Memelihara Harapan

Sekilas, judul ini terasa klise bukan?

Ceritanya, belakangan ini gue merasa “harapan” jadi kata yang paling sulit terlontar dari dasar hati. Kondisi sosial, politik, ekonomi, pendidikan, keluarga, pacar, selingkuhan –pokoknya kehidupan hari-hari ini –lebih banyak mengundang kehampaan, kejenuhan, kegamangan, kemiskinan, kejahatan, kecurigaan, kecemasan, …….. oke, isi sendiri titik-titiknya.

Beberapa mahasiswa, yang kudunya punya stok harapan paling banyak, sudah putus asa bahkan sebelum mereka memulai karya nyata di luar sana. “Sebagai pengajar, kudunya loe memotivasi mereka supaya punya harapan buat masa depan dong!” seorang rekan nyletuk. Pengennya sih gitu!

Tapi gimana caranya memotivasi anak-anak orang sementara gue sendiri nggak yakin? Lama-lama gue bisa alih profesi jadi motivator aja sekalian.

Meski begitu, bukan berarti gue sepenuhnya memandang segala hal tanpa harapan. Kalau dunia madesu, buat apa gue masih ngotot berjuang di ranah pendidikan? Kalau tak ada setitik pun harapan, buat apa capek-capek menulis buku, artikel, dan blog? Mending tidur aja, kan?

Mencekoki harapan palsu cuma membuat gue jadi tukang PHP. Kasihan mereka yang selama hidupnya sudah berkali-kali dikecewakan oleh banyak hal. Lagian, dunia masa kini nyatanya memang tak semakin indah dan mudah. Menutupi realita atau menghibur diri dengan harapan palsu cuma membuat kita gagal menganalisa masalah dengan kritis dan reflektif.

Seorang teman yang sangat solehah berucap, “kamu kok nggak beriman gitu? Miliki harapan senantiasa dong!” Ehem. Masalahnya, keimanan dan harapan berdasarkan penilaian atas realita itu memang tidak selamanya sejalan, Bung! Malah seringnya bertolak belakang. Oleh karena itulah banyak orang merasa perlu memelihara harapannya lewat jalur keimanan dan ketakwaan.

Adakalanya pasang-surut harapan bergantung pada latar seseorang. Bagi seorang Atta Halilintar, harapannya untuk mengantungi visa Amerika Serikat dan hidup nyaman hingga hari tua dikelilingi apapun yang ia dambakan mungkin jauh lebih besar daripada sobat misqueen atau guru-guru dari daerah pedalaman yang status kepegawaiannya masih tak jelas hingga detik ini.

Dalam konteks sosial-politik, harapan kita pada pemerintah saat ini untuk mengusut kasus-kasus pelanggaran hak asasi manusia mungkin makin tipis (dibanding lima tahun lalu sekalipun), kalau tidak hilang sama sekali.

Awalnya, gue naif berpikir bahwa satu-satunya cara menyalakan kembali harapan adalah melawannya dengan bombardir tulisan-tulisan yang gue asumsikan bisa menumbuhkan harapan. Yang inspirasiong dikitlah, biar nggak sedih-sedih mulu. Mari kita angkat tokoh-tokoh keren! Mari kita tulis aksi-aksi yang bakal menggugah orang berbuat bajik dan bijak.

Dipikir-pikir lagi… setelah nulis capek-capek, tahu darimana kalau orang-orang yang membaca bakal terinspirasi dan kemudian tergugah bertindak positif? Jangan-jangan baru ngelirik judulnya aja udah males dan lebih milih konten hoaks pada feeds berikutnya, terlebih kini netijen punya kuasa menentukan konten favorit di tengah banjirnya informasi.

Malah sepertinya mayoritas netijen lebih mudah tersedot pada konten-konten yang menegasikan harapan. Makin aneh dan sadis (judul) kontennya, makin tinggi traffic-nya. Mengikuti logika industri media, tingginya traffic konten meningkatkan peluang akan hadirnya konten-konten sejenis pada kesempatan berikutnya mereka membuka media sosial. Konten lain kelelep sudah, Kaka.

Akhirnya, kita lebih terbiasa dengan konten-konten hasil seleksi SEO (Search Engine Optimization) yang menyuapi kita dengan sekelumit kejadian yang ingin kita baca saja. Padahal, realita yang dicacah-cacah alias terfragmentasi sudah tidak bisa disebut mewakili keseluruhan realita.

Pencurian dan perampokan? Ah, biasa. Tiap hari juga ada.
Pembunuhan? Sama aja…
Penembakan? Sering banget ya kejadian di Eropa dan Amerika.
Pengeboman? Yeah… oleh teroris lagi, kan? Lagi musim tuh!
Pemerkosaan terhadap anak kandung? Hari gini nggak ada yang mustahil!

Patologi sosial jadi hal yang biasa-biasa saja, sementara harapan justru jadi sesuatu yang LUAR BIASA hingga kita cenderung norak memberi respons. Wah, dia hebat saudara-saudara. Tepuk tangan! Langka dan inspiratif! Patut dikupas dan diteladani!

Pada kutub sebaliknya, percik harapan justru menjadi bahan olok-olok. Saking asanya sudah lama putus, mereka sama sekali tak bisa mempercayai munculnya ‘keajaiban dunia’ barang setetes pun.

“Ah, itu mah kebetulan aja. Hoki!”
“Ah, dia kan punya privilege! Ya, pantes ajalah!
“Ah, dia bisa begitu karena backing-nya kuat, cuy!

Redupnya harapan sampai bikin kita lupa bahwa kebahagiaan mestinya hal normal sementara kelaparan, kesakitan, kesengsaraan, kemiskinan, dan kenelangsaan sepatutnya makin jarang terjadi di dunia yang konon sudah makin canggih dengan segenap jargon revolusi industrinya.

Pertanyaannya, untuk siapa segala kecanggihan itu? Siapa yang paling diuntungkan dengan kecanggihan itu? Bagaimana kecanggihan bisa membahagiakan semua orang di dunia tanpa kecuali? Mencoba memikirkan jawabannya saja sudah berpotensi memadamkan harapan kita.

Lucunya, ketika sibuk memikirkan ini, gue kerap disebut overthinking dan terlalu idealis. Terlalu banyak mikir untuk hal-hal yang jawabannya sudah jelas. Jelas suramnya. Padahal, kegiatan berpikir konon membedakan manusia dengan makhluk lainnya. Kata Rene Descartes, cogito ergo sum –saya berpikir maka saya ada. Kalau nggak berpikir, saya nggak ada dong?

Balik lagi ke soal harapan, dengan semua carut-marut ini, bagaimana cara memelihara asa yang masih tersisa? Seberapa jauh kita harus berkompromi dengan hal-hal yang bertentangan dengan nurani demi bisa bertahan hidup di dunia ini? Masih adakah setitik harapan yang bisa menjadi bensin penggerak kita untuk berkarya dan tak sekadar bertahan hidup sampai maut menjemput?

Bagi mereka yang sangat solehah dunia-akhirat, gue duga jawabannya akan dikembalikan pada keimanan masing-masing –dan itu berarti segelap apapun ujungnya, PASTI selalu ada harapan. Kok yakin banget? Tahu darimana? Nggak tahu, tapi pokoknya pasti ada harapan soalnya tidak ada yang mustahil bagi Tuhan. Well! Gue tidak mau berkomentar banyak soal ini.

Motivator yang melihat potensi pasar seiring meningkatnya angka bunuh diri berkoar bahwa cara efektif menyalakan harapan adalah menyesuaikan jarak antara ekspektasi dengan harapan. Makin jauh jaraknya, makin kita kecewa. Nahasnya, orang keliru menafsirkan sehingga malah tidak berekspektasi sama sekali. Tak mau kecewa? Ya sekalian saja tak usah bercita-cita atau bermimpi.

Dan masih banyak lagi versi-versi lainnya… mulai dari yang paling masuk akal sampai paling absurd. Tentu saja tak ada formula tunggal untuk membentuk dan memelihara asa sekaligus mencegah putus asa.

Pada saat bersamaan, kita tahu bahwa masih ada segelintir masyarakat (jelata, bukan selebgram!) yang sadar mereka tak bisa berharap banyak pada siapapun, apalagi pada pemerintah, tapi keukeuh melakukan aneka kebajikan bagi keluarga dan masyarakat di sekitarnya. Skalanya tidak besar-besar amat, tapi untuk itu pun mereka harus mengorbankan kesenangan pribadinya.

Mengapa mereka masih mau bersusah payah melakukannya padahal sadar bahwa kemungkinan gagal lebih besar daripada berhasil –dan sekali gagal bakal menghabiskan banyak hal berharga dalam kehidupan mereka? Kalau sadar kecenderungan dunia bakal gini-gini aja, untuk apa mereka rela memeras keringat yang bahkan sudah tak bisa diperas lagi?

Perlu penelitian sosiologis-antropologis kalau mau membedah satu per satu jawabannya. Tapi paling tidak, gue melihat benang merah yang sama yaitu bahwa mereka justru berusaha menciptakan harapan, alih-alih pasrah belaka pada nihilnya harapan di zaman edan. Dan namanya orang berusaha ya bisa sukses, bisa gagal. Yang penting sudah usaha.

Tengok saja kolom SOSOK di koran Kompas yang tiap harinya menampilkan masyarakat jenis ini. Beberapa teman memberi istilah yang sangat menarik yakni smart initiatives, orang-orang ‘kecil’ yang punya inisiatif melakukan sesuatu bagi lingkungan sekitar sesuai skala terkelolanya masing-masing.

Dan kiprah mereka mengingatkan gue pada novel Sindhunata yang gue baca beberapa hari lalu. Judulnya “Menyusu Celeng” (GPU, 2019). Dalam novel fiksi penulis memang bebas bicara apa saja, yang paling tak masuk akal sekalipun. Tapi salah satu paragraf di halaman 30 terlalu sayang dilewatkan begitu saja.

Harapan memang bukanlah optimisme. Dalam harapan ada yang jauh lebih dalam daripada sekadar optimisme. Sulitnya meraba dan menyatakan harapan macam ini akan terasa, bila harapan itu dialami bukan secara individual dan eksistensial tapi secara sosial.

Secara sosial, sulitlah orang meromantisasikan harapan. Dalam konteksnya yang sosial, harapan berarti perjuangan, perlawanan dan pergulatan melawan penindasan dan kesewenang-wenangan. Di sinilah harapan menjadi perjuangan melawan kekuasaan, yang biasanya cenderung menindas dan sewenang-wenang.

Kutipan menarik lainnya dilontarkan Rara Sekar Larasati dalam salah satu workshop fotografi kritis yang berlangsung Maret 2019 silam di Bandung.

Membangun dan merawat harapan (language of hope) dapat dimulai lewat pengetahuan-pengetahuan alternatif diluar pengetahuan dominan. Harapan hanya bisa dimulai dari pengetahuan, yang tercermin lewat karya-karya yang kita hasilkan.

Maka terhadap kawan super-saleh yang selama ini menganggap gue kurang iman menghadapi getirnya dunia, gue jadi tergelitik merespons.

“Oke bro, selain harapan, apalagi hal yang perlu dimiliki manusia?”
“Iman dan kasih.”
“Yang ‘terbesar’ di antara ketiganya menurut bacaan loe?”
“Kasih…”
Ashiappppp!

* * *

Sylvie Tanaga
Bandung, 3 Mei 2019

Sumber foto: rmi.org

Advertisements

3 thoughts on “Memelihara Harapan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.