Resensi Buku: Papua Nyawene (Papua Bercerita)

Judul Buku        :  Papua Nyawene (Papua Bercerita)
Penulis                 :  Tim Yayasan Teratai Hati Papua (YTHP)
Penerbit              :  Sunspirit for Justice and Peace
Cetakan               :  I, 2014
Tebal Buku        :  xxi + 267 halaman

“Empat rumpun persoalan yang menandai dinamika Papua dewasa ini adalah kerumitan sejarah integrasi Papua dengan Indonesia, pembangunan yang marak namun gagal membawa kesejahteraan bagi rakyat dan malahan menyebabkan ketidakadilan dan kehancuran ekologis, kekerasan politik dan pelanggaran hak asasi manusia, serta proses marginalisasi orang asli Papua.“
(Papua Nyawene)

Yayasan Teratai Hati Papua (YTHP) –yang selama ini aktif menyuarakan perlawanan terhadap ketidakadilan dan diskriminasi –sadar bahwa upaya mengungkap pengalaman dan pandangan otentik masyarakat non-elit Papua sangatlah krusial. Selama ini, pemahaman publik tentang Papua terlalu bergantung pada perspektif pemerintah atau para peneliti yang belum tentu mencerminkan perspektif masyarakat Papua.

Referensi tentang Papua yang menyodorkan pengalaman dan cara pandang masyarakatnya secara otentik sangatlah langka –boleh dibilang nyaris tak ada. Maka kerja keras YTHP dan Yayasan TIFA dalam mewujudkannya lewat buku ini patut mendapat apresiasi. Metodologi naratif kritis sebagai “pisau bedah” yang dioperasionalisasikan dengan praktik adat Nyawene (bercerita), menjadikan buku ini salah satu referensi terpenting soal Papua.

“Papua Nyawene” disusun sistematis dalam tiga bagian. Bagian pertama menjelaskan metodologi dan konteks. Bagian kedua menyajikan cerita-cerita masyarakat dalam bentuk kutipan-kutipan langsung yang dikategorisasi dengan sangat rapi dalam berbagai topik. Bagian ketiga berisi catatan-catatan reflektif sebagai bekal menata hidup ke arah yang lebih baik.

Bagian pertama diawali paparan terkait penelitian terdahulu YTHP yang menemukan bahwa pembangunan di Papua tak cuma gagal membawa kesejahteraan sesuai janji, tapi justru berbuah peminggiran, kekerasan, dan perampasan sumber daya yang hanya menguntungkan segelintir elit.

Jika penelitian sebelumnya menggunakan metode kajian pembangunan, buku ini lebih menitikberatkan kajian etnografi sosial, dengan menggali cerita masyarakat sebagai metodenya. Mendengarkan, menghimpun, dan mengungkapkan kembali pandangan masyarakat dipilih sebagai metode agar dapat mengangkat pergumulan orang asli Papua yang paling marginal, dengan fokus pada masyarakat di Kabupaten Jayawijaya dan Yahukimo.

Cara-cara yang digunakan meliputi wawancara semi-terstruktur dan terbuka, diskusi, pertemuan individu/kelompok alias focus group, maupun kesaksian dari pengalaman wawancara atau obrolan kolektif. Narasi-narasi yang dikembangkan sejalan dengan spirit emansipasi dekolonial (membongkar sistem kolonial dan patriarki yang selama ini membungkam kelompok tak berdaya). Itu sebabnya tim juga turut melibatkan kelompok perempuan.

Metode bercerita atau metode narasi dapat menjadi alat perjuangan melawan hegemoni kebenaran yang menindas, dan menggantikannya dengan pengetahuan dan kebenaran yang memerdekakan. Selain itu, metode ini juga dikembangkan sejalan dengan tradisi luhur masyarakat Lembah Balim yang disebut dengan “Nyawene”. Nyawene merupakan tradisi duduk dan bicara bersama, menggali masalah hidup bersama, dan berusaha menyelesaikannya bersama-sama pula (hal. 11). Proses Nyawene melibatkan seluruh komunitas dan selalu berpedoman pada nilai-nilai leluhur.

Perpaduan metodologi naratif kritis dengan mekanisme Nyawane memberi bobot lebih. Cerita yang muncul benar-benar merupakan pergumulan masyarakat, bukan rancangan si peneliti. Yang digerakkan bukan logika semata namun juga batin, prinsip hidup, sejarah, dan harapan. Diskusi berlangsung dinamis dan mendalam, serta mampu mengungkap pengalaman kolektif. Peneliti cuma jadi fasilitator dan juru dokumentasi (hal. 14-15).

Awalnya, pembaca lebih dulu diajak berkenalan dengan ragam konteks Papua, khususnya wilayah pegunungan tengah. Setidaknya ada empat isu utama yang menandai dinamika Papua saat ini: kerumitan sejarah integrasi Papua menjadi bagian dari Indonesia, pembangunan yang gagal membawa kesejahteraan bagi rakyat dan malah menyebabkan kehancuran ekologis, kekerasan politik dan pelanggaran hak asasi manusia, serta marginalisasi orang asli Papua.

Kombinasi masalah ini melahirkan apa yang disebut Memoria Passionis atau kenangan kolektif akan penderitaan dan sejarah kelam. Tak sedikit yang berpendapat bahwa kekerasan di Papua merupakan genosida sistematis. Pengalaman pahit ini serupa pengalaman dijajah yang akhirnya memunculkan kerinduan untuk menentukan masa depan sendiri demi keselamatan/survival, kesejahteraan/well-being, dan harga diri/dignity (hal. 37).

Berangkat dari konteks tersebut, bagian kedua buku ini mengantar kita pada narasi yang mengungkap tumpukan persoalan nyata yang dihadapi oleh orang Papua. Seluruh narasi dalam bagian ini disusun sistematis berdasarkan sejumlah isu seperti nilai-nilai adat dan budaya, kontak dengan modernitas, penghidupan dan pangan, pergumulan perempuan, pesoalan pembangunan dan pelayanan publik oleh pemerintah, serta politik dan kepemimpinan.

Proses Nyawane melibatkan lima kampung adat yaitu Hepuba dan Hesatum di Lembah Balim, Kabupaten Jayawijaya, serta Kurima, Huguma, dan Samenage di Kabupaten Yahukimo.

Ada tiga hingga empat pertemuan di tiap kampung, baik pertemuan pleno yang melibatkan seluruh kampung, maupun pertemuan khusus perempuan. Untuk mendalami cerita-cerita tersebut, tim menyelenggarakan pertemuan umum selama tiga hari dengan mengundang lima perwakilan kampung dan tokoh-tokoh kunci Wamena. Selain jadi fasilitator, tim juga mendokumentasikan, membuat transkrip, dan menerjemahkan seluruh hasil pertemuan (hal. 15-16).

Bagian kedua buku ini tampaknya sengaja disajikan dalam kutipan, lengkap dengan identitas narasumber dan asal kampung, supaya hasilnya lebih otentik. Sayangnya, penyuntingannya masih terlalu kasar sehingga cenderung membingungkan pembaca. Kekeliruan penggunaan tanda baca dan huruf kapital bertebaran di mana-mana.

Di luar penggarapan teknis yang masih sangat berantakan, bagian ini berhasil mengungkap pergumulan dan pemikiran warga. Pembaca diajak menyelami secara langsung kegelisahan sekaligus perjuangan yang mereka hadapi sehari-hari. Bagian ini juga jadi menarik karena para fasilitator berhasil menggali lebih dalam perspektif-perspektif mereka mengenai aneka topik masalah.

Kita dapat merasakan betapa frustrasinya orang-orang Papua menghadapi kompleksitas politik yang berdampak pada kehidupan dasar, termasuk pangan, ekonomi, pendidikan, dan kesehatan. Pun sangat terbaca betapa dahsyatnya pergumulan mereka dalam menata kehidupan di tengah geliat pembangunan yang berbalut kekerasan langsung, struktural, dan kultural.

Tak melulu menyoroti eksternal sebagai biang kerok, kita juga dapat membaca secara langsung refleksi kritis warga dalam menyikapi dinamika yang terjadi. Kisah-kisah warga menunjukkan betapa dalamnya kerinduan mereka akan kehidupan yang lebih manusiawi serta masa depan yang lebih baik.

Berikut adalah contoh cerita warga terkait kebiasaan dan nilai-nilai hidup baik yang mulai ditinggalkan:

“Cara hidup kita dari nenek moyang sudah dititipkan sampai orang Belanda masuk itu masih ada. Dan Indonesia masuk pertama juga masih ada. Namun mulai saat-saat ini kita mulai tinggalkan kebiasaan leluhur. Kita sekarang sudah makan sembarang. Barang yang kita tidak boleh makan, kita makan. Perempuan mulai rusak, kita tidak mengumpulkan istri namun kita kawin dan biarkan begitu saja.” (Weagawa Lokobal, Hepuba) – hal. 71

Mengenai perkara penghidupan dan pangan/makan-minum:

“Dahulu masyarakat makan jenis makanan lokal tanpa ada bahan campuran. Apabila merasa perlu ada bahan campuran, maka bahan campurannya diambil dari bahan-bahan lokal yang sudah ada. Hasilnya umur hidup manusia lebih lama dan fisiknya gagah dan kuat. Sekarang masyarakat mengkonsumsi jenis-jenis makanan non lokal yang sudah diolah dalam pabrik, yang telah tercampur unsur-unsur kimia. Hasilnya masyarakat terjangkit dengan berbagai penyakit, ketahanan fisik tidak sekuat seperti dulu sebelum mengenal pengaruh dunia luar.” (Yoppi Asso, Hepuba) – hal. 135

Soal pergumulan perempuan yang kurang didengar:

“Kami perempuan mengeluarkan pendapat tapi laki-laki bilang kamu diam. Dan kadang kita perempuan dapat mengemukakan pendapat tetapi pendapat kami tidak dihargai laki-laki dan tidak diakomodir dan tidak serius. Kami perempuan pencipta sudah ciptakan kita punya napas, pikiran, tapi laki-laki tidak hargai kami punya pendapat.” (Hotik Lokobal, Hepuba) – hal. 148

Terkait pembangunan dan pelayanan publik oleh pemerintah:

“Pasien yang telah mencoba berobat secara medis dan belum merasakan pertolongan, ingin mencoba dengan cara penyembuhan yang lain. Mereka mencari dukun, ternyata bukan sedikit nilai biayanya. Semua harta kekayaan dijual untuk biaya berobat. Bagi mereka yang tidak mampu, tinggal pasrah atas penderitaannya, tunggu untuk mati.” (Charles Asso, Hesatum) – hal. 178

Pada bagian ketiga, sejumlah tokoh Papua memberikan refleksi demi pemahaman yang lebih konstruktuktif. Para tokoh ini sadar betapa orang Papua terancam punah jati dirinya seiring upaya pemiskinan terstruktur, infiltrasi kultural, dan tergerusnya nilai-nilai adat. Pada saat bersamaan, mereka menggaungkan kembali pembangunan “pagar kehidupan” dan dorongan untuk tak pernah menyerah menghadapi peliknya ragam persoalan.

Menawarkan terobosan metodologis dan tematis terkait kajian Papua, Papua Nyawene wajib dibaca oleh siapapun yang tertarik dengan Papua. Ia merupakan sumber refleksi kritis untuk memahami dinamika sosial, politik, ekonomi, dan kultural di tanah Papua –dengan empati dan solidaritas.

Semoga buku ini dapat mendorong dialog yang lebih konkret dan sungguh-sungguh menuju Papua tanah damai dan adil. Itu sudah!

* * *

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s