Tetralogi Fragmen Pipadi

FRAGMEN 4 – DEBU
Dari debu kembali ke debu.

Kau tahu, analogi ini langganan dikutip buat mengingatkan betapa fananya hidup manusia di dunia. Lenyap dalam hitungan detik. Tak menyisakan apapun, kecuali nama. Dalam nama terkandung reputasi: apakah selama ini kau begitu baik –atau begitu bangsat.

Kau sadari itu sebelum melayangkan tubuh dari balkon apartemen. Menyerahkan diri pada gravitasi yang selama ini telah mengatur segala sesuatunya tertib, tak seliweran di langit-langit. Kau sambut kemerdekaan teriring raung ondel-ondel sebelum jadi seonggok daging dan sekantung debu.

Ya, debu yang disantap angin rakus dalam hitungan detik. Tak menyisakan apapun, kecuali nama.

Sebagai bangsat tulen, kau sadar namamu busuk.
Bukan pahlawan, apalagi orang suci.
Debu dalam arti sesungguh-sungguhnya, yang setiap harinya menempel di kuku, sepatu, sandal, baju, meja, kursi, motor, mobil, bus, pintu, piring, gelas, buku, dompet, tas, guci, duit, upil, dan juga kakus.
Terlalu hina buat dijemput tujuh bidadari.

Sebentar oi, sebentar…. kalau pembaca tak setuju, tutup mulut sajalah.
Toh kalian pun akan kembali jadi debu, suatu saat nanti.

FRAGMEN 3 – LEBUR
Ah, Pipadi. Andai kau tahu apa arti hidup bagiku yang buta.
Tak ada merah, jingga, kuning, hijau, biru, nila, ungu. Itu sebabnya aku ngamuk ketika kau dulu menyanyikanku “Balonku” atau “Pelangi”. Alih-alih menghibur, itu membangkitkan sesak dalam dadaku. Aku minta maaf kalau sejak itu kau tak berani menggandengku sambil melihat perayaan bunga, atau festival musim semi. Kau tahu aku lebih menikmati kelamnya musim dingin.

Tapi percayalah bahwa aku selalu mencintaimu lebih dari apapun, Pipadi.
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana seperti…..
Ah! Tak patut kuteruskan. Itu Sapardi* dan kau Pipadi.
You’re born an original, don’t die a copy.**

Tapi Pipadi… kata mereka Papidi-lah yang terluhur. Dia papi, kau cuma pipa.
Kau palsu. Hoaks. “Pipadi patut dipersekusi! Tak sudi lihat Pipadi!”
Aku minta maaf Pipadi, kau terpaksa lihat apa yang selama ini kulihat.
Hitam, hitam, dan hitam.

FRAGMEN 2 – KEPING
“Tak seorang pun berhak menghakimi hubunganku dengan Tuhan.”
“Kamu salah sangka. Aku tak menghakimimu. Hanya bertanya. Tak boleh?”
“Aku tahu kenapa kamu tanya. Mau pastikan aku berdosa, tentu.”
“Kau yang sedang menghakimi dirimu sendiri.”
“Tak perlu berkelit. Kalau tak hendak menghakimi, buat apa tanya?”
“Terserahmu sajalah. Kalau tak suka, kau berhak diam.”

FRAGMEN 1 – RETAK
“Bencong!”
“Homo!”
“Komunis!”
“Teroris!”
“Zinah!”
“Sesat!”
“Laknat!”
“Penista!”
“Anjing!”
“Jomblo!”

* * *

Sylvie Tanaga
Kemayoran, 1 Juni 2018
Pukul 00.00 WIB

Tetralogi fragmen ini terinspirasi musik klasik “The Four Season” (Le Quattro Stagioni) karya komposer Italia, Antonio Vivaldi (ditulis sekitar tahun 1721 dan dipublikasikan tahun 1725 di Amsterdam). Karya ini merupakan buah perenungan dan apresiasi Vivaldi terhadap empat musim:
• Concerto No. 1 in E major, Op. 8, RV 269, “La primavera” (Spring)
• Concerto No. 2 in G minor, Op. 8, RV 315, “L’estate” (Summer)
• Concerto No. 3 in F major, Op. 8, RV 293, “L’autunno” (Autumn)
• Concerto No. 4 in F minor, Op. 8, RV 297, “L’inverno” (Winter)

*Penggalan pusi karya Sapardi Djoko Damono “Aku ingin mencintaimu dengan sederhana.”
**Judul buku karya John L. Mason (Insight Publishing Group, 1993)

Ilustrasi: “4 Party Talks” (Sylvie Tanaga, 20/11/2013)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s