Yang Tereksploitasi, Yang Peduli

Beberapa waktu lalu, Aulia Nastiti dengan sangat baik memaparkan penelitiannya soal kehidupan para pengemudi Gojek, Grab, dan Uber yang begitu ngenes. Ia melihat bahwa alih-alih menjalin model kemitraan, para pengemudi ini tampaknya justru dieksploitasi dengan perlindungan kerja yang minim atau bahkan tak ada sama sekali. Mereka dipaksa manut pada sistem, tanpa punya akses terhadap para pengambil keputusan – yang mestinya tidak terjadi dalam sebuah hubungan kemitraan.

Tampaknya, ini benar adanya.

Selama hampir dua tahun menggunakan jasa mereka setiap hari, berbagai cerita sejenis mengalir. Ada yang terpaksa menginap di pom bensin setelah menyelesaikan order penumpang dari luar kota hingga lewat tengah malam, ada yang terperangkap demonstrasi besar sampai tak bisa keluar. Adapula penumpang tak mau bayar, kelewat pelit, kabur, mabuk, emosian, dan jenis penumpang résé lainnya. Ini belum termasuk taruhan nyawa seperti dehidrasi, maag karena tak bisa makan tepat waktu, kuyup kehujanan, terbakar terik, hingga terserempet bis yang melaju ugal-ugalan.

Kehidupan keras jalanan kota besar jadi santapan harian. Mereka tahu benar dirinya sedang dieksploitasi. “Tapi kami nggak banyak pilihan, Mbak. Gimana pun ini jauh lebih baik dari keadaan sebelumnya dimana seharian mangkal juga belum tentu dapat order, atau rebutan dengan tukang ojek lainnya,” cerita seorang pengemudi yang dulunya tukang ojek pangkalan.

Yang sesungguhnya menampar saya telak-telak adalah fakta bahwa banyak di antara mereka – para pengemudi yang tereksplotasi ini – masih sempat-sempatnya memikirkan nasib “orang kecil” lainnya.

Duh Mbak, saya suka kasihan sama tukang karcisnya,” seorang pengemudi mulai berceloteh sesaat setelah melewati gardu pembayaran tiket di salah satu apartemen merangkap pusat perbelanjaan ibukota.

“Mbak tahu gaji mereka berapa?”
“Saya nggak tahu, Pak…”
“Paling sejuta lima ratus per bulan. Terus Mbak tahu gaji satpam-satpamnya berapa? Gajinya UMR (tiga jutaan) tapi harus dibagi dua buat yayasan. Shift-nya bisa 24 jam dengan bayaran lembur seratus rebu doang!” si pengemudi menjawab pertanyaannya sendiri.

Usai berbelok di salah satu perempatan, ia melanjutkan ocehannya, berlomba-lomba dengan suara angin yang mendesau-desau kacau di sepanjang jalan.

“Paling bikin sedih itu pegawai security kedutaan, Mbak. Gajinya memang sedikit di atas UMR, tapi kudu berdiri kayak patung. Nggak boleh duduk berjam-jam, nggak boleh ngobrol. Yang di kedutaan Amerika masih mendingan karena agak tertutup pohon, bisa sembunyi-sembunyi duduk. Lha, kalau kayak di kedutaan Australia, kebayang bosennya kan, Mbak? Lalu saat orang-orang libur, mereka justru mesti memperketat penjagaan.”

Saya tertohok. Selain karena fakta-fakta mengenaskan soal kejomplangan sosial-ekonomi yang baru saja diceritakan, tohokkan terdalam timbul karena si pengemudi secara sadar memilih peduli terhadap sesama kaum tereksploitasi yang hidupnya jauh lebih sulit, sekalipun ia tak bisa berbuat banyak.

“Saya kasihan sama pengemis yang kemarin ini diciduk, Mbak. Dari tabungan ngemis, dia bisa kumpulin sampai sepuluh juta tapi malah diseret dan dituduh macam-macam. Kan bisa aja dia kumpulin sampai segitu buat bangun rumah di kampungnya,” seorang pengemudi paruh baya bercerita pada kesempatan lainnya.

Kemudian ia bercerita bahwa kakeknya adalah seorang pahlawan yang dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Cikutra, Kota Bandung. Bukan pahlawan dalam skala nasional memang, tapi minimal bersertifikat.

“Kalau para pahlawan yang sudah mengorbankan nyawa saja nggak pernah dipedulikan, apalagi fakir miskin dan anak terlantar di jalanan, boro-boro dipelihara negara!” ujarnya super-kesal, “aduh maaf ya, saya jadi curhat.”

Pengalaman paling menyentuh nurani adalah ketika ojek yang saya tumpangi dihampiri seorang anak jalanan di lampu merah. Bajunya sobek dan wajahnya merah terbakar. Si pengemudi menatap matanya dan tanpa ragu memberi seluruh koin yang disimpannya di bawah kemudi motor. “Memang ngemis itu nggak baik. Tapi kasihan anak-anak itu, Mbak. Saya tahu orang kecil itu nggak punya banyak pilihan, apalagi di Jakarta gini.”

Kepedulian mereka yang tanpa ba bi bu ini juga seketika mengingatkan saya pada sosok-sosok teman yang dalam keterbatasannya justru memilih berkorban gila-gilaan buat orang-orang lain yang kondisinya jauh lebih mengenaskan. Mereka memilih bersetia di jalur sunyi, jauh dari puja dan puji.

“Memang idealnya tajir dulu baru bisa bebas nolong orang. Tapi nunggu sampe kapan? Yang udah tajir pun merasa dirinya belum tajir. Ada juga yang berbuat baik karena berharap pahala padahal itu sama artinya dia pamrih. Jujur, gue sama sekali nggak peduli sama yang namanya pahala,” seorang rekan yang sudah bertahun-tahun mengabdikan dirinya mendampingi “wong cilik” para pengidap HIV/AIDS berkisah.

Ia tidak berkelebihan secara material tapi konsisten bergerak tanpa mengandalkan donatur. Tegas menolak sorot kamera dan maju tak gentar blusukan ke berbagai lokasi buat memberi sosialisasi, mengajak mereka melakukan tes HIV/AIDS, bahkan mendampingi para pekerja seks di klub-klub malam. Semua dari saku sendiri.

“Sebenernya nggak ada yang spesial dengan berbagi kasih. Nggak perlu apresiasi untuk hal itu. Semua orang bisa melakukannya, kaya atau miskin. Pertanyannya cuma satu, mau apa enggak,” tuturnya santai.

* * *

Sumber foto: Tribunnews.com 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s