Menjadi Manusia Dengan Sastra

Sebetulnya kita bersastra sejak mengenal kata, sejak bisa membaca. Ketika orang tua memberi nama, itu sudah proses bersastra. Masak memberikan nama anak supaya dilupakan orang? Pasti ada suatu harapan. Ide disampaikan melalui satu atau beberapa kata. Itulah proses sastra.
Seno Gumira Ajidarma, 11 Februari 2018

SASTRA, seringkali terlampau rumit didefinisikan sebagai sesuatu yang ‘berat’ dan mendayu-dayu – padahal ia amat mendasar dalam hidup manusia. Dalam diskusi bertajuk Menjadi Manusia dengan Sastra yang digelar di Galeri Indonesia Kaya (11/2), Seno Gumira Ajidarma* mengatakan bahwa setidaknya ada tiga mitos sastra yang perlu dihancurkan agar sastra tak lagi berjarak.

Mitos pertama, sastra itu curhat. Sentimentil, cengeng, tidak macho – dan oleh karenanya mesti dijauhi. Kedua, bahasa sastra mendayu-dayu. Angin menggelepar, sepi terbantai! Itu membuat insinyur fisika atau elektro, misalnya, berpikir bahwa sastra bukanlah bagiannya. Ketiga, sastra berisi pedoman hidup alias petuah. Padahal tak seorang pun senang dipetuahi.

“Makanya dalam sebuah pidato di Goethe Institute, saya pernah usul istilah ‘sastra’ diganti saja jadi ‘Paimo’ gitu. Supaya tidak berjarak, akrab, tidak seram,” celetuk Seno yang segera ditimpali tawa membahana para pengunjung.

Budi Darma**, yang juga menjadi narasumber diskusi, menjelaskan bahwa jika seseorang mencintai sastra maka dirinya akan berkembang lebih matang.

Sastrawan berusia 80 tahun tersebut mengutip penelitian Rene Walek dan Austin Warren yang dipublikasikan dalam buku klasik Theory of Literature (1950). Walek dan Warren menyimpulkan bahwa pengarang yang baik sebetulnya lebih pandai daripada psikolog berlatar pendidikan psikologi. Meski tak mencolok, karya sastra yang baik tak terlepas dari masalah psikologi. The novelist can teach you more about human nature than the psychologists.

Terkait pengembangan diri, Jacob Bronowsky (1908-1974) mencatat tiga capaian manusia yang sangat berharga: invention (penemuan), discovery (penemuan wilayah), dan creativity (kreativitas).

Invention muncul ketika Alexander Graham Bell menemukan telepon, misalnya. Tapi sekalipun Graham Bell meninggal ketika masih kecil, bukan berarti unsur-unsur alam semesta untuk menjadikan telepon jadi lenyap. Jika bukan Graham Bell, orang lain yang akan menemukan telepon. Demikian pula discovery. Walau Columbus meninggal lebih awal, benua tersebut tak lantas tertelan bumi. Suatu saat, benua Amerika pasti akan ditemukan seseorang.

Lain halnya dengan creativity, yang dinilai sebagai capaian manusia tertinggi. Romeo-Juliet sesungguhnya adalah cerita rakyat dari Verona, Italia – bukan karya asli William Shakespeare. Demikian pula Hamlét yang merupakan chronicle atau babad asal Denmark. Tapi kreativitas William Shakespeare membuatnya menjadi karya yang luar biasa hebat. Andai Shakespeare meninggal saat masih muda, orang lain tidak mungkin bisa menggantikannya.

Kreativitas dalam berbagai lini kehidupan akan muncul jika terbiasa melahap karya-karya sastra. Budi mencontohkan penemu Mozilla Firefox yang berusia 10 tahun, juga orang-orang hebat seperti Bung Karno dan Winston Churchill, membaca karya-karya sastra yang baik pada waktu-waktu tertentu.

“Dengan membaca karya sastra yang baik, seseorang akan bertambah peka terhadap motivasi seseorang. Ia akan tahu apakah sedang berhadapan dengan orang jujur, tulus, munafik, jahat, atau egois. Itu akan sangat bermanfaat bagi siapa pun dalam kehidupan,” ucap Budi Darma.

Sastra, Pengungkap Kegelisahan
GELISAH menjadi kata kunci yang mendorong Budi Darma dan Seno Gumira Ajidarma bertekun menghasilkan karya sastra selama puluhan tahun. Aneka kegelisahan umumnya muncul dari pengamatan terhadap berbagai peristiwa yang terus berlangsung seiring laju zaman.

“Setiap orang pasti punya pertanyaan kalau banyak bergaul, membaca, menyetel radio, menonton televisi, menonton film, dan sebagainya. Ada lentik-lentik dalam diri sebagai reaksi terhadap apa yang kita dengar, lihat, dan rasakan. Pertanyaan-pertanyaan tersebut saya coba selesaikan dengan menulis. Tapi tiap selesai menulis, pertanyaan-pertanyaan itu ternyata masih menggantung,” Budi menjelaskan.

Budi Darma bercerita bahwa ia menulis Orang-Orang Bloomington dari pengalamannya jalan-jalan dan sering mengamati perilaku orang, termasuk cara mereka mengemudikan mobil.

“Saya mengikuti satu orang tua. Umurnya sudah lebih dari 90 tahun tapi masih diperkenankan mengemudikan mobil sendiri. Untuk membunuh waktu, ia pergi ke suatu supermarket, membeli suatu barang, kemudian pulang istirahat. Lalu pergi ke supermarket lainnya, membeli barang, pulang. Saya pun tertarik menulis tentang orang tua yang hidup sendiri tanpa bisa berhubungan dengan orang lain karena semua saling menjaga privasi.”

Dengan demikian, bagi Budi, seorang pengarang tak akan pernah merasa puas dengan karyanya. Menulis adalah upaya menghadapi keresahan-keresahan dalam hati. Seiring zaman yang berkembang tanpa akhir, seorang penulis pada hakikatnya tidak akan pernah pensiun.

Setengah berkelakar, Seno Gumira Ajidarma mengatakan bahwa ia tekun menulis karena memang hanya itulah yang bisa ia lakukan. Memasak tidak bisa, berdagang apalagi. Di sisi lain, Seno pun mengakui sebab utamanya adalah kegelisahan atas ragam persoalan yang mengganggunya.

“Persoalan apa yang mengganggu saya sehingga jawabannya adalah menulis? Kalau ada ketidakadilan dan penindasan, tapi orang diam saja. Saya marah dengan pembunuh, penculik, pemerkosa atau pemfitnah. Tapi saya lebih marah pada yang diam saja padahal tahu. Tetangga diculik, masa diam saja? Tetangga itu bisa sebelah rumah, bisa juga seribu kilometer jauhnya.”

Olah Rasa Lewat Sastra
EKA Budianta, sastrawan kelahiran Jawa Timur, menuturkan bahwa sastra sebetulnya bisa jadi sarana buat mengolah kepekaan. Setiap manusia, kata Eka, melihat bulan, daun, dan embun yang sama. Melalui latihan dan perenungan panjang, setetes embun pun dapat menjadi sebuah cerita.

“Saya bayangkan mungkin ada pohon atau telaga yang merindukan laut. Eh laut, kapan aku bisa bertemu denganmu? Laut mendengar kerinduan pohon dan kemudian mengirim serpih-serpih tubuhnya. Ketika matahari turun, tubuh laut terpecah-pecah, naik ke langit, dibawa angin ke gunung, turun, dan jadi embun yang menyentuh dedaunan. Hal macam ini bisa dilatih,” tutur Eka.

Juwita Malam awalnya merupakan puisi yang lahir dari pengamatan terhadap seorang wanita cantik di Stasiun Jatinegara yang tersenyum. Suatu hari, si penulis ingin meminta alamatnya, ingin bertemu lagi dengannya. Peristiwa sederhana ini bahkan membuahkan sebuah lagu yang sangat terkenal.

“Saya pikir itulah menjadi manusia dengan sastra. Kita melatih kepekaan sebagai manusia. Kita terpanggil untuk memaknai hal-hal sepélé namun ternyata memperkaya kita,” ucap Eka, “menyadari bahwa hal-hal paling sederhana ternyata sumber kebahagiaan. Mungkin saja kita bahagia bukan karena duit tapi hanya karena setetes embun.”

Menariknya, olah rasa bukan hanya menjadi pengalaman penulis namun juga pembaca sastra. Itu sebabnya Seno menempatkan sastra, penulis, dan pembaca pada posisi setara. Pembaca tak lebih rendah daripada penulis – apalagi nyatanya banyak penulis yang tidak pernah membaca.

Bagi Seno, tidak ada sastra jika tidak ada pembaca. Seno mencontohkan disertasi James T. Siegel tentang penyajian Pos Kota atas peristiwa penembakan misterius (1983-1984). Siegel memperlihatkan bahwa Pos Kota, koran yang sering dilecehkan banyak orang, justru mampu mengungkap realitas Orde Baru. Artinya, membaca adalah sebuah proses kreatif yang juga membutuhkan perjuangan, sama kreatifnya dengan si penulis

“Jadi kalau Anda bisa menganggap suatu karya sastra hebat, yang hebat bukan karya sastranya. Anda yang hebat. Kok bisa mencapai tahap kemanusiaan setinggi itu?”

Masa Depan Sastra Indonesia
PENELITIAN terkini yang mengungkap rendahnya minat baca masyarakat Indonesia seiring meningkatnya penggunaan media sosial tak membuat Budi maupun Seno jadi meragukan masa depan sastra Indonesia. Keduanya tetap optimis sastra Indonesia berkembang jauh lebih baik di masa mendatang.

Di mata Budi, anak-anak muda saat ini berdiri di atas dua kaki. Di satu kaki, mereka pandai mengoperasikan gawai. Di kaki lainnya, mereka juga mampu membaca buku-buku yang baik. Budi percaya pada proses alih estafet yang mulus kepada generasi muda. Keyakinannya kuat usai menyaksikan perkembangan literasi sastra, termasuk membaca sastra, memberi hadiah buku sastra, mendiskusikan karya sastra, dan sebagainya.

“Setelah era Reformasi, banyak sekali muncul penerbitan. Anak-anak muda mulai menulis. Jadi literasi sastra sebetulnya menjadi lebih baik,” kata Budi.

Budi juga menilai bahwa komunitas pegiat literasi seperti Goodreads terbukti mampu melahirkan diskusi-diskusi dan debat-debat menarik yang sangat positif bagi perkembangan sastra. Demikian pula akses terhadap berbagai kegiatan terkait literasi sastra.

Secara statistik pun, menurut Seno, jumlah buku terus meningkat dengan jenis yang makin beragam. Demikian pula dengan klub buku dan gerakan baca buku sebagai lifestyle. Toh, sastra tak mesti serupa karya-karya Armijn Pane, Sanusi Pane, atau Chairil Anwar. Kerap menjadi juri, Seno mengakui bahwa karya para penulis muda saat ini sangat baik, bahkan membuat para juri minder. Tulisan mereka tak lagi klise atau sentimentil tapi sudah kaya pengetahuan.

“Anak-anak muda berangkat dari bahasa Indonesia yang sudah kaya. Pada masa saya lebih sedikit (yang menulis). Pada masa Pak Budi Darma lebih sedikit lagi. Di era Chairil Anwar cuma ada bahasa Melayu sehingga ia harus memberontak, ikut membuka bahasa Indonesia. Saya kira meningkatnya karya anak-anak muda saat ini adalah bagian yang wajar dari konstruksi budaya.”

Dalam kondisi tersebut, penulis tidak dapat menyalahkan pembaca atau mereka yang tak bergelut di dunia sastra. Penulis ditantang untuk menulis buku yang dapat dinikmati siapa pun – baik oleh mereka yang sudah mampu mengapresiasi karya sastra maupun yang sama sekali tidak peduli. “Kalau sastra tidak memikat, saya lebih suka mengatakan itu adalah ketidakmampuan sastra untuk membuatnya berhasil sebagai karya,” Seno bertutur.

Pertanyaannya, bagaimana menghasilkan karya sastra yang memikat dan menggema dalam jangka panjang – selain peka terhadap peristiwa sederhana?

Budi Darma memberi jawaban menarik: “Perlu diketahui bahwa tak ada satu pun karya sastra yang murni karya orang tersebut. Tidak ada. Saat menulis, pasti terpikir tulisan entah siapa yang kemudian masuk dalam tulisan kita. Dengan banyak membaca, kita pasti dapat menulis lebih baik!”

* * *

*Seno Gumira Ajidarma dikenal sebagai generasi baru sastra Indonesia. Beberapa buku karyanya adalah Atas Nama Malam, Wisanggeni Sang Buronan, Sepotong Senja untuk Pacarku, Biola tak Berdawai, Kitab Omong Kosong, Dilarang Menyanyi di Kamar Mandi, dan Negeri Senja. Ia juga menulis tentang Timor Timur yang dituangkan dalam buku Saksi Mata (kumpulan cerpen), Jazz, Parfum, dan Insiden (roman), dan Ketika Jurnalisme Dibungkam Sastra Harus Bicara (kumpulan esai).

**Budi Darma merupakan Guru Besar Universitas Negeri Surabaya (Unesa) yang telah menerbitkan beberapa kumpulan esai, cerpen, dan novel. Ia pernah mendapatkan penghargaan dari Balai Pustaka, Kompas, SEA Write Award (Bangkok), Anugerah Seni Pemerintah Republik Indonesia, Satya Lencana dari Presiden Republik Indonesia, dan Anugerah MASTERA (Brunei). Ia kerap diundang berceramah, juga melakukan penelitian mengenai sastra Inggris/AS.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s