distrik di Kabupaten Jayawijaya. Ia berlokasi di Lembah Baliem yang dialiri Sungai Baliem dan diapit Pegunungan Jayawijaya.

Di balik keindahan alam Wamena yang menawan, betapa terkejutnya dr. Indah mendapati fakta kontradiktif: menjulangnya harga-harga barang.

Siapapun yang menginjakkan kaki di Wamena akan berpikir bahwa yang bisa tinggal dan bertahan hidup di sini adalah orang-orang yang berpenghasilan besar dan mampu membayar biaya hidup yang luar biasa ini. Tapi pada kenyataannya, tidak semua orang yang tinggal di sini orang yang mampu, tetapi orang yang mau bertahan dan bekerja keras atau memang tidak punya pilihan lain. Kembali saya berbisik, keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesiakah ini?
(Halaman 47)

dr. Indah kemudian mengarungi lebih banyak hal yang menggugah kesadarannya. Di Tiom, Kabupaten Lanny Jaya, ia segera tahu bahwa masyarakat Tiom hanya menguasai bahasa lokal dan tak kenal istilah usia, kondisi umum masyarakat pegunungan tengah Papua.

Pada Bab 7 (Puskesmas Tiom), dr. Indah menunjukkan bahwa ia tak kenal kata mustahil selama ada niat dan kerja keras. Dokter lulusan Universitas Kristen Indonesia ini menggagas sistem rekam medis sederhana di Puskesmas Tiom. Ia pun aktif memberi penyuluhan, mengkampanyekan konsumsi tahu telur, serta menganjurkan warga tak mandi dengan deterjen agar tak kena sakit kulit.

Bab 8 hingga 12 (Mandi Detergen, Kisah Rumah Dinas, Turkam, #Save Papua, Penyakit Tunggu Waktu) membuka mata kita akan kondisi nyata masyarakat Kabupaten Lanny Jaya, yang saya rasa juga jadi cermin kondisi masyarakat pegunungan tengah Papua pada umumnya. Saat bersamaan, rangkaian bab ini membawa kita menyelami aneka keseruan sekaligus persoalan dilematis yang dihadapi para dokter PTT di daerah terpencil.

Pengalaman menarik selama blusukan pelayanan medis keliling desa terbentang di sepanjang Bab 10 dan Bab 11. Tak hanya mengobati bersenjatakan stetoskop, dr. Indah dan tim juga berbagi pengetahuan soal gaya hidup sehat. Dalam beberapa kesempatan, gantian dr. Indah yang mempelajari aneka kebudayaan lokal seperti mandi indoor, ibadah bersama, bakar batu, bakar mayat, hingga melintas hutan dengan buldozer.

Saya juga melihat dr. Indah memberi penekanan tersendiri pada Bab 12 (Penyakit Tunggu Waktu), sebuah uraian mengenai HIV/AIDS yang begitu banyak diderita warga Papua. Dalam 41 halaman, dr. Indah menceritakan kegundahan sekaligus kerja kerasnya dalam meminimalisir penyakit yang belum ada obatnya ini. Dalam salah satu penyuluhan, dr. Indah “nekat” mengadakan demo mengenai cara memakai kondom – tindakan yang sempat dipertanyakan oleh salah seorang pemuka agama.

Tuturannya informatif dan mengalir. Saya yang bukan dokter jadi paham seluk-beluk seputar HIV/AIDS dan langkah-langkah pengobatannya. Penyakit ini memang mematikan dan sayangnya begitu banyak dialami oleh warga Papua. Identifikasi dini dan ketaatan berobat menjadi penentu kualitas hidup para penderitanya dan inilah yang menjadi sorotan utama dr. Indah.

dr. Indah ulet bergerilya mendatangi rumah-rumah pasien serta menggandeng para pemuka agama buat menasihati mereka agar berobat ke puskesmas. Supaya lebih atraktif, dr. Indah memutar VCD Film “Danius dan Demina” di ruang tunggu Puskesmas. Hasilnya, makin banyak jumlah penderita HIV/AIDS yang berinisiatif memeriksakan diri ke Puskesmas (halaman 183).

Bab-bab selanjutnya menyodorkan ragam cerita menarik yang menyadarkan kita bahwa kehidupan dokter PTT sungguh tak monoton. Misalnya ketika dr. Indah dan kawan-kawan mendapat kejutan saat lokasi tugasnya di Tiom menjadi pilihan lokasi syuting “Di Timur Matahari”. Mereka pun berjumpa langsung dengan para bintang seperti Nia Zulkarnaen, Ari Sihasale, Ririn Ekawati, Lukman Sardi, dan Ringgo Agus Rahman (Bab 12).

Poin penting berikutnya adalah fakta besarnya risiko yang mesti dihadapi para dokter PTT. Masa Pilkada di Lanny Jaya, misalnya, sangat potensial memicu konflik bersenjata. Dengan penuh keberanian (bercampur rasa kesal luar biasa), dr. Indah angkat bicara ketika salah seorang pasiennya gagal rujuk hanya karena akses jalan dipalang pendukung salah satu calon (Bab 14).

Pada kesempatan lain, dr. Indah dan kawan-kawan bahkan mendengar tembakan bertubi (Bab 18). Random shot, berhadapan langsung dengan korban penembakan, hingga terdesak mengungsi ke Wamena mewarnai pengalaman PTT dr. Indah. Namun pengalaman ini tak menyurutkan keberaniannya untuk terus melayani masyarakat, terutama para pasien HIV yang tak boleh putus obat.

Buku ini bukan sekadar sajian nikmat cerita pengalaman tiga tahun seorang dokter PTT. “Kembali ke Timur” mengajak kita melayangkan pandang ke Indonesia Timur yang selama ini tak banyak dibahas. Jangankan oleh dokter muda, oleh para peneliti dan jurnalis pun terhitung jari. Lebih dari itu, buku ini memperlihatkan dedikasi dan kekayaan pemikiran seorang dr. Indah.

Bungsu dari enam bersaudara ini selalu memutar otak mencari solusi dari tiap masalah yang ditemuinya. Ia sadar bahwa seorang dokter di daerah kerap dipandang sebagai “Tuhan” yang serba bisa (halaman 120). Di tengah situasi serba terbatas, ia jawab tantangan tersebut dengan menggerakkan inovasi yang melibatkan masyarakat lokal. Ia memilih bersikap aktif ketimbang pasif.

dr. Indah adalah simbol perjuangan seorang dokter muda yang mau bekerja keras melakukan yang terbaik bagi masyarakat tersisih seperti Papua. Dan ia melakukannya dari hati. Di sisi lain, uraian gamblang dr. Indah Permata juga memperlihatkan mirisnya kondisi masyarakat Papua dari segala aspek.

Walhasil, buku ini merupakan referensi langka dan penting. Tak banyak dokter PTT yang menulis pengalamannya hidup bersama warga. Dapat pula dihitung jari buku-buku Papua dari perspektif pribadi yang jujur. Buku ini harusnya menggugah batin pemerintah dan para dokter muda untuk tak mengabaikan jerit kerinduan warga Papua akan pelayanan kesehatan yang manusiawi.

Itu sudah!

***

Soundtrack: “Timur” (Glenn Fredly)

Advertisements

2 thoughts on “RESENSI BUKU – Kembali Ke Timur

  1. Sabtu, 24 September 2016, Hari Tani.
    Terima kasih Syvie Sylvie Tanaga atas resensi buku “Kembali ke Timur” – Catatan Seorang Dokter PTT di Pegunungan Tengah Papua yang Anda paparkan. Sungguh sebuah bacaan yang bisa mempertanyakan tentang praktik “Kemanusiaan yang Adil dan Beradab” dan “Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia” bagi Papua khususnya dan daerah lainnya.

    • Terima kasih banyak, Pak Alfian…

      Betul sekali, semoga praktik “kemanusiaan yang adil dan beradab” dan “keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia” ini betul-betul diresapi oleh pemerintah sehingga kondisi masyarakat kita yang tersisih bisa jauh lebih baik. Juga agar kita sebagai civil society semakin peduli akan isu-isu semacam ini, tidak tutup mata dan malah bisa menggagas aneka gerakan kepedulian yang manfaatnya bisa nyata dirasakan. Amin.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s