Resensi Buku: Turki – Revolusi Tak Pernah Henti

Judul Buku        :  Turki – Revolusi Tak Pernah Henti
Penulis                 :  Trias Kuncahyono
Penerbit              :  Kompas
Cetakan               :  I, 2018
Tebal Buku        : xxxiv + 350 halaman

“Bagi Mustafa Kemal, persatuan agama bukan esensial bagi pembentukan sebuah bangsa. Sebuah bangsa dibentuk oleh orang-orang yang berbagi warisan sejarah yang kaya, memiliki ketulusan keinginan untuk hidup bersama, dan memiliki kehendak memelihara warisan mereka bersama.”
(Trias Kuncahyono, Turki: Revolusi Tak Pernah Henti – hal. 66)

Seperti halnya Indonesia, Islam di Turki sarat budaya non-Arab –yang mampu bersanding dengan praktik demokrasi, modernisasi, dan pluralisme. Spirit Islamisme tumbuh bersamaan dengan pemerintahan sekularisme. Dalam catatan pembuka buku, Prof. Dr. Komaruddin Hidayat menulis bahwa secara geografis dan budaya, Indonesia dan Turki masuk kategori masyarakat muslim yang pengaruh Arabnya tak kental (the least Arabized muslim countries).

Kemiripan ini membuat buku karya Trias Kuncahyono krusial dipelajari. Turki: Revolusi Tak Pernah Henti (Kompas, 2018) bertutur soal dinamika Turki sejak era Ottoman, revolusi Kemalis/Atatűrk yang membuka babak baru modernisasi di Republik Turki, militer sebagai kekuatan modernisasi, hubungan militer-sipil, hingga perkembangan politik yang mencerminkan pergulatan identitas Turki –termasuk kudeta gagal pada Juli 2016.

Seperti buku-buku sebelumnya, kepiawaian Trias Kuncahyono meramu berbagai referensi sejarah dan pengalaman jurnalistiknya dalam bahasa populer membuat buku ini sangat menarik untuk diikuti, bahkan oleh Anda yang sebelumnya sama sekali buta soal Turki.

Dalam bab awal bukunya, Trias memaparkan kronologis kudeta yang gagal dilancarkan militer pada 15 Juli 2016 terhadap pemerintahan Recep Tayyip Erdogan, sekaligus memperlihatkan betapa revolusi bukanlah barang baru –bahkan sejak negara itu didirikan pada 1923. Paling tidak sudah terjadi lima kudeta militer dengan berbagai variannya mulai dari kudeta fisik, kudeta memorandum, hingga gerakan militer lewat website (kudeta post-modern).

Republik Turki bermula dari lahirnya golongan muda Ottoman yang progresif, modernis, dan menentang status quo. Dalam Revolusi Turki Muda (1908–1918), kelompok ini menyerukan pemerintahan konstitusional yang lebih demokratis. Kemal Atatűrk melanjutkannya dalam Revolusi Turki (1918-1927) yang berakhir dengan terciptanya identitas nasional Turki: Kemalisme.

Mustafa Kemal Atatűrk, yang sebelumnya dielu-elukan karena berhasil memukul mundur pasukan Inggris, Prancis, Australia, dan New Zealand dalam perang di Galipoli (1914-1918), tak cuma sukses menumbangkan rezim Ottoman. Ia tampil sebagai “Bapak Bangsa Turki” yang menggagas lahirnya ideologi Kemalisme. Misinya adalah menjadikan Turki sebagai bangsa modern yang setara dengan bangsa Eropa secara sosial, pendidikan, dan kultural.

Kemal Atatűrk berhasrat membalikkan kondisi Turki sebagai “sick man of Europe” menjadi negara yang berdaulat, demokratik, percaya diri, sekular, dan modern (hal 53). Ia pun mendorong anak muda menghidupkan ideologi Kemalisme yang terdiri dari enam prinsip utama yakni republikanisme, nasionalisme, populisme, statisme, sekularisme, dan revolusionisme.

Prinsip Kemalisme tidak anti prinsip Tuhan atau menentang pencerahan Islam melainkan menentang apapun yang menghambat modernisasi. Elit Kemalis percaya bahwa eliminasi ideologi agama dan institusi-institusinya adalah kunci kemajuan masyarakat Turki. Agama tak sepenuhnya ditekan. Ia cuma disingkirkan dari lingkungan publik dan diawasi negara.

Trias juga menggarisbawahi peran penting militer di panggung politik dan masyarakat Turki yang berbeda dengan negara lain –tapi rupanya mirip dengan militer Indonesia. Kesamaan yang paling menonjol adalah keduanya memiliki tentara dengan jumlah personel yang banyak dan tradisi yang panjang dalam keterlibatannya di politik (hal. 73).

Catatan sejarah menunjukkan bahwa militer merupakan institusi sosial tertua di Turki, bahkan jadi satu-satunya organisasi yang selamat melintasi zaman, dari era tradisionalis hingga modern. Artinya, militer berurat akar dalam masyarakat Turki yang pengaruhnya mendahului pembentukan republik. Pasca Revolusi Turki, militer menjadi pendukung utama modernisasi.

Tak heran jika akhirnya kehidupan sosial-politik Turki tak pernah terlepas dari pertarungan kuasa antara sipil dan militer yang dianggap sebagai persoalan besar demokratisasi. Menariknya, militer menjadi komponen penting dalam check and balances yang melindungi demokrasi Turki. Keunikan ini bisa dilihat dari lima kali upaya militer dalam mendongkel pemerintahan sipil.

Intervensi militer terhadap pemerintah sipil tak semata karena kepentingan politik tapi lebih karena posisi unik mereka sebagai pengawal (guardian) ideologi Kemalisme. Meski militer telah empat kali melakukan kudeta untuk menyingkirkan pemerintahan sipil, nyatanya mereka selalu mengembalikan kekuasaan pada pemerintahan sipil. Sebabnya, Mustafa Kemal yakin bahwa hanya militerlah yang bisa mengamankan ideologi Kemalisme (hal. 135).

Pasca meninggalnya Mustafa Kemal Atatűrk yang menandai beralihnya politik otoritarian ke multipartai, militer tetap memainkan peran penting sebagai pelindung prinsip Kemalisme.

Trias mencatat militer memainkan peran perwalian (guardianship) hanya dalam kondisi tertentu yakni jika ekstremisme politik atau agama mengancam mengambil alih kekuasaan (kudeta 1971 dan 1980), pemerintah terpilih menjadi diktator (kudeta 1960), atau jika keutuhan negara terancam separatisme. Untuk isu terakhir, militer bertanggung jawab atas kebijakan negara melawan militan dari Partai Pekerja Kurdi/PKK sepanjang 1984-1999).

Lahirnya Partai Keadilan dan Pembangunan (AKP) pada 14 Agustus 2001 di bawah kepemimpinan Recep Tayyip Erdogan mengendurkan cengkraman militer atas kekuasaan pemerintahan sipil. AKP mendefinisikan diri bukan sebagai partai Islam melainkan partai demokratik konservatif yang mengacu pada modernisasi. Dalam diskursus publiknya, AKP menekankan nilai-nilai demokrasi, penghormatan HAM, dan pemerintahan berdasarkan hukum.

Menurut pengamatan Trias, transformasi ideologi AKP mencerminkan westernization Islam politik, bukan Islamisasi politik. AKP bukan partai religius tapi religiusitas menjadi aspek dari banyak anggotanya (hal. 194). Selain itu, AKP ingin mengurangi kekuasaan militer dalam politik lewat perubahan institusional. Uni Eropa yang selama ini mensyaratkan Turki menyingkirkan supremasi militer atas politik sipil pun tertarik melirik AKP. Pada Pemilu 2002, AKP leluasa melenggang sebagai pemenang.

Masalahnya, militer Turki ngotot mempertahankan posisinya sebagai aktor politik yang setara dengan parpol dan para pemimpin terpilih. Ketegangan sipil-militer pun tak terhindarkan, terlebih dalam perkembangan selanjutnya AKP berhasil menekan kekuasaan militer. Hubungan keduanya makin tegang setelah AKP menominasikan Fethullah Gűlen sebagai presiden.

Hubungan Recep Tayyip Erdogan dan Fethullah Gűlen juga menjadi topik yang dikupas dalam buku ini. Awalnya, kedua pemimpin kharismatik ini bekerjasama demi mewujudkan “nasionalisme Turki yang sangat kuat dengan religiusitas konservatisme” (hal. 229). Tiga belas tahun kemudian, Erdogan menuding Gűlen melangsungkan kudeta militer yang gagal.

Pasca kudeta gagal, Erdogan berusaha meyakinkan rakyat Turki bahwa Gűlen –aktivis Islam paling penting pada abad 20 –sebagai musuh utama yang membahayakan negara, demokrasi, dan kemanusiaan. Selama ini, Gűlen terkenal sebagai sosok yang getol menggaungkan dialog antar iman dan pentingnya pendidikan yang berfokus pada agama, sains, dan intelektualisme.

Ketidakharmonisan Gűlen dan Erdogan menjadi-jadi usai khotbah Gűlen pada 1999 mengungkap aspirasinya tentang negara Turki Islam berdasarkan Syariah berikut metode khusus untuk mencapainya. Keduanya pun tak seirama terkait kasus blokade laut Israel atas Gaza yang berakhir dengan kematian sembilan orang Turki oleh Israel, juga kasus pemberontak Kurdi.

Kecurigaan terhadap Gűlen tak surut. Erdogan mendefinisikan gerakan Gűlen (Hizmet) sebagai gerakan Islam yang punya agenda tersembunyi. Meski demikian, gerakan ini berkembang hingga skala global lewat lima simpul yaitu negara paralel (deep state), institusi pendidikan, LSM, aktivitas ekonomi, dan media. Terbongkarnya kasus korupsi yang melibatkan tiga anak menteri menjadikan Gűlen sasaran penganiayaan politik oleh pemerintah Turki.

Keyakinan bahwa Gűlen adalah dalang kudeta 15 Juli 2016 mendorong Erdogan melakukan penangkapan besar-besaran terhadap siapa pun yang dianggap terlibat. Ia juga membungkam pers dan menjebloskan wartawan ke penjara. Pertempuran keduanya memanaskan suhu politik Turki saat negara tersebut menghadapi dampak Perang Suriah yang menyebabkan banjir pengungsi serta mereka yang ingin bergabung dengan ISIS.

Jalan panjang demokrasi Turki yang tercermin dalam buku ini amat relevan kita pelajari. Sebagai sesama negara berpenduduk mayoritas muslim yang pengaruh Arabnya tak kental –sejarah memperlihatkan bahwa Turki masih bergumul dengan identitasnya. Mengambil waktu untuk berefleksi sejenak, bukankah selama ini Indonesia juga mengalami pergumulan serupa?

Buku ini pun gamblang memperlihatkan pengaruh revolusi digital terhadap dinamika global. Tanpa FaceTime, mungkin Erdogan tak secepat itu berhasil meyakinkan masyarakat melawan para pelaku kudeta. Upaya Erdogan membungkam pers pasca kudeta pun tak kuasa membendung derasnya arus informasi lewat media sosial, membuatnya jadi sasaran kritik global.

Pendeknya, era digital membuat tak satu pun negara mampu mengelakkan diri dari perubahan cepat yang terjadi di dunia ini.

* * *

Baca juga: Menjadi Muslim Barat atau Muslim Asia – Warisan Intelektual Turki dan Konferensi Bandung 1955 (Frial Ramadhan Supratman, Jurnal Sejarah 2017)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s