Kritis Dibalik Jeprat-Jepret

“It’s sometimes said that a photographer takes the same image over and over again –and that it is always an image of the self.”
Max Houghton

Hari-hari ini, ketika akses kepemilikan terhadap kamera jauh lebih mudah, semua orang adalah fotografer. Media sosial membuat hasil jeprat-jepret dapat dilihat seketika oleh seisi dunia. Pertukaran pengalaman dan informasi terjadi. Untuk Indonesia yang masyarakatnya sangat visual, komunikasi lewat medium foto terasa sangat intens membanjiri semua kanal media sosial, bahkan yang sifatnya lebih personal seperti Whatsapp.

Kita menerima maupun mengunggah foto dengan kecepatan ekspres, karena alasan apapun. Nyaris tak ada jeda untuk mencerna foto yang kita lihat atau unggah. Mata terbiasa ngebut memindai layar, bahkan langsung tergerak memviralkannya jika otak dan jempol keburu gatal. Tak heran jika Indonesia tercatat sebagai negara pengguna Instagram keempat terbesar di dunia, setelah Amerika Serikat, India, dan Brazil (Juli 2018).

Sayangnya, tak banyak masyarakat menyadari andilnya dalam memproduksi dan mereproduksi pengetahuan (informasi, nilai, prinsip, fakta, konsep, pemahaman) lewat fotografi. Foto identik dengan estetika semata. Padahal, pengetahuan yang diperoleh lewat fotografi tidaklah netral karena keterbatasannya merepresentasikan seluruh realita. Karena pengetahuan yang tak netral itulah sikap kritis dibutuhkan dalam memahami pesan sebuah foto.

Persoalan makin kompleks karena masyarakat yang menerima pengetahuan terdiri dari beragam latar. Perbedaan latar (budaya, agama, ekonomi, pendidikan, dan seterusnya) tentu menimbulkan interpretasi yang berbeda ketika membaca karya-karya visual. Dampaknya, muncul rupa-rupa peristiwa –dalam lingkup personal, regional, nasional, maupun global.

Pada titik inilah peran edukasi menjadi sebuah urgensi, termasuk jalur non-formal seperti workshop fotografi. Sayangnya, kebanyakan workshop fotografi di Indonesia masih asyik berkutat pada perkara-perkara teknis ketimbang berusaha menggali makna dibalik karya.

Maka upaya Arkademy Project lewat workshop fotografi kritis betul-betul patut diapresiasi. Arkademy Project, yang anggotanya tak hanya berprofesi sebagai fotografer penuh waktu, selama ini aktif berkeliling ke sejumlah wilayah nusantara dalam rangka mengembangkan literasi visual.

Saya bersyukur mendapat kesempatan menjadi salah seorang peserta workshop mereka pada 1-2 September 2018 silam di Third Eye Space, Jakarta. Mengambil tema “Reflective and Narrative” (R.A.N.A), workshop ini berupaya menggali potensi dari refleksi diri seorang fotografer berdasarkan karya-karya fotografi lewat metode diskusi dan penyuntingan.

Meski durasinya relatif singkat, workshop ini memberi pemahaman berharga tentang keterbatasan medium fotografi dalam merepresentasikan realita sekaligus memperlihatkan betapa krusialnya pemahaman fotografer saat menekan tombol “klik” pada kameranya. Pendeknya, membuat saya merenung lebih panjang sebelum maupun sesudah jeprat-jepret.

Dan ternyata, mengambil jeda itu sungguh sulit!

Di era yang serba ngebut, banyak anggapan bahwa merenung itu tindakan buang-buang waktu. Workshop R.A.N.A terutama menyadarkan saya bahwa berpikir kritis dan reflektif butuh ketekunan berlatih. Fokusnya bukan hanya diri sendiri namun juga masyarakat yang akan melihat karya-karya visual kita.

Riset adalah Koentji
Sebagai pembaca foto, workshop R.A.N.A memicu kita bertanya lebih dalam ketika menyaksikan karya-karya foto apapun. Seperti halnya teks berita, pengetahuan yang kita dapatkan dari sepotong foto tak bisa dipercaya begitu saja. Perlu verifikasi berlapis untuk memastikan validitas sumbernya –melalui riset, diskusi, atau membandingkan sumber-sumber informasi lainnya.

Sebagai fotografer, workshop ini mendorong kita mampu menyampaikan gagasan melalui foto-foto yang bercerita. Gagasan perlu didukung oleh pemahaman mendalam yang diperoleh lewat berbagai cara seperti riset, wawancara, diskusi kelompok, observasi, dan sebagainya.

Butuh pemahaman non-fotografis untuk menghasilkan karya-karya fotografi yang reflektif dan kritis. Itu sebabnya saya menggandeng teman-teman dari aneka latar seperti Ben Laksana (sosiologi) dan Rara Sekar (antropologi),” tutur Yoppy Pieter, salah seorang pengampu workshop R.A.N.A yang merupakan fotografer profesional berjejak rekam internasional.

Riset menjadi kunci vital mengingat seorang fotografer tak bisa begitu saja melepaskan bias dalam benaknya. Pemahaman dan asumsi-asumsi terhadap suatu isu akan sangat mempengaruhi cara fotografer mengambil sebuah foto (merepresentasikan subyek/obyek foto). Dan hasil jepretannya tentu akan memunculkan persepsi di benak mereka yang melihatnya.

Makin dalam pemahaman fotografer, makin dekat karyanya dengan realita. Seorang fotografer mestinya punya tanggung jawab untuk berdiri sedekat mungkin dengan realita. Sebagai contoh, jepretan karya Robert Frank di bawah ini mampu menyampaikan pesan gamblang terkait kondisi sosial-politik yang terjadi di Amerika Serikat pada pertengahan abad 20.

Fotografer: Robert Frank (“The Americans”, 1959)

Foto ikonik ini mungkin tak muncul jika sebelumnya Robert Frank tak punya pemahaman mendalam soal struktur sosial, serta persoalan kemanusiaan yang terjadi kala itu. Foto ini menjadi sampul dari buku fotografi yang dibuatnya bersama novelis Jack Kerouac, “The Americans” (1959). Ironi kehidupan orang Amerika Serikat terefleksi dengan sangat gamblang dalam buku tersebut.

Fotografi itu harusnya 70% riset, 10% budget, dan 20% motret. Di Indonesia terbalik. 70% motret, 10% budget, baru 20% riset sehingga hasilnya seperti itu. Tanpa riset, fotografer hanya mereproduksi asumsi-asumsi yang diterima dari masyarakat sekitar. Tapi nggak bisa disalahkan juga, mungkin masyarakat kita belum terbiasa riset. Dan riset-riset yang ada selama ini pun belum mengarah pada pemikiran kritis,” papar Yoppy.

Pemahaman mendalam melalui riset juga akan menghindarkan kita dari romantisasi. Fotografer yang cuma fokus pada urusan teknis seperti komposisi dan pencahayaan bisa terjebak hanya menonjolkan eksotisme subyek atau obyek yang “berbeda” dengan kita. Hasilnya tentu akan berdampak pada mereka yang difoto, juga mereka yang melihat foto-foto tersebut. Sejarah memperlihatkan bagaimana foto berdampak mengubah hidup seseorang bahkan sanggup mengubah haluan suatu negara.

Pertanyaan-pertanyaan berikut dapat memandu para fotografer untuk mengkritisi karya-karya mereka sendiri.

Apa narasi yang ingin disampaikan melalui foto-foto tersebut?
Mengapa tertarik dengan topik atau subyek tersebut?
Apa dampak dari narasi foto terhadap subyek/obyek yang dipotret?
Apa dampak dari narasi foto terhadap mereka yang melihatnya?
Pengetahuan/nilai/opini apa yang akan mereka terima?

Peran Vital Penyuntingan
Sebagai seorang penulis, saya tahu arti penting seorang editor atau penyunting. Mereka bukan cuma berperan memeriksa typo tapi juga memverifikasi detail fakta, logika kalimat, alur, dan sebagainya. Seorang penyunting berperan menyajikan tulisan yang memikat bagi para pembaca.

Lewat workshop R.A.N.A, saya baru tahu bahwa dalam fotografi pun ada proses penyuntingan. Seperti dunia tulisan, penyunting foto amat berperan memastikan logika, kosakata, rasa, dan alur tersaji dengan apik dalam cerita foto. Ada introduksi, klimaks, antiklimaks, dan seterusnya. Ini berarti penyuntingan juga melibatkan unsur seni yang terasah seiring waktu, termasuk dari medium-medium lainnya seperti film, puisi, dan novel.

Dalam workshop ini, seluruh peserta diajar menyunting karya sendiri, juga mengkurasi karya foto para peserta lain. Lima belas foto pilihan masing-masing peserta yang sudah dicetak seukuran 4R dijajarkan membentang di atas meja bersama lima belas foto tambahan lainnya.

Proses penyuntingan cerita foto karya para peserta workshop R.A.N.A

Dipandu Yoppy Pieter, Muhammad Fadli, Ben K.C. Laksana, dan Rara Sekar dengan metode diskusi, para peserta menyusun foto-foto tersebut berdasarkan alur cerita yang mereka susun sendiri. Dalam proses inilah terlihat betapa krusialnya pemahaman mendalam para peserta terhadap karya-karya mereka sendiri. Riset yang kurang mendalam atau terlalu berjarak dengan subyek/obyek yang difoto membuat hasil akhirnya kurang maksimal.

Menariknya, karya foto para peserta sangat beragam –entah dokumentasi perjalanan atau peristiwa, human interest, jurnalistik, maupun foto puisi. Apapun jenisnya, pemikiran kritis dan reflektif jadi landasan utama bercerita. Bagi saya yang lebih terbiasa dengan medium tulisan, sesi ini luar biasa menantang, seperti menyusun kepingan puzzle. Bikin kepala ngepul.

Bukan berarti teknis tidak penting. “Teknis itu syarat. Kalau risetnya bagus tapi tulisannya nggak kebaca ya percuma juga. Tapi teknis bukan akhir segalanya. Tanpa gagasan, kita hanya terjebak mereplikasi apa yang sudah ada sehingga ikut merangkul kebodohan-kebodohan,” jelas Ben K.C. Laksana.

Pada sesi pamungkas, seluruh peserta belajar mempresentasikan karya-karya foto mereka dalam narasi yang singkat, padat, dan jelas selama masing-masing satu menit di hadapan para pengunjung. “Soalnya rata-rata fotografer terbiasa kerja dibalik layar. Mereka gelagapan waktu disuruh pitching,” ungkap Ben.

* * *

Advertisements

One thought on “Kritis Dibalik Jeprat-Jepret

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s