Daniel Alexander: Pendidikan, Kunci Menuju Papua Berdaya

Oleh: Sylvie Tanaga

Melanglangbuana ke seluruh penjuru dunia sepanjang 1980an, tak sulit bagi Daniel Alexander untuk mendapatkan greencard Amerika Serikat dan hidup nyaman di sana. Namun, panggilan melayani di Papua begitu kuat. Bersama PESAT (Yayasan Pelayanan Desa Terpadu), Daniel masuk Papua pada April 1990. Hatinya teriris hebat melihat tanah Papua yang sangat kaya namun hidup orang-orangnya menderita –bak ayam mati di lumbung padi.

Ia pun terketuk untuk mengembangkan SDM Papua dengan mendirikan sekolah. Bukan berarti perjalanan pria kelahiran 22 Maret 1956 ini mulus. Pada fase awal perintisan sekolah, para guru angkat tangan. Warga lokal yang trauma ditipu berbagai yayasan juga berkali-kali mengancam keluarga Daniel dengan pembunuhan dan pembakaran. Tapi Daniel tak menyerah begitu saja. Cintanya pada orang-orang Papua membuatnya gigih bertahan.

Seiring waktu, Daniel dan tim PESAT akhirnya berhasil mendirikan berbagai sekolah di sejumlah kabupaten Papua, tanpa pungutan biaya. Sekolah-sekolah ini tak hanya mengajarkan kurikulum nasional tapi juga mengakomodasi muatan lokal. Karena kualitas dan fasilitasnya yang baik, sekolah-sekolah ini jadi rujukan sekolah lainnya di Papua. Bergelut 28 tahun di area pendidikan, Daniel mengutarakan cita-cita lainnya: mendirikan rumah sakit.

Daniel adalah sosok yang sangat bersahaja. Senyum ramah selalu menghiasi wajahnya. Logat medhok masih kental meski ia sudah puluhan tahun bermukim di Papua. Kami berjumpa di salah satu kedai kopi di Jakarta Barat. Saya langsung mengenali sosok Daniel dari noken kecil yang ia sandang di bahunya. Di sela kesibukannya yang super padat, berbincang dengannya merupakan kesempatan yang amat berharga. Esok harinya, ia harus kembali ke Nabire. “Jadi malu ah!” ucap Daniel sembari tertawa saat saya mengutarakan keinginan mengetahui kiprah dahsyatnya.


Bagaimana cerita awalnya bisa melayani di daerah terpencil?
Titik balik terjadi saat saya kelas 4 SD. Papa meninggal. Kami jatuh miskin, makan saja susah. Kami nggak bisa beli lauk sehingga cuma makan nasi pakai kelapa parut ditaburi garam. Gurih sekali. Itu sebabnya sampai hari saya suka sekali kelapa. Mama juga selalu nyuruh saya belanja sayur ke pasar. Saya baru belanja sepulang sekolah sehingga sayurnya sudah layu- layu. Kasihan lihat anak kecil, mereka memberi semua sayur layu itu untuk saya bawa pulang.

Saya jadi mikir gimana caranya membalas budi mereka sedangkan saya sendiri nggak punya duit. Mengumpulkan keberanian, saya bilang pada penjual-penjual pasar yang kebanyakan orang tua, “yuk, kita buka arisan!” Mereka kaget. Siapa bandarnya? Saya menawarkan diri. Mereka senang luar biasa. Sejak itulah saya selalu ke pasar sepulang sekolah buat menjalankan arisan. Rasanya senang sekali ngobrol dengan orang-orang pasar. Kami jadi akrab.

Saya kemudian melanjutkan SMP di Surabaya. Waktu kelas 2 SMP, untuk pertama kalinya saya punya mentor rohani yaitu guru agama saya. Hidup saya berubah total. Tahun 1972, saya bertemu mentor lainnya yaitu alm. Yeremia Rim. Beliau adalah sosok yang punya hati luar biasa untuk masyarakat pedalaman. Tahun 1974, untuk pertama kalinya saya meninggalkan Surabaya dan empat bulan ke kampung-kampung di Sulawesi Utara. Sejak itulah hati saya terbeban untuk desa-desa

Tahun 1975, saya dan empat teman lainnya masuk lagi ke wilayah Sungai Mahakam, pedalaman Kalimantan Timur. Nggak ada listrik, sepeda, telepon, atau apapun juga. Kami betul-betul “hilang” selama enam bulan penuh, masuk 9 November 1975 dan keluar lagi akhir April 1976. Semangat menggebu-gebu. Kami melayani berbagai suku yang tersebar di 41 kampung dengan jalan kaki dan naik perahu kecil. Di situlah panggilan melayani di pedalaman makin kuat.

Pelayanan yang Pak Daniel lakukan waktu itu?
Macam-macam. Mendoakan orang sakit, mengajar anak-anak baca tulis, konseling keluarga, mengajar cara hidup bersih dan sehat. Pokoknya semua dikerjakan sebisanya supaya masyarakat terbantu. Pengalamannya seru sekali. Bayangkan, saya jadi betah enam bulan tinggal di sana. Sejak itu, saya jadi suka keliling-keliling melayani di berbagai wilayah pedalaman Indonesia.

Setelah itu Pak Daniel juga melayani banyak orang di benua Asia, Australia, Eropa, Amerika, bahkan Afrika. Bagaimana akhirnya bisa berlabuh di Papua?
Agustus 1989 ketika sedang di Amerika Serikat, saya dibawa seorang rekan ke sebuah toko buku di Pasadena, California. Saya suka sekali baca buku. Kalau sudah di toko buku, bisa empat jam lebih. Waktu itu, mata saya langsung terpaku pada sebuah buku yang di rak New Arrival. Judulnya “From Jerusalem to Irian Jaya”. Entah kenapa saya langsung ambil dan bayar. Saya cuma lima menit di situ sampai teman kira saya sakit perut! Hahahahaha

Buku karya Ruth A. Tucker ini adalah birografi para misionaris yang disusun secara kronologis. Bagus sekali! Ending-nya tertulis bahwa the end of the earth itu Irian Jaya, sekarang Papua. Wuih, saya merinding! Untuk apa selama ini capek-capek keliling dunia kalau ujung bumi ada di negara sendiri? Saya jadi sangat terpanggil melayani masyarakat pedalaman Papua.

Tahun 1989, saya sudah mendirikan PESAT (Yayasan Pelayanan Desa Terpadu) yang tujuan utamanya memberdayakan masyarakat desa yang selama ini hidup dalam kondisi memprihatinkan. Saya masuk Papua untuk pertama kalinya pada April 1990 bersama PESAT. Sampai sana, nggak langsung melayani tapi lebih dulu caritahu kenapa disebut sebagai ujung bumi.

Sebelas bulan meneliti di sana, saya memetik tiga kesimpulan. Pertama, Papua adalah satu-satunya tempat di dunia dimana masyarakatnya belum mengenal sistem roda. Dalam ilmu antropologi, sistem roda adalah penanda suatu masyarakat sudah mengaplikasikan teknologi. Di Papua, semua barang masih dipikul. Kedua, tulisan sebagai penanda beralihnya era prasejarah juga belum banyak ditemukan. Ketiga, Papua tanah paling kaya di dunia. Semua jenis mineral ada di sana, nggak tahu kenapa Tuhan ciptakan seperti itu.

Saya pun caritahu apa yang menyebabkan mereka menangis. Kami ingin hadir menghapus air mata mereka. Jawaban yang saya temukan: mereka tinggal dan hidup di tanah paling kaya sedunia tapi hidupnya paling miskin karena tidak memiliki kapasitas untuk mengelola tanahnya sendiri. Tidak ada yang mendidik. Sulit berkutik saat pihak lain mengeksploitasi tanah mereka.

Sejak itulah Pak Daniel berusaha mendirikan sekolah….
Saya berusaha mendirikan SMA di Wamena pada Juli 1991, tapi gagal. Maksud saya mendirikan SMA adalah untuk mempercepat pengembangan SDM supaya begitu lulus mereka bisa langsung lanjut kuliah. Tahun 1993, waktu anak-anak naik kelas 3, sekolah terancam tutup karena guru-gurunya nggak sanggup. Aduh, rasanya sedih sekali. Saya tidak tahu lagi harus berbuat apa.

Kemudian, saya datangkan seorang konsultan pendidikan dari IKIP Surabaya untuk membantu meneliti mengapa guru-guru sampai nggak sanggup. Selang dua minggu, dia bilang kami perlu dua ahli. Pertama, psikolog. Kedua, ahli genetika. Saya terkejut. Kok ahli genetika? Tahun 1993 itu Indonesia masih langka ahli genetika, baru satu doktor di Surabaya kalau nggak salah.

“Gini lho, saya baru ketemu suku bangsa yang dalam benak mereka nggak ada bilangan pecahan,” kata si konsultan. Di situlah saya baru sadar. Pantas saja di pasar, toko, atau supermarket tidak ada barang-barang yang harganya dibandrol Rp 1.240 atau Rp 1.450. Semua harus bulat. Dulu Rp 1000, Rp 2000, Rp 5000. Sekarang Rp 5000, Rp 10.000, Rp 20.000, dan seterusnya.

Besoknya, saya diajak masuk kelas untuk melihatnya mengajar. Pagi-pagi, dia masuk kelas dengan membawa lima buah pisang. Saya duduk di belakang. Dia panggil dua anak, minta mereka menjawab bagaimana lima pisang tersebut bisa dibagi rata untuk keduanya. Lama sekali mereka berpikir, nggak bisa langsung menjawab dua setengah. Seorang siswa, yang tidak ditanya, tiba-tiba nyletuk, “Bapak, pisangnya mentah atau masak? Kalau pisangnya mentah, Bapak ambil semua. Kalau pisangnya masak, saya ambil semua.”

Mendengar itu, saya lari keluar dan menangis di belakang. Kenapa keadaan bisa seperti ini? Akhirnya saya putuskan bahwa sekolah nggak boleh tutup. Saya dapat inspirasi untuk mendirikan sekolah dengan format asrama yang tidak memungut biaya. Satu tahun TK, enam tahun SD, tiga tahun SMP, tiga tahun SMA, empat-lima tahun perguruan tinggi. Delapan belas tahun totalnya.

Waktu itu, Papua masih terdiri dari sembilan kabupaten yaitu Jayawijaya, Wamena, Merauke, Biak Numfor, Manokwari, Sorong, Paniai, Fak-Fak, dan Serui. Saya berkeliling menyosialisasikan sekolah ini. Awalnya tidak ada setuju, malah menakut-nakuti. “Babi dan anjing saja kalau diapa-apakan kena denda. Ini Bapak mau ambil anak-anak mereka. Bisa masalah besar!”

Tapi saya dan tim terus jalan hingga lama-lama mereka terima. TK pertama berpola asrama berdiri pada 16 Juli 1995. Guru pertama namanya Ibu Yulianti, asal Lampung. Ibu Yulianti meninggal September 2001 karena malaria. Tahun 1996, kami buka lagi sekolah lainnya. Sampai sekarang terus berkembang di berbagai kabupaten dan bukan hanya SMA tapi juga SMK. Lulusannya ada yang sudah jadi guru, camat, dan sebagainya. Kalau dihitung-hitung, jumlah murid yang lulus dari sekolah kami mungkin sudah lebih dari 4000 orang.

Daniel Alexander bersama sejumlah siswa di SMA yang ia dirikan di Papua bersama Yayasan PESAT. (Dok. Daniel Alexander)

Sekolah-sekolah yang Pak Daniel dirikan bersama Yayasan PESAT tidak memungut biaya sama sekali. Bahkan harus memberi makan sehari tiga kali. Bukankah biayanya tidak sedikit?
Ini adalah tahun ke-23 kami mendirikan sekolah gratis. Puji Tuhan, sudah enam tahun terakhir guru-guru akhirnya bisa mendapat gaji full. Dulu kami pernah hanya bisa menggaji 50 persen, itu pun kadang-kadang nggak ada. Pernah lho guru-guru asrama nggak terima gaji sembilan bulan gara-gara nggak ada uang. Tapi pekerjaan mereka tetap luar biasa.

Mungkin mereka juga lihat istri saya yang orang Kanada, bersedia melayani sepenuh hati. Itu menambah semangat mereka. Saya juga transparan dalam hal keuangan. Saya selalu terbuka memperlihatkan kondisi keuangan pribadi kami. Kami pergi begini pun rumah nggak pernah dikunci. Mereka tahu persis luar-dalam kami. Mungkin dari situlah loyalitas muncul.

Selain itu, kami satu-satunya yayasan yang tidak pernah mengajukan proposal dana ke pemerintah. Bersyukur kami akhirnya dapat cukup banyak suporter. Tidak ada yang dari luar negeri sama sekali. Semua dari Indonesia. Itu sebabnya pemerintah melihat kami sebagai contoh. Kata mereka pada yayasan lainnya, “hei, kalian jangan cuma minta-minta duit. Belajar dong dari PESAT.”

Apa saja tantangan dan pergumulan yang Pak Daniel alami selama merintis sekolah-sekolah di Papua?
Ada dua fase. Fase pertama terjadi enam sampai delapan tahun pertama kami tinggal di Papua. Kami dimusuhi orang Papua. Sekolah, asrama, dan rumah kami mau dibakar. Anak-anak kami diancam akan diculik dan dibunuh. Suatu malam saat sedang doa bersama, rumah kami digedor dan dibuka paksa. Sebuah motor yang mesinnya masih hidup, dilempar masuk ke dalam ruang tamu. Seorang warga kemudian masuk sambil membawa parang.

“Kalian penipu semua! Kalian jual anak-anak kami!” Wuih, saya kaget sekali. Tapi mereka nggak salah. Selama ini sudah banyak yayasan yang cuma memfoto anak-anak dan dikirim ke luar, tapi nggak ada hasilnya. Wajar dong mereka jadi curiga begitu. Waktu itu saya hanya menjawab bahwa tidak ada buktinya kami melakukan itu. SD saja baru mulai digagas. Saya bahkan pernah dipanggil ke kantor DPR untuk diinterogasi. Kami luar biasa dicurigai.

Fase kedua, setelah sekolah-sekolah berjalan, cukup banyak yang iri hati. Mereka menyebar gosip macam-macam, tapi belakangan sudah nggak muncul lagi. Paling-paling menghadapi orang tua yang marah karena anaknya nggak diterima masuk sekolah. Guru-guru kami sudah biasa menghadapi ancaman orang tua yang datang ke sekolah dengan membawa parang. Kami mengerti bahwa sekolah asrama menjadi harapan besar bagi para orang tua.

Respons masyarakat Papua terhadap sekolah-sekolah tersebut?
Wuih luar biasa! Pendaftaran sekolah-sekolah kami unik. Baru juga dibuka, sudah habis dalam beberapa jam. Kami terpaksa membatasi hanya dua anak dalam satu keluarga (kakak-beradik) yang boleh mendaftar. Kalau nggak kasihan anak yang lain. Selain mutunya guru-gurunya bagus, fasilitasnya juga lengkap. Makanya sampai sekarang kami kewalahan.

Sekolah-sekolah kami juga masih satu-satunya sekolah asrama yang bebas biaya. Mana ada yang mau ngasih anak-anak makan gratis? Selama ini pemerintah sudah banyak bangun asrama karena memang ada anggarannya, tapi kebanyakan hanya fisik. Itu sebabnya PESAT sering jadi rujukan. Banyak sekali permintaan agar kami bisa menambah sekolah, asrama, dan guru. Tapi kami berharap pihak-pihak lain ikut bergerak, bukan cuma PESAT.

Daniel Alexander bercengkrama dengan anak-anak Papua. (Dok. Daniel Alexander)

Apa saja yang diajarkan di sekolah?
Pelajaran-pelajaran sesuai kurikulum nasional. Tapi banyak muatan lokalnya. Kami nggak mau Jawanisasi. Makan pagi pun menunya ubi saja, sesuai makanan sehari-hari di rumah. Buat mereka, makan ubi juga jauh lebih kenyang daripada makan nasi. Sekolah-sekolah kami juga tidak eksklusif untuk orang-orang Kristen. Banyak juga murid-murid yang muslim.

Apa saja tantangan yang dihadapi orang-orang Papua hari ini?
Selain perang suku atau perang antara orang gunung dan pantai, persoalan besar lainnya adalah penyakit. Di Papua, tiga penyakit paling mematikan adalah malaria, TBC, dan HIV/AIDS. Tiga guru kami meninggal gara-gara malaria. Tiga penyakit ini seperti kakak-adik. Fisik lemah, malaria kambuh. Saat malaria kambuh dan menggerogoti daya tahan tubuh, kuman TBC gampang masuk. Kalau sudah TBC, masyarakat rentan terjangkit HIV/AIDS.

Setelah merintis banyak sekolah, adakah kerinduan lain yang belum terwujud?
Saya ingin mendirikan rumah sakit. Denah dan maketnya sudah ada sejak tahun 2001. Tahun 2004, kami sudah membangun klinik tapi roboh karena gempa. Kami sudah punya tujuh hektar lahan di pinggir pantai Nabire. Kenapa pantai? Pertama, udara pantai kaya kandungan garam yang sangat menyehatkan bagi penderita TBC. Kedua, mempermudah warga yang datang dari kampung lain dengan perahu. Ketiga, posisi Nabire itu di tengah sehingga mudah diakses masyarakat dari ujung timur, utara, selatan, maupun barat.

Rumah sakitnya berupa cottage. Satu pasien, satu cottage. Sistem cottage dapat mencegah penularan. Keluarga pasien juga bisa ikut menginap dan merasa seperti di rumah sendiri. Kalau ditunggu oleh orang-orang yang mengasihi, orang sakit akan cepat sembuh lho. Mereka juga bisa masak sendiri –dengan kandungan gizi yang diatur. Energinya tidak pakai listrik tapi solar sel. Rumah sakit ini nantinya juga akan membekali warga dengan pelatihan-pelatihan soal perilaku hidup bersih dan sehat. Jadi jangan sampai menunggu sakit. Kami juga pakai nama “Rumah Kesembuhan”, bukan “Rumah Sakit”.

Tahun 2001, kami menghitung dana yang dibutuhkan untuk mewujudkannya sekitar Rp 40 miliar. Sekarang tidak tahu berapa. Tadinya kami juga sudah mengumpulkan 13 dokter tapi karena rumah sakit belum dibangun juga, mereka nyebar lagi. Kalau rumah sakit sudah jadi, mereka siap kembali.

Apa makna kehidupan bagi Pak Daniel?
Hidup itu bekerja memberi buah. Ada empat poin yang saya pelajari. Satu, sampai hari ini belum pernah ada pohon buah tahu rasa buahnya sendiri. Tapi mereka nggak pernah berhenti berbuah. Logikanya, untuk apa kerja kalau tak menikmati hasilnya? Tapi pemahaman ini membuat saya tak tertarik untuk menikmati rasa buah dari pekerjaan saya sendiri.

Kedua, dimana ada pohon buah pasti ada bijinya. Itu artinya ada multiplikasi. Dan ini sudah terjadi ketika sekolah-sekolah yang dirintis terus berkembang. Ketiga, dimana ada pohon buah, orang pasti datang tanpa perlu iklan. Keempat, pohon buah pasti nggak pernah sendiri. Pohon-pohon lainnya tumbuh. Itu sebabnya hidup saya nggak pernah sepi. Rumah selalu ramai.

Empat hal inilah yang membulatkan tekad saya untuk selalu berbuah dalam hidup ini. Karena alasan-alasan inilah saya sempat takut menikah. Istri mana mau diajak miskin terus? Hahahahaha

Tapi akhirnya Pak Daniel menikah juga, hehehehehe….
Tuhan tahu saya butuh, hahahahaha…. Istri saya, Louisa, orangnya nggak pusing. Waktu di Kanada saya bilang, “kalau memang kehendak Tuhan kita menikah, ikut aku ke Indonesia dan kita akan tinggal di Papua.” Dia bilang, siap! Ya udah. Sebelum pindah ke Papua, kami sudah empat kali pindah di Surabaya –nggak tahu mau ke mana. Pokoknya begitu kontrak habis, packing semua. Dia diam aja, nggak pusing. Luar biasa banget!

Daniel Alexander bersama istri tercintanya, Lucy Louise Alexander. (Dok. Pribadi Daniel Alexander)

Satu-satunya hal yang merusak dan menghancurkan panggilan itu bukan setan tapi salah menikah. Pasangan kita akan menentukan. Sudah banyak kejadian. Teman-teman saya luar biasa sebelum menikah, tapi hancur setelah menikah. Inilah yang selalu saya ingatkan pada anak-anak muda. Salah menikah itu seperti ngemut silet seumur hidup. Nggak bisa dikeluarin, nggak bisa ditelan.

* * *

Advertisements

2 thoughts on “Daniel Alexander: Pendidikan, Kunci Menuju Papua Berdaya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s