Jurnalisme Musik dan Selingkar Wilayahnya

Judul Buku        :  Jurnalisme Musik dan Selingkar Wilayahnya
Penulis                 :  Idhar Resmadi
Penerbit              :  Kepustakaan Populer Gramedia (KPG)
Cetakan               :  I, Desember 2018
Tebal Buku        :  xvii + 197 halaman

“Menulis tentang musik adalah jalan yang sangat sunyi. Namun, hanya di sinilah bisa ditemukan makna. Mereka inilah yang membuat musik dan kehidupan jadi memiliki arti, sebab tidak ada yang lebih berbahaya dibanding kehidupan tanpa makna.”
Idhar Resmadi

Musik mestinya lebih dari sekadar hiburan. Menelaah lebih dalam, musik sesungguhnya kaya makna, bahkan bisa menjadi sarana untuk memahami kondisi masyarakat. Musik kerap berbicara lantang tentang kemanusiaan dan eksistensi manusia. Pada titik inilah jurnalisme musik sebetulnya berperan membantu kita dalam menggali makna-makna tersebut.

Di tengah minimnya referensi tentang peran jurnalisme musik di tanah air, buku terbaru karya Idhar Resmadi ini amat penting dan menyegarkan. Penting karena Idhar mampu menuliskannya secara komprehensif (diperkuat latar profesinya sebagai dosen komunikasi), menyegarkan karena bahkan dalam dunia jurnalistik pun tema ini tak banyak dilirik dan diteliti.

“Jurnalisme Musik Indonesia dan Selingkar Wilayahnya” karya Idhar Resmadi. (Foto: Anton Tanaga)

Idhar memulai paparannya dengan Jurnalisme Musik di Indonesia yang sudah muncul sejak awal abad 20 di Hindia Belanda lewat publikasi akademis para etnomusikolog Belanda. Informasi musik sebelum kemerdekaan lebih banyak beredar lewat radio. Tonggak penting media musik ditandai dengan terbitnya majalah mingguan komunitas jaz Batavia Rhythm Club pada 1940 yang digawangi oleh pelopor jurnalisme musik, Harry Lim

Menarik sekali ketika Idhar memperlihatkan dinamika media musik dari zaman ke zaman. Semangat Soekarno memberangus segala produk Barat membuat kebanyakan tulisan musik yang terbit kala itu lebih menyoroti kontestasi budaya barat dan Indonesia. Belakangan, jurnalisme musik tak bisa dipisahkan dari industri musik yang condong ke Barat, yang tercermin dalam berbagai terbitan majalah musik seperti majalah Aktuil dan Hai.

Pada bab berikutnya, Idhar mengupas perjalanan jurnalisme musik hingga menjadi Perpanjangan Tangan Industri. Berbeda dengan etnomusikolog yang berfokus pada data empiris tentang musik tradisional lewat antropologi budaya, jurnalisme musik lebih berorientasi pada pelaku industri musik sebagai objek kajian utamanya. Perkembangan ini kian pesat pada periode 1960-2000an manakala musik jadi bagian dari industri budaya.

Industri budaya berujung pada terciptanya standardisasi selera massa yang diatur para produsen. Jurnalisme musik merupakan bagian penting dari proses tersebut. Tulisan-tulisan musik jadi perpanjangan proses produksi musik yang mengarahkan selera pembacanya sehingga jurnalisme musik tak lebih dari sekadar panduan konsumen. Agar tidak mudah terjebak, seorang jurnalis musik tentu harus mampu menarik garis-garis batas.

Bicara soal jurnalisme musik sebagai perpanjangan tangan industri, kita patut melirik kembali sejarah jurnalisme dan kritik musik. Maka dalam bab berikutnya, Musik Bukan Sekadar Hiburan, Idhar berupaya memperlihatkan betapa musik lebih dari sekadar estetika teknis melainkan punya fungsi edukasi dan kontrol sosial. Sayang sekali jika peran-peran kritis media musik lenyap dan malah beralih jadi “humas” pelaku industri.

Seorang jurnalis musik juga sebenarnya dapat mengeksplorasi tulisannya lewat beragam cara. Pada bab Jurnalisme Sastra dan Jurnalisme Gonzo, Idhar memotret kegelisahan sejumlah jurnalis yang sudah bosan dengan format itu-itu saja. Mereka pun berimprovisasi dengan penulisan gaya baru, misalnya dengan meminjam unsur-unsur dalam tulisan fiksi yang kemudian melahirkan “jurnalisme sastrawi” dan “jurnalisme gonzo”.

Bagaimana Selera Terbentuk menjadi bab penting mengingat musik selalu identik dengan selera personal. Artinya, selera seorang jurnalis musik sangat mempengaruhi ulasan yang ia tulis, dan ulasan tersebut bisa jadi menggiring pembacanya pada selera tertentu. Yang pasti, selera tidak muncul tiba-tiba. Ia merupakan hasil pembelajaran, latihan, dan jam terbang.

Idhar tak luput mengaitkan persoalan selera dengan pandangan para pemikir kritis seperti Pierre Bourdieu yang melihat pembentukan selera sebagai hasil konstruksi sosial. Mengikuti pemikiran Bourdieu, selera merupakan kekuasaan simbolis yang diciptakan lewat peran jurnalis musik. Selera akhirnya menjadi penentu kelas sosial –seperti tampak pada istilah “kampungan-gedongan”.

Isu lain yang sering muncul yakni kritik musik. Selama ini, banyak yang keliru mendefinisikan kritik sebagai tindakan menghakimi atau mencela. Padahal, kritik justru diperlukan untuk mengungkap makna dibalik karya-karya seniman, dan sifatnya dua arah. Pada bab Adakah Kritik Musik di Indonesia, terlihat betapa dinamika kritik musik tanah air makin tak terpisahkan dari industri musik. Melempemnya budaya kritik musik di Indonesia juga terjadi akibat minimnya literasi musik.

Lantas, bagaimana teknologi (konvergensi) mempengaruhi jurnalisme musik di Indonesia? Idhar menjawabnya lewat bab Kemunculan Media Alternatif. Idhar mengamati hal menarik. Media cetak mainstream memang berguguran tapi ternyata media alternatif berbasis komunitas seperti zine masih menggeliat, terutama sepanjang 1990-2000an.

Sifat media digital memungkinkan siapa pun bisa menjadi seorang jurnalis musik. Keseharian para musisi juga mudah diakses langsung lewat media sosial. Semua ini memunculkan pertanyaan apakah jurnalisme musik akan hilang? Menurut Idham, selama musik masih hadir, jurnalisme musik tak akan hilang –hanya saja format dan cara hadirnya berubah.

Bab pamungkas, Berbincang Jurnalisme Musik di Ambon, merupakan buah catatan Idhar dari Konferensi Musik Indonesia (KAMI) 2018 yang digelar di Taman Budaya Ambon. Dari berbagai diskusi, para peserta mengaku bahwa persoalan terbesar jurnalisme musik Indonesia adalah rendahnya wawasan dan apresiasi para jurnalis dan media terhadap karya musik.

Seiring perkembangan media digital dimana publik bisa memperoleh informasi langsung lewat media digital, jurnalisme musik harus berkembang dari sekadar menayangkan berita yang bakal lenyap dalam hitungan jam, menjadi liputan dengan analisis mendalam. Minimnya literatur musik semisal buku biografi musisi juga jadi problem tersendiri.

Idhar mengakui bahwa jurnalisme musik adalah sebuah perjalanan yang “sepi” meski sudah hadir sejak masa awal kemerdekaan Indonesia. Walau demikian, Idhar optimis jurnalisme musik di Indonesia sebagai bagian ekosistem industri musik akan selalu menjadi salah satu pilar yang punya peran penting dalam membangun apresiasi masyarakat Indonesia terhadap musik.

Buku ini memang tak terjebak pada romantika media musik dengan sedu sedannya namun cemerlang dalam memotret dinamika dan wacana jurnalisme musik. Yang juga menarik adalah kepiawaian Idhar memadukan konteks global-lokal serta konsep-konsep kajian budaya yang tersaji dengan gaya bahasa yang sangat mudah dicerna. Desain sampul dan isi menjadi nilai plus.

Sungguh sebuah kontribusi berharga bagi literasi musik tanah air!

* * *

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.