Kakek Lorong

APARTEMEN. Ribuan orang di bawah atap yang sama, melangkah di lorong yang sama, turun-naik lift yang sama, makan di kantin yang sama, cuci piring dari leding yang sama, juga buang hajat di saluran buang yang sama. Pernah kudengar entah dari mana bahwa makin banyak kesamaannya, makin besar pula keinginan untuk saling curahkan isi hati, minimal basa-basi.

Tapi itu tak lazim terjadi di kebanyakan apartemen yang kuinjak – minimal di apartemenku sendiri. Di sini, interaksi paling intim cuma terjadi di sebuah lantai yang menghubungkan tiga buah tower. Di lantai inilah kolam renang membentang, membentuk angka delapan. Pekik bocah yang sedang main jungkat-jungkit di samping kolam mendarat di telingaku, yang tinggal di lantai dua puluh lima. Satu-satunya pekik kehidupan yang kudengar.

Selebihnya, apartemen ini serupa kota mati.

Ketiadaan interaksi, apalagi kalau kau tinggal seorang diri selama delapan tahun, bisa mengaktifkan hormon kortisolmu secara luar biasa. Di situlah kau mengalami stress. Tapi jangan salah, apartemen yang kutinggali tidaklah semuram yang kau bayangkan dalam film “The Raid”. Meski padat penghuni, ia tidak kumuh. Cahaya masuk dari segala sudut, pun udara segar – kalau aku tak malas membuka pintu balkon, tentunya.

Tapi kau tak kenal tetanggamu. Tetanggamu tak kenal kau. Kau akan heran, benarkah apartemen ini dihuni ribuan orang? Dalam sebuah konser atau pertandingan bola, ribuan orang berarti keriuhan. Pekik yang membahana, meriah, ribut, bising. Jangankan ribuan, ratusan saja bahkan bisa menjadi sebuah negara. Vatikan cuma berpenduduk 451 orang.

Bayangkan jika seisi penduduk Vatikan tak kenal satu sama lain, kecuali mungkin terhadap Bapak Paus. Tak ada yang perduli apakah kau sehat atau pingsan, gizi buruk atau gempal, sudah sarapan atau cuma ngemil céndol, depresi atau riang, ngantuk atau ngiler, main gitar atau gantolé, gandrung rock atau jazz, punya suara fals atau cempréng, jomblo atau duda, mencium atau menjilat, mengantuk atau télér, mengudap Cordon Bleu atau semur jengkol.

Maka tak salah jika kukatakan bahwa apartemenku adalah sebuah kota mati, kalau bukan negara mati. Hingga suatu pagi, aku berpapasan dengan seorang kakek di lorong apartemen.

Berkaus singlet dan celana pendek tanpa alas kaki, si Kakek memaksa tubuhnya bergerak di sepanjang lorong. Langkahnya tertatih-tatih. Kaki kirinya menyeret paksa kaki kanannya tanpa bantuan tongkat, menimbulkan gema sret-sret-sret-sretttttt di sepanjang lorong. Lengan kanan yang layuh berayun seiring langkah kakinya. Bersemangat, meski dengan kecepatan siput.

Masalahnya, tubuh si Kakek menutupi lorong apartemen yang sudah sempit, menghalangi langkahku yang sedang rusuh karena sudah ditunggu abang Gojeg di bawah sana.

“Permisiiiiii,” seruku angkuh sambil terus memelototi layar telepon genggam. Kemudian aku menyusup ke celah kosong antara tubuh si Kakek dan dinding lorong. Dengan susah payah, si Kakek berusaha memberi jalan. Detik kami bertemu muka, aku terkejut mendapati si Kakek tersenyum dan berusaha menyapa.

“Ouuuu aeuuu iuuuuuu…..”

Suara yang terlontar dari mulutnya tak sedikit pun kupahami. Namun aku tahu si Kakek sedang berusaha mengatakan sesuatu. Esok paginya, ketika aku melék dan menggeliat, sret-sret-sret-sretttttt kembali terdengar. Pendek-pendek. Bunyi itu bertahan selama satu jam berikutnya, hingga aku kembali berpapasan dengan si Kakek. Kali ini kubalas senyumnya, menunggunya berganti posisisi supaya aku tak perlu menyusup di celah-celah.

Sret-sret-sret-sretttttt

“Ouuuu aeuuu iuuuuuu…..”
“Ouuuu aeuuu iuuuuuu…..”

Si kakek tersenyum. Kedua telapak tangannya diangkat perlahan dan ditempelkan pada kerongkongannya, berusaha memberitahuku bahwa ia tak bisa bicara – tentu aku sudah tahu itu. Kemudian tangannya diturunkan, berpindah ke pangkal paha kanan dan kirinya. si Kakek tampak berusaha memberitahuku bahwa ia sulit berjalan – itu pun bisa jelas kulihat. Menurut analisis sok tahuku, kemungkinan besar si Kakek kena stroke.

Esok paginya, sret-sret-sret-sretttttt kembali membahana di sepanjang lorong yang minim sistem kedap suara. Sebelum turun lift, aku bertekad memperhatikan si Kakek dengan lebih saksama. Rambutnya putih tipis-tipis, namun tidak botak. Wajahnya berkeriput tapi tak muram. Ia tampak cerdas. Dan senyum tak pernah lepas dari wajahnya. Sekilas mengingatkanku pada Bob Sadino, versi lebih langsing. Tebakanku, usianya sekitar 60 tahun.

“Ouuuu aeuuu iuuuuuu….. ouuu ui eooooo……”
“Selamat pagi, Kek!” seruku untuk pertama kalinya, “apa kabar?”

Demikianlah, tiap pagi telingaku jadi familiar dengan sret-sret-sret-sretttttt, desau kalimat tak beraturan, dan senyum hangat. Ia masih kerap menepuk kerongkongan dan pangkal pahanya. Lain waktu, kudapati ia melamun di balkon dekat drum sampah sambil menatap langit, satu-satunya ruang kecil dengan udara terbuka. Si Kakek juga sering menatap lanskap kota dari sebuah jendela besar dekat lift. Air liur menjuntai dari sudut bibirnya.

Begitu melihatku, ia selalu menyapa ramah sambil mengangkat tangan kanannya.

“Ouuuu aeuuu iuuuuuu…..”

Ia pun pernah tiba-tiba menunjukkan batok kepalanya. Dekat dahi, tampaklah lubang sebesar kelereng! Lubang tersebut adalah tengkorak yang dibor sebelum operasi otak. Ingatanku segera melayang pada ibu kandungku, yang meninggal hampir satu dekade silam karena tumor otak. Posisi dan ukuran lubang di batok kepala si Kakek sama persis dengannya!

Si kakek membuatku merasa memiliki keluarga. Membuka hari dengan saling sapa. Dialog panjang memang tak pernah terjadi karena ketidak mampuanku mencerna ucapannya. Tapi si Kakek membuatku sadar bahwa selama ini, akulah biang keladi kematian di belantara beton ini. Tak suka diusik barang sejenak walau mesti dibayar sunyi. Privasi harga mati.

Entah mengapa, si Kakek menulariku. Aku mulai terbiasa menyapa satpam, tukang listrik, pengantar koran, petugas pembersih kaca, kerumunan ibu-ibu dalam lift. Ya ya ya, aku tahu kau pernah memperlihatkan sebuah video YouTube soal betapa berbahayanya ngobrol dengan orang asing. Bisa berujung hipnotis yang membuat harta ludes, bahkan dibunuh.

Namun pernahkah kau pilu menyaksikan mbak-mbak yang sedang membersihkan kaca sampai gelagapan membalas “selamat pagi”? Atau mas-mas yang sedang mengepel lantai tercekat menerima ucapan “terima kasih”? Kentara sekali mereka tak pernah menerima sapaan-sapaan macam itu dalam hidupnya. Berpeluh tiap hari demi kenyamanan seluruh penghuni apartemen, apresiasi apa yang pernah mereka kecap?

Maka batinku nelangsa ketika dua hari berturut-turut tak kudengar lagi suara si Kakek. Ia lenyap begitu saja, tanpa pamit. Tiga hari, empat hari, lima hari, enam hari. Seminggu, dua minggu, tiga minggu. Sebulan, sebulan setengah, dua bulan, tiga bulan. Ia tak kunjung muncul! Aku tak tahu di mana kamar si Kakek. Entah siapa keluarganya sebab tak pernah kulihat ia berjalan dipapah.

Absennya suara-suara khas itu sungguh membuatku menderita seperti kehilangan anggota keluarga. Tak ada lagi sapaan pagi. Tak ada lagi senyum ramah yang membuat pagiku penuh semangat.

Ah! Di manakah kau, Kek? Aku rindu menyapamu. Aku masih ingin mendengar kisah lengkapmu!

Hingga suatu pagi ketika aku baru saja selesai mengunci pintu apartemen tanpa semangat, mataku bersirobok dengan sosok si Kakek di ujung lorong. Tak lagi terdengar sret-sret-sret-sretttttt maupun ouuuu aeuuu iuuuuu. Langkahnya mantap. Tegap. Rautnya amat cerah, tanpa setetes pun liur.

Segera aku berlari. Kutabrak tubuhnya. Kupeluk ia erat-erat. Sangat erat.
Lalu, kurasakan jemari keriputnya membelai-belai rambutku. Aku terisak. Pintu lift terbuka.

Enam manusia berpenampilan parlénté larut dalam gawai masing-masing. Sepersekian detik melihat aku tak juga melangkah, seorang di antaranya mengangkat mukanya. Memelototiku dengan pandangan tak sabar. Dengan berat hati kulepas pelukku, melangkah gontai memasuki kotak besi tersebut. Si Kakek menepuk pundakku, tersenyum sambil melambaikan tangannya.

Perlahan, ia lenyap seiring pintu lift yang tertutup.

* * *

Sylvie Tanaga
Rabu, 21 Februari 2018
Kemayoran – Jakarta Pusat Pk. 16.28 WIB

Sumber Ilustrasi: http://tayalestates.com

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.