Joni dan Fonda: Hidupi Panggilan, Jangan Mati Sia-Sia

Oleh: Sylvie Tanaga

Joni dan Fonda Djong telah 13 tahun mengarungi bahtera pernikahan dan dikaruniai tiga putra berusia 11, 10, dan 5 tahun. Sebagai kepala rumah tangga, Joni menafkahi keluarganya dari usaha garment. Sekilas, mereka seperti keluarga sederhana yang menjalankan hidup apa adanya: bekerja dan membesarkan anak. Tapi keduanya sadar bahwa hidup tak akan pernah bermakna tanpa benar-benar menjalani panggilan hidup.

“Joni, saat meninggal nanti kamu mau diingat orang hanya sebagai pebisnis sukses atau orang yang berusaha menciptakan masa depan lebih baik bagi anak-anak berkebutuhan khusus?”

Sejak awal, hati Joni memang terpanggil berjuang bagi anak-anak berkebutuhan khusus, meski ketiga anaknya tak ada yang masuk kategori tersebut. Tapi ia masih gamang. Pertanyaan yang dilontarkan seorang rekan ini pun seketika menghentak Joni. Bersama Fonda, ia akhirnya merelakan kehidupan nyaman demi merintis sekolah bagi anak-anak berkebutuhan khusus di bawah payung Yayasan PUPA (Perisai Unggul Pelita Anugerah). Drama-drama bergolak, tapi mereka sudah bertekad tak mau mati sia-sia.


Bagaimana ceritanya sampai tertarik dengan anak-anak berkebutuhan khusus?
Joni: Berawal ketika saya menjadi koordinator guru sekolah minggu di sebuah gereja. Waktu itu, pastornya ingin mengadakan KKR (Kebaktian Kebangunan Rohani) bagi anak-anak berkebutuhan khusus. Pihak gereja ingin menyuarakan harapan pada para orang tua yang anak-anaknya berkebutuhan khusus, mengingatkan mereka bahwa Tuhan menyayangi anak-anak itu.

Waktu itu saya sama sekali tidak setuju. Dalam bayangan saya yang masih polos, anak-anak berkebutuhan khusus itu pasti suka tantrum dan bikin onar. Mengurus seorang saja repot, apalagi kalau semua pesertanya seperti itu. Walau begitu, saya memilih taat. KKR pun berlangsung. Ajaibnya, saya lihat mereka sangat tenang, sampai-sampai saya merasa malu pada Tuhan. Di situlah saya merasa terpanggil untuk berbuat sesuatu bagi mereka.

Selesai KKR, saya sempat jeda selama enam bulan namun beberapa orang tua tetap menanyakan kelanjutannya. Panggilan itu makin kuat. Karena gereja tak memiliki mekanismenya. Saya pindah ke gereja lain, namun rupanya gereja tersebut juga tak mendukung. Akhirya, saya merintis komunitas di luar gereja dengan nama EOC (Extra Ordinary Children). Dua tahun berjalan, saya merasa Tuhan menggerakkan saya untuk mendirikan sebuah sekolah.

Joni bersama anak-anak berkebutuhan khusus. Ia sadar bahwa mereka minim diperhatikan negara, menguatkan keyakinannya untuk berbuat sesuatu.

Tapi Kak Joni sama sekali tak berlatar pendidikan di bidang anak-anak berkebutuhan khusus?
Joni: Itu dia. Saya sempat ragu karena bukan siapa-siapa. Mulanya yang terpikir bukanlah sekolah melainkan pelatihan, seminar, atau website tentang anak-anak berkebutuhan khusus. Tapi panggilan mendirikan sekolah terus terngiang. Dan kami memang melihat Tuhan membuka jalan. Kami mengobrol dengan beberapa rekan dan dapat banyak masukkan untuk memulai langkah.

Itu pun tidak mulus. Seorang teman menawarkan tempat di sebuah gedung tanpa perlu bayar sewa. Kami hanya perlu membayar service charge untuk dua tahun pertama. Kami pun bersemangat merombak food court di lantai paling atas, membangun semuanya dari nol. Sudah tiga anak yang mendaftar. Namun ketika semua selesai dan kami bersiap open house, listrik mendadak mati.

Rupanya, pihak gedung tak sanggup bayar listrik ke PLN. Tenant-tenant mogok membayar karena usaha mereka di sana sepi. Akumulasinya mungkin sekitar Rp 500 juta. Pihak gedung mengatakan bahwa jika ingin listrik tetap menyala, kami harus bayar tagihan Rp 200 juta per bulan! Di situlah saya menangis. Dengan berat hati kami memutuskan keluar dari gedung yang baru saja selesai kami renovasi. Ongkos yang sudah keluar tak sedikit.

Kami harus buru-buru mengepak barang karena listrik masih menyala dua hari sebelum akhirnya padam total. Kami masih butuh lift buat menurunkan semua barang, tanpa tahu ke mana harus membawanya. Beruntung seorang teman berbaik hati menawarkan sebuah rumah kosong sehingga kami punya tempat sementara untuk menitipkan barang-barang tersebut.

Apa yang terjadi selanjutnya?
Joni: Saya bertanya-tanya apa yang salah. Apakah saya yang terlalu nafsu? But there’s nothing wrong. Impian mendirikan sekolah sudah ada jauh sebelum tawaran gedung muncul. Saat itu, saya tidak mengerti. Tapi saya tidak mau menyerah. Kami pindah ke sebuah ruko selama beberapa bulan.

Dalam kondisi itu, saya mendengar seorang expert anak-anak berkebutuhan khusus baru saja menyelesaikan S3 dari Amerika dan membuka sekolah yang diserbu banyak peminat. Mereka yang mau sekolah di situ harus mengantri dua tahun sebelumnya! Saya pernah berkenalan dan ingin kembali bertemu dengannya. Tapi dia jarang bersedia ditemui karena jadwalnya padat.

Tanpa diduga, suatu kali justru ia sendiri yang berinisiatif mengajak bertemu. Ketika kami bertemu, dia hanya bilang, “you survive my test.” Hah? Lalu dia menjelaskan bahwa selama ini sudah banyak pengusaha kelebihan uang yang tergerak membuka sekolah, namun cepat mengibarkan bendera putih ketika berhadapan dengan masalah seperti yang baru kami hadapi.

“Hebatnya, saya lihat kamu tidak menyerah dan mau tetap melangkah. Dari situ saya yakin seyakin-yakinnya bahwa pasti Tuhan-lah yang telah menggerakkan kamu. So, how can I help you?”

Mengapa Kak Joni pantang menyerah walau sudah habis-habisan?
Rasa ingin menyerah itu ada dan manusiawi banget. Waktu lihat tabungan, aduh Tuhan, apakah kami masih bisa survive? Tapi semua kembali pada cara kita merespons situasi. Kalau kita sudah melakukannya dengan benar dan masih seperti itu, berarti ada sesuatu yang harus kita pelajari. Ada hikmah yang perlu kita petik dari kejadian tersebut meski harganya mahal banget.

Selanjutnya, seorang teman lama mengatakan keinginannya membeli tanah untuk kami gunakan. Tapi entah kenapa kami ragu dan akhirnya menolak tawaran tersebut. Kami lebih memilih pindah ke sebuah ruko di kawasan Alam Sutra. Benar saja, proses akuisisi tanah tersebut belakangan bermasalah. Kami terus memilih bertahan dan berjalan dalam iman saja.

Kami sadar bahwa mendirikan sekolah bagi anak-anak berkebutuhan khusus membutuhkan waktu berjangka panjang yang hasilnya tak langsung terlihat. Yang penting bersabar saja menjalaninya. Waktu-Nya luar biasa pas. Suatu waktu, seorang profesor IT asal Korea Selatan yang mengajar di Singapura sedang datang ke Jakarta. Entah kenapa dia ingin berkunjung ke PUPA.

Sang profesor melihat potensi seorang anak didik kami sebagai seorang programmer hebat. Dia pun bersedia membagikan program-programnya dan kami tak perlu bayar sepeser pun. Tentu kami tak sanggup membayar seorang profesor Singapura. Ajaibnya, anak-anak paham program-program tersebut walaupun si profesor menyampaikannya dalam bahasa Inggris!

Visi Yayasan PUPA?
Joni: Yayasan PUPA, kepanjangan dari Perisai Unggul Pelita Anugerah, resmi terbentuk tahun 2015. “Pupa” juga berarti kepompong, cikal bakal kupu-kupu yang sangat indah. Kami ingin orang tua sadar bahwa anak-anak mereka yang berkebutuhan khusus memiliki keunggulan potensi, yang bila diasah dengan tepat akan bertransformasi menjadi sesuatu yang luar biasa.

Saya yakin bahwa tidak ada yang kebetulan di dunia ini. Masing-masing anak pasti punya tujuan hidup. Lewat PUPA, kami ingin mengembangkan bakat dan kekuatan anak-anak ini sehingga mereka bisa menjalani tujuan hidupnya dan menjadi contoh bagi lingkungan sekitarnya. Anak-anak ini adalah titipan Tuhan yang sangat berharga.

For us they’re different, but for God they’re precious.

Sejumlah kegiatan anak-anak berkebutuhan khusus yang berlangsung di Yayasan PUPA (Perisai Unggul Pelita Anugerah)

Jumlah pengajar dan siswa di PUPA sejauh ini?
Joni: Lima guru dan enam murid. Saat ini, kami baru menerima murid kategori high-function yang butuh perhatian di area kognitif. Kami belum berani mengambil yang terlalu low karena kemampuan kami masih terbatas. Kami akan meningkatkannya secara bertahap setelah proses evaluasi.

Cara PUPA mengasah potensi anak-anak berkebutuhan khusus?
Joni: Selain mendidik mereka agar bisa melakukan basic living skill seperti makan dan mandi sendiri, kami juga melatih mereka mengontrol emosi. Lalu kami pun mendorong mereka hidup mandiri. Walau konsep utamanya sekolah, PUPA lebih didesain serupa balai pelatihan kerja. Jadi setiap hari mereka melakukan berbagai pekerjaan dan mendapat sejumlah gaji.

Anak-anak belajar cara menyusun budgeting sehingga ketika mendapat gaji, mereka bisa mengaturnya untuk menabung, membeli pulsa, atau memberikannya pada orang tua. Lalu kami juga sedikit mengajarkan konsep perencanaan lewat financial planning. Misalnya jika seorang anak mau membeli laptop, artinya dia harus kerja sekian kali atau bekerja tambahan.

Kami pun mengajar mereka pergi ke pasar, supermarket, bank, menarik uang di ATM, dan melakukan transaksi sederhana. Kami merangsang mereka berkreasi dan memikirkan solusi atas berbagai persoalan hidup. Lewat program memasak misalnya, kalau mau buat spaghetti bolognese, anak-anak harus cari tahu sendiri resep dan bahan-bahannya lewat Google. Mereka mencatat dan menentukan di mana saja harus membeli bahan-bahannya.

Fonda: Menurut saya, PUPA tergolong advance karena berani melakukan hal-hal yang tak berani dilakukan yang lain seperti menyuruh anak-anak pergi sendiri ke pasar. Prosesnya tentu saja bertahap. Pertama masih ditemani, berikutnya dilepas sambil dipantau dari jauh, dan akhirnya dilepas sama sekali. Salah seorang anak didik kami bahkan sudah bisa naik kendaraan online sendiri.

Kami juga suka bereksperimen dengan hal-hal baru seperti misalnya mengajak mereka ikut lari maraton 5-10 kilometer. Kami ingin mereka tahu bahwa mereka harus berjuang untuk mendapatkan sesuatu. Lalu ketika orang tua salah seorang guru meninggal, kami ajak mereka melayat dan menyanyikan lagu-lagu. Intinya, kami berusaha menanamkan value-value yang tepat.

Anak-anak PUPA ketika sedang melakukan kunjungan untuk mempelajari cara bertanam hidroponik

Apa tepatnya pekerjaan harian yang dilakukan anak-anak?
Joni: Misalnya kami mengajar mereka jualan online. Produk-produknya dari saya. Tugas mereka adalah menerima order, mencari barang sesuai pesanan, mengemasnya, menuliskan alamat tujuan, membawanya ke kurir pengiriman, dan menerima slip bukti pengiriman. Untuk anak-anak yang lebih senior, kami ajarkan mereka untuk mengecek kualitas barang dan stock opname.

Jika orang tuanya jual pampers, misalnya, bisa minta tolong anaknya menjualnya secara online. Yang penting mereka paham prosesnya dan dapat pemasukan lumayan. Selama dua tahun, kami melihat bahwa ternyata ada yang berpotensi menjadi entrepreneur, meski ada juga yang lebih suka bekerja secara profesional di perusahaan atau bekerja dalam sebuah tim.

Kenapa arahnya bisnis? Karena selama ini kami perhatikan ketersediaan lapangan kerja di perusahaan masih sangat terbatas. Jumlah pengangguran saja masih tinggi, terlebih bagi mereka yang berkebutuhan khusus. Memang ada perusahaan yang mengalokasikan posisi bagi orang berkebutuhan khusus lewat CSR, tapi mereka hanya digaji di bawah Rp 1 juta.

Bagaimana dengan sumber pembiayaan operasional PUPA?
Joni: Sejauh ini semuanya keluar dari kantung kami sendiri. Kami sangat mengerti bahwa merintis sekolah membutuhkan waktu untuk memetik hasilnya. Dalam hitungan bisnis, tiga tahun dengan hasil seperti ini tentu sudah masuk kategori bisnis gagal. Tapi itu kan hitungan bisnis. Kami percaya dan beriman saja bahwa Tuhan akan selalu menyediakan segala sesuatunya.

Saya selalu bilang sama istri, “yang sabar ya… Kita hidup di dunia cuma sementara.” Soalnya kita kan kadang-kadang melihat teman-teman sudah naik mobil yang lebih bagus, pakai tas yang lebih bagus.

Fonda: Itu karena dia jago aja ngerayunya, hahahaha… Joni itu sangat pelit dengan dirinya sendiri, tapi kalau memberi untuk orang lain kadang nggak mikir. Sekarang mending, sudah mau ajak jalan-jalan. Dulu sama sekali enggak pernah. Sekarang akhirnya saya ketularan dia. Baru-baru ini ada teman butuh bantuan, anaknya tiga. Tanpa pikir panjang, langsung kami bantu.

Teman-teman lain menyayangkan kami bantu begitu saja. Ternyata yang terlintas dalam benak kami sama: nasib ketiga anaknya. Minggu itu juga, stok produk gagal kami yang sudah tertimbun sekian tahun tiba-tiba ada yang mau borong dan jumlahnya setara dengan yang kami keluarkan untuk membantu teman. Gimana kami bisa hitungan sama Tuhan?

Tantangan terbesar selama menjalankan PUPA?
Joni: Ada hal-hal yang kami pikir benar ternyata enggak karena kami bukan expert. Kami learning by doing dan itu kadang-kadang bikin frustrasi. Kami pernah diomeli dan dibohongi orang tua. Tapi semua itu membangun karakter kami. Saya bilang pada para guru dan kepala sekolah bahwa kita harus bersyukur dengan orang tua yang sulit dihadapi. Mereka memberikan pekerjaan rumah yang membuat kita bisa lebih baik mempersiapkan diri di masa datang, walau saat ini rasanya dongkol.

Kesibukan dengan anak-anak berkebutuhan khusus tentu menyedot energi dan fokus. Di sisi lain, Kak Fonda dan Kak Joni punya keluarga sendiri. Bagaimana mengelola semua itu?
Fonda: Waktu Joni memulai pelayanan anak-anak berkebutuhan khusus di KKR, saya  baru lahiran anak pertama. Dan Joni hampir tiap hari pulang meeting jam satu subuh, sampai mama saya bertanya-tanya. Saya selalu menutupi dengan berbagai alasan. Sempat kesal juga sih karena bisa dibilang dia nggak ngurus. Pulang langsung tidur dan besoknya pergi kerja lagi.

Tapi belakangan saya bisa menerima dan mengerti visinya, apalagi ketika malam sebelum pelayanan anak kami hampir selalu nangis atau sakit. Joni juga sudah pernah mencoba kabur dari panggilannya lalu kembali lagi. Mana bisa saya hentikan dia? Saya sih dukung-dukung aja daripada dia punya hobi-hobi yang lain. Ini kan hobi yang baik, hahahahahaha….

Joni: Manusia biasanya kalau sudah punya banyak (harta), godaannya lebih besar. Kami menabur kan otomatis nggak punya banyak terus. Kami memilih terus menabur sehingga nggak jadi “gemuk”. Kami juga bersyukur anak-anak sehat semua, sampai kami lupa kapan terakhir ke dokter. Saya juga beberapa kali melibatkan mereka dalam kegiatan PUPA. Mereka bertanya-tanya dan ini jadi kesempatan saya menjelaskan.

Pada masa-masa awal kami berjuang banget, tahun ini lebih santai. Belakangan malah saya jadi lebih berdua saja sama Fonda. Kalau ada meeting, rutenya sengaja disamakan supaya bisa pergi bareng dia. Kami berpisah terus ketemu lagi buat makan siang. Jadi sebetulnya kita tak harus selalu memilih antara keluarga atau pelayanan. Dua-duanya bisa saja dijalankan bersamaan.

Harapan ke depan?
Joni: Yang terdekat, saya ingin sekali melihat terciptanya aliansi antar sekolah anak-anak berkebutuhan khusus. Aliansi ini sangat penting untuk kemajuan dunia pendidikan anak-anak berkebutuhan khusus di Indonesia. Selama ini, masing-masing sekolah cenderung bekerja sendiri-sendiri. Kalau saya datang ke sekolah lain, mungkin mereka merasa saya mau ‘mencuri’ murid, padahal sebenarnya mau saling belajar. Keterbukaan belum terjadi.

Syukurlah saat ini sudah ada empat sekolah mulai beraliansi. Saya harap jalinannya makin erat sehingga semua punya kesempatan untuk saling belajar. Selain itu, aliansi akan sangat mempermudah sekolah memberikan referensi bagi orang tua. Sinergi ini tentu lebih menguntungkan murid, orang tua, maupun pengelola sekolah. Bagaimanapun, kita tidak bisa bekerja sendirian.

* * *

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.