Soeria Disastra: Membangun Komunikasi Lintas Budaya Lewat Sastra

Oleh: Sylvie Tanaga

Soeria Disastra benar-benar cinta sastra. Berlatar pendidikan Tionghoa, Soeria aktif menulis puisi, prosa, dan cerpen dalam bahasa Mandarin dan Indonesia. Ia pun menerjemahkan prosa dan puisi Tiongkok dalam bahasa Indonesia – juga puisi-puisi Amir Hamzah, Sanusi Pane, Chairil Anwar, Taufik Ismail, Sapardi Djoko Damono, WS Rendra, dan sebagainya dalam bahasa Mandarin! Misinya: membangun komunikasi lintas budaya.

Selain itu, Soeria juga aktif menggerakan para penulis dan pecinta sastra Tionghoa-Indonesia lewat berbagai kegiatan. Ia pun menggagas sejumlah komunitas lintas budaya seperti “Paduan Suara Kota Kembang” – paduan suara Tionghoa yang kerap mementaskan lagu-lagu Indonesia dan Sunda. Meski demikian, sosok bersahaja ini tak suka disebut sebagai sastrawan. “Dalam menulis puisi atau menyanyi, saya ini masih amatir,” akunya.

Di kediamannya (Bandung, 29 November 2017), pria 74 tahun ini berkisah mengenai asal muasal kecintaannya terhadap sastra dan budaya nusantara, juga pemikiran-pemikirannya seputar Tionghoa-Indonesia. Ditemani kopi susu dan kue jahe, Soeria menunjukkan buku-buku karyanya dan sejumlah artikel koran berisi liputan kegiatan yang pernah ia gagas. “Walau skalanya kecil, saya merasa bangga bisa berbuat sesuatu untuk Indonesia,” ujarnya.


Nama lengkap                  : Soeria Disastra (Bu Ru Liang)
Tempat, tanggal lahir   : Kota Bandung, 28 Mei 1943

Pendidikan
–  SD Qiao Gong, SD Yu Hua, SD Guang Hua
–  SMP Qiao Zhong
–  SMA Qiao Zhong
–  Sekolah Tinggi Bahasa Asing (STBA) Yapari, Bandung, Bahasa Inggris

Kiprah
–  Pendiri Paduan Suara Kota Kembang (1994)
–  Pendiri Yayasan Budaya Harapan Nusantara (1998)
–  Pendiri Perhimpunan Penulis Tionghoa-Indonesia/Yin Hua (1999)
–  Pendiri Lembaga Kebudayaan Mekar Parahyangan (2002)
–  Pendiri ABA (Akademi Bahasa Asing) Internasional (2004)
–  Pendiri Komunitas Sastra Tionghoa-Indonesia (2007)

Buku
–  Senja di Nusantara (2004)
    Kumpulan Prosa dan Puisi, Bahasa Indonesia
–  Tirai Bambu  (2006)
    Kumpulan Terjemahan Puisi Baru Tiongkok, Bahasa Indonesia
–  Salju dan Nyanyian Bunga Mei (2010)
    Kumpulan Sajak Mao Ze Dong (Terjemahan), Bahasa Indonesia
–  Tak Pernah Aku Melihat Bulan Tiongkok (2010)
    Kumpulan Puisi, Bahasa Mandarin
–  Putera-Puteri Tionghoa di Nusantara (2012)
    Kumpulan Prosa, Bahasa Mandarin


Sejak kapan Anda menggeluti penulisan sastra?
Saya mulai menulis dalam bahasa Mandarin sesudah era reformasi. Sebelumnya, saya jarang nulis kecuali opini di Koran Pikiran Rakyat tahun 1988-an. Saya pecinta sastra, tapi tidak pernah nulis prosa atau puisi dalam bahasa Mandarin. Tahun 1990-an, seorang guru minta saya nulis. Dia punya majalah sastra tapi karena waktu itu masih Orde Baru dan Mandarin dilarang, jadinya terbit sembunyi-sembunyi. Saya membuat kira-kira dua-tiga tulisan dalam bahasa Mandarin dan itulah tulisan pertama saya.

Tahun 1995-1996, aturan soal bahasa Mandarin sudah mulai longgar. Lagu-lagu Chinese sudah mulai keluar. Indonesia punya satu-satunya koran dalam bahasa Mandarin, Yin Du Ni Xi Ya Ri Bao (Harian Indonesia). Saya kirim tulisan ke sana. Lalu teman-teman penulis Tionghoa ngajakin kumpul, saya ikut. Akhirnya lahir ide untuk mendirikan Perkumpulan Penulis Tionghoa-Indonesia (Yin Hua), saya jadi salah seorang pendirinya.

Perhimpunan Penulis Tionghoa-Indonesia/Yin Hua berdiri tahun 1999, tak lama sesudah Orde Baru tumbang. Bagaimana ceritanya?
Meskipun sudah reformasi, orang Tionghoa masih ketakutan. Kami tidak berani mendirikan organisasi. Hanya yayasan saja, supaya lebih mudah. Kami bikin Yayasan Budaya Harapan Nusantara, lalu diam-diam menerbitkan majalah Yin Hua Wen You. Tulisan pertama saya untuk majalah itu berupa tiga buah puisi yang judulnya “Orang Tionghoa-Indonesia”.

Lalu terbit koran lainnya dalam bahasa Mandarin, Guo Ji Ri Bao. Saya pun mulai kirim puisi dan prosa ke sana, juga berbagai artikel opini tentang pemilihan umum, budaya, politik. Lumayan. Tulisan-tulisan saya mulai dikenal dan punya “fans” sendiri, hahahahahahaha….

Latar pendidikan Anda sejak SD hingga SMA adalah sekolah Tionghoa. Bagaimana ceritanya bisa menghasilkan karya-karya dalam Bahasa Indonesia, bahkan Sunda?
Waktu kecil, rumah saya warung yang di belakangnya adalah perkampungan. Kami jual kebutuhan sehari-hari. Saya menyaksikan bagaimana orang kampung datang dan menjual beras dan dedak sisa penumbukan padi, menakarnya dengan alat literan. Entah kenapa, saya merasa dekat dengan mereka. Saya juga suka masuk kampung main kelereng, sepakbola, atau layang-layang bersama anak-anak sebaya di belakang rumah.

Ketika sekolah, saya suka dengan pelajaran Bahasa Indonesia. Lucu sekali. Ketika itu, pelajaran Bahasa Indonesia dianggap sebagai pelajaran yang susah. Kami baru dapat pelajaran Bahasa Indonesia ketika SD kelas 3 atau kelas 4. Tata bahasanya banyak yang kewalahan, misalnya soal awalan-akhiran. Aturan-aturannya kan mesti dihafal. Tapi entah kenapa buat saya itu nggak jadi masalah. Saya biasa saja menulis dalam Bahasa Indonesia.

Saya juga suka sekali baca Star Weekly, kisah-kisah Sie Jin Kwie, cergam Ramayana dan Mahabarata, dan baca koran apa saja. Lulus SMA, saya jadi guru di sekolah Qiao Zhong. Tapi sesudah sekolah tutup karena peristiwa 1965, saya jadi nggak punya kerjaan. Saya kerja di pabrik kerupuk, juga pernah jadi mandor kebun. Saat senggang, saya sengaja cari buku bekas di Cikapundung, termasuk majalah Sunda seperti Manglé. Walau banyak kata-kata yang belum saya kenal, saya tetap baca.

Sebagai mandor, saya akrab dengan para pegawai orang kampung di kebun yang menanam kentang atau bawang. Nah, kehidupan di sana juga sangat menarik. Saya suka bergaul dengan orang-orang Sunda. Saya perhatikan, mereka suka melontarkan sisindiran atau sesebret bahasa Sunda. Sisindiran itu serupa pantun, dua baris pertama merupakan sampiran dan dua baris terakhir adalah artinya.

Misalnya ulah sok ngabotol limun. Hayang mah kucurkeun bae. Ulah sok getol ngalamun. Hayang mah tuturkeun waé. Artinya: jangan suka melamun, kalau mau dan suka ikuti saja. Contoh lain misalnya melak paré jadi eurih, teu puguh jajaranana. Asa hadé jadi peurih, teu puguh lantaranana – artinya: tadinya akur tapi jadi sakit hati, tidak jelas apa sebabnya. Eh, bagus! Saya catat. Lain waktu saya minta ibu-ibu ngomong, saya catat lagi.

Mengapa Anda tertarik menerjemahkan karya sastra Tiongkok dalam bahasa Indonesia?
Saya merasa budaya Tiongkok luar biasa. Misalnya sajak-sajak Mao Ze Dong yang nilai kesastraannya sangat tinggi. Sayang sekali kalau tidak dikenali orang Indonesia. Menurut saya, Mao Ze Dong sebagai penyair telah mewarisi tradisi ulung para penyair klasik Tiongkok sekaligus mengandung semangat kekinian dengan gayanya sendiri. Jarang sekali ada pemimpin politik yang seperti itu.

Dalam puisi-puisi Tiongkok, banyak sekali cerita perjuangan bangsa Tionghoa yang sebetulnya mirip dengan cerita perjuangan bangsa Indonesia. Sama seperti Indonesia, Tiongkok beratus-ratus tahun dijajah bangsa asing. Perempuannya menderita karena feodalisme. Mereka pun bersemangat mengubah nasib bangsanya. Jadi sebetulnya kita itu bersaudara. Senasib, sepenanggungan. Kudu-nya kita bersatu. Tapi itu nggak terjadi karena sudah dicekoki sentimen-sentimen yang bersumber dari komunikasi dunia barat.

Sebaliknya, mengapa Anda tertarik menerjemahkan karya-karya sastra Indonesia dan Sunda dalam bahasa Mandarin?
Orang Tionghoa di Indonesia, khususnya yang mendapat pendidikan Tionghoa, boleh dikatakan tidak begitu tahu sastra Indonesia – kadang-kadang tidak mau tahu. Nah, saya ingin mereka juga kenal sastra Indonesia. Para penulis Tionghoa umumnya mengambil referensi dari Tiongkok, Hongkong, atau Taiwan. Dan isinya kebanyakan tentang budaya Tiongkok seperti misalnya tentang Imlek, Cap Go Meh, Bakcang, atau Hari Bulan.

Menurut saya, seharusnya para penulis ini seharusnya bisa menghasilkan karya yang sangat khas Tionghoa-Indonesia. Sastra-Tionghoa Indonesia itu harus unik. Saya berpikir kalau puisi-puisi Indonesia dipelajari, mereka bisa menyerap bagaimana orang Indonesia menulis puisi sehingga puisi mereka berbeda dengan puisi Tiongkok, Hongkong, atau Taiwan. Itu sebabnya saya menerjemahkan puisi-puisi Indonesia ke bahasa Tionghoa.

Khusus untuk Sunda, saya merasa ada keunikan. Sebagai sesama manusia, jiwa-jiwa kemanusiaan mereka mirip orang Tionghoa. Orang Sunda sangat humoris dan pandai bermain kata-kata. Orang Tionghoa juga perlu mengenal budaya Sunda sehingga akhirnya bisa bergaul lebih baik dengan orang-orang Sunda. Jangan ada yang menganggap budayanya paling tinggi. Baik Tionghoa maupun Sunda sama-sama memiliki kekayaan budaya yang luhur.

Dengan menulis dan memperkenalkan karya-karya sastra lintas budaya, apa sebenarnya pesan utama yang ingin Anda sampaikan?
Saya ingin memperlihatkan bahwa orang Tionghoa juga mempunyai simpati, perhatian, dan kecintaan terhadap budaya lokal. Buktinya, saya berusaha mempelajari dan menerjemahkan. Orang non-Tionghoa akan menghormati orang Tionghoa karena orang Tionghoa juga menghormati mereka. Itulah jiwa dan semangat yang saya curahkan dalam menulis dan menerjemahkan.

Bagaimana respon masyarakat Tionghoa dan non-Tionghoa terhadap upaya yang Anda lakukan?
Pekerjaan-pekerjaan saya mendapat respon positif dan sangat dihargai oleh teman-teman Tionghoa. Kata mereka, jarang ada yang melakukan pekerjaan ini. Teman-teman non-Tionghoa juga gembira karena keingintahuan mereka tentang budaya Tionghoa sebenarnya sangat besar. Banyak orang Indonesia masih asing dengan Tionghoa, apalagi sastranya. Melalui yang saya kerjakan, mereka mendapat informasi baru yang belum pernah didengar sebelumnya. Mereka tertarik dan sangat mengapresiasi.

Anda juga mendirikan Lembaga Kebudayaan Mekar Parahyangan. Bagaimana ceritanya?
Saya ingin sekali orang Tionghoa berperan dalam kebudayaan Indonesia, termasuk dalam pergaulan lintas budaya. Nah, saya berpikir untuk mengadakan kegiatan-kegiatan budaya bersama-sama, bukan di kalangan Tionghoa saja. Banyak yang tergugah oleh usul saya, lalu kami pun mendirikan Lembaga Kebudayaan Mekar Parahyangan. Kami pernah membuat lomba carpon (carita pondok/cerita pendek) Sunda.

Bagaimana dengan Klub Pecinta Sastra dan Komunitas Sastra Tionghoa-Indonesia?
Ketika masih aktif di Perhimpunan Penulis Tionghoa-Indonesia, saya ingin yang bergabung bukan hanya penulis saja. Kita juga harus merangkul para pecinta sastra yang mungkin belum menulis – untuk sama-sama memeriahkan kehidupan sastra Tionghoa-Indonesia. Dengan demikian, karya-karya kita ada yang membaca dan siapa tahu nanti bisa lahir penulis-penulis baru.

Jadi, saya usulkan “Klub Pecinta Sastra” dan mereka setuju. Sekarang, klub ini ada di mana-mana. Di Cirebon, Garut, Jakarta, dan Batam. Malah waktu itu saya juga usulkan satu lagi yaitu seksi khusus komunikasi dengan masyarakat non-Tionghoa. Sampai sekarang, seksi ini masih ada.

Lalu, saya bersama sekelompok orang juga membentuk Komunitas Sastra Tionghoa-Indonesia (KSTI). Selain mengadakan pertemuan-pertemuan dan diskusi-diskusi tentang sastra, KSTI mempunyai rubrik sastra yang terbit tiap hari Kamis di Harian Guo Ji, Jakarta. Isinya adalah karya sastra Tionghoa-Indonesia, termasuk terjemahan dari bahasa Indonesia. Nama rubrik sastra itu adalah Lv Dao (“Kepulauan Hijau”). Saya jadi redakturnya.

Kebanyakan pegiat sastra Tionghoa sudah senior. Bagaimana Anda melihat perkembangan sastra Tionghoa-Indonesia ke depan?
Anak muda sekarang tidak lagi berkecimpung di sastra Tionghoa terutama karena kendala bahasa. Banyak yang tak bisa lagi berbahasa Mandarin. Tapi menurut saya itu wajar-wajar saja, tidak masalah dan tidak perlu risau. Sejujurnya, berapa persen sih yang suka sastra? Orang Tionghoa sekarang sudah banyak berperan dalam bidang-bidang lain.

Di Sumatera, misalnya, ada seorang dokter yang akhirnya jadi guru dan mendirikan sekolah. Murid-muridnya Tionghoa dan non-Tionghoa, bayar sekolah dengan subsidi silang. Orang non-Tionghoa tidak mampu dibantu oleh orang Tionghoa. Sebaliknya, Tionghoa yang tidak mampu ditolong oleh orang non-Tionghoa. Itu kan luar biasa sekali. Saya sangat kagum.

Selain menulis, Anda juga sudah lebih dari dekade mendirikan Paduan Suara Kota Kembang. Bagaimana ceritanya?
Saya juga suka menyanyi. Waktu SMA, saya adalah ketua Paduan Suara. Jadi dirigen. Kami pentas saat ulang tahun Tiongkok dan ulang tahun sekolah. Saat Orde Baru berkuasa, kami bungkam. Belakangan setelah suasana agak longgar, saya ajak mantan-mantan guru yang gemar nyanyi untuk membentuk paduan suara. Kami pinjam kelenteng untuk latihan, bergabung dengan ibu-ibu anggota kelenteng.

Kemudian, saya dan beberapa teman terpikir membuat paduan suara sendiri supaya lebih bebas. Saya mengajak teman-teman paduan suara waktu SMA dan membentuk “Paduan Suara Kota Kembang”. Yang bergabung sekitar 55-60 orang, sekarang 40-45 orang. Kami iuran untuk membiayai sewa tempat dan sampai sekarang masih terus latihan rutin.

“Paduan Suara Kota Kembang” termasuk paduan suara Tionghoa yang berumur paling panjang di Kota Bandung. Kami pentas di mana-mana. Meski semua anggotanya Tionghoa, yang dinyanyikan bukan hanya lagu-lagu Mandarin tapi juga Indonesia dan Sunda. Dalam salah satu pentas, Ceu Popong (Popong Otje Djundjunan, anggota DPR) terharu. “Aduh! Dengar kalian nyanyi lagu-lagu Sunda, saya mencucurkan air mata,” katanya.

Cita-cita yang belum tergapai?
Saya ingin sekali mendirikan pusat kebudayaan. Di sana, nantinya kita bisa mengadakan kegiatan-kegiatan budaya lintas etnis dan agama. Ada drama, lukisan, atau jadi tempat pameran. Saya juga ingin punya perpustakaan sastra Indonesia. Jadi yang mendirikan adalah Tionghoa tapi bukan hanya untuk Tionghoa melainkan untuk Indonesia. Tapi perlu waktu agar cita-cita itu terwujud. Saya harap, generasi muda akan mewujudkannya suatu hari nanti.

* * *

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s