Yuk Kritis Membaca Foto

“Diperlukan pengetahuan non-fotografi untuk memahami fotografi lebih reflektif dan kritis.”
Ben K.C Laksana & Rara Sekar Larasati

Ketika akses terhadap kamera makin mudah, foto jadi seperti napas: hadir di manapun, kapanpun kita melangkah –brosur belanja, baliho, menu makanan, kartu identitas, koran/majalah, hingga media sosial. Masyarakat mudah menghasilkan karya foto dan mengunggahnya dalam hitungan detik. Sadar atau tidak, kita semua telah menjadi fotografer. Indonesia pun tercatat sebagai negara pengguna media sosial terbesar di dunia, apapun jenisnya.

Meski masyarakat Indonesia sangat visual, sayangnya, fotografi sebagai bahasa visual sangat jarang dibahas secara mendalam –bahkan dibandingkan film yang notabene turunan fotografi. Padahal, foto mengandung berbagai pengetahuan yang sangat potensial mempengaruhi perspektif masyarakat. Pembahasan yang ada selama ini lebih sibuk membahas teknis atau estetika semata. Tak heran jika masyarakat Indonesia jadi sangat rawan menerima hoax dalam bentuk visual.

Keprihatinan inilah yang mendorong Arkademy Project menyelenggarakan Workshop Analisa Citra dan Makna (WACANA) pada 16-17 September 2018 di Third Eye Space, Jakarta. Workshop ini hanya selang dua minggu setelah workshop Reflective and Narrative (RANA). Jika RANA berupaya menggali refleksi diri fotografer, WACANA bertujuan melatih pembacaan dan analisis foto melalui studi referensi sejarah dan aneka konteks kerangka berpikir.

Metode diskusi yang sangat mengalir membuat para peserta aktif memaparkan pembacaan atas karya foto mereka sendiri, foto peserta lain, juga beberapa karya penting dalam sejarah fotografi. Bentuk akhir tiap sesi adalah tulisan yang berisi analisis singkat. Mengapa tulisan?

Diskusi dalam sesi pembacaan foto-foto karya para peserta WACANA

“Fotografi di Indonesia cenderung mandek karena minimnya kritik tentang foto. Banyak yang membuat buku foto (zine) tapi cuma jadi ekspresi personal, tak ada dialog lanjutan. Padahal karya-karya mereka bicara soal berbagai hal menarik mulai dari eksistensi diri, kegalauan, manusia yang jadi mesin, hingga urusan negara. Itu sebabnya kami berharap workshop ini bisa melahirkan penulis-penulis fotografi,” ucap Rara Sekar, mentor Arkademy Project.

Mentor lainnya, Ben K.C. Laksana, melihat bahwa menulis jadi hal yang sangat penting mengingat fotografi sangat multi-interpretasi. “Kita membutuhkan para fotografer yang juga bisa menulis tentang karya-karya mereka sendiri. Kalau tidak ditulis, mungkin pesan yang ingin disampaikan melalui foto-foto mereka jadi tidak tersampaikan dengan baik,” tutur Ben.

4 Aspek Membaca Foto
Dibanding lukisan yang sudah lahir ribuan tahun silam, usia fotografi baru 170 tahun. Namun dampaknya saat ini jauh lebih bergaung dibanding lukisan. Itu sebabnya fotografi harus dipahami sebagaimana kita memahami media komunikasi lisan atau teks. Fotografi adalah bahasa visual. Tentunya, perlu kesepakatan bersama agar komunikasi visual ini dapat berjalan lancar.

Masalahnya, belum ada kamus yang dapat dijadikan acuan untuk menerjemahkan foto secara universal sehingga komunikasi lewat fotografi masih sangat kompleks. Foto menimbulkan beragam tafsir yang sangat bergantung pada pengalaman, wawasan, bahkan perasaan. Akan sangat berbahaya jika tafsir tersebut diklaim sebagai kebenaran tunggal.

Literasi visual pun jadi kunci penting dalam membaca karya-karya foto.

“Walau belum ada kamus universal untuk menerjemahkan foto, paling tidak kita bisa menerapkan metode pembacaan foto berdasarkan empat aspek yaitu visual, teknis, konteks fotografis, dan konteks non-fotografis,” papar Kurniadi Widodo, mentor Arkademy Project yang berprofesi sebagai fotografer dan pengajar yang telah 12 tahun menggeluti dunia fotografi.

4 Aspek dalam Metode Pembacaan Foto (Kurniadi Widodo)

Aspek visual berupaya mengidentifikasi elemen-elemen yang langsung terlihat dalam foto. Aspek teknis berkaitan dengan segala sesuatu yang berhubungan dengan bagaimana sebuah imaji fotografis terbentuk. Aspek konteks fotografis melihat latar belakang sang fotografer, kelengkapan foto, dan aspek historis fotografi sebagai medium. Aspek konteks non-fotografis berupaya menyelami aspek historis lokal dan global di seputar foto, relasi dengan medium kreatif lainnya, interdisipliner, serta distribusinya.

Baca Foto Secara Kontekstual
Membaca foto secara kontekstual merupakan hal krusial dalam menghasilkan analisa-analisa kritis. Pemahaman akan beragam konteks mendorong kita tak sekadar membaca foto secara hitam-putih atau terbentur aspek teknis/estetika semata. Perlu bacaan lebih lanjut, diskusi, dan aneka referensi lainnya supaya pembaca foto dapat memahami berbagai konteks dengan baik.

“Pertama-tama, kita perlu mengakui bahwa foto mengandung pengetahuan. Foto-foto di WhatsApp group keluarga atau berita berupaya menyampaikan suatu hal sekalipun tidak ada teks yang dapat kita baca. Sadari pula bahwa medium foto itu sangat terbatas sehingga tak mampu merepresentasikan realita secara menyeluruh. Jangan melihatnya sebagai kebenaran tunggal,” papar Ben Laksana yang menjadi mentor di sesi ini bersama Rara Sekar.

Diskusi WACANA sesi pembacaan foto secara kontekstual, dipandu oleh dua mentor Arkademy Project yaitu Ben K.C. Laksana dan Rara Sekar

“Fotografer pun sangat dipengaruhi pengetahuan yang ia peroleh dari masyarakat sekitarnya. Foto sebagai medium ekspresi dan pengetahuan tak pernah muncul dari ruang vakum. Pasti ada konteks lingkungan sosial, politik, budaya, ekonomi, dan lain-lain yang melatarbelakangi lahirnya foto. Artinya, fotografer sedang membentuk realita. Pertanyaannya, realita macam apa yang dibentuk? Yang memanusiakan atau justru mendehumanisasi?” tanya Ben, retoris.

Seiring perannya dalam menyampaikan makna dan mengkomunikasikan pengetahuan, fotografi dapat memperkuat atau justru menantang stereotip seperti ras, gender, kelas, bahkan nasionalisme. Fotografer pun dapat menawarkan alternatif atau pengetahuan baru dari hal-hal yang selama ini dianggap sebagai kewajaran sehingga foto dapat menjadi medium edukasi.

“Misalnya foto atlet Indonesia menang di Asian Games atau anak kecil nekat memanjat tiang bendera yang sangat tinggi untuk memperbaiki bendera nyangkut. Bagi mereka yang nasionalis, foto tersebut jadi medium yang menguatkan nasionalismenya. Tapi bisa juga menantang stereotip. Misalnya selama ini kita berpikir orang Papua itu terbelakang dan pakai koteka. Lalu tiba-tiba ada foto anak-anak Papua pakai seragam sekolah,” ucap Rara Sekar.

Karena foto merupakan hasil pengetahuan dan pengalaman sang fotografer, melalui foto kita pun dapat membaca asumsi-asumsi dalam masyarakat. Untuk itu perlu perspektif atau kerangka berpikir agar pembacaan menjadi lebih tajam, dalam, dan memunculkan dialog-dialog yang dapat mendorong pemahaman kita terhadap fenomena yang terjadi di masyarakat.

Ada banyak kerangka berpikir yang dapat digunakan untuk membaca foto secara kritis. Keterbatasan waktu workshop tak memungkinkan para mentor membahas seluruh teori sosial. Ras, kelas, dan gender pun jadi kerangka pilihan untuk berlatih karena ketiganya kerap muncul beririsan sehingga diharapkan dapat membuka pintu bagi kerangka-kerangka lainnya.

Para peserta WACANA diajak melihat contoh foto yang mewakili tiga kerangka tersebut, kemudian membedahnya dengan pertanyaan kritis:

Fotonya menggambarkan apa?
Siapa atau apa yang menjadi subyek fotonya?
Perasaan dan pengetahuan apa yang dihasilkan foto tersebut?
Stereotip apa yang ingin ditantang melalui foto tersebut?

Latihan membaca foto semacam ini dapat menyadarkan kita akan asumsi-asumsi dalam diri kita sendiri, sebagai fotografer maupun pembaca foto. Mempertanyakan asumsi pada akhirnya dapat menghindarkan kita dari kecenderungan menguatkan stereotip yang sudah beredar selama ini sehingga dapat menyajikan alternatif lain bagi masyarakat. Inilah fotografi kritis.

“Itu sebabnya diperlukan pengetahuan non-fotografis untuk memahami fotografis secara lebih reflektif dan kritis. Dan tentu saja tak harus jadi seorang fotografer dulu untuk bisa melakukannya,” pungkas Ben.

* * *

Advertisements

One thought on “Yuk Kritis Membaca Foto

  1. Rara Sekar bersama suaminya (mualaf) Muhammad Ben Cito Laksana Tambunan telah cukup lama berkecimpung dalam dunia fotografi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s