Bob Sugeng Hadiwinata: Keep Your Total Commitment and Dedication

Oleh: Sylvie Tanaga

Bob Sugeng Hadiwinata, biasa dipanggil Mas Bob, tutup usia pada 28 Mei 2019 setelah sekian lama bergulat melawan penyakit. Beliau adalah dosen saya ketika berkuliah di Jurusan Hubungan Internasional, FISIP UNPAR –sosok yang paling berjasa memperkenalkan saya pada dunia LSM lewat mata kuliah yang beliau ampu yakni “LSM dan Pemberdayaan Masyarakat Sipil” (Non-Governmental Organizations and Civil Society Empowerment).

Semua yang pernah jadi mahasiswanya pasti tahu betapa berbobotnya Mas Bob dalam memberikan materi –namun pada saat bersamaan amat rendah hati dan membumi. Teori serumit apapun pasti berhasil beliau jelaskan dengan bahasa paling sederhana. Mahasiswa yang masih kinyis-kinyis ingusan tak pernah beliau pandang remeh. Beliau mengajar dengan penuh kasih dan kesabaran yang luar biasa seperti seorang ayah pada anak-anaknya.

Berpulangnya Mas Bob menghadap Tuhan menorehkan rasa kehilangan yang begitu mendalam. Kemudian, tiba-tiba saya jadi ingat wawancara dengan beliau tahun 2011. Wawancara delapan tahun silam tersebut seharusnya sudah mewujud buku, tentang para Tionghoa yang sangat berjasa bagi Indonesia. Sayangnya, karena satu dan lain hal buku tersebut urung terbit.

Saya pikir, sayang sekali jika pemikiran-pemikiran beliau hanya tersimpan dalam hardisk saya. Untuk mengenang Mas Bob dan nilai-nilai hidupnya, saya putuskan untuk merilis saja naskah wawancara dengan beliau dalam weblog ini dengan suntingan seperlunya. Semoga teman-teman yang membaca ini bisa memetik sesuatu dari kisah kehidupan beliau. Rest in peace, Mas Bob!

Ilustrator: Benny


Nama                                                    :  Bob Sugeng Hadiwinata
Tempat, tanggal lahir                     :  Bondowoso, 23 Maret 1963

Pendidikan
–  SDK Indra Siswa, Bondowoso
–  SMPK Indra Prastha, Bondowoso
–  SMAK Swastiasta (Santo Yusuf), Denpasar
–  S1 FISIPOL Hubungan Internasional Universitas Gadjah Mada
–  S2 Hubungan Internasional, Monash University, Australia
–  S3 Political Science, Cambridge—King’s College University, Inggris

Buku-buku yang Dihasilkan
–  Politik Bisnis Internasional (2002)
–  The Politics of NGOs in Indonesia: Developing Democracy and Managing a Movement (2003)
–  Fair Trade: Sebuah Perdagangan Alternatif –bersama Aknolt K. Pakpahan (2004)
–  Democratization in Indonesia: Challenges of Consolidation (2007)
–  Demokrasi di Indonesia: Teori dan Praktik (2010)
–  Studi dan Teori Hubungan Internasional: Arus Utama, Alternatif, dan Reflektivis (2017)


Ceritakan latar keluarga Mas Bob…
My mother is Chinese, but she married with somebody who culturally mix. Saya tinggal di Madura. Dalam lingkungan Tionghoa, saya masuk golongan marginal. I was born in the village surrounded by Maduranese. Even my father and my uncle haven’t Chinese blood but may be some people look at my looks. My brother married the Javanese and I’m also married the Javanese, my sister even married the Padangnese. I don’t think my mother is “totok” but she can speak Chinese fluently.

Ceritakan perjalanan Mas Bob hingga menjadi seorang akademisi seperti sekarang ini
Awalnya, saya nggak pernah terpikir menjadi seorang dosen sekalipun papa adalah guru bahasa Belanda. Beliau mengajar di sekolah yang sebagian besar muridnya etnis Tionghoa. May be that’s why he meets my mother. Di kampung saya bahkan banyak yang enggak lulus Sekolah Dasar. Pada saat itu, lingkungan saya benar-benar very unknown educated.

Di sana, ada SD Inpres yang letaknya dekat kota. Saya berangkat dari rumah ke sekolah jam lima subuh karena jaraknya 20 kilometer dan off road. Waktu kecil, saya belum bisa naik sepeda sendiri, selalu dibonceng pulang-pergi. Ketika duduk di kelas 6 SD, barulah saya bisa naik sepeda sendiri.

Di SD Inpres, anak-anak pada nggak bisa baca tulis sehingga cukup banyak orang memberikan buku-buku terbitan Balai Pustaka. Buku-buku itulah yang saya gunakan tiap hari untuk belajar. Saya bawa ke rumah dan saya baca hingga habis. Saya juga melahap berbagai majalah dan buku pemberian orang tua. Kemampuan menulis saya mungkin mulai berkembang dari kebiasaan ini.

Saya bukan anak yang menonjol di sekolah. Saya baru sungguh-sungguh belajar saat kelas 3 SMP, ketika pindah sekolah ke Kota Denpasar. Setiap Minggu saya nongkrong di Kuta untuk belajar bahasa Inggris sebanyak-banyaknya dari native speaker, karena saya nggak kuat bayar les Bahasa Inggris. Saya banyak belajar dari orang Skotlandia, Irlandia, dan sebagainya.

Setelah itu, saya diterima kuliah di Universitas Gadjah Mada (UGM) jurusan Hubungan Internasional. Kata seorang teman, saya berbakat jadi dosen. Saya tanya kenapa. “Soalnya dalam kelompok diskusi belajar, kamu lebih jelas menerangkannya daripada dosen,” jawabnya.

Tak disangka, saya benar-benar terpilih menjadi asisten dosen di UGM. Seringkali saya kebagian tugas menggantikan dosen mengajar. Sejumlah dosen akhirnya menjadi Rektor UGM, termasuk Pak Yahya Muhaimin –yang kemudian jadi menteri. Lucunya, sebagian mahasiswa yang saya ajar adalah teman-teman saya sendiri. Singkat cerita, saya melamar jadi dosen hingga akhirnya “terdampar” di Universitas Katolik Parahyangan (UNPAR), Bandung.

Waktu itu, UNPAR sedang merekrut tenaga-tenaga baru untuk jurusan Hubungan Internasional. Yang terpilih saya, Mangadar Situmorang, dan Aleksius Djemadu. Kurang dari setahun berkarya di UNPAR, saya melamar beasiswa ke Australia dan ternyata diterima. Desember 1990, saya berangkat dan lulus Mei 1993. Setelah itu, saya balik Indonesia. Dua tahun di UNPAR, saya dapat beasiswa dari King’s College University selama setahun.

Selanjutnya, saya melamar ke Cambridge University dengan harapan bisa meng-upgrade gelar PhD menjadi doktor walau waktu itu belum ada jaminan. Aplikasi saya diterima dan PhD bisa upgrade sehingga saya nggak usah mengulang dari awal. Saya beruntung karena dapat beasiswa berkuliah di Cambridge University yang sponsornya adalah Pangeran Charles.

Biaya kuliah Cambridge University mahal minta ampun. Tahun 1995–1998 saja sudah £8.000, belum termasuk college fee. Totalnya sekitar £11.000. Untuk kebutuhan sehari-hari, saya dapat gaji bulanan UNPAR. Sebagian dana beasiswa akhirnya dihitung sebagai pinjaman. Di sana, saya belajar selama tiga tahun dan dapat banyak ilmu. Bikin disertasinya struggle banget sampai mau muntah. Tekanannya terlalu berat. Saya bersumpah nggak akan nyentuh lagi sampai kapan pun. Namun kenyataan berkata lain.

Kurang dari setahun kemudian, saya kembali ke UNPAR. Seorang teman baik dari Leeds University tiba-tiba mengontak: “Bob, waktu di Inggris kan kamu janji mau kasih desertasimu untuk saya baca.” Akhirnya disertasi saya kirim lewat email. Seminggu kemudian, saya terima email balasan. Isinya: Bob, on your behalf I can consider your dissertation to be published.

Lama nggak mendengar kabar, saya dapat laporan bahwa penerbit Routledge menyatakan naskah saya layak dipublikasi dengan beberapa poin perubahan. Karena sudah out of date, saya jadi bingung. Untuk utak-utik lagi berarti saya harus kembali ke lapangan untuk riset. Namun kesempatan emas nggak akan balik lagi. Akhirnya saya update bukunya selama tujuh bulan.

Tahun 2003, disertasi saya akhirnya diterbitkan dengan judul The Politics of NGOs in Indonesia: Developing Democracy and Managing a Movement.

Mengapa Mas Bob memilih menekuni ilmu Hubungan Internasional yang kala itu belum populer di Indonesia?
Ketika ikut SIPENMARU (Sistem Penerimaan Mahasiswa Baru), saya mendaftar ke UGM dan mengisi formulir bersama teman-teman SMA. Saya harus menentukan prioritas antara bidang IPA atau IPS. Saya nggak diterima IPA walaupun nilai Fisika di ijazah nilainya sembilan. Bidang IPS, saya sebenarnya nggak suka belajar ekonomi. Tapi di situlah pertama kalinya saya melihat ada yang namanya jurusan Hubungan Internasional.

Saya hanya berkata: “ini kayaknya jurusan menarik nih! Ha-i (HI)!” Mungkin memang jalannya Tuhan. Keluarga nggak ambil pusing dengan pilihan saya, yang penting biayanya nggak terlalu besar karena saya anak laki-laki satu-satunya. Tahun 1983, biaya masuk kuliah dua juta sekian. Lebih murah dibanding saat ini namun untuk ukuran zaman dulu sudah terasa mahal.

Selesai S2 dan S3, mengapa Mas Bob tidak meneruskan karir sebagai peneliti di luar negeri?
Saya pernah mengajar di Jerman dan tinggal lima tahun di Inggris. Waktu itu, banyak orang Indonesia melarikan diri karena kerusuhan Mei 1998. Kwik Kian Gie menulis di Kompas bahwa ia akan tetap berada di Indonesia. Katanya, “…karena saya tahu walaupun ada uang, keamanan, dan kemapanan di luar negeri, you are nobody. You lost your family. Dengan tetap tinggal di Indonesia you are still somebody walaupun kamu minoritas.”

Kedua, waktu di Inggris saya melihat seorang bapak tua naik ke atas genteng rumahnya. Waktu itu memang mau ada siaran pertandingan langsung championship sepakbola antara Manchester United dan Bayern Munchen.

“Pak, kok naik ke genteng?”
“Antenanya lagi nggak benar nih,” jawabnya.
“Kenapa naik sendiri? Kalau jatuh gimana?”
“Kalau saya pekerjakan kamu lalu kamu jatuh, saya harus bayar biaya hidupmu. Selain itu, sebelum mempekerjakan kamu, saya harus punya insurance untuk kamu.”

Duh, complicated banget. Lebih baik pulang ke Indonesia.

Bagaimana kisah Mas Bob menjadi guru besar?
Kepangkatan saya sebetulnya termasuk paling lambat di antara teman-teman. Ketika kembali dari Monash University, saya nggak bisa mengurus kepangkatan karena golongannya masih kurang. Saya tidak bisa langsung naik ke golongan 3C karena itu adalah golongan untuk dosen yang sudah establish.

Waktu itu, saya sudah lulus golongan 3A —pangkat paling rendah yang didapat seorang dosen. Meskipun sudah dapat golongan 3A, saya tidak bisa lompat ke golongan 3C. Padahal, mereka yang baru masuk dua atau tiga tahun tiba-tiba bisa langsung lompat ke golongan 3C. Saya harus masuk golongan 3B lebih dahulu. Itu sebabnya pangkat saya termasuk yang paling rendah di antara teman-teman yang baru masuk.

Sepulang dari Cambridge University, saya tertahan di golongan 3B. Saya agak frustrasi sehingga nggak pernah bermimpi lagi jadi guru besar. Waktu menjabat sebagai ketua jurusan tahun 2004 pun golongan saya masih 3B, padahal anak buah sudah 3C atau 4A. The second lowest. Dengan begitu, gaji yang saya terima lebih rendah. Waktu teman-teman luar negeri tahu jumlah gaji saya, mereka tertawa dan berkata, “It’s very funny you know!

Desember 2004, saya dapat beasiswa ke Jerman namun baru diizinkan berangkat setelah mengurus masalah kepangkatan. Akhirnya, saya kumpulkan poin-poin sebelum berangkat ke Jerman. Tahun 2005, saya pulang ke Indonesia dan akhirnya bisa lompat pangkat. Ternyata ada aturan baru yang menguntungkan. Saya bisa lompat dari golongan 3B ke 4B.  Sungguh lompatan yang luar biasa karena golongan 4B adalah guru besar madya.

Tapi sebelum akhirnya jadi guru besar tahun 2008, pengajuan saya sempat ditolak. Alasannya cukup aneh: pengajuan kepangakatan Anda masih belum dapat diproses karena poin yang Anda kumpulan melebihi batas kewajaran. Kemudian saya jatuh sakit sehingga belum sempat mengurus lagi. Tahun 2008 barulah saya mendapat gelar guru besar.

Apa peran yang Mas Bob emban sebagai seorang guru besar?
Mengembangkan disiplin ilmu Hubungan Internasional. Sekarang saya sedang menelusuri suatu rencana kerja sehingga produk Hubungan Internasional bisa berkembang, paling tidak menjadi empat hingga lima program studi. Program studi inilah yang sedang saya matangkan.

Jurusan Hubungan Internasional makin berkembang. Yang tadinya hanya menghasilkan diplomat, sekarang lebih luas. Isu pun makin berkembang. Sejak tahun 1970-an hingga 1990-an, isu yang berkembang adalah militer, kebijakan luar negeri, diplomasi, dan organisasi internasional. Sekarang sudah berkembang pula isu-isu media, Multinational Corporation, dan NGO.

Mengapa Mas Bob memilih menekuni politik bisnis internasional, isu-isu global, dan NGO?
Saya kira itu bukan minat. Sebagai orang Hubungan Internasional, saya harus bisa semua, kecuali bahasa. Saya nggak bisa Mandarin. Di Australia, saya mengajar tentang negara berkembang. Kembali ke Indonesia, tempatnya sudah diisi sehingga saya harus mengajar topik lain. Akhirnya saya mengajar teori HI. Saya mengajar NGO karena disertasi doktor saya tentang NGO.

Mas Bob adalah salah seorang inisiator AIHII (Asosiasi Ilmu Hubungan Internasional Indonesia) pada 3 Desember 2009. Bagaimana kisahnya?
Tujuan awal AIHII sebenarnya agar jangan sampai HI di Riau dan Sulawesi sangat tertinggal dengan HI di Jawa seperti UI, UNPAD, UNPAR, dan UGM. Saya ingin membawa mereka bersama sehingga gap-nya tidak terlalu besar. Saya lihat buku-buku yang mereka gunakan masih terbitan tahun 1950, 1960, dan 1970. Agenda lebih besar yang ingin saya capai adalah membuat sebuah jurnal HI yang bersifat nasional dan kemudian menjadi jurnal internasional.

Apa hal prinsip yang Mas Bob bagikan pada mahasiswa?
Jangan hanya sekadar kerja and stuck on something, but keep your total commitment and dedication to that. Live it and love it. Kerja karena terpaksa nggak enak rasanya. Nikmati dan miliki komitmen karena itu mencerminkan personalitas Anda. Kalau Anda ingin dihargai orang lain, miliki sikap itu.

Jangan hanya kerja karena duitnya, tapi kerjalah karena you care other people. Yang saya minta dari mahasiswa bukanlah nilai yang baik. Don’t worry about that. Yang penting adalah mencintai dan mengembangkan kemampuanmu untuk kebaikan banyak orang.

Apa cita-cita Mas Bob yang belum terwujud hingga detik ini?
Saya ingin sekali membantu mereka yang terjebak dalam kemiskinan. Saya sering merasa kasihan dengan orang miskin tapi sampai sekarang belum tahu cara membantu mereka. Walaupun sekarang sudah banyak NGO, secara pribadi saya belum tahu cara membantu mereka.

* * *

4 thoughts on “Bob Sugeng Hadiwinata: Keep Your Total Commitment and Dedication

  1. Baca ini di kereta. Terus mewek sendiri..
    “Kamu tahu deadline kamu sebulan lagi? Itu sulit loh..” waktu menghadap dia pas minta jadi dosen pembimbing setelah harus ganti dosen pembimbing.
    Lalu kayaknya ada lebih 3x seminggu ke kantornya, diterima dengan sangat terbuka, dan skripsi ku selesai dalam waktu kurang lebih 2minggu.. thank you Mas Bob.

    • Wawwww, selesai 2 minggu! Bener-bener humble & helpful banget ya, Na… Udah langka banget guru besar macam Mas Bob yang dedicated banget membuka diri demi mahasiswanya. He’ll be missed. A lot… :’)

  2. Thank you so much for sharing this dan salam kenal, ya. Terakhir kali saya ketemu Mas Bob juga sekitar tahun 2011, di rumah Mas Bob. Tahun lalu main ke Bandung buat ke Unpar dan cari Mas Bob, tapi beliau ga ada. Sekarang nyesel kenapa ga telepon Mas Bob aja waktu itu 😦 Saya juga kenal dunia NGO dari mata kuliah Mas Bob dan sampai sekarang, isu kemiskinan dan NGO jg yg selalu ada di hati saya. Selamat jalan, Mas Bob. You’re gone, but not forgotten. Your legacy will live on forever in our lives and in hearts :’)

    • Your most welcome! Salam kenal juga ya, Erly… Terima kasih banyak sudah membaca.
      Kehidupan beliau benar-benar jadi teladan dan inspirasi bagi banyak orang. Bukan sekadar warisan ilmu pengetahuannya tapi terutama integritas dan wisdomnya. Indeed, he will never forgotten.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.