Resensi Buku: Dr. Oen, Pejuang dan Pengayom Rakyat Kecil

Judul Buku        :  Dr. Oen, Pejuang dan Pengayom Rakyat Kecil
Penulis                 :  Ravando
Editor                   :  Mahatma Chryshna
Penerbit              :  Kompas
Cetakan               :  I, 2017
Tebal Buku        :  xxix + 272 halaman

“Tugas seorang dokter hanyalah menyembuhkan orang sakit tanpa membedakan suku, bangsa, agama, aliran politik, dan kedudukan sosial ekonomi.”
(Dr. Oen Boen Ing)

Kesehatan identik dengan kata “mahal”. Semakin parah suatu penyakit, apalagi jika sampai harus berobat ke Rumah Sakit, makin dalam pula kocek yang mesti dirogoh. Kenyataan ini bukan baru-baru ini saja mengemuka. Sejak era lawas, masyarakat seolah tak punya pilihan menghadapi fakta pahit ini. Sosok-sosok dokter dermawan pun menjadi oase yang amat langka bagi kaum papa.

Salah seorang dokter “legendaris” yang seumur hidupnya menunjukkan keberpihakan pada kelompok marginal adalah Dr. Oen Boen Ing (1903 – 1982). Boen Ing kecil terinspirasi dari kakeknya, seorang sinshe (dokter tradisional Tionghoa) di Salatiga yang tak pernah menarik bayaran dari pasiennya. “Tuhan akan memberikan rezeki kepada kita selama tangan kita melayani, selama hati kita dipenuhi rasa cinta”. Demikian pesan sang kakek yang terpatri begitu kuat dalam diri Boen Ing.

Pesan ini menebalkan tekad Boen Ing menjadi seorang dokter yang mengabdikan diri pada kepentingan rakyat kecil. Walau demikian, perjalanan Boen Ing menjadi seorang dokter tidaklah mudah mengingat kala itu profesi dokter belum familiar di kalangan Tionghoa. Orang tua Boen Ing lebih ingin anaknya jadi penerus bisnis keluarga demi keamanan aset masa depan. Boen Ing ngotot. Ia tetap mendaftar ke STOVIA sebagai mahasiswa kedokteran.

Sang penulis buku, Ravando, benar-benar piawai memasukkan konteks sejarah di seputar perjalanan Dr. Oen. Riset mendalam terlihat dari paparannya mengenai sejarah Tionghoa Indonesia kala itu – mulai dari ragam sekolah dan organisasi Tionghoa hingga kondisi pelayanan kesehatan di Hindia Belanda abad 20 yang kentara mendiskriminasi kelompok non Eropa.

Penjelasan sejarah ini mempermudah kita memahami langkah-langkah luar biasa yang ditempuh Dr. Oen. Ravando mencatat Dr. Oen pernah berkarya di Jang Seng Ie (RS Husada), rumah sakit non Eropa pertama di Batavia yang didirikan oleh Dr. Kwa Tjoan Sioe. Sungguh pilihan berani karena penghasilan sebagai dokter di yayasan Tionghoa lebih tidak menentu dibanding mereka yang bekerja sebagai dokter pemerintah atau dokter swasta.

Tapi Dr. Oen konsisten dengan panggilan hidupnya. Kerap berpindah-pindah lokasi, Surakarta menjadi lokasi singgahnya yang terakhir. Di sinilah Dr. Oen menyaksikan rangkaian transisi kekuasaan Indonesia dari era kolonial Belanda, Jepang, proklamasi kemerdekaan, hingga perjuangan di masa revolusi – dan menjadi bagian dalam prosesnya.

Dr. Oen hidup di masa revolusi yang penuh pergolakan. Ia menjadi antitesis ketika sosoknya dielu-elukan sebagai pahlawan justru pada saat meletusnya berbagai peristiwa anti-Tionghoa. Kontribusinya mematahkan stereotip bahwa Tionghoa hanya jadi korban maupun antek-antek NICA. Dr. Oen bahkan turut keluar masuk wilayah TNI untuk mengobati para prajurit yang terluka, tanpa menghiraukan tembakan Belanda. Ia pun merintis berdirinya Yayasan Panti Kosala (kini bernama RS Dr. Oen) yang berteguh memprioritaskan kelompok masyarakat tak mampu.

Yayasan Panti Kosala yang didirikan Dr. Oen aktif melayani masyarakat lintas suku dan agama. Yayasan yang kemudian menjadi rumah sakit ini menginisiasi program pengabdian kesehatan masyarakat dimana dana operasionalnya murni diambil dari dana tabungan rumah sakit.

Dr. Oen dicintai masyarakat karena kemurahan hatinya yang tidak tanggung-tanggung. Dokter ramah yang terbiasa berpraktik sejak pukul tiga pagi ini menjadi favorit masyarakat karena tiga hal. Pertama, teknik pengobatannya yang dikenal sangat ampuh. Kedua, teknik ini tidak neko-neko alias tidak macam-macam. Ketiga dan yang terpenting, Dr. Oen tidak pernah menarik bayaran dari orang tidak mampu (halaman 137). Malahan beliau tak ragu memberi uang pada pasien yang tak mampu menebus obat di apotek.

Beliau tidak pernah tega menolak pasien, sekalipun mereka nongol di hari-hari liburnya. Tiada hari tanpa antrian pasien. Saking ampuhnya menyembuhkan pasien, muncul anggapan bahwa Dr. Oen punya indra keenam. Bahkan hingga ada yang bersugesti bahwa hanya dengan melihat wajah sang dokter saja mereka sudah merasa baikkan – membuat Dr. Oen berpesan pada keluarganya agar saat ia meninggal sebaiknya dikremasi saja agar kuburannya tak digunakan untuk ritual aneh-aneh.

Dr. Oen berkarya bagi kemanusiaan hingga akhir hayatnya. Saat ia tutup usia pada usia 79 tahun (30 Oktober 1982), warga merasakan kehilangan yang amat mendalam. Tak terhitung jumlah pelayat yang melepas jenazah Dr. Oen. Jalan bak lautan manusia yang membentang dari RS Panti Kosala Kandangsapi hingga Krematorium Tiong Ting sepanjang kurang lebih 1,2 kilometer.

30 Oktober 1983 atau tepat setahun setelah kepergiannya, RS Panti Kosala kemudian berubah nama menjadi RS Dr. Oen – sangat menarik mengingat Orde Baru saat itu sedang gencar-gencarnya menganjurkan peng-Indonesia-an nama-nama beraroma Tionghoa.

Dalam perkembangan selanjutnya, RS Dr. Oen Surakarta mengembangkan sayap dengan mendirikan RS Dr. Oen Solo Baru (Januari 1991) serta RS Oen Sawit yang diproyeksikan sebagai rumah sakit pedesaan – juga membentuk Akademi Keperawatan Panti Kosala (27 Mei 1991) guna memenuhi kebutuhan tenaga keperawatan yang profesional di wilayah Surakarta dan sekitarnya.

Peninggalan Dr. Oen Boen Ing sejatinya bukan fisik belaka. Warisan terpenting Dr. Oen adalah dedikasi, moral, pengabdian, kejujuran, dan martabatnya dalam membela kelompok marginal tanpa pandang bulu. Dr. Oen justru makin relevan pada jaman ini, ketika kesehatan makin dikapitalisasi dan tenaga kesehatan yang berintegritas pada kemanusiaan terasa makin langka.

Dr. Oen pun jadi bukti nyata sepak terjang Tionghoa di ranah sosial-politik. Tak banyak yang tahu bahwa beliau berjasa menyuplai penisilin persediaannya untuk menyambung hidup Jenderal Soedirman yang sedang bergerilya. Di samping menebar teladan bagi para dokter, kontribusi Dr. Oen seperti yang terangkum dalam buku ini, rasanya cukup jelas mematahkan stigma klasik Tionghoa Indonesia sebagai “binatang ekonomi” (economic animal).

* * *

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s