Merawat Bangsa: Sejarah Pergerakan Para Dokter Indonesia

Judul Buku  :  Merawat Bangsa – Sejarah Pergerakan Para Dokter Indonesia
Penulis           :  Hans Pols
Penerjemah  :  Thomas Bambang Murtianto
Penerbit          :  Kompas
Cetakan          :  I, 2019
Tebal Buku    :  xix + 380 halaman

“Setelah merdeka, dokter nasionalis ‘dinormalisasi’ menjadi dokter nasional. Karena rezim Soeharto secara tegas melunturkan gerakan politik di masyarakat, para dokter dilarang terlibat dalam urusan politik. Tidak seperti pendahulu mereka di zaman kolonial, dokter nasional Indonesia tidak lagi menjadi intelektual publik atau agitator politik.”
Hans Pols

Di era kolonial, para dokter Hindia Belanda begitu aktif melibatkan diri dalam aktivitas politis. Kultur kolonial yang menindas dan mendiskriminasi justru menjadi alasan utama mereka berjuang dalam ranah sosial-politik. Pada akhirnya, sejarah memang mencatat bahwa perjuangan kemerdekaan Indonesia tidak pernah bisa dilepaskan dari peran para dokter.

Terbitnya buku karya Hans Pols (Universitas Sydney) ini pun jadi amat berharga. Hans tak sekadar menulis kronologis pergerakan para dokter Indonesia tapi juga berusaha mengeksplorasi hubungan antara ilmu kedokteran, modernitas era kolonial, dan dekolonisasi. Ia tekun menggali konteks yang melatari pemikiran para dokter, konflik yang muncul dengan penguasa maupun dengan sesama aktivis dokter, berikut transformasinya.

Buku ini menyadarkan saya bahwa gerakan kebangsaan tidak bisa disimplifikasi begitu saja –seolah seluruh pejuang nasionalis sejak awal kompak melawan “musuh asing” Belanda dan Jepang, yang mencapai puncaknya lewat Proklamasi Kemerdekaan Indonesia. Hans memperlihatkan heterogenitas pemikiran para dokter yang dipengaruhi latar situasi kala itu.

Buku “Merawat Bangsa: Sejarah Pergerakan Para Dokter Indonesia” karya Hans Pols (Kompas, 2019)

Pada bab 1 (Abdul Rivai: Ilmu Kedokteran dan Daya Tarik Modernitas), Hans menganalisis gagasan dan aktivitas para dokter Hindia Belanda generasi pertama yang lulus sebelum berakhirnya Perang Dunia I lewat sosok sang perintis, Abdul Rivai. Meraih gelar dokter Eropa dipandang Rivai sebagai langkah awal berpartisipasi dalam dunia modern. Ia yakin ilmu kedokteran bisa membuat Hindia Belanda keluar dari status primitifnya –sampai akhirnya sadar semua hanya mimpi belaka. Nyatanya, dokter-dokter Hindia Belanda tak pernah diperlakukan setara dengan dokter-dokter Eropa.

Bab 2 (Pesona Sains Kosmopolitan: Kehidupan Pelajar Sekolah Kedokteran di Hindia Belanda) menyoroti situasi pendidikan kedokteran di Hindia Belanda yang sangat kosmopolitan baik dari sisi bahasa maupun pergaulan para pelajarnya. Mereka fasih berbahasa Belanda, berminat pada politik, dan menyukai pesta. Tahun 1912, para pelajar ini bahkan berhasil mencabut aturan yang mengharuskan mereka mengenakan pakaian etnis. Sekolah kedokteran pun menghasilkan identitas baru yakni “elit rakyat kolonial hibrida” yang memadukan sifat tradisional dan cita-cita modern.

Dalam bab 3 (Pergerakan Kaum Muda di Hindia Belanda: Kemajuan, Westernisasi, dan Kebanggaan Budaya), Hans menelaah bagaimana para pelajar ini menggunakan pendidikan medis sebagai alat untuk mendiagnosis kondisi masyarakat kolonial. Mereka mulai membentuk perkumpulan untuk meningkatkan kesadaran akan isu-isu politik dan sosial-budaya. Dr. Tjipto Mangoenkoesoemo sempat bergabung dengan Boedi Oetomo sebelum akhirnya mendirikan Partai Hindia Belanda (Indische Partij).

Para pelajar kedokteran Jawa juga menggagas perkumpulan Tri Koro Dharmo pada 1915 yang kemudian menjadi Jong Java. Dua tahun setelahnya, sejumlah pelajar kedokteran dari Sumatra mendirikan Jong Sumatrenan Bond. Para pelajar kedokteran menggagas nyaris semua organisasi pelajar di Hindia Belanda dan menjadi pemimpin kunci. Mereka menyajikan program perubahan sosial-politik dan aktif mendiskusikan masa depan Hindia Belanda.

Bab 4 (Aspirasi Profesional dan Ambivalensi Kolonial: Perkumpulan Dokter Hindia Belanda) memperlihatkan enggannya pemerintah kolonial mengakui dokter Hindia Belanda sebagai mitra sejajar. Politik Etis setengah hati memunculkan status ambigu yang memicu frustrasi. Mereka pun menyusun protes terorganisasi lewat aktivisme politik untuk menghapus perbedaan antara orang Eropa dan penduduk pribumi.

Para pelajar kedokteran STOVIA tahun 1919 (Koleksi Tropenmuseum/Museum Nasional Belanda Etnologi)

Lewat bab 5 (Penghinaan Ilmu Psikiatri Kolonial dan Kerusakan Psikologis Kolonialisme), Hans menunjukkan alasan yang melatari keengganan Belanda. Sejumlah psikiatri kolonial seperti Travaligno serampangan menyimpulkan bahwa fungsi moral penduduk pribumi tak berkembang karena berada pada tahap evolusi primitif. Penghinaan ini membuat dokter-dokter Hindia tak lagi bercita-cita menjadi orang Eropa sehingga akhirnya justru menginisiasi dekolonisasi ilmu kedokteran.

Bab 6 (Depresi Besar: Inisiatif Rockefeller Foundation dan Nasionalisme Para Dokter) menjabarkan inisiatif dari Yayasan Rockefeller yang mendanai berbagai proyek kesehatan masyarakat di Hindia Belanda. Para dokter menjalin interaksi langsung dengan warga pelosok sehingga benar-benar menjawab kebutuhan masyarakat. Inisiatif ini menjadi alternatif manajemen kesehatan masyarakat yang selama ini berorientasi kuratif dan terlalu bergantung pada rumah sakit dan layanan dokter lengkap.

Bagi sejumlah dokter Hindia Belanda, aksi “jemput bola” ini menumbuhkan cita-cita nasionalis bahwa mereka sebenarnya bisa melayani masyarakat dengan jauh lebih efektif daripada rumah sakit dan klinik Dinas Kesehatan. Abdul Rasjid bahkan menjadikan prinsip Rockefeller sebagai nasionalisme medisnya: program kesehatan masyarakat adalah cara paling efisien untuk meningkatkan kesehatan dan kekuatan fisik penduduk Indonesia.

Bab 7 (Para Dokter Indonesia dalam Kemakmuran Bersama Asia Timur Raya) menyajikan catatan sejarah menarik. Jepang membuka Sekolah Kedokteran (Ika Daigaku) di Jakarta pada 29 April 1943 yang disambut dengan antusiasme luar biasa –fakta yang kemudian dihilangkan dalam catatan sejarah nasional. Untuk pertama kalinya elit kedokteran Indonesia bertanggung jawab atas pendidikan medis. Untuk pertama kalinya pula mahasiswa kedokteran belajar dalam bahasa Indonesia.

Menyusul kelaparan dahsyat yang menewaskan banyak penduduk akibat pungutan beras secara paksa, bibit anti-Jepang bertebaran, terutama di kalangan anak muda. Berkebalikan dengan para dokter Hindia Belanda yang antusias menganut idealisme medis Jepang, anak-anak muda yang tidak puas lebih suka bergabung dengan berbagai kelompok yang memusuhi Jepang.

Kiprah para dokter Indonesia menyusul pecahnya revolusi pasca proklamasi 17 Agustus 1945 terangkum dalam bab 8 (Heroisme Para Dokter Selama Revolusi Indonesia). Selama masa revolusi, mereka mempertahankan pendidikan kedokteran dan layanan medis. Tapi semangat membangun negara baru membuat banyak pula yang memilih jadi perwira militer, wartawan, politisi, pengusaha, dan pejabat sehingga jumlah profesi medis berkurang.

Bab 9 (Menjadi Dokter di Era Indonesia Merdeka: Dokter Nasional dan Kondisi Kesehatan Internasional) menggambarkan transformasi para dokter nasionalis menjadi dokter nasional yang bekerja di lembaga kesehatan pemerintah. Infrastruktur dan sistem pelayanan kesehatan perlahan dibangun. Pada rezim Soeharto, pengembangan sistem kesehatan berkembang pesat dengan catatan para dokter tak boleh berpolitik praktis. Motif mengentaskan diskriminasi ras dan etnis pada era kolonial pun berganti menjadi profesionalisme dan kemajuan pribadi.

Pada bab 10 (Kesimpulan: Pasang Surutnya Dokter Pribumi), Hans menyodorkan analisa menariknya. Kiprah mula-mula para dokter sebagai tokoh pergerakan nasional surut seiring waktu. Upaya depolitisasi Soeharto membuat para dokter tak lagi berperan sebagai intelektual publik maupun agitator politik. Mereka hanya diizinkan menekuni profesinya. Meski demikian, kondisi kesehatan masyarakat Indonesia tetap memprihatinkan.

Para asisten laboratorium di Pasteur Institut – Bandung, 15 Agustus 1943 (Dokumentasi NIOD)

Hingga detik ini, Indonesia masih kesulitan menyediakan layanan kesehatan yang layak bagi rakyatnya. Hans menyoroti kesenjangan layanan kesehatan yang saat ini makin terasa dibanding sebelumnya, terutama setelah desentralisasi. Program Keluarga Berencana meredup, fasilitas tak begitu memadai, BPJS terseok-seok –sementara konstelasi sosial-politik membuat para dokter tak lagi berorientasi pada kesehatan masyarakat di pelosok.

Yang luput disinggung Hans, praktik korupsi dan diskriminasi sesungguhnya turut berperan menumpulkan kualitas dokter Indonesia, bahkan sejak tahap rekrutmen kampus. Rumitnya proses adaptasi bagi para dokter Indonesia lulusan mancanegara, pengabaian peran tenaga kesehatan lokal dan penelitian tanaman obat, serta macetnya koordinasi lintas kementerian/lembaga merupakan segelintir dari banyak persoalan struktural.

Jadi, benarkah tujuan finansial tampaknya lebih penting bagi dokter zaman now daripada idealisme yang pernah mewarnai profesi ini di masa lalu? Hans tak memberi jawaban langsung. Ia memilih menjelaskan kecenderungan Indonesia menganut pendekatan baru yang mendukung program vertikal, intervensi teknologi, dan inovasi di bidang farmasi.

Menurut Hans, pendekatan tersebut “mengulang kembali warisan lama pengobatan kolonial, yang sering ditandai dengan intervensi spesifik penyakit dan fokus pada epidemi serta perhatian terhadap pengendalian jumlah penduduk.” Prakarsa ini justru menguatkan gagasan usang bahwa epidemi berbahaya berasal dari wilayah yang warganya tak punya gaya hidup sehat. Karantina dan pemusnahan hewan ternak, misalnya, justru melemahkan kelompok miskin di negara-negara berkembang seperti Indonesia.

Pendekatan yang populer dengan label ‘kesehatan global’ ini juga menyuburkan prakarsa swasta yang bermotif profit, terlebih di negara yang praktik swasta, rumah sakit swasta, dan skema asuransi kesehatan swastanya nyaris tak pernah diatur. Dokter-dokter Indonesia tidak terlampau didorong untuk berpartisipasi dalam program kesehatan masyarakat. Akar sosial dan ekonomi dari sebuah penyakit juga cenderung diabaikan.

Ironisnya, pendekatan inilah yang kini melenggang paling mulus di tanah air.

* * *

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.