Peranakan Dalam Kanvas Besar Sejarah Indonesia

PERANAKAN. Istilah ini biasanya diasosiasikan dengan mereka yang lahir di Indonesia, berorientasi pada budaya setempat, dan sebagainya. Namun apa/siapa ‘peranakan’ itu sesungguhnya? Bagaimana mereka akhirnya disebut sebagai kelompok peranakan? Bagaimana dinamika penggunaan istilah ini?

Jawaban menarik dikemukakan oleh Didi Kwartanada dalam diskusi bertajuk ‘Peranakan Tionghoa dalam Kebhinekaan Bangsa Indonesia’ yang berlangsung 15 November 2018 di Bentara Budaya Jakarta. Didi merupakan lulusan Universitas Gadjah Mada dan National University of Singapore yang telah menerbitkan banyak tulisan terkait etnis Tionghoa dalam bahasa Inggris, Jepang, Jerman, Belanda, Mandarin, dan Indonesia.

“Definisi ‘peranakan’ mengalami perubahan dari zaman ke zaman. Peranakan mulanya hanya merujuk pada Tionghoa yang beragama Islam, kira-kira abad 16 hingga awal abad 19,” ucap Didi.

Dalam sensus penduduk kala itu, Belanda membedakan peranakan dengan Chinezen. Jika peranakan diasosiasikan dengan Tionghoa muslim, istilah Chinezen ditujukan pada orang-orang Tionghoa yang masih mempertahankan ke-Tionghoaan-nya. Jumlah mereka rupanya cukup signifikan, terutama di kota-kota besar seperti Batavia, Medan, Makassar, Madura, dan sebagainya.

Belanda pun mengangkat kapiten dan mayor untuk mengepalai Chinezen seperti Khouw Kim An di Batavia atau Bhe Biauw Tjoan di Semarang. Kota-kota yang lebih kecil dipimpin oleh letnan. Jumlah peranakan lama-lama makin habis dan lebur menjadi masyarakat pribumi hingga akhirnya tak lagi dipisahkan dalam birokrasi kolonial.

Bhe Biauw Tjoan (1826-1904). Awalnya menjadi Letnan, dipromosikan menjadi Kapitan, dan akhirnya ditunjuk sebagai Mayor Tionghoa di Semarang.

Birokrasi kolonial membagi masyarakat Hindia Belanda menjadi tiga golongan. Golongan pertama yang menempati puncak piramida adalah golongan Eropa.  Tapi Belanda tidak konsisten karena orang Jepang yang berkulit kuning dan bermata sipit juga dikategorikan Eropa karena mereka sukses dengan restorasi Meiji-nya mengalahkan Tiongkok dan Rusia.

Piramida terbawah ditempati oleh golongan bumi putera. Mereka yang bukan Eropa dan bukan bumi putera, diklasifikasikan sebagai ‘Timur Asing’ yaitu orang Arab, India, Pakistan, dan Tionghoa.

“Lagi-lagi Belanda tidak konsisten karena orang Tionghoa, Arab, dan India sudah lebih dulu tiba di nusantara. Kok enak saja mereka menyebut timur asing? Bukankah justru Belanda yang barat asing? Mengapa yang di-asing-kan golongan timur? Inilah diskriminasi penguasa,” tutur Didi.

Ketiga susunan penduduk ini lantas dilembagakan sehingga masing-masing golongan sulit masuk ke golongan lain. Hanya ada dua cara bagi Tionghoa untuk naik kelas ke golongan Eropa. Pertama, elijkgesteld atau hak-nya disamakan setelah membayar surat pernyataan sebesar 1,5 guilder. Kedua, naturalisasi menjadi warga Belanda –namun prosesnya sangatlah sulit.

Awal abad 20 hingga dekade 1960-an, peranakan makin kompleks karena orientasinya mulai terbagi-bagi. Ada yang berorientasi pada budaya lokal, Tiongkok, atau Belanda –sejalan dengan munculnya kelompok-kelompok politik di kalangan Tionghoa peranakan. Ada Tionghoa yang masih memakai kucir dari Dinasti Manchu, adapula yang sudah memotong kucirnya.

Posisi Peranakan Tionghoa dalam Sejarah
Menurut Didi, sebetulnya tidak mudah bagi para perantau Tiongkok untuk menjangkau Indonesia. Data yang ia peroleh menunjukkan bahwa pada pertengahan abad 19, perjalanan dari Tiongkok ke Indonesia bisa memakan waktu tiga bulan. Sekitar tahun 1711, Dinasti Manchu sempat melarang warga Tiongkok bermigrasi ke seberang lautan namun larangan ini tak betul-betul dipatuhi. Larangan tersebut baru dicabut secara resmi pada September 1893.

Pencabutan larangan tersebut menyebabkan makin banyaknya gelombang imigran Tiongkok yang datang ke nusantara, apalagi saat itu Belanda membutuhkan kuli-kuli untuk mengolah lahan-lahan perkebunan dan pertambangan. Pendudukan Jepang atas Tiongkok pada abad 20 juga memicu gelombang imigran lainnya masuk ke Indonesia.

Para buruh Tiongkok di penambangan timah Pulau Bangka tahun 1930 (tropenmuseum)

Buku The Chinaman Abroad yang ditulis oleh Ong Tae Hae (1783-1791), seorang guru yang mengajar di Pekalongan, memperlihatkan fakta menarik mengenai para imigran tersebut.

“Ketika orang Tionghoa tinggal di luar negeri selama beberapa generasi tanpa kembali ke tanah asal mereka, mereka sering memutuskan hubungan dari petuah orang-orang bijak: dalam bahasa, makanan dan pakaian, mereka meniru penduduk asli, dan mempelajari kitab asing (Al-Quran)…”

“Mereka tidak keberatan untuk menjadi orang Jawa, ketika mereka menyebut diri mereka Islam (Sit-Lam). Mereka kemudian menolak untuk makan daging babi dan mengadopsi kebiasaan asli yang sama sekali berbeda…”

Rupanya, perempuan tak diizinkan ikut merantau, terlebih perjalanan selama tiga bulan di laut merupakan perjalanan yang penuh mara bahaya seperti bajak laut, cuaca buruk, dan angin topan. Itu sebabnya perempuan Tiongkok sangat jarang ditemui. Liem Thian Joe dalam buku Riwayat Semarang menuturkan bahwa hanya orang-orang super kaya yang bisa mendatangkan selir dari Tiongkok (cabo-kan).

Didi memaparkan sebuah cerita menarik pada awal abad 19, ketika seorang perempuan Tiongkok datang ke Semarang dan menghebohkan seisi kota. Kehebohan terjadi karena nyonya-nyonya lokal berkain kebaya ingin melihat seperti apa penampakan ‘nyonyah negoro Cino’.

Ternyata mereka memakai celana panjang dan kakinya diikat. Inilah salah satu karakteristik yang membedakan peranakan dengan orang yang baru datang dari Tiongkok. Di Hindia Belanda selama ini, tidak pernah ada perempuan yang kakinya diikat seperti di Tiongkok.

Perempuan-perempuan Tiongkok dengan kaki yang diikat. Fotografer: James Ricalton (1990)

Singkatnya, nyonya-nyonya berkain kebaya berebut mengundang nyonyah negoro Cino berkunjung ke rumah mereka. Memakai alasan ingin berkenalan, sesungguhnya mereka sangat penasaran melihat bentuk celana dan kaki nyonyah negoro Cino. Ketika nyonyah negoro Cino pulang, para nyonya berkain kebaya ini menghadiahkan angpao sebagai tanda ucapan terima kasih.

“Inilah situasi yang terjadi pada awal abad 19 ketika hubungan antara mainland Tiongkok dan Nanyang belum lancar. Orang-orang Hindia Belanda penasaran melihat seperti apa sih orang Tionghoa yang ori,” jelas Didi.

G. William Skinner (1996), seorang peletak kajian Tionghoa di seberang lautan, meneliti bahwa pada pertengahan abad 19 sudah ada komunitas Tionghoa yang dapat dibedakan dari para imigran Tiongkok. Di Jawa, kelompok tersebut dinamakan peranakan. Di Filipina ada komunitas Mestizo sementara di Malaysia/Malaya terdapat kelompok Baba.

Didi mendapati fakta menarik lainnya dari hasil sensus penduduk Hindia Belanda (Volkstelling) tahun 1930. Rupanya, perkawinan campur antara lelaki Tionghoa dengan perempuan lokal tertinggi di seluruh nusantara berada di wilayah-wilayah kerajaan seperti Yogyakarta dan Surakarta. Angka rata-rata adalah 1,9%. Di Yogyakarta mencapai 9,3% sementara di Solo 7,4%.

Orang Djawa Jang “Bermata Sipit”
Ketika mengadakan perjalanan keliling Jawa tahun 1940, seorang wartawan senior bernama Parada Harahap mengamati dan menemukan hal menarik. Menurutnya, kelompok peranakan itu sebetulnya orang Jawa –tapi orang Jawa yang bermata sipit. Mereka hidup dan bergaul dengan orang Indonesia tanpa ada perbedaan. Segala sesuatunya diucapkan dalam bahasa Jawa.

“Ada satu hal ang amat menarik hati kita selama berdjalan-djalan di Djawa Tengah ini. Kita lihat orang Tionghoa, laki-laki dan perempuan jang hidup bergaul dengan orang Indonesia, seperti tidak kelihatan perbedaan bangsanja…

Segala sesuatu dengan bahasa Djawa, bahkan diantara sesama orang Tionghoa sendiri (peranakan), bahasa Djawa-lah jang mendjadi bahasa sehari-hari. Pertjakapan antara orang Tionghoa dengan orang Djawa dalam bahasa Djawa kelihatan pula sikapnja jang tidak meninggikan diri…

Pendeknja, menurut penglihatan kita, sebenarnja orang Tionghoa di Djawa Tengah itu adalah orang Djawa yang ‘bermata sipit’. Dengan sendirinja, rupanja karena masuknja bahasa dan adat istiadat Djawa ketulang sumsum orang Tionghoa peranakan di sini, maka lagak lagu dan sikapnja orang Tionghoa itupun sudah seperti orang Djawa. Kita maksudkan disini kesopanannja jang halus.”

Potret keluarga peranakan Tionghoa di nusantara (KITLV)

Didi juga menemukan bahwa dari keluarga-keluarga yang sudah cukup mapan, diantaranya adalah keluarga Kolopaking dari Banyumas, terdapat pula orang-orang Tionghoa di dalamnya. Salah seorang yang cukup terkenal adalah Prof. Dr. Singgih Dirgagunarsa Kolopaking (1934-2015).

Keluarga Gan Peng pun menguak fakta menarik seiring terjadinya perkawinan campur dengan kalangan Arab. “Keluarga ini terpecah, ada yang Tionghoa dan ada yang jadi Islam. Kalau mereka reuni keluarga, menarik sekali karena ada yang hidungnya mancung, matanya sipit, makanannya beda-beda. Jadi sebetulnya ke-Indonesia-an kita sudah terjalin dari berabad silam,” kata Didi.

Contoh lain yang dipaparkan Didi adalah perkawinan antara Pangeran Adipati Anom (putra mahkota Kerajaan Yogyakarta) dengan Putri Kumaraningrum yang peranakan. Sayangnya, Pangeran Adipati Anom meninggal muda sehingga Putri Kumaraningrum tidak bisa menjadi permaisuri.

Kapiten terakhir di Yogyakarta yang merupakan seorang pengrajin batik terkemuka, Lie Ngo An, juga mendapat istri yang merupakan pemberian dari Sultan Hamengkubuwono. Sang istri adalah peranakan yang bernama Raden Nganten Sumiyah. Mereka memiliki putra dan hingga saat ini keturunan keluarga tersebut masih sangat dihormati di Yogyakarta.

Dinamika Identitas Peranakan
Komunitas-komunitas peranakan tentu tak cuma di Pulau Jawa. Menurut Didi, di Papua dikenal istilah ‘Perancis’ atau Peranakan Cina Serui. Di Timor, orang-orang Tionghoa menikahi putri-putri raja sehingga banyak dari mereka masih memiliki darah bangsawan.

“Menariknya, mereka tak suka disebut Tionghoa. Jangan panggil kami Tionghoa-Timor. Kami ini Cina-Timor. Biarkan Jawa saja yang Tionghoa. Temuan ini jadi menarik karena selama ini kita sangat Jawa sentris, dimana sebagian orang tak suka disebut Cina. Tapi ternyata di Indonesia Timur mereka justru memilih dipanggil Cina,” papar Didi.

Yang pasti, diaspora peranakan telah menyebar ke segala penjuru benua. Identitas ‘peranakan’ pun jadi berubah seiring perkembangan zaman.

Pada abad 19, seorang peranakan Yogyakarta bernama Tan Jin Sing dihina sebagai ‘Tionghoa bukan, Jawa tanggung, Belanda juga bukan” (Cino wurung, Jawa tanggung, Londo durung). Pergantian zaman ketika itu juga sangat menyulitkan mereka, misalnya dalam hal perubahan kurikulum sekolah.

Seorang perempuan bernama Ong Hong Giok Nio, misalnya, ketika bersekolah di sekolah Belanda diberi nama Marie Ong. Bahasa asing yang dipelajari hanya bahasa Belanda. Memasuki masa revolusi (1946), Marie Ong berganti menjadi Ong Hok Nio karena semua yang berbau barat dihilangkan. Ia juga harus belajar bahasa mandarin, Indonesia, Inggris, Prancis, dan Jerman.

Seiring waktu, peranakan menyadari keunikan identitasnya, seperti yang diungkapkan oleh Oei Hong Kian:

“Campuran unik Cina, Jawa, dan budaya Belanda telah membentuk saya seperti sekarang. Cina dan Jawa ada dalam darah saya, sementara Belanda terserap dari luar. Campuran tiga dunia itu menyebabkan reaksi kimia yang menghasilkan manusia yang sangat kompleks. Namun saya tidak merasa demikian. Saya justru merasa itu suatu keuntungan, karena sebagai orang yang three in one, dengan mudah saya bisa menghayati dunia yang sama sekali berlainan…”

Oei Hong Kian, Peranakan yang Hidup dalam Tiga Budaya

Pada akhirnya, menurut Didi, ‘peranakan’ menjadi makin sulit didefinisikan.

“Saya setuju dengan pendapat Ariel Heryanto yang menyatakan bahwa kepunahan budaya peranakan dalam setengah abad terakhir muncul akibat gencarnya hibridisasi identitas pada lingkup global. Kini semua orang makin menjadi peranakan. Anda bisa suka K-Pop, gamelan Jawa, hiphop, tapi juga suka keroncong. Jadi jangan pernah mengklaim saya paling murni budayanya dan merendahkan yang lain,” pungkas Didi.

* * *

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.