Juni Safitri: “Aku Ingin Bermanfaat bagi Lebih Banyak Orang”

Oleh: Sylvie Tanaga

Pertama kali bertemu Juni setahun silam (Desember 2015), saya amat terkesan dengan semangat menggebunya saat bicara soal pendidikan bagi anak berkebutuhan khusus. Ia benar-benar sosok guru SLB yang sangat menjiwai hidup dan pekerjaannya dengan sepenuh cinta. Gairah Juni membuat saya jadi begitu tertarik mendengar pengalaman-pengalamannya.

Yang saya dapati kemudian adalah Juni lebih dari sekadar guru biasa dengan jam terbang mengajar di pelosok. Ia adalah seorang guru kehidupan yang inspiratif. Prinsipnya, tiap anak adalah istimewa. Pengamatannya tajam. Pemikirannya dalam. Anak pertama dari tiga bersaudara ini meyakinkan saya bahwa masih ada orang baik yang setia berkarya, meski dalam sunyi.

Nama Lengkap                  :  Juni Safitri
Tempat, tanggal lahir     :  Kebumen, 1 Juni 1991

Riwayat Pendidikan
SDN Cing Cin I, Bandung (1997 – 2003)
SMPN 1 Margahayu (2003 – 2006)
SMAN 18 Bandung (2006 – 2009)
S1 Pendidikan Luar Biasa (PLB) UPI (2009 – 2014)
Pendidikan Profesi Guru Luar Biasa UNJ (Maret 2016 – sekarang)

Riwayat Mengajar
SLB Nurvita, Bandung (2010 – 2012)
Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat/PKBM Taboo, Bandung (2011 – 2012)
Pendampingan Peer Counseling, Bandung (2011 – 2013)
STARS Indonesia Academy, Bandung (2013 – 2014)
Guru SM3T di SLB Cahaya, Aceh Timur (2014 – 2015)
Pemateri sosialisasi PAUD, Aceh Timur (2014 – 2015)
Tutor pelatihan kader PAUD, Aceh Timur (2015)

———————————————————————————————————————-

Cerita awal menjadi guru?
Aku dulu pengen jadi dokter, enggak mau jadi guru. Tapi kata mama, kalau jadi dokter nanti adik-adik nggak sekolah karena biayanya mahal. Menjadi guru SLB (Sekolah Luar Biasa) sebetulnya pilihan ketiga, tapi tahunya diterima. Pertama kali observasi di SLB Tunanetra Jalan Pajajaran Bandung, aku nangis. Enam anak gandengan pegang punggung dan ada satu anak kepalanya besar tapi enggak ada bola matanya.

Pas masuk kelas, ada anak nangis. Dia seperti menyalahkan Tuhan kenapa kondisinya beda. Aku bingung harus kayak gimana. Akhirnya hari pertama itu aku nggak ngajar. Aku menghibur mereka seperti menghibur adik yang sedang sedih. Lama-lama, aku berkecimpung di LSM seperti Ikatan Tunanetra Muslim Indonesia (ITMI). Di situ, aku lihat semangat mereka untuk berorganisasi.

Mereka ingin kaumnya lebih diakui dan berjuang untuk itu. Mereka punya kepengurusan dari satuan terkecil sampai se-Indonesia. Aku pikir, murid aku bisa kayak gini nih kalau sudah besar. Mereka nggak hanya nangis meratap tapi menerima kekurangan dan terus mengembangkan potensinya. Selanjutnya, aku observasi dan mengajar di berbagai sekolah – juga bergabung dengan LSM lainnya.

Pelajaran yang dipetik selama berkarya sebagai guru SLB?
Aku lihat ternyata persoalan SLB bukan hanya pada anak dan guru tapi juga orang tua. Lingkungan. Aku banyak bertemu orang tua yang suka menyalahkan guru. Alasannya bukan karena guru salah atau orang tua benar tapi karena orang tua belum bisa menerima kondisi anaknya. Mereka menganggap anaknya lebih dari itu. Ekspektasi terhadap anak dan guru jadi terlalu tinggi.

Juni dan murid-murid SLB

Juni ketika mendampingi murid-murid SLB di Bandung

Kadang aku merasa mengajar itu berat. Yang berat bukan mengajar anaknya tapi memenuhi tuntutan orang tuanya. Semakin tinggi tingkat ekonomi keluarga dan pendidikannya, ekspektasi terhadap anak jadi minimal harus minimal “seperti saya”. Membaca ABC dan tambah-tambahan saja enggak bisa tapi orang tua menuntut anaknya bisa aritmatika, logaritma, dan kalkulus.

Masalah lain adalah KKN. Sistem baru dibuat jika ada pemeriksaan. Jika ada bantuan, pihak sekolah mendahulukan anggota keluarganya. Memang tidak semua seperti itu. Kebetulan aku dapat sekolah yang seperti itu. Ketika pindah mengajari di SLB swasta, sistemnya sudah sangat baik tapi tuntutan orang tua menjadi beban mental tersendiri. Waktu SM3T dibuka, aku coba ikut.

Bagaimana ceritanya memutuskan untuk ikut SM3T*?
Awalnya karena aku lihat di televisi ada acara ngajar-ngajar gitu ke daerah. Kayaknya seru. Akhirnya aku iseng coba daftar dan ternyata lolos tahap satu dan dua. Padahal aku nggak terlalu niat karena sudah ada kerjaan dan penghasilannya sudah di atas teman-teman. Aku ijin orang tua dan mereka bilang “terserah kamu”. Ya sudah, aku maju dan akhirnya lolos tes pra kondisi.

Tes pra kondisi ini berlangsung selama dua sesi. Sesi pertama itu seperti kuliah lagi selama satu minggu (indoor). Sesi kedua adalah pra kondisi outdoor yaitu latihan bersama TNI AD selama seminggu di hutan. Enggak boleh bawa uang, senter, atau jam. Cuma boleh bawa alat mandi, kaus kaki, dan sepatu. Namanya adalah “ketahan malangan”, kita harus tahan dengan segala kemalangan yang dihadapi nantinya. Di sana, kami latihan fisik dan mental.

Bagaimana ceritanya kamu bisa bertugas di Aceh Timur?
Penempatan. Kita nggak boleh milih karena pemetaannya sudah ditentukan.

Apa saja yang kamu lakukan selama SM3T di Aceh Timur?
Harusnya aku mengajar di SD daerah terpencil, hanya saja di Aceh Timur ada kebutuhan tersendiri yakni SLB. Karena jurusanku PLB (Pendidikan Luar Biasa), kami jadi diarahkan mengajar di SLB. Dari situ, ada kebutuhan untuk melakukan sosialisasi tentang Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) di PAUD. Selain sosialisasi, aku juga kasih tips-tips bagaimana jika ada anak berkebutuhan khusus.

Aku mengadakan pelajaran singkat karena ternyata banyak orang tua dan guru yang belum tahu tahapan-tahapan perlembangan anak. Aku jelaskan ke mereka dengan bahasa yang sangat sederhana. Di PAUD juga ada asisten sehingga aku bisa ajarkan dia step by step mengajar di kelas.

Dari pengamatan, apa masalah utama pendidikan di Aceh Timur?
Kesadaran guru. Kebanyakan mengajar hanya sekadar mengajar. Sense of belonging-nya seperti kurang, padahal guru krusial untuk mengarahkan masa depan anak.

Juni di SLB Cahaya, Aceh Timur

Juni di SLB Cahaya, Aceh Timur (2015)

Lainnya adalah masalah komunikasi dengan orang tua. Kesempatan belajar di desa bukannya tidak ada tapi motivasi belajar anak di sekolah kurang terbangun. Di Jakarta, aku lihat jam 5.30 pagi anak-anak sudah berangkat ke sekolah walaupun sampai ketiduran di motor. Di Aceh Timur, anak-anak harus dijemput ke sekolah. Waktu musim panen, orang tua lebih ingin anaknya di ladang daripada sekolah.

Pernah juga terjadi ketika sedang belajar di kelas, orang tua datang jam 10 pagi untuk menjemput anaknya. Mereka ingin anaknya bantu di ladang. Tapi ada juga yang semangat belajarnya tinggi, tidak bisa digeneralisir. Kalau orang tua sudah termotivasi, mereka bisa mengusahakan apapun untuk memenuhi kebutuhan pendidikan anaknya. Harus ada penanaman nilai sejak dini.

Bagaimana kamu melihat peran Pemerintah Daerah dalam pendidikan di Aceh Timur?
Ini juga tidak bisa digeneralisir, tapi banyak kasus di mana guru-guru PNS minta dipindahkan dari pelosok ke kota-kota. Mereka juga kerap mengorupsi waktu mengajar dan enggan ikut pelatihan. Mungkin karena mereka lebih fokus dengan keluarga yang perutnya harus diberi makan. Ketika diprotes, banyak teman justru dikucilkan oleh guru-guru lain di sekolah.

Tapi ada juga guru-guru berdedikasi. Dalam penyelenggaraan Hari Pendidikan Daerah (Hardikda) tiap awal September, ada penghargaan bagi guru-guru daerah terpencil. Ini salah satu upaya yang baik buat memotivasi mereka. Upaya sudah terlihat meski harus dijalankan selangkah demi selangkah.

Tantangan-tantangan paling berat buat kamu selama SM3T?

Bersama seorang siswi SLB Cahaya, Aceh Timur

Juni bersama seorang siswi SLB di Aceh Timur

Adanya sentimen pribadi dari sesama rekan guru karena aku sering dinas ke luar untuk sosialisasi tentang anak-anak berkebutuhan khusus di PAUD. Dalam satu minggu, aku ijin dua atau tiga kali dalam seminggu. Mereka mengira aku jalan-jalan, padahal sebetulnya sedang melatih kader-kader lokal sehingga kelak mereka bisa mandiri.

Aku sampai telepon ke dosen di Bandung, bertanya apakah yang kulakukan adalah hal yang tidak profesional. Tapi dosen mengatakan bahwa tugas guru bukan hanya mengajar di sekolah. Profesionalitas diuji ketika yang kita lakukan bisa bermanfaat bagi lebih banyak orang. Aku juga sudah ajak teman-teman ikut sosialisasi dan mendorong mereka berani bicara di depan umum.

Pengalaman kamu terkait kondisi keamanan di Aceh Timur?
Aceh terkenal dengan GAM (Gerakan Aceh Merdeka). Tapi tidak perlu jauh-jauh. Di tempat tinggal kami saja banyak orang ingin berkenalan dengan berbagai cara, mungkin karena kami perempuan semua dengan muka yang berbeda. Siang hari, ada yang datang lalu memangku anak-anak sekolah. Teman juga pernah diintip ketika sedang di WC sampai dia teriak.

Malam-malam pernah juga ada yang mengelilingi rumah bawa parang. Yang pertama melihat adalah murid aku yang tuna rungu. Dia teriak sampai membanting jendela. Akhirnya kita kunci semua pintu dan jendela. Pernah juga ada sekelompok pemuda masuk ke sekolah yang pintu gerbangnya sudah reyot tanpa rantai. Pagarnya mudah terbuka. Lembu saja bisa masuk.

Suatu saat ketika akan sosialisasi PAUD dan berangkat dengan Ibu Wakil Bupati, kami juga pernah melewati daerah konflik yang saat itu sedang heboh, Din Minimi. Kebetulan Bapak Wakil Bupati-nya berasal dari Partai Aceh dan ada ketidaksukaan dari kelompok internal partai yang selama ini kesulitan mendapat pekerjaan. Kami pun harus buru-buru kembali sebelum matahari terbenam. Kalau matahari sudah terbenam, kami nggak bisa lihat sniper-sniper yang sembunyi di balik bukit.

Bagaimana dengan kondisi akses dan infrastruktur di Aceh Timur?
Aceh Timur masih dapat dilalui kendaraan bermotor. Akses untuk sandang, pangan, papan juga masih terjangkau. Jadi masalahnya bukan kesulitan akses tapi pada kesadaran SDM-nya. Aku lihat di sana banyak bantuan PBB bagi sekolah-sekolah. Masalah lain adalah banjir. Kami pernah kebanjiran saat mau bagi raport sehingga aku dan teman-teman akhirnya menerjang banjir.

Pengaruh syariah Islam bagi pendidikan di Aceh Timur?
Orang tua lebih mempercayakan pendidikan anak-anaknya di pesantren atau madrasah, sekolah di bawah Kementerian Agama. Di sana juga banyak dayah, semacam pesantren. Anak-anak belajar mengaji di dayah sehabis magrib sampai besok paginya jam 6, baru pulang ke rumah. Jam 8 sekolah lagi.

Juni bersama para siswanya di Aceh Timur

Juni bersama para siswanya di Aceh Timur

Tapi kadang ada ilmu agama yang penafsirannya dipaksa saklek tanpa melihat konteks saat ini. Penerapannya kurang fleksibel sehingga ada hal yang kurang berkembang. Misalnya larangan menari di beberapa daerah. Padahal, Tari Saman adalah salah satu kekayaan Aceh. Akibatnya, yang banyak menang lomba tari Saman di luar negeri justru bukan orang Aceh.

Yang melarang bukanlah madrasah tetapi peraturan di masing-masing tempat. Tidak semua daerah memberlakukan pelarangan, tergantung pada pemuka agamanya. Nilai budaya di suatu tempat belum tentu sama dengan nilai budaya di tempat lainnya. Jadi bisa dibilang kabupaten Aceh Timur memiliki culture yang berbeda-beda. Aku bisa bilang seperti ini karena pernah tinggal di wilayah-wilayah selain Peureulak.

Aku juga pernah dimarahi teungku (pemuka agama) karena masalah pakaian. Di sana enggak boleh pakai celana padahal aku suka pakai celana bahan karena lebih fleksibel untuk mengajar. Kalau pakai rok, aku bisa jatuh gubrak. Sebetulnya, banyak warga sudah tidak percaya polisi syariah. Di Jakarta, aku lihat justru pakaian teman-teman dari Aceh juga “wah” banget. Wajar saja, makin dikekang, biasanya orang akan makin melawan.

Menurut kamu, apa sebetulnya masalah utama pendidikan di Indonesia secara umum?
Minimnya motivasi anak, guru, orang tua, lingkungan. Sialnya, motivasi itu luas dan tidak terukur. Di daerah, motivasi mungkin masih minim karena belum ada role model-nya. Sebetulnya bukan karena tidak ada uang. Aceh Timur adalah wilayah yang sangat kaya, ada sawit dan sebagainya. Sudah banyak cerita bagaimana warga di daerah yang tidak ada listrik memakai kulkas sebagai lemari.

Semuanya bermula dari bagaimana orang tua menjadi contoh yang baik bagi anak-anaknya karena anak-anak itu peniru. Mereka pasti akan meniru orang tuanya. Itu sebabnya kunci pendidikan dini sebetulnya bukan pendidikan usia 2 atau 3 tahun tetapi dari memilih pasangan yang sevisi dan semisi. Apa jadinya jika papa tidak memperbolehkan sedangkan mama memperbolehkan?

Semuanya berawal dari pendidikan di lingkungan keluarga?
Nilai satu keluarga muncul dari suatu persetujuan. Baik atau buruk itu bukan dari sebuah nilai, tapi dari kesepakatan. Suatu hal menjadi baik karena banyak orang mengatakan bahwa hal itu baik. Itu sebabnya aku juga ikut memberi penyuluhan pada anggota keluarga dari murid-murid aku. Jika yang mengantar sekolah adalah kakaknya atau mamanya, aku bicara pada mereka.

Aku berdiskusi dan bertanya tentang nilai-nilai yang mereka terapkan di rumah. Jadi nilai-nilai itu tidak hanya tertanam sekali, dua kali, atau tiga kali tapi hingga sang anak bisa mengerti dan melakukannya. Pernah ada anak yang sebelumnya harus dikejar terus sampai lari-lari, tapi sekarang dia malah buntutin aku sampai ke mana-mana.

Nilai-nilai apa yang paling sering kamu bagikan pada murid-murid?
Kemandirian. Percuma pintar kalau apa-apa masih harus minta tolong. Dari kemandirian, anak bisa disiplin, berani, dan kreatif. Misalnya ingin ambil barang, kalau tidak sampai, si anak akan berusaha mengakali dengan penggaris atau apapun. Mereka bisa kreatif tanpa bergantung pada orang lain. Banyak yang bisa tapi nggak mau. Banyak anak pintar tapi nggak menghormati guru. Marahin anak orang juga enggak enak, serba salah.

Bagaimana kamu melihat sistem pendidikan guru di Indonesia?
Jaman dulu, Sekolah Pendidikan Guru (SPG) sangat memperhatikan penampilan, tapi kini nilai-nilai sudah bergeser sehingga yang dinilai adalah lebih kepada aspek kepribadian, sosial, pedagogik, dan keilmuan. Empat pilar. Secara grand design, sebetulnya sistem pendidikan guru sudah bagus banget. Masalahnya adalah pelaksanaannya. Beda menteri, beda kebijakan, beda peraturan.

Juni bersama rekan-rekan guru (SM3T, GGD) di Aceh Timur

Juni bersama rekan-rekan guru (SM3T, GGD) di Aceh Timur, 2015

Pelaksanaan, pengawasan dan evaluasinya masih kurang. Jadi kalaupun aturannya sudah ada, tidak ada punishment jika dilanggar. Evaluasi juga bukan hanya bicara soal monev (monitoring and evaluation) yang hanya sekali dua kali. Sebetulnya harus terus menerus dan ini yang sulit karena hanya sedikit dosen yang aktif mengamati hasil pekerjaan kita di lapangan.

Banyak orang menilai kualitas guru di Indonesia masih belum terlalu baik karena minimnya apresiasi, termasuk dalam hal penggajian. Bagaimana menurut kamu?
Aku pernah ikut diskusi dan hasil diskusinya adalah bahwa kebutuhannya adalah 5.000 guru sedangkan yang dihasilkan adalah 20.000 guru. Otomatis gaji 5.000 guru harus dibagi untuk 20.000 guru. Logikanya seperti itu meski aku tidak terlalu tahu peraturannya. Intinya, jumlah lulusan guru lebih banyak daripada kebutuhannya.

Sepertinya kita tidak kekurangan guru. Tapi kenyataannya masih banyak daerah pelosok yang tidak memiliki guru sama sekali…
Karena banyak guru yang tidak mau ditempatkan di pelosok. Mentalnya belum kuat. Ada juga kasus guru luar ditempatkan di pelosok namun warganya belum tentu menerima. Jadi persoalannya kompleks. Sama seperti transmigran sukses yang dicibir warga lokal meski sebenarnya itu terjadi karena ia lebih rajin. Dalam hal ini, culture memang sangat memainkan peran.

Culture memegang peran penting dalam pendidikan?
Di Indonesia, orang yang bercerita tentang prestasinya dibilang sombong, sudah dinyinyirin dulu. Padahal di luar negeri, ini adalah bagian dari sharing pengalaman. Akibatnya jadi banyak yang malas cerita. Salah satu sebab kurang maju adalah karena nggak bisa menerima orang yang lebih baik dari kita.

Tapi bicara soal kearifan lokal, ada dilemma juga. Ketika anak daerah disekolahkan di kota, belum tentu dia mau kembali lagi karena sudah enak di kota. Pemerintah punya PPGT (Program Pendidikan Guru Terintergrasi) dimana anak-anak daerah disekolahlan S1 dan setelahnya dikembalikan ke daerah. Masalahnya, orang-orang yang sudah disekolahkan ini kemudian tidak ditempatkan juga.

Ibaratnya sudah investasi ke putra-putri daerah, tinggal dituai dan disebar ke daerah-daerah, tapi sulit dilakukan. Itu sebabnya aku bilang sebetulnya pemerintah bukannya tidak mementingkan pendidikan. Banyak sekali program bagus di Indonesia. Tapi budaya kolusif merajalela.

Program beasiswa tidak mudah diakses masyarakat pelosok. Seolah hanya orang-orang dekat Dinas saja yang punya akses untuk menerima. Bayangkan jika yang disekolahkan adalah yang benar-benar berniat. Tapi membedakan antara yang benar-benar ingin dengan yang KKN itu setipis kulit bawang. Pemerintah pusat tidak bisa mengurus daerah karena daerahlah yang memainkan kekuasannya.

Bagaimana dengan pendidikan keguruan di daerah?
Ada tapi nggak merata. Kebanyakan terpusat di ibukota provinsi. Di Sumatera Utara adanya di Medan. Di Sumatera Barat adanya di Padang. Kalau di Jawa sih banyak.

Bagaimana kamu melihat wajah pendidikan berkebutuhan khusus di Indonesia?
Penerimaannya kurang karena masih banyak orang nggak tahu. Pendidikan berkebutuhan khusus itu penting, tapi menurut aku yang paling penting itu sosialisasi. Kalau semua orang sudah tahu, anak berkebutuhan khusus pasti diterima di sekolah mana pun, nggak harus SLB. Yang ngajar juga nggak harus guru. Setiap orang bisa jadi guru asal ada niat mempelajari siswa yang diajar.

Sebenarnya mengajar anak SLB nggak terlalu sulit. Materi pelajarannya sama saja, SD untuk SD, demikian juga untuk SMP dan SMA. Yang berbeda hanya treatment-nya, cara penyampaiannya. Pelatihan untuk guru SLB juga sudah cukup banyak.

Apa rencana selanjutnya setelah PPG selesai tahun depan?
Dari jaman aku kuliah, niatku adalah ingin berkarya di dinas. Aku pengen tahu pelaksanaan sampai pengevaluasiannya, terus membuat sistem. Sebagai guru, aku ngerasa jadi korban sistem terus. Guru memang dibutuhkan dan bermanfaat, tapi terbatas hanya untuk satu sekolah itu.

Aku ingin bermanfaat bagi lebih banyak orang. Jadi rencananya aku ingin kerja dulu, terus ambil S2. Aku ingin jadi dosen sehingga otomatis omongan kita lebih didengar. Saya pengen ilmu saya lebih didengar orang-orang lain. Ini artinya saya harus punya pendidikan yang lebih tinggi.

Sistem seperti apa yang menjadi konsentrasi kamu?
Lihat sistem pendidikan di berbagai negara. Di Finlandia yang katanya pendidikannya terbaik di dunia, RPP atau Rencana Pelaksanaan Pembelajaran-nya tidak seribet di Indonesia. Cukup membuat pemetaan atau mind map saja. Yang terpenting adalah eksekusinya, cara guru mengajar. Di Indonesia, RPP itu serasa tiga kali membuat skripsi. Banyak banget, tapi eksekusinya lemah.

Jadi yang pinter nulis RPP dan pinter mengajar itu bakal berbeda. Kayak aku, kalau ngomong lancar tapi kalau nulis lupa lagi, hehehehe… Torey Hayden menulis buku tentang seluk beluk pergumulan kehidupan murid-muridnya secara detail, termasuk latar belakang orang tuanya. Bayangkan, bagaimana seorang guru bisa menemukan hal-hal sekompleks itu? Keren banget kan?

Berarti perlu ada waktu untuk mendalami satu per satu murid?
Sebetulnya memang sudah ada beberapa kali program home visit dalam satu semester. Kalau aku suka home visit sendiri. Ketika home visit, kedekatan emosional itu bisa lebih terbangun. Sosialisasi yang dilakukan dengan cara home visit seperti ini akan lebih didengar dan diterapkan.

Itu sebabnya aku lebih senang mengajar di kalangan biasa saja daripada high. Lebih enak diajak kerjasamanya. Banyak sekali orang tua kalangan high yang menuntut banyak namun usahanya sedikit. Mereka berpikir anak akan pintar hanya karena membayar duit ke guru-guru. Ibarat anak sakit, memang si anak bisa sembuh hanya karena membayar dokter?

* * *

SM3T atau Sarjana Mendidik di daerah Terluar, Terdepan dan Tertinggal adalah program yang digagas oleh Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi bagi para guru untuk mengajar di daerah terluar, terdepan, dan tertinggal Indonesia.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s