Cermin

Cola, madu, dan air jeruk. Kau tertawa oleh karena cuma tiga jenis minuman ini yang nyaman kusesap. Tak mau yang lain. Cola melepas sensasi soda tak terduga. Manis madu menoreh riang di sekujur indra. Air jeruk menjejak masam yang tak melulu kecut. Kejadian suram tak mesti mencipta kalut. Kau cuma bisa menggeleng, menatapku, tersenyum, tertunduk. Lantas terduduk.

Kau mencoba memaklumi kegilaanku, hasratku merajut lakon kehidupan dalam selimut, beralih rupa jadi diriku yang lain. Seolah aku cuma bisa berputar dalam benakmu. Lidahmu kelu, terpaku dalam senyap sebab kau bersumpah tutup mulut sampai matahari terbit dari barat. Kuhargai tekadmu, meski kutahu lebih karena kau takut. Takut pada yang mesti kau hadapi jika kau lakukan sebaliknya.

Engkau tahu, aku selalu membencimu. Pun demikian aku. Tapi hendaknya kau berhenti sebelum turut gila. Karena sesungguhnya, kau cuma sedang bercermin. Melihat dirimu sendiri, di sudut kamarmu dengan sarang laba-laba tepat menggantung di atasnya. Di samping meja reyot yang selalu penuh Cola, madu, dan air jeruk. Tak mau? Maka cermin kupecah, habis perkara.

(Sylvie Tanaga – Jakarta, 25 Januari 2017)

Sumber foto: https://advox.globalvoices.org

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s