Resensi Buku: Jurnalisme Kosmopolitan di Negara-Negara Muslim Asia Tenggara

Judul Buku        :  Jurnalisme Kosmopolitan di Negara-negara Muslim Asia                                         Tenggara
Penulis                 :  Janet Steele
Penerjemah       :  Indradya Susanto Putra
Penerbit              :  Bentang Pustaka
Cetakan               :  I, Februari 2018
Tebal Buku        :  xi + 289 halaman

“Dalam dunia tempat Islam sering digambarkan sebagai lawan dari demokrasi dan banyak wartawan yang bukan ‘liberal’ ataupun ‘sekuler’, perjuangan demi keadilan dan membela hak orang-orang yang lemah masih mungkin… ini justru cara wartawan profesional Muslim memahami dan menjelaskan pekerjaan mereka.”
(Janet Steele)

Bicara soal Islam, yang terbersit dalam benak Barat adalah Timur Tengah, budaya Arab, pers yang dikontrol ketat, dan lebih parah lagi – terorisme. Bias menyesatkan ini muncul karena fokus penelitian muktahir tentang jurnalisme dan Islam cenderung mengabaikan Asia Tenggara, rumah bagi 13% populasi Muslim dunia yang kebanyakan tinggal di Indonesia dan Malaysia,

Janet Steele (Associate Professor of Journalism di George Washington University) meneliti praktik pelaporan profesional jurnalis Muslim di lima kantor berita terkemuka di Indonesia dan Malaysia. Kelimanya adalah Republika, Tempo, Sabili, Harakah, dan Malaysiakini. Melalui penelitiannya selama 20 tahun terakhir di kedua negara tersebut, Janet membuktikan bahwa pandangan monolitik Barat tentang jurnalisme dan Islam sungguh keliru.

Dalam kata pengantar, Janet mengungkap bahwa wartawan-wartawan muslim Indonesia dan Malaysia sudah sangat paham gagasan Barat tentang prinsip jurnalisme seperti kebenaran, keseimbangan, verifikasi, dan independen dari penguasa. Yang membedakan hanyalah mereka kerap menggambarkan prinsip-prinsip tersebut dengan ayat-ayat Al-Quran dan hadis.

Prinsip jurnalisme mengenai keberimbangan (covering both sides) atau keadilan, misalnya, sering mengutip ayat: “Wahai orang beriman, jika datang kepada kalian orang fasik yang membawa berita, telitilah berita itu agar kalian tidak memberikan keputusan kepada suatu kaum tanpa pengetahuan sehingga kalian akan menyesali apa yang telah kalian kerjakan.” (QS Al-Hujurat [49]: 6)

Wartawan juga sering menggambarkan proses isnad, atau memeriksa “rantai penyebaran” ucapan dan perbuatan Nabi Muhammad, mirip dengan prinsip jurnalisme verifikasi. Banyak pula akademisi mendefinisikan jurnalisme islami selaras dengan karakter-karakter sesuai ajaran Islam dengan misi amar makruf nahi mungkar atau mengajak kebaikan dan mencegah hal-hal buruk.

Bedanya, muslim cenderung lebih terdorong oleh tujuan keadilan alih-alih kemerdekaan. Itu sebabnya gagasan kebebasan pers tidak diterima dengan cara yang sama di tengah masyarakat mayoritas Muslim Indonesia dan Malaysia dengan Barat. Di Indonesia dan Malaysia, peran pers sebagai pengawas diposisikan bukan dalam liberalisme, tapi lebih pada kewajiban Muslim menghentikan perbuatan jahat ketika melihatnya (hal 25).

Sabili merupakan media paling konservatif dan politis yang mengaum seiring era keterbukaan media di Indonesia. Mengutip Liddle (1996), Islam yang direpresentasikan Sabili adalah skripturalis, literalis, dan bahkan fundamentalis. Jurnalisme-politik-intrik saling silang. Sabili menganggap masyarakat Muslim dikepung banyak musuh: Kristen, pemerintah Barat, para orientalis, dan mereka yang berpendapat bahwa semua agama sama.

Meski banyak digambarkan sebagai sensasional dan provokatif, setidaknya beberapa redaktur majalah ini memikirkan jurnalisme secara serius. Janet bahkan menulis bahwa dari kelima media yang ia teliti, Sabili satu-satunya yang memiliki teori utuh tentang jurnalistik dan Islam, walaupun tidak selalu setia pada prinsip-prinsipnya sendiri (Bab 1, Sabili: Islam Skripturalis).

Bagi Republika, yang didirikan Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI), komunitas Muslim adalah pasar. Islam adalah ceruk pasar. Sejak dijual ke Mahaka Media pada tahun 2000, Republika berusaha tidak menyinggung pembacanya yang kebanyakan kalangan menengah. Artikel-artikelnya tentang Islam pun berupaya memikat komunitas Muslim arus utama.

Sulit untuk tak menyimpulkan Republika kini condong main aman ketimbang menantang kepentingan pembaca ataupun pengiklan. Meski berupaya menyajikan jurnalisme profesional yang bicara atas nama demokrasi dan keadilan ekonomi, pertanyaan besarnya adalah apakah Republika benar-benar melayani kepentingan pembaca atau hanya memuaskan keinginan mereka saja (Bab 2, Republika: Islam Sebagai Ceruk Pasar).

Harakah adalah surat kabar Parti Islam Se-Malaysia (PAS) yang bekerja keras menerapkan prinsip jurnalisme dengan ajaran Islam dan kebutuhan partai politik mereka. Mengutip Cherian George (2006), posisi Harakah sebagai organ partisan membuatnya tak lazim dalam jurnalisme modern dan tak lazim pula di Malaysia karena norma “independensi” sering didengungkan.

Para editor Harakah berupaya menjembatani kebutuhan partai dengan standar jurnalisme islami yang lebih tinggi – tampak dari pandangan tentang verifikasi yang sejalan dengan isnad. Namun terlepas dari komitmen terhadap kebebasan berekspresi, baik PAS maupun semua orang yang terkait dengan Harakah tetap berkomitmen terhadap gagasan negara Islam sehingga para “profesional” meninggalkan Harakah (Bab 3, Harakah: Islam Politik).

Selain mendorong reformasi di Malaysia, pencopotan Anwar Ibrahim pada 1998 juga mengilhami lahirnya sejumlah situs. Salah satunya Malaysiakini. Tak seperti Harakah, tak berafiliasi dengan parpol. Tujuannya adalah menjadi independen. Meski demikian, Janet mengamati bahwa praktik jurnalisme di Malaysiakini tetap dipengaruhi oleh pengotakan etnis dan agama.

Meski wartawan Melayu di Malaysiakini mungkin liberal dalam arti politik, banyak pula yang tidak liberal dalam agama. Demi menyesuaikan nilai-nilai agama dengan pekerjaan, para wartawan Malaysiakini berusaha menekankan kebenaran, pemikiran kritis, dan pelaporan fakta yang dianggap penting dalam Islam (Bab 4, Malaysiakini: Islam Dalam Konteks Sekuler).

Bagi Tempo, yang penting adalah pluralisme, bukan Islam –meski sebagian besar wartawannya Muslim. Terlepas dari pendirian ini, Tempo telah memberi ruang pada para cendekiawan Muslim progresif yang menyerukan pembaruan dalam pemikiran Islam. Dengan demikian, Tempo mengekspresikan pemikirannya pada sebuah pendekatan terhdap Islam yang bisa digambarkan sebagai kosmopolitan (Bab 5, Tempo: Islam Kosmopolitan Dalam Praktik).

Pada akhirnya, seperti penekanan Janet sejak kata pengantar, buku ini tentang jurnalisme sekaligus tentang Islam. Bukan teologi (apa itu Islam) tapi lebih tentang serangkaian praktik (apa yang Muslim lakukan). Meski tak ada kesepakatan tentang hubungan antara jurnalisme dan Islam, semua wartawan Muslim rupanya menganggap diri mereka sedang mencari kebenaran.

Janet menyimpulkan bahwa wartawan Muslim di Indonesia dan Malaysia sebetulnya menjunjung tinggi prinsip-prinsip dasar jurnalisme yang sama. Hanya saja cara mereka dalam memahami prinsip-prinsip tersebut berbeda karena nilai-nilai tempat mereka berpijak tidak liberal. Perjuangan demi keadilan dan perlindungan terhadap yang lemah menjadi ideologi jurnalisme.

Wartawan Muslim di Indonesia dan Malaysia yang menolak label liberal dan sekuler bisa saja mempromosikan toleransi dan demokrasi (hal 236). Dalam amatan Janet, kosmopolitanisme tak hanya tampak pada Tempo tapi juga dalam halaman-halaman Republika, perjuangan “para profesional” di Harakah, orang-orang Melayu Muslim di Malaysiakini –bahkan Sabili.

Di sisi lain, tentu saja ada perbedaan nyata di antara wartawan Indonesia dan Malaysia karena faktor-faktor seperti warisan aturan kolonial, perkembangan awal pers nasional, politisasi agama, otoritas keagamaan, dan peran negara. Di Indonesia, tak ada satu pun amanat dari negara untuk memahami Islam. Malaysia justru sebaliknya (hal 242).

Janet menutup kesimpulannya dengan pernyataan amat menarik: “Terlepas apakah Islam merupakan justifikasi atau penjelasan bagi jurnalisme yang baik, kisah tentang jurnalisme Islam modern adalah titik tolak yang familier dan liberal untuk melawan titik tolak Islam ekstrem. Dalam dunia tempat Islam sering digambarkan sebagai lawan demokrasi dan pluralisme, perjuangan demi keadilan dan membela hak orang-orang lemah masih mungkin.”

* * *

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s