Refleksi: Arsitektur Yang Memanusiakan

Architecture is an expression of values –the way we build is a reflection of the way we live. This is why vernacular traditions and the historical layers of a city are so fascinating, as every era produces its own vocabulary.
Norman Foster (2014)

Banyak di antara kita masih mengindetikkan “arsitektur” dengan persoalan teknis semata. Bangunan ciamik, desain menawan, permainan bentuk dan warna yang mengundang decak kagum, atau cocok dengan konsep klien. Kita lupa bahwa arsitektur tidak hadir dalam ruang hampa. Keberadaannya tak bisa dicabut begitu saja dari konteks sosial, sejarah, dan budaya di sekitarnya.

Yu Sing adalah contoh arsitek tanah air yang menyadari pentingnya kontekstualisasi arsitektur dengan menempatkan masyarakat dan alam sebagai subjek, lebih dari sekadar estetika. Belakangan, ia menggagas Studio Akanoma yang fokus pada pemberdayaan masyarakat lokal serta interdependensi arsitektur dengan alam, budaya, dan ekonominya.

Yu Sing bekerja keras mengamati lingkungan, riset sosial-budaya, dan berinteraksi dengan warga lokal demi mendapatkan perspektif mereka sebagai subjek –bukan objek pembangunan. Yu Sing paham bahwa budaya tak hanya bicara soal yang nampak (motif, bentuk, warna) namun juga yang tak nampak (filosofi). Pemikiran Yu Sing yang interdisipliner saya kira jadi kunci mengapa karya-karyanya berupaya memanusiakan manusia.

Salah satu kesadaran yang ingin dibangun arsitek lulusan ITB ini adalah kesadaran bahwa arsitektur justru seringkali jadi sumber bencana di negeri ini. Yu Sing panjang lebar membahas materi ini dalam salah satu sesi dari rangkaian Kongres Kebudayaan Indonesia 2018 yang diselenggarakan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan pada 5-9 Desember 2018 di Jakarta.

Yu Sing saat menyampaikan paparannya tentang “Arsitektur Tanggap Bencana” dalam rangkaian Kongres Kebudayaan Indonesia 2018

Manusia, Korban dan Pelaku Bencana
Selama ini, kita cenderung lebih familiar dengan bencana alam di luar kuasa manusia. Menampik persepsi ini, Yu Sing menggiring para peserta berpikir kritis bahwa bencana bisa jadi muncul akibat ulah manusia. Bukan tak mungkin banjir, longsor, dan kekeringan terjadi akibat gagalnya peradaban manusia dalam membangun seiring pesatnya pertumbuhan penduduk.

Ribuan tahun sejak zaman baheula hingga 1950, jumlah penduduk masih 2,5 miliar. Tahun 2015, jumlahnya membengkak jadi 7,3 miliar. Ini berarti penduduk bumi bertambah 4,8 miliar hanya dalam tempo 65 tahun terakhir. Akibatnya, manusia jadi gagap dalam membangun. Alam pun dikorbankan dan korban pertamanya adalah hutan (deforestasi).

Laju deforestasi dunia mencapai 13 juta hektar/tahun. Di Indonesia, deforestasi bahkan mencapai 1-2 juta hektar/tahun! Data-data menunjukkan bahwa areal hutan tanah air tahun 1980an masih 85 persen dari luas total lahan. Kini? Hanya tersisa 40 persen. Dengan 265 juta jiwa penduduk (Katadata, 2018), negeri ini jelas butuh amat banyak ruang.

Yu Sing mengamati bahwa penyebab terbesar deforestasi adalah agrikultur (pertanian), skala kecil maupun besar. Deforestasi untuk kebutuhan agrikultur menyebabkan alih fungsi lahan hingga 65 persen. Ironisnya, lahan pertanian pun berkurang tiap tahunnya. Asia kehilangan 365.000 hektar pertanian tiap tahun sementara Indonesia kehilangan 100.000 hektar/tahun belakangan ini.

Laju deforestasi dunia mencapai 13 juta hektar/tahun. Di Indonesia, laju deforestasi bahkan mencapai 1-2 juta hektar/tahun.

Mengutip Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB, Sutopo Purwo Nugroho, Yu Sing sepakat bahwa darurat ekologis terutama disebabkan ulah manusia. “Laju penduduk yang tak terkendali selalu diikuti pertumbuhan industri dan ekonomi. Pembangunan yang menyingkirkan alam akhirnya mengakibatkan banjir di seluruh dunia,” ucap Yu Sing.

Hal lain adalah konteks Indonesia sebagai negara kepulauan. Dua pertiga dari total luas wilayah merupakan lautan. Sayangnya, pengetahuan masyarakat terkait air masih sangat minim. Dunia arsitektur nusantara pun tidak sensitif air. Musim hujan kebanjiran, musim kemarau kekeringan.

“Batavia dulunya kota rawa dan air. Begitu Belanda datang, dijadikan kota daratan. Ratusan tahun sampai sekarang, kita gagal menghadapi banjir karena tak mengerti tentang air. Sebelum tahun 2000an, belum ada banjir di Papua. Data tahun 2010 menunjukkan Papua kebanjiran,” tutur Yu Sing.

Selain negara kepulauan, Indonesia juga merupakan jalur cincin api dunia. Deretan gunung berapi membentang di atas jalur patahan lempeng bumi. Bencana jadi bagian tak terpisahkan. Jumlah kejadiannya terus meningkat tiap tahun. Pada penghujung 2018, negara ini kelabakan menghadapi bencana tsunami akibat longsoran anak Gunung Krakatau di Selat Sunda.

Ajaibnya, bencana tak lantas mendorong pemerintah makin serius meningkatkan upaya mitigasi bencana. Ia tak pernah menjadi prioritas dalam rumusan kebijakan pembangunan. Ujungnya, pembangunan lagi-lagi cuma bicara teknis dan bahkan investasi finansial, bukan manusia.

Arsitektur: Tanggap Bencana atau Biang Bencana?
Arsitektur punya peran krusial terkait bencana –entah sebagai jalan keluar atau justru biangnya. Dirjen Cipta Karya Kementerian PUPR menyatakan bahwa pembunuh terbesar saat gempa adalah bangunan yang rubuh. Padahal, aneka rumah adat dari material alamiah terbukti tahan gempa, tanda bahwa masyarakat lawas sebetulnya lebih bersahabat dengan kondisi alam sekitarnya.

Yu Sing pun lega mendengar masyarakat Lombok pasca bencana ingin kembali menggunakan bambu/kayu dan meninggalkan rumah beton.

Saya jadi teringat pada temuan rekan-rekan doctorSHARE (Yayasan Dokter Peduli) dua tahun silam ketika melakukan pelayanan medis bagi korban bencana gempa dahsyat di Pidie Jaya, Aceh. Kala itu, tim menemukan fakta betapa bangunan beton memang jadi sumber petaka sementara bangunan tradisional yang usianya ratusan tahun justru berdiri kokoh.

Walau rumah tradisional terbukti tahan gempa dan “kearifan lokal” sering disinggung, ironisnya pemerintah mendefinisikan rumah-rumah alami sebagai “tidak layak huni”. Ciri rumah tidak layak huni versi pemerintah adalah:

  1. Bahan lantai berupa tanah atau kayu kelas IV
  2. Bahan dinding berupa bilik bambu/kayu/rotan atau kayu kelas IV, tidak/kurang mempunyai ventilasi dan pencahayaan
  3. Bahan atap berupa daun atau genteng plentong yang sudah rapuh
  4. Rusak berat
  5. Rusak sedang dan luas bangunan tidak mencukupi standar minimal luas per anggota keluarga yaitu 9 meter persegi

Padahal, di Indonesia banyak rumah berstruktur kayu kelas IV atau V berdaya tahan lebih dari 20 tahun. “Rumah tradisional Rangken yang tergolong Warisan Budaya Tak Benda dianggap tak layak huni dan jumlahnya terus berkurang sejak program bedah rumah. Ironis, karena dunia justru sedang berlomba-lomba mendirikan bangunan tinggi dari kayu,” papar Yu Sing.

Rumah tradisional Rangken di Indramayu, Jawa Barat yang makin berkurang sejak adanya program bedah rumah. Rumah macam ini dianggap pemerintah “tidak layak huni”. (Sumber foto: ANTARA/Dedhez Anggara)

Bagi Yu Sing, fakta-fakta memprihatinkan ini muncul akibat kegagalan pemerintah dan masyarakat menyadari arti penting melimpahnya SDA dan peran mereka dalam menjamin keberlangsungan hidup jangka panjang. Akibatnya, kekayaan ini abai dikelola dengan bijak untuk kepentingan dan kebaikan rakyat sebagaimana amanat Undang-Undang Dasar 1945.

Contoh yang dikemukakan Yu Sing adalah fakta bahwa 90 persen total area sagu di seluruh dunia sesungguhnya ada di Indonesia, tersebar di Papua, Maluku, Sulawesi, Kalimantan, Sumatera, Jawa Barat, Kepulauan Riau, Nias, dan Mentawai. Jauh sebelum singkong, dan beras datang ke Indonesia, makanan “pokok” warga adalah sagu.

“Bahasa Sunda nasi adalah sangu, bahasa Jawa-nya sego. Sagu adalah sagu, pohon endemik di Indonesia yang tertulis pada relief Candi Borobudur sebagai bagian dari empat palma kehidupan. Tapi di mana mereka sekarang? Apakah Anda pernah melihat pohon sagu di Jawa? Apakah sagu adalah makanan sehari-hari Anda saat ini?” tanya Yu Sing.

Minimnya masyarakat yang makan sagu menyebabkan pohon sagu makin lenyap. Akibatnya, rumah-rumah tradisional bermaterial pohon sagu makin sulit dipertahankan. Rumah Gaba di Tidore yang berdinding pelepah daun sagu, misalnya, terancam punah. Pemiliknya mengaku makin kesulitan mendapatkan pohon-pohon sagu sebagai sumber material.

Sejak dibangun tahun 1414, Masjid Wapauwe di Maluku yang bermaterial sagu terbukti masih kokoh berdiri hingga kini. Pelepahnya bisa dijadikan bahan dinding dan daunnya untuk atap. Di Sangihe, kulit kayu sagu bahkan jadi tulang pengganti baja untuk membangun jembatan.

Masjid Wapauwe Kaitetu, masjid tertua di Maluku yang berusia lebih dari tujuh abad. Masjid ini dibangun dengan menggunakan pelepah sagu tanpa menggunakan paku sama sekali. (Sumber foto: Daily Voyagers)

Material alami lain adalah daun nipah (palm leaves). Nipah merupakan sejenis palem yang tumbuh di areal hutan bakau atau pasang-surut tepi laut sehingga sekaligus berfungsi sebagai penahan gelombang laut. Di pesisir Riau, rumah berbahan nipah tahan hingga lima tahun sementara di Malaysia berusia 10-15 tahun. Sayangnya, masyarakat Jambi saat ini justru lebih memilih mengganti nipah dengan seng yang cenderung lebih panas.

Pengetahuan lokal bisa hilang jika kita tak lagi memelihara interdependensi dengan alam. Lama-lama, sumber daya alam pun punah. Rumah-rumah tradisional bukan cuma bicara soal bentuk atau romantisme budaya tapi juga tentang interdependensi atau hubungan saling bergantung dengan alam dan sosial sekitarnya,” papar Yu Sing.

Kapitalisme Kroni, Akar Ketimpangan Ekonomi
Selain bencana alam dan krisis pengelolaan SDA lokal, jenis bencana lainnya yang tak kalah fatal adalah ketimpangan ekonomi. Mengutip laporan Credit Suisse, sekitar 1 persen orang terkaya di Indonesia rupanya menguasai 49 persen total kekayaan nasional! Sementara itu, 40 persen (sekitar 100 juta) orang miskin harus berebut 1,4 persen total kekayaan nasional.

World Bank juga merilis laporan (2015) bahwa 0,2 persen orang terkaya di Indonesia menguasai 74 persen tanah, sementara 99,8 persen penduduk hanya memperoleh 26 persen sisanya. Menurut Yu Sing, biang lebarnya ketimpangan ini adalah kapitalisme kroni atau sistem kapitalisme yang dibangun berdasarkan kedekatan pengusaha dengan penguasa.

Penguasa sibuk menyusun regulasi yang menjadi karpet merah bagi para pengusaha. Indonesia bahkan menempati peringkat tujuh dunia negara penganut kapitalisme kroni. Mengutip The Economist, indeks ini dirancang untuk menunjukkan apakah dunia sedang mengalami era baru “baron-baron perampok” seperti yang terjadi pada abad 19 di Amerika Serikat.

Kapitalisme Kroni atau sistem kapitalisme yang dibangun berdasarkan kedekatan pengusaha dengan penguasa. Indonesia menempati peringkat ketujuh dunia. (Sumber: The Economist, 2016)

Berbagai kasus (semen Kendeng, Meikarta, tersingkirnya sektor informal, dan sebagainya) menunjukkan perilaku terang-terangan negara yang berpihak pada investor sambil memarjinalkan warganya sendiri. Pengusaha makin dielu-elukan, masyarakat terus dikorbankan. Pahitnya, lahan pertanian dan hutan-hutan adat tak hanya diserbu investor lokal tapi juga pemodal asing.

“Pembangunan Bandara Kertajati tak hanya berhenti pada kebutuhan infrastruktur bandara seluas 1800 hektar. Negara dan pengembang bernafsu memperluas area sekitarnya dengan menyingkirkan petani yang sudah lama bermukim. Demikian pula pembangunan bandara baru di Kulonprogo yang jelas mengabaikan fakta bahwa wilayah pesisir selatan merupakan lempeng Indo-Australia yang rawan gempa dan tsunami,” terang Yu Sing.

Arsitektur yang Memanusiakan
Walau ‘hanya’ sekrup kecil dari ekosistem masyarakat, arsitektur memegang kunci vital. Tiap orang perlu rumah. Tak hanya bangunan fisik namun juga interaksi sosial, nilai-nilai, dan budaya yang tercipta di dalamnya. Artinya, karya arsitektur tak mesti mahal. Seorang arsitek justru harus mampu melayani segala kalangan, termasuk kelompok marjinal.

Berbagai gerakan yang menggaungkan kembali semangat arsitektur kontekstual yang terjangkau dan bersahabat dengan lingkungan sudah bermunculan. Salah satunya digagas oleh Yu Sing lewat Studio Akanoma (Akar Anomali), studio arsitektur yang dikelola mandiri.

Mengusung tagline “belajar menyayangi bumi lewat arsitektur”, Akanoma memiliki visi: mengupayakan arsitektur untuk semua, rekontektualisasi arsitektur nusantara, membangun interdependensi alam-budaya-ekonomi dengan arsitektur, serta mengembangkan wisata ekologis bersama warga.

Yu Sing mencontohkan Studio Akanoma yang berlokasi di Padalarang, Bandung Barat. Studio tersebut dibangun dengan memperhatikan interdependensi dengan alam dalam skala yang sederhana. Mengadaptasi prinsip hutan larangan pada masyarakat adat, Studio Akanoma mendesain “hutan mini” yang ditanami berbagai jenis pohon, termasuk bambu.

Studio Akanoma yang di Padalarang, Bandung Barat. Bangunan hanya mengambil sedikit lahan. Ruang hijau di sekitarnya dipertahankan sebagai “hutan mini” (Sumber foto: dokumentasi Studio Akanoma)

Studio pun dibangun dengan material bambu sebagai struktur utamanya. “Karena studio banyak pakai bambu maka kami menanam pohon bambu. Memang tak bisa memenuhi semua kebutuhan, tapi paling tidak sudah membangun kesadaran bahwa kita bergantung kepada alam,” jelas Yu Sing.

Studio Akanoma juga didesain menciptakan interaksi dengan lingkungan sekitar. Lantai dasar didedikasikan bagi aktivitas sosial seperti pemilu, rapat warga, kegiatan seni, pernikahan, nonton bareng, layanan kesehatan, dan sebagainya. Studio pun berusaha membangun kembali interaksi dengan alam lewat ruang-ruang kerja yang terintegrasi dengan pepohonan.

Studio Akanoma berupaya mempertahankan interdependensi alam, sosial, budaya, ekonomi, dengan arsitektur. (Sumber foto: panduanwisata.id)

Di luar markas, Akanoma berjuang bersama warga lokal berbagai wilayah seperti misalnya pembangunan dapur komunitas di Jombang. Masyarakat menyisihkan lahan pertaniannya untuk ditanami tanaman-tanaman pangan yang bisa dikembangkan menjadi makanan bergizi untuk mereka sendiri, bahkan bisa dijual. Akanoma pun mendesain dapur untuk riset.

Untuk lahan pertanian, atap didesain menampung air hujan yang kemudian diteruskan ke bak bawah tanah. Tanah-tanah bekas galian bak penampung menggelitik Yu Sing untuk memanfaatnya sebagai material dinding. Tujuannya adalah mengurangi ketergantungan pada semen. Studio Akanoma berinisiatif melakukan riset untuk menemukan formula. Hasilnya: tanah, jerami, sekam, dan kotoran sapi –semuanya tersedia di desa tersebut.

“Bambu bukan cuma untuk bilik/dinding tapi bisa dimanfaatkan untuk konstruksi. Ternyata meski daerah tersebut kaya pohon bambu, para tukang yang merupakan warga lokal mengaku bahwa seumur hidup jadi tukang, baru sekali ini mendirikan bangunan bambu. Mudah-mudahan ini bisa menciptakan kembali interdependensi dengan alam,” kata Yu Sing.

Arsitektur kontekstual tentu tak hanya dapat diterapkan di perdesaan. Dalam skala kota, Yu Sing mencontohkan karya Studio Akanoma di Kelapa Gading.

Wilayah ini punya sejarah menarik. Hingga tahun 1990an, Kelapa Gading masih berupa air –barangkali area tangkapan air terbesar dan terakhir di Kota Jakarta. Namun tahun 2006, kawasan ini kering kerontang dan lama-kelamaan disesaki bangunan beton. Akibatnya, kawasan Kelapa Gading selalu dihajar banjir. Wajar saja, secara alamiah air tetap mencari jalan untuk tinggal.

Studio Akanoma mencoba merombak sebuah rumah menjadi rumah panggung Betawi. Dengan anggaran terbatas, pemilik rumah setuju lantainya dibongkar dan dikembalikan menjadi tanah. Untuk mengirit air bersih, dibangun bak penampung air hujan. Maret 2017 saat Kelapa Gading lagi-lagi kebanjiran, rumah ini menyumbangkan lahannya sebagai wilayah tangkapan air.

Dalam rangka mengembangkan wisata ekologis, Yu Sing sadar bahwa selama ini mayoritas warga lokal cuma kebagian remah-remah. Lahan mereka bahkan dicaplok investor-investor makmur yang bernafsu ingin lebih makmur. Studio Akanoma menjawab permasalahan ini dengan membangun homestay berbahan alamiah bersama warga Dieng.

“Hampir 80-90% masyarakat Dieng menjadikan rumahnya sebagai homestay, tapi tanpa desain sehingga nggak menarik, ibarat dandan menor. Lantainya pun pakai keramik padahal Dieng dingin sekali. Menginjak lantai serasa menginjak balok-balok es. Kami bukan datang sebagai investor tapi mengajak warga mengelolanya lebih baik dan tidak merusak alam,” terang Yu Sing.

Di Dusun Ngadiprono (Pasar Papringan) di Temanggung, Jawa Tengah. Studio Akanoma berupaya merenovasi sebuah homestay yang terkesan sumpek dengan memanfaatkan material-material alami yang tersedia di wilayah tersebut. Kamar mandi, kamar tidur, lorong, dan ruang tengah dirombak hingga tercipta nuansa baru. Pencahayaan dan ventilasinya jadi lebih baik.

Renovasi homestay di Dusun Ngadiprono, Kabupaten Temanggung. (Sumber foto: dokumentasi Yu Sing)

Kamar tidur dibenahi dengan konsep kapsul sehingga dapat menampung lebih banyak wisatawan tanpa mengurangi kenyamanannya sehingga diharapkan dapat membantu warga lokal mendapat penghasilan yang lebih baik. Penggunaan material alami tentu bukan kelatahan semata melainkan jadi edukasi berharga bagi seluruh pemangku kepentingan.

Saya jadi ingat pernyataan Norman Foster bahwa arsitektur adalah ekspresi dari nilai-nilai yang dianut arsiteknya. Ini berarti karya-karya kita –apapun bidangnya –secara langsung maupun tidak langsung merupakan cermin atau representasi dari nilai-nilai yang kita anut selama ini.

Paparan Yu Sing memperkuat keyakinan saya bahwa tiap profesi yang dilandasi semangat memanusiakan manusia (dan bukan profit semata), akan sangat berarti bagi masyarakat marjinal –kelompok mayoritas di negeri ini. Mencabut landasan kemanusiaan ketika berkarya hanya akan membuahkan bencana –dan lagi-lagi masyarakat marjinal menjadi korban utamanya.

Meski jalannya sunyi dan teramat berliku untuk menjadi antitesis kapitalisme kroni, setidaknya orang-orang seperti Yu Sing telah berusaha menciptakan oase kemanusiaan sesuai skala terkelola masing-masing.

* * *

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.