Penumpang Terakhir

“Permisi, Mbak. Tujuannya Apartemen City Palace?”
“Udah jangan tanya-tanya deh! Jalan aja loe!” si wanita muda membanting pintu belakang dan menghempaskan tubuhnya ke kursi. Aroma alkohol menguar, menggelitik bulu-bulu hidung Irwan, si sopir, yang segera memaki dirinya sendiri kenapa tak membatalkan saja order terakhir ini.

Menghela napas, Irwan memindahkan kopling dan mulai mengemudi dalam hening. Langit tengah malam memuncratkan tangis heboh walau hawa terasa panas. Ban-ban mobilnya tanpa ampun menghajar genangan di sana dan di sini. Beruntung, tak ada pejalan kaki lewat.

Minggu lalu, Irwan kena damprat seorang nenek gara-gara luput mengerem. Genangan semata kaki di salah satu sudut jalan seketika berpindah ke tubuh seorang nenek yang sedang menjinjing sayur. Irwan diam saja ketika si nenek menghampiri dan menggebuk kap mobilnya dengan kekuatan penuh.

Bagaimana pun, digebuk nenek-nenek jauh lebih baik daripada menghadapi penumpang résék yang menguji kesabarannya. Sabar, Irwan! Sabar. Selesaikan saja trip ini segera demi bonus sialan itu.

Melalui spionnya, Irwan menatap lekat-lekat si wanita muda. Ia sudah meringkuk miring. Betis mulusnya sedikit tersibak. Rambut kusut masai. Mata sembab. Maskara dan eyeliner luntur berleleran di kedua sudut matanya. Ia melingkari kedua pahanya dengan lengan kiri sementara lengan kanannya menggenggam kaleng bir – yang entah ke berapa sudah ia reguk malam ini.

Sekali lagi Irwan mengutuki dirinya sendiri. Setahun jadi sopir taksi online, mestinya ia belajar dari pengalaman. Melewati ruas jalan satu ini jelang pergantian hari, hampir selalu ia ketiban penumpang depresi. Seorang pria muda pernah memuntahkan isi perutnya dalam mobilnya, membuat Irwan kena suspen tiga hari setelah penumpang selanjutnya melapor bahwa mobilnya bau taik.

Dua minggu lalu, seorang wanita kantor curhat sambil télér di sepanjang jalan, mengeluhkan perilaku bosnya yang tak kunjung mempromosikannya – meski sudah delapan tahun mengabdi berlembur-lembur. Irwan tak tahu bagaimana harus bereaksi. Ia mencoba bersimpati, menghiburnya dengan mengutip kata-kata bijak yang diingatnya sedikit-sedikit dari sebuah acara motivasi di TV – lantas bungkam setelah si wanita tambah télér dan mulai menggodanya.

Terakhir, seorang penumpang pria paruh baya berteriak-teriak dengan suara parau, meracaukan beberapa kalimat tentang perilaku busuk seorang wanita, entah siapa, sebelum akhirnya kehilangan kesadaran. Irwan panik. Ia pikir si kakek kena serangan jantung dan semaput di mobilnya.

Ibukota penuh jiwa-jiwa nelangsa, keluh Irwan dalam hati. Riuh sekaligus sunyi. Pagi melenyapkan mimpi, malam menegaskan sepi. Menerbangkan jiwa sejenak mungkin jadi pilihan terbaik, meski harus dirangsang obat. Atau alkohol. Atau selingkuhan. Apa pun. Terhadap penumpang macam ini, Irwan tahu bahwa respons terbaik adalah mendengar. Ia tahu bahwa seringkali mereka hanya butuh didengar.

Klik, klik, klik, klik. Cssssssshhhhhh…..

Irwan melirik spion. Dengan mata setengah terpejam, si wanita muda mengulum sigaret ramping di sela bibirnya yang bergincu compang-camping. Jemarinya dengan kutek ungu bergetar menggenggam zippo. Ia baru berhasil menyulutnya pada percobaan kesekian. Sebentar kemudian, asap mengisi celah-celah udara. Irwan buru-buru membuka kaca jendela.

“Maaf. Tidak boleh merokok di….”
“Diem loe! Gue kasih bintang satu baru tahu loe!”

Irwan menahan diri memuntahkan makian yang sudah mampir di ujung lidahnya. Bintang satu bukan cuma bakal memupus bonus tapi juga bakal menamatkan karirnya. Selama ini, Irwan bingung mengapa ‘bintang’ jadi standar penting buat mengukur kepuasan pelanggan, kalau bukan ukuran satu-satunya. Seorang rekan “ditendang” sebagai pengemudi hanya karena menolak penumpang merokok dalam mobilnya. Si penumpang memberi bintang satu dan melapor bahwa si sopir-lah yang merokok!

Tapi berdebat dengan wong mabuk tak ubahnya mengajak tembok berkelahi. Paling banter, besok ia absen buat melenyapkan aroma rokok sialan itu dari mobilnya. Ia pernah kena suspen akibat laporan penumpang yang alergi rokok. Dan ia sendiri benci rokok sepenuh hati. Dua tahun lalu, bapak mati karena TBC, sialnya sebagai perokok pasif. Ia tak mau Willy, anak semata wayangnya, mengalami nasib serupa.

Mata Irwan terpicing agak lama menatap layar telpon pintarnya yang retak parah akibat mencium aspal. Oke, lima belas menit lagi ia akan menurunkan Santi, si penumpang terakhirnya. Sedikit bonus setelahnya bisa melunasi tunggakan SPP Willy sebelum anaknya terancam dikeluarkan dari sekolah.

Santi tertidur pada menit ketiga. Sigaret yang tinggal seperempat masih terjepit di antara ibu jari dan jari tengah. Irwan was-was percik bara melubangi jok mobil merahnya yang baru sebulan ia pasang –setelah susah payah menabung. Memastikan penumpangnya pulas, Irwan membalikkan tubuh. Perlahan, ditariknya puntung dari jemari Santi. Sekali jentik, puntung melayang keluar jendela.

Lima menit kemudian, ketika Irwan menyetop kendaraannya di sebuah lampu merah, Santi sudah mendengkur keras –bersahut-sahutan dengan irama wiper.

Biarlah. Ia bakal membangunkannya setelah sampai tujuan. Pinggang Irwan ngilu luar biasa. Ia sudah membayangkan mandi di bawah guyuran air hangat, meneguk secangkir teh panas, mencium Willy, dan membenamkan tubuh dalam lautan kapuk. Beberapa jam setelahnya, ia mesti membangunkan si bocah, menyiapkan sarapan, dan mengantarnya sekolah. Buat Willy, apa pun akan ia lakoni.

* *

“Kita sudah sampai.”
“Hmmmmm……”

Honda Mobilio Irwan persis berhenti di lobi apartemen yang dituju dalam aplikasi. Langit sudah berhenti céngéng. Irwan mematikan wiper. Kaca mobilnya dipenuhi titik-titik air yang membias di bawah siraman lampu depan lobi. Hanya tersisa satu-dua penghuni berlalu lalang. Sekuriti tak nampak. Santi bergeming. Ia cuma menggerakkan betisnya. Sedikit. Kaleng bir masih tercengkram kokoh. Irwan mengulurkan tangannya, mencoba mengguncang bahu Santi dengan halus.

“Santi….”
“Hmmmm…..,” Santi mulai menggerakkan kepalanya, “terusin aja!”
“Tapi kita sudah sampai tujuan.”
“Gue bilang lanjutin aja perjalanannya!”
“Tapi……”
“Maju aja, tolol! Entar gue bayar lebihnya!”

Seekor kucing jumbo tiba-tiba melesat dari balik taman kecil lobi, mengejar tikus got. Mata Irwan mengikuti gerak si kucing sebelum akhirnya lenyap dibalik gulita. Apartemen yang cukup tua dengan dinding krem- terkelupas di sudut langit-langit. Seluruh area parkir sudah penuh terisi. Pasti padat penghuni. Entah kenapa, ada yang familiar dari suasana di penjara beton ini.

Irwan menatap layar telpon genggamnya. Satu subuh. Hampir.

“Ke mana sekarang?”
“Ke mana aja deh, terserah loe!”
“Tapi….”
“Sekali lagi ngomong tapi, gue kasih bintang satu sekarang!” tiba-tiba Santi terduduk, mengulurkan lengannya yang kini menggenggam telpon pintar.

Jendela mobil tiba-tiba diketuk. Irwan menoleh. Sesosok pria berkaus putih belél bertubuh cungkring memberinya kode untuk menurunkan kaca. Irwan melakukannya, siap menerima makian karena sudah menghalangi jalur mobil. Mendadak ia sadar mengapa apartemen ini terasa familiar.

“Santi?” pria itu melongokkan kepalanya ke dalam mobil, “kamu mabuk lagi, sayang?”

Demi mendengar suara orang yang menyapanya, tubuh Santi mendadak tegang. Dipukulnya bahu Irwan keras-keras, membuat Irwan juga ikut terkejut.

“Irwan. Cepat jalannnnn! Sekarang!!!”

Kali ini, Irwan manut. Ia segera menekan pedal gas-nya kuat-kuat dan memacu mobil melewati areal parkiran yang sempit. Ribuan trip yang telah ditempuh selama ini mengubahnya jadi pengemudi mahir dengan kemampuan sempurna dalam mengukur jarak. Si pria cungkring terlompat kaget, nyaris saja jatuh terjengkang ketika mobil tiba-tiba melesat menyerempetnya.

Rem berdecit nyaring di pintu pos. Irwan buru-buru mengulurkan karcis, menatap spion dengan was-was. Si cungkring masih berusaha mengejar dengan telunjuk teracung. Wajahnya penuh amarah. Palang pintu terbuka persis ketika si cungkring mencengkram ekor mobil. Irwan tak memberinya kesempatan.

* *

“Itu sebabnya kau tinggalkan aku dan Willy, Santi,” Irwan mendengus.

Setelah memastikan si cungkring tak membuntuti, Irwan memakirkan kendaraannya di tepi jalan, lima kilometer kemudian, tanpa mematikan mesin. Sekarang ia ingat. Apartemen itulah yang jadi latar profile picture WhatsApp Santi terakhir kali ia melihatnya – sebelum mantan istrinya itu tiba-tiba memblokadenya.

Sebulan menghilang tanpa kabar, suatu pagi Irwan dikejutkan dengan kiriman surat gugatan cerai. Hingga detik ini, alasan sesungguhnya tetap jadi misteri. Irwan tahu, Santi menyembunyikan sesuatu. Sesuatu yang ia anggap jauh lebih penting darinya. Dari Willy mereka! Pria cungkring itu?

Keduanya membisu, entah berapa menit. Pedagang pasar malam mulai melepas tenda-tenda mereka. Tikar digulung, terpal dilipat, menyisakan timbunan sampah dan genangan air bekas cuci piring. Dangdut koplo sudah berhenti berdentum lima menit lalu. Hanya tersisa dua gerobak penjual gorengan dan minuman. Di sebrang jalan, sepasang muda-mudi asyik bercengkrama di atas sebuah motor sambil menyeruput teh botol. Sepasang lainnya berpelukan mesra di bawah naungan patung Ondel-Ondel.

“Dengar Santi. Kuantar ke mana pun kau mau. Sesudah itu aku harus pulang. Aku hanya ingin kamu tahu bahwa aku sudah memaaf…….”

DORRRRRRRRRR!!!!!!!!!!!!!!!!!!!

Irwan tak pernah menyelesaikan kalimatnya. Ingatan terakhirnya adalah kaca depan mobil yang pecah, kepala yang mendadak panas dan nyeri, serta jerit nyaring Santi yang lambat laun lenyap.

* *

Jam delapan pagi di sebuah rumah mewah di bilangan Jakarta Selatan. Johny si konglomerat menikmati ritual paginya menghirup kopi panas sambil menikmati sepotong sandwich daging asap. Mayonnaise berleleran di sudut-sudut bibirnya. Johny melepas piyama-nya, kemudian merebahkan tubuh di kursi tepi kolam renang. Sambil meraih koran pagi yang masih bau percetakan, tangan kirinya menurunkan kacamata yang tersemat di atas kepala botaknya.

Telunjuknya bergerak perlahan menyusuri judul-judul headline.

Pemerintah Umumkan Paket Kebijakan Ekonomi Untuk Permudah Investasi
Rupiah Melemah, Indonesia Bisa Merajai Ekspor!
“Startup” Lokal dengan Pertumbuhan Nomor Satu

Dua puluh menit kemudian, cangkir kopinya sudah tandas ketika ia membalikkan halaman terakhir dan menangkap sebuah berita kecil di pojok bawah: Seorang Sopir Taksi Online Tewas Ditembak.

Johny menggeliat bangkit, meraih piyamanya, dan beranjak ke kamar mandi. Ah, kriminalitas saban hari. Tapi hari ini akan ada berita bagus buat bisnisnya.

* * *

Sylvie Tanaga
Jumat, 6 April 2018
Pasar Baru – Jakarta Pusat
Pukul 10.04 WIB

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s