Kaki Merapi

dsci1035

Aroma daun menyambut
di tengah semilir angin
yang memercikan tetesan air hujan
di kaki Gunung Merapi yang syahdu
Mendetingkan dawai langit
dalam sebuah mahligai harapan

Sylvie Tanaga
Kaliurang, Yogyakarta, 8 Januari 2009

Advertisements

Di Tepi Sebuah Kali

I
Di tepi sebuah kali
Seorang kakek tua berjongkok
Dan seorang nenek tua
Bersenandung di bawah terik siang
Menyunggingkan bibirnya yang keriput

II
Terik berganti sengat
Ketika seorang pemuda bertubuh kekar
Menumpahkan amarahnya
Dalam air tepi yang sungai berbau
Air yang tenang itu hanya berdiam
Dengan sedikit gemericik yang terpaksa

III
Ketika terik sengat berganti redup
Seorang anak jalanan
Berjalan dengan keceriaan penuh
Dengan keringat bercucuran
Dan tubuh yang kelelahan
Terengah dan tersenyum
Pada bayangan air yang keruh
Sebuah senyum tulus yang melegakan

IV
Dalam perjalanan menuju peraduannya yang terakhir
Manusia-manusia yang kelelahan
Menunjukkan tangannya dengan ringan seraya berkata:
Kau adalah biang kerusakan kota!

V
Air sungai beriak dengan bosan
Meruap dan mendengar jutaan asa manusia
dalam keputusasaan dan harapan
dalam hentakan serapah dan pujian

VI
Kisah demi kisah
Potret demi potret
berotasi tiada henti
air di tepi kali yang menyengat
hanya mampu bertutur dalam bisu abadi

Sylvie Tanaga
Jakarta, 3 Januari 2008

Inside of My Guitar

playing_guitar

Kuabaikan lelehan air mata yang menggenang di pelupuk
dalam sebuah petikan damai, menyatu, melebur
Jemari yang menyentuh nada-nada
Kutakhiraukan dukaku, asaku, gundahku, harapku
bagai pistol karat tak berselongsong
yang merindu aroma mesiu
Tolonglah…aku ingin bermain, tolonglah…aku ingin bertemu
dalam sebuah ladang nada monokromatik

Biarkan aku bermain
Biarkan aku mempermainkan minor yang syahdu
Kuingin gitarku menjeritkan isi hatinya
Mengapa tak kau ijinkan ia menjeritkan isi hatiku?
Biarkan saja tubuhnya ditetesi embun malam yang menggantung dari tepi daun
dari sebatang pohon yang baru saja meranggas diterpa kilat
biarkan aku menangis bisu dalam leburan dawai
Bersama gitarku.

Aku hanya ingin bermain, tolonglah….
Bagi hidup, kehidupan, dan Sang Hidup
Aku hanya ingin bermain dengan enam senarku
mengalunkan harmonisasi nada-nada hati
Biarkan aku menangis bisu dalam leburan dawai
meski hanya diterangi awan malam keperakan
Tolonglah…
Biarkan aku dan gitarku menyambut curahan air langit yang menyegarkan
Melebur bersama semesta, melebur bersamaNya

Aku hanya ingin menikmati petikan demi petikan
Walau tak seindah alunan sang pemetik En Aranjuez Con Tu Amor
Kuabaikan lelehan air mata yang menggenang di pelupuk
dalam sebuah petikan damai, menyatu, melebur

Kutakhiraukan dukaku, asaku, gundahku, harapku
Biarkan aku menangis bisu dalam leburan dawai
Tolonglah…
Biarkan aku dan gitarku menyanyikan suara hati
dalam petikan nada demi nada

Tolonglah… Biarkan aku
Meski dalam untaian permainan minor
Aku hanya ingin melebur bersama semesta penghujung tahun
melebur bersamaNya di bawah curahan air langit
Aku dan gitarku

Bandung, 30 Desember 2008
pk 23.17 WIB

Becak di Tengah Guyuran Hujan

becak

Kala derai hujan menusuk kulit
Kala hawa dingin bergumul dengan aroma tanah
Kala semburan angin memukul-mukul wajah
Kala genangan menenggelamkan lutut
Membekukan buku-buku jemari
Papa, aku melihatnya!
Seorang penyongsong jejak
Mengayuh dan terus mengayuh
Membelah banjir bak Musa menerjang Laut Merah

Kala tunas bumi menggaungkan jerit terakhirnya
Kala terang berganti pekat
Kala bara peraduan menggoda asa
Kala aroma nasi goreng dan kopi hangat menyeruak di balik tenda
Papa, aku melihatnya!
Seorang gigih yang terus berjuang
Menyeruak kelebat jarum-jarum demi segenggam harap

Wajahnya yang renta
Tertutup oleh topi perahu ala kadarnya
Coleng rombeng benang yang menjuntai sekujur tubuh
Papa, aku melihatnya!
Seorang gagah yang tidak bergelayut pada nasib
Wajah penuh damai di tengah amuk

Papa papa, aku melihatnya…
Ingin sekali kudekati dia, papa…
Ingin sekali kutanya mengapa ia begitu gigih
Melabuhkan ketiga simetri putarnya pada riak-riak
Yang tak kenal ampun menghajarnya

Papa, mengapa ia begitu bersemangat?
Kala renta tak jadi perkara
Kala teknologi kendaraan mengepung
Menjebak, merongrong, menghasut, menggoda, memaki…
Aku melihatnya, papa!
Roda-roda yang terjejak dengan sempurna
Kemudi riak ganas yang diambil alih
Oleh sesosok postur yang selalu dikejar-kejar tibung

Jelaskan padaku papa….
Apakah ia tidak masuk angin, papa?
Apakah ia tidak terkena salesma, papa?
Apakah ia tidak kena encok, papa?
Apakah ia tidak kedinginan, papa?

Sylvie Tanaga
Bandung, 6 November 2008 pk 22.06 WIB

Putra Mahardika

Hari ini
16 Agustus 1945 tepat pk 05.00 WIB
Kutatap bendera merah putih dalam genggaman
Kudengar Wikana mendesak Sang Pemimpin Besar
Ah…
Ingin sekali rasanya aku cepat melihat
Merah putih ini berkibar abadi
Dalam daulat bangsaku!

Hari ini
16 Agustus 1945 pukul 24.10 WIB, Myakodori Jakarta
Aku tercenung
Demikian sulitkah sebuah bangsa meraih kemerdekaannya
Kulihat Sang Pemimpin Besar berpeluh
Menulis-menggosok-membuang-menulis-menyeka peluh-berpikir
Saat tangan Sayuti Melik mulai bergerak lincah
Kutahu bahwa merah putih akan segera berkibar
Dalam daulat bangsaku!

Hari ini
17 Agustus 1945 pk 10.00 WIB
Sang Pemimpin Besar menyatakan
Dengan ini kemerdekaan Indonesia

Aku berlari…
Aku berlari dan mengibarkan merah putih dalam genggaman
Satu hembusan angin mengibarkan impianku dengan gagah
Di tanah tempatku berjuang
Tanah tempat kubernaung
Ya Tuhanku, semoga daulat ini abadi!
Indonesia Rayaku tetap merdeka!

Dan hari ini
17 Agustus 2008
Kupandang merah putih dalam kibarnya yang indah
Dalam sayup seruan Wikana-Wikana masa depan
Tangkap-bohong-saya tak bersalah
Korupsi -krisis-miskin-lapar-malas

Sekali lagi hambaMu yang renta ini bersujud:
Ya Tuhanku, semoga daulat ini abadi!
Indonesia Rayaku tetap merdeka!

Sylvie Tanaga
Bandung, 17 Agustus 2008 pk 12.44 WIB